Halo!

Ibu Hantu - Chapter 50

Memuat...
Ibu Hantu

Chapter 50

Murid-murid Pang Tiang Ho merasa sangat bingung melihat keadaan tersebut. Ciu Wie Siang segera memeriksa area sekitar taman dan mendapati sehelai kertas tertancap pada batang pohon. Murid bermarga Ciu itu segera mengambil surat tersebut, sementara murid lainnya bergegas menghampiri untuk membacanya.

Isi surat tersebut antara lain:

"Arwah dari keluarga Lie telah datang menagih hutang jiwa, maka kebinasaan Pang Tiang Ho ini adalah hal yang wajar karena ia telah melakukan pembunuhan besar-besaran terhadap keluarga Lie belasan tahun yang lalu. Dengan terbinasanya dia, maka habislah dendam keluarga Lie kepada keluarga Pang. Anak, istri, dan cucu keluarga Pang tidak perlu menanggung dosa Pang Tiang Ho. Aku rasa lebih baik Pang Tiang Ho menemui ajalnya agar anak cucunya tidak menanggung dosanya. Biarkan dia menebus perbuatannya sendiri. Aku tidak ingin keluarga Pang lainnya merasakan getah dari perbuatan jahat Pang Tiang Ho. Dengan ditinggalkannya surat ini, semoga keluarga Pang maklum, dan aku memohon maaf sebesar-besarnya karena tidak bisa menjumpai kalian."

"Melalui surat ini, aku juga ingin menyatakan permohonan maaf karena telah merenggut nyawa musuhku. Pang Tiang Ho adalah manusia yang tidak bisa diampuni; dosanya terlalu besar. Dia merupakan orang ketujuh di antara para penjahat yang mengeroyok keluargaku, sehingga dia termasuk orang terpenting di dalam gabungan penjahat tersebut. Nah, selamat tinggal!"

Tertanda, Pek-ie Koay-hiap, Pendekar Aneh Berbaju Putih.

Ciu Wie Siang dan murid-murid lainnya merasa gusar serta murka, namun mereka tidak berdaya karena tidak mengetahui siapa sebenarnya pendekar tersebut. Mereka pun diliputi duka mendalam. Dalam pandangan mereka selama belajar ilmu silat di bawah gemblengan Pang Tiang Ho, sang guru adalah pribadi yang sangat baik hati dan penuh bimbingan. Mereka tidak habis pikir mengapa guru mereka memiliki musuh yang tega membunuhnya hingga menggantung mayatnya di atas pohon. Mereka berjanji akan mencari orang yang menamakan dirinya Pek-ie Koay-hiap tersebut.

Ciu Wie Siang dan murid lainnya segera menghibur Pang Hu-jin, istri Pang Tiang Ho, yang merupakan ibu guru mereka. Urusan pemakaman jenazah pun segera diurus. Kepada para penjahat setempat dan tetangga, Nyonya Pang memberikan keterangan bahwa suaminya meninggal dunia karena kecelakaan kecil saat berlatih ilmu golok, yang kemudian menyebabkan sakit selama satu minggu sebelum akhirnya berpulang ke pangkuan Thian.

Orang-orang tersebut tidak mengetahui bahwa kematian Pang Tiang Ho adalah awal dari bergolaknya peristiwa hebat di dunia persilatan—sebuah masa depan yang penuh kengerian di mana darah akan membanjiri sungai dan telaga. Pang Tiang Ho dibunuh oleh Lie Cie Kiat karena namanya tercantum dalam buku catatan musuh yang diperoleh Cie Kiat dari penyair tua Yap Sun Po.

Lie Cie Kiat memang berniat menghabisi musuh-musuhnya satu demi satu sesuai petunjuk dalam buku catatan tersebut. Setelah membunuh Pang Tiang Ho dan menggantung mayatnya, target Cie Kiat selanjutnya adalah Wang Toe, orang yang berada di urutan ketiga dalam catatan itu. Setelah mencoret nama Pang Tiang Ho dengan tinta merah, Cie Kiat mengendus keberadaan Wang Toe di Kota Pay-sia, tempat pria itu mengelola sebuah rumah makan besar dan mewah.

Wang Toe hidup bergelimang harta dan disegani karena memiliki ilmu silat yang tinggi. Rumah makannya selalu ramai, bahkan sering dijadikan tempat perundingan bagi jagoan rimba persilatan, yang memberikan keuntungan besar bagi Wang Toe. Kini, urusan rumah makan telah diserahkan kepada orang kepercayaannya, sementara Wang Toe menghabiskan hari tua di rumahnya yang terletak tidak jauh dari sana.

Meski kaya raya, hidup Wang Toe terasa hampa karena ia tidak memiliki keturunan dan istrinya telah lama meninggal dunia. Pagi itu, saat Wang Toe sedang beristirahat di kursi malas kayu cendana, sesosok tubuh tiba-tiba melompat turun di hadapannya. Meski sudah tua dan tidak lagi melatih ilmunya, Wang Toe tetap memiliki kepandaian yang tinggi. Melihat seseorang muncul dari langit-langit, ia langsung melonjak bangun dengan kaget.

"Si... siapa kau?" bentak Wang Toe.

Pria muda berpakaian pelajar serba putih itu berdiri tegak dan tertawa dingin. "Aku adalah Pek-ie Koay-hiap yang akan merenggut nyawamu!" ucap pria itu, yang tidak lain adalah Lie Cie Kiat.

Wajah Wang Toe berubah hebat. "Kau... kurang ajar sekali! Sebutkan namamu agar aku bisa memberimu ganjaran! Apakah kau tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa?"

Cie Kiat kembali tertawa dingin. "Aku tahu, aku sedang berhadapan dengan Wang Toe, bukan?"

"Apa maksudmu datang kemari?" tanya Wang Toe dengan suara gemetar.

"Sudah kukatakan, aku akan merenggut nyawamu!" sahut Cie Kiat.

"Jangan main-main! Sebutkan maksudmu yang sebenarnya!"

Cie Kiat tersenyum sinis. "Kau tentu ingat belasan tahun lalu telah ikut mengeroyok keluarga Lie Foe Thay, bukan?"

Mendengar nama Lie Foe Thay, wajah Wang Toe menjadi pucat pasi dan kakinya gemetar. "Lie Foe Thay?" tanyanya dengan suara terbata-bata.

Cie Kiat menatap tajam. "Benar! Arwah keluarga Lie akan menuntut ganti jiwa! Aku adalah keturunan tunggal dari Lie Foe Thay yang malang itu!"

Tubuh Wang Toe menggigil hebat. Karena rasa takut yang memuncak, ia tiba-tiba menjejakkan kaki dan menerjang Cie Kiat. "Mampus kau, setan penasaran!"

Melihat serangan itu, Cie Kiat mendengus dingin. Ia menekuk lutut kanannya, lalu dengan sebuah teriakan keras, ia mencabut pedangnya dan membabat ke arah perut Wang Toe.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment