Chapter 51
Pada saat itu Wang Toe sedang menerjang, mana mungkin dia bisa melindungi perutnya?
Apalagi, kepandaian Cie Kiat memang sangat tinggi.
Sehingga, tanpa ampun lagi, perutnya pecah oleh sabetan pedang Cie Kiat.
Isi perut Wang Toe berhamburan, darah merah segar membanjiri lantai, dan usus orang bermarga Wang itu terurai di lantai.
Mengerikan sekali.
Tubuh Wang Toe tidak lantas rubuh; ia berdiri kaku dengan mata mendelik. Setelah mengeluarkan suara menggerok dua kali dari lehernya seperti ayam yang disembelih, tubuh gemuk Wang Toe pun ambruk di lantai, tak bernapas dan tak bernyawa!
Satu lagi dendam Cie Kiat telah terbayar lunas, karena Wang Toe telah melayang jiwanya, menuju ke akhirat untuk menemui Giam-lo-ong!
Cie Kiat berdiri, sesaat terpaku di tempatnya, mengawasi mayat Wang Toe yang tergeletak tengkurap tak bernyawa dan tak bergerak.
Anak muda bermarga Lie ini menghela napas.
"Lenyap pula sebuah dendam....!!" gumam anak muda bermarga Lie ini.
Tak lama setelah Cie Kiat berdiri memandangi mayat Wang Toe, tiba-tiba tiga orang pelayan keluarga Wang menerobos masuk dari dalam.
Mereka datang ke tempat tersebut karena mendengar suara jeritan Wang Toe.
Tetapi, ketika mereka melihat majikan mereka terbinasa dan di sampingnya berdiri seorang anak muda dengan pedang berlumuran darah di tangannya, mereka pun ketakutan, dan tubuh ketiga pelayan itu menggigil.
Tanpa disadari, mereka pun berlutut dan mengangguk-anggukkan kepala mereka, seolah-olah sedang meminta ampun!
Cie Kiat tidak menghiraukan ketiga pelayan keluarga Wang itu. Sambil mengeluarkan tawa dingin, dan setelah menyeka darah yang melekat pada pedangnya ke baju mayat Wang Toe yang disosotnya perlahan-lahan, Cie Kiat kemudian menjejakkan kakinya dan melesat pergi.
Dalam sekejap mata saja, ia telah lenyap dari pandangan ketiga pelayan Wang itu.
Ketiga pelayan itu menjadi gaduh ketika menyaksikan hal tersebut. Mereka menduga anak muda bermarga Lie itu adalah setan yang memiliki gerakan sangat cepat.
Mereka pun lari berserabutan keluar, sambil berteriak-teriak, sehingga semua tetangga Wang Toe keluar untuk melihat apa yang terjadi di rumah Wang Toe tersebut.
Ketiga pelayan itu segera menceritakan apa yang telah mereka lihat.
Para Tie-kwan pun melakukan penyelidikan dan pemeriksaan terhadap mayat itu.
Namun, mereka tidak bisa mengetahui atau menangkap Cie Kiat, sebab anak muda bermarga Lie itu telah menghilang dari kota!
Kejadian selanjutnya justru lebih hebat.
Pilihan Cie Kiat untuk korban dendam selanjutnya adalah jago bernama Po Sin Siu, seorang jago yang membuka Piauw-kiok, sebuah perusahaan pengiriman barang dari satu daerah ke daerah lain.
Po Sin Siu memiliki kepandaian tinggi, bahkan memiliki kepandaian istimewa, yakni ilmu goloknya yang dinamakan Cap Sie Hoan-to. Apabila ia telah menggunakan ilmu goloknya itu, jarang sekali ada orang yang mampu menghadapi Piauw-su tersebut.
Sin Siu membuka Piauw-kioknya sekitar delapan tahun yang lalu; sebenarnya dulunya ia adalah seorang pembegal tunggal.
Namun, karena usianya telah tua dan ia memiliki simpanan harta, akhirnya ia ingin hidup tenang.
Mengandalkan nama dan kepandaiannya, ia pun membuka perusahaan Piauw-kiok tersebut untuk menghabiskan hari tuanya.
Piauw-kioknya itu diberi nama Po-sin Piauw-kiok.
Sejak Sin Siu membuka Piauw-kiok tersebut, setiap barang yang dikirimnya selalu sampai di tempat tujuan dengan selamat. Hal itu karena selain ia memiliki nama besar serta ditakuti dan disegani lawan maupun kawan, Sin Siu juga seorang yang mudah bergaul.
Apalagi, ia memang berasal dari dunia Hek-to, atau 'jalan hitam', sebagai pembegal tunggal. Dengan sendirinya, ia memiliki banyak kawan sesama pembegal.
Dengan sendirinya, begitu ia membuka Piauw-kiok, kawan-kawannya tidak mengganggu Piauw-kiok yang dibuka Sin Siu karena mereka tidak mau 'hitam makan hitam'. Walaupun sekarang Sin Siu telah beralih ke jalan putih, toh dulunya ia tetap berasal dari jalan hitam.
Karena sejak pertama kali ia membuka Piauw-kiok itu, pengiriman barang tidak pernah mengalami rintangan di jalan, lama-kelamaan Sin Siu tidak pernah ikut mengawal pengiriman Piauw tersebut lagi.
Ia hanya berdiam di dalam rumahnya bersama istri dan putrinya yang baru berusia lima tahun, yang diberi nama Po In Lian.
Barang-barang Piauw tersebut hanya dikawal oleh beberapa Piauw-su yang bekerja pada Po Sin Siu, dan mereka juga membawa sebuah bendera Po-sin Piauw-kiok.
Itu saja sudah cukup, karena bendera Po Sin Piauw-kiok memiliki reputasi setara dengan Po Sin Siu sendiri.
Penjahat-penjahat yang ingin mengganggu iring-iringan Piauw tersebut, jika melihat bahwa Piauw yang dikawal itu adalah barang dari perusahaan Po-sin Piauw-kiok, mereka selalu batal menghadang.
Tetapi, tanpa disangka, pada suatu hari, justru telah terjadi peristiwa hebat pada diri Cong Piauw-tauw Po Sin Siu.
Orang bermarga Po ini justru mengalami peristiwa hebat tersebut di dalam rumahnya sendiri, di markas Po-sin Piauw-kiok. Dan yang lebih hebat lagi, hal mengerikan yang menimpa keluarga Po itu terjadi di siang hari, saat matahari bersinar terik!
Pada saat itu hampir mendekati waktu lohor, dan beberapa Piauw-su dari Po-sin Piauw-kiok sedang beristirahat di luar kantor Po-sin Piauw-kiok.
Ada beberapa Piauw-su yang sedang menceritakan pengalaman mereka ketika masih muda.
Bahkan Siu Piauw-su, seorang Piauw-su tua yang mungkin telah berusia antara lima puluh enam tahun, sedang menceritakan masa mudanya, ketika ia sedang bercinta kasih dengan gadis yang sekarang menjadi istrinya.
"Memang luar biasa sekali!" kata Siu Piauw-su sambil tertawa.
"Kukira wanita itu memang mudah terangsang oleh rangsangan seksual. Ternyata, pada suatu malam ketika aku sedang mencium lehernya, tiba-tiba ia mengayunkan tangannya menempeleng wajahku, sehingga aku memandangnya dengan tatapan kesima!" Piauw-su lainnya pun tertawa.
"Kenapa kau tidak memeluknya terus dan menciuminya secara paksa?" tanya salah seorang Piauw-su lainnya.
Siu Piauw-su, sang Piauw-su tua itu, memperlihatkan wajah lucunya.
"Mana bisa begitu?
Mencium lehernya saja aku sudah ditempelengnya, mana mungkin aku bisa mencium lagi?" katanya.
Piauw-su lainnya tertawa.
"Kenapa akhirnya dia bisa menjadi istrimu?" tanya salah seorang di antara mereka.
Piauw-su tua itu tertawa.
"Nah, itulah kehebatan diriku!" kata si Piauw-su tua sambil tertawa.
"Biarpun perempuan itu sudah suka kepadaku, namun kalau memang aku yakin dan menginginkannya dengan sungguh-sungguh, pasti aku dapat menundukkan wanita itu!" Yang lainnya pun tertawa.
Namun, ketika mereka sedang tertawa, terdengar suara tawa lain yang terdengar jauh sekali, melengking tinggi; sebentar terdengar jelas, sebentar lenyap.
Semua orang menjadi heran.
"Suara tawa siapa itu?" tanya Piauw-su itu sambil saling pandang.
Semuanya saling berpandangan sambil mengangkat bahu; wajah mereka memperlihatkan kegelisahan karena suara tawa itu terdengar begitu melengking tinggi, membuat bulu kuduk berdiri dan merinding.
Suara tawa itu melengking tinggi sekali, semakin lama semakin terdengar jelas.
Semua Piauw-su itu pun saling berdiam diri.
Mereka hanya saling pandang saja.
Mereka memandang ke arah datangnya suara tawa yang melengking itu.
Sementara semua Piauw-su itu termenung kesima memandang ke arah datangnya suara tawa melengking itu, tiba-tiba di depan mereka melesat sesosok bayangan dengan kecepatan luar biasa.
Semua Piauw-su itu pun kaget. Mereka memang sedang diliputi kegelisahan, dan kini, tiba-tiba di depan mereka telah muncul sesosok bayangan. Maka dari itu, mereka benar-benar terkejut.
Semua Piauw-su itu memandang ke sosok bayangan tersebut.
Mereka berusaha memastikan wajah orang yang baru datang ini.
Orang ini ternyata memakai baju jubah berwarna merah darah.
Jubahnya itu bukan jubah biasa yang dipakai orang-orang Tionggoan; ia memakai jubah dengan potongan yang luar biasa.
Wajahnya tidak bisa dilihat, karena orang ini mengenakan semacam topeng yang terbuat dari secarik kain berwarna putih.
Kepalanya memakai topi tudung rumput yang sangat lebar.
Begitu berdiri di depan Piauw-su itu, ia memandang dengan mata yang memancar sangat bengis, yang terlihat dari kedua lubang topengnya. Biji matanya tampak bergerak-gerak tak henti.
"Mana Po Sin Siu?" bentak orang aneh ini dengan suara yang sangat keras.
Piauw-su yang ada di situ seperti orang kesima.
Mereka tadi bergelisah dan merasakan bulu kuduk mereka berdiri sebab mendengar suara tawa yang melengking tinggi lagi luar biasa itu.
Kini, mereka melihat orang ini berpakaian dengan cara yang begitu luar biasa, membuat Piauw-su tersebut jadi kesima.
Sekarang, orang itu membentak mereka dengan suara yang begitu bengis dan galak, membuat Piauw-su itu cepat tersadar dari kekesimaannya.
Siu Piauw-su, sang Piauw-su tua, maju ke depan beberapa langkah.
"Siapakah Tuan, dan ada urusan apakah Tuan mencari Po Sin Siu, Cong Piauw-tauw?" tanya Siu Piauw-su dengan suara yang sabar.
Padahal, di hati Piauw-su tua ini juga berdebar melihat keadaan orang yang begitu aneh. Ia yang telah banyak pengalamannya, tidak bisa segera mengetahui siapa dan dari mana asal orang ini.