Halo!

Ibu Hantu - Chapter 52

Memuat...
Ibu Hantu

Chapter 52

Terdengar orang berpakaian luar biasa yang mengenakan jubah berwarna merah mendengus dingin, kemudian melangkah perlahan menghampiri Siu Piauw-su. Melihat hal itu, tanpa disadari, Siu Piauw-su mundur beberapa langkah. Wajah Piauw-su tua itu berubah pucat dengan hati yang berdebar kencang.

"Kau terlalu cerewet menanyakan urusanku!" seru orang itu dengan suara bergumam dalam. "Bukannya menjawab pertanyaanku, kau malah balik bertanya! Kau harus mampus!"

Mendengar ancaman itu, Siu Piauw-su merasa dongkol sekaligus kaget. Ia merasa ngeri melihat pancaran mata orang itu, terlebih lagi biji matanya bergerak tak henti-henti. Para Piauw-su lainnya memandang kejadian aneh itu dengan perasaan gelisah. Sementara itu, orang berjubah merah yang mengenakan topeng tersebut maju selangkah lagi, mengeluarkan teriakan melengking menyerupai bentakan, lalu berkelebat cepat.

Terdengar suara jeritan menyayat, kemudian suasana kembali sunyi. Orang berpakaian serba merah itu telah kembali ke tempatnya semula. Ia berdiri tenang sambil memasukkan pedangnya ke dalam sarung. Para Piauw-su lain berdiam diri dengan penuh ketakutan, menatap Siu Piauw-su yang masih mematung dengan mata mendelik ke arah sang penyerang.

Salah seorang Piauw-su mencoba mendekati Siu Piauw-su, namun ia mengeluarkan seruan kaget saat melihat darah segar menetes dari perut rekan mereka membasahi tanah. Siu Piauw-su masih berdiri tegak dengan posisi seolah hendak menangkis serangan. Ketika bahunya disentuh, tubuh Piauw-su tua itu roboh dan terguling ke tanah. Seketika itu pula darah muncrat; tubuh Piauw-su tersebut ternyata telah terbelah dua di bagian pinggang. Usus dan isi perutnya berhamburan.

Piauw-su yang menyentuh tubuh tersebut menjerit ngeri, diikuti oleh rekan-rekannya yang lain. Namun, orang berjubah merah itu tidak peduli. Ia hanya tertawa dingin dengan sikap bengis. "Mana Po Sin Siu?" tanyanya lagi.

Para Piauw-su sadar bahwa mereka berhadapan dengan orang berilmu tinggi yang tidak bisa dianggap remeh. Kematian mengerikan Siu Piauw-su membuat nyali mereka menciut.

"Mana Po Sin Siu?" bentak orang bertopeng putih itu dengan suara keras saat melihat para Piauw-su masih membisu.

Para Piauw-su tersentak dari keterkesimaan mereka. Salah satu di antara mereka menyahut dengan suara terbata, "Cong Piauw-tauw... Cong Piauw-tauw ada di dalam!"

Salah seorang lainnya mencoba berbalik untuk memberi tahu Po Sin Siu, namun orang bertopeng yang mengenakan tudung rumput lebar itu mendengus. Ia melesat dengan sangat gesit dan mencengkeram baju di bagian punggung Piauw-su yang hendak melarikan diri tersebut.

"Mau ke mana kau?" bentak orang itu. Piauw-su tersebut ketakutan luar biasa, lalu terbanting ke tanah dan menjerit memohon ampun. Melihat kepengecutan itu, orang bertudung rumput tersebut melangkah masuk ke ruangan kantor Po-sin Piauw-kiok, meninggalkan para Piauw-su lainnya yang gemetar.

Di dalam ruangan, para Piauw-su menatapnya dengan ngeri. Orang bertudung itu melompat dan mencengkeram baju salah seorang Piauw-su. "Mana Po Sin Siu?" bentaknya dengan bengis. Piauw-su itu hanya bisa menggigil ketakutan tanpa mampu berkata-kata. Orang bertudung itu menjadi semakin gusar; ia mengangkat tubuh Piauw-su tersebut dan membantingnya.

"Katakan! Di mana Po Sin Siu, atau kalian semua akan kubunuh!" ancamnya.

"Po Cong Piauw-tauw berada di dalam kamarnya di belakang kantor ini!" jawab salah seorang Piauw-su lain karena ketakutan.

Piauw-su yang dibanting tadi mencoba merangkak bangun, namun kaki orang bertudung itu menyepaknya hingga kembali jatuh bergulingan. Sambil memohon ampun, Piauw-su itu hanya bisa berteriak ketakutan. Orang bertudung rumput itu kemudian mencekal pedangnya dan mengayunkannya dengan cepat. Terdengar suara jeritan kaget beruntun. Ternyata, rambut para Piauw-su di ruangan itu sebagian besar terpotong oleh sabetan pedangnya. Mereka semua bermandikan keringat dingin; jika orang itu menginginkan nyawa mereka, niscaya mereka semua sudah tewas.

Orang bertudung rumput itu mendengus dan melangkah masuk lebih dalam. Tak lama kemudian, dari arah dalam muncul seorang lelaki bertubuh tinggi besar, tegap, dan gagah dengan jenggot serta kumis panjang berwarna putih.

"Siapa yang mencariku?" tanya orang itu dengan suara lantang dan gagah. Matanya yang bersinar tajam menyapu setiap orang di ruangan tersebut hingga tertuju pada sosok bertudung rumput.

"Engkaukah yang bernama Po Sin Siu?" tanya orang bertudung rumput dengan nada nyaring dan bengis.

Orang tua berjenggot putih itu mengernyitkan alis lalu mengangguk. "Benar. Siapakah kau?"

Orang bertudung rumput tertawa menyeramkan. "Aku? Kukira jika kau melihat wajahku, kau tidak akan bertanya begitu. Aku yakin kau masih mengingatku!"

Lelaki berjenggot putih itu menjadi bingung dan dongkol. "Aku tidak mengenalmu! Aku, Po Sin Siu, selalu menghormati sesama kawan di kalangan Kang-ouw selama mereka juga menghormatiku. Namun, kau terlalu kasar, mana bisa aku menghormatimu?"

Orang bertudung rumput itu hanya tersenyum mengejek.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment