Halo!

Ibu Hantu - Chapter 53

Memuat...
Ibu Hantu

Chapter 53

Perubahan wajahnya tidak terlihat karena ia mengenakan topeng kain putih.

"Kau masih berpura-pura sebagai seorang ho-han!" kata orang bertopi tudung rumput itu dengan suara mengejek.

"Hmmm... apakah kau benar-benar berjiwa kesatria? Apakah kau sudah tidak ingat atau memang pura-pura tidak ingat bahwa belasan tahun yang lalu kau pernah mengeroyok seorang she Lie yang bernama Foe Thay bersama dengan beberapa jago lainnya?"

Mendengar nama Lie Foe Thay disebut, wajah lelaki tua yang bertubuh gagah itu—yang ternyata Po Sin Siu—berubah pucat pasi.

"Kau... kau..." suaranya terbata-bata.

Orang bertopi tudung rumput itu tertawa dingin, mengejek si she Po. "Aku adalah orang she Lie itu yang akan menuntut balas atas dendam belasan tahun yang lalu! Hari ini adalah hari kematianmu!"

Setelah berkata demikian, orang bertopeng tudung rumput itu tertawa terbahak-bahak dengan suara menyeramkan, yang di dalamnya terkandung nada ancaman pembunuhan.

Wajah Po Sin Siu bertambah pucat, tubuhnya gemetar. "Dusta! Kau bukan orang she Lie itu! Dia telah tewas dengan tubuh yang dicincang!" kata Po Sin Siu seperti orang kalap. "Kau jangan menjual nama orang she Lie itu! Mustahil kau adalah dia!"

Orang bertopi tudung rumput itu tertawa dingin. "Hmmm... yang penting sekarang, akuilah dengan jujur, apakah kau memang benar-benar ikut mengeroyokku belasan tahun yang lalu? Jawablah sebagai seorang ho-han!"

Po Sin Siu semakin tergugu, menatap lawannya dengan hati yang berdebar kencang. "Buka topengmu itu!" bentak Po Sin Siu akhirnya. "Aku mau melihat wajahmu. Jika benar kau orang she Lie itu, maka aku pasti bisa mengenalinya."

Orang bertopi tudung itu tertawa tawar, tidak memandang Po Sin Siu sedikit pun. "Kau ingin melihat wajahku? Apakah kau tidak takut mati berdiri karena kaget melihatnya?"

"Buka topengmu!" bentak Po Sin Siu dengan suara keras dan gemetar, karena perasaan gusar, murka, dan takut bercampur aduk di dalam hatinya. "Buka topengmu agar aku tahu kau orang she Lie itu atau bukan!"

"Baik!" jawab orang bertopi tudung rumput itu. "Aku akan menuruti permintaanmu agar kau tidak mati dengan rasa penasaran!"

Setelah berkata demikian, ia melepaskan topi rumputnya dan melemparkannya ke samping. Topi itu meluncur cepat dan hinggap tepat di atas meja di dalam ruangan tersebut, seolah ada yang mengendalikannya. Rupanya, ia telah mengerahkan tenaga dalamnya. Kemudian, dengan perlahan, ia memegang topeng kain putihnya.

"Nah, lihatlah baik-baik!"

Po Sin Siu membuka matanya lebar-lebar, jantungnya berdebar keras. Suasana menjadi sangat tegang. Para piauw-su yang menjadi anak buah Po Sin Siu ikut mengawasi dengan tegang. Meskipun mereka sangat takut, mereka tetap ingin melihat bagaimana nasib cong piauw-tauw mereka menghadapi orang bertopeng ini.

"Lihatlah!" kata orang bertopeng itu sambil menarik topengnya.

Tampaklah seraut wajah yang tampan dan cakap. Po Sin Siu mengeluarkan seruan gusar. Tubuhnya mencelat dengan cepat, ia menjejakkan kaki dan melambung untuk menyerang orang yang baru saja membuka topengnya itu. Ia mengayunkan goloknya dengan jurus dari Cap-sie Hoan-to yang sangat hebat. Sambil menebas leher lawannya, Po Sin Siu membentak, "Kau dusta! Kau mau menipu diriku, heh? Kau harus mati, bocah!"

Orang yang mengenakan topeng kain putih itu ternyata seorang pemuda yang sangat cakap, berkulit putih, bermata jeli, berhidung mancung, dengan alis tebal berbentuk golok. Melihat Po Sin Siu menyerang, ia tertawa dingin.

"Hmmm... kau cari mati!" katanya dengan suara menyeramkan. Ia mengelakkan sambaran golok Po Sin Siu hanya dengan menundukkan kepala. Saat golok itu melintas di atas kepalanya, ia menggerakkan tangan kanannya untuk menghantam dada Po Sin Siu.

"Bukkkk!"

Dada Po Sin Siu terhantam keras oleh lawan, seolah dipukul dengan palu besi. Ia mengeluarkan suara rintihan tertahan, tubuhnya terlempar tinggi, kemudian terbanting ke lantai dengan suara gedebuk yang keras. Para piauw-su yang menonton dari kejauhan semakin pucat wajahnya. Meski melihat pemimpin mereka dihajar, nyali mereka telah pecah sehingga tidak ada yang berani maju membantu.

Po Sin Siu segera melompat bangun. Ia menggunakan jurus Lee Ie Ta Teng (ikan gabus meletik). Wajahnya merah padam karena marah. Ia merasakan dadanya sakit luar biasa, seperti ada tulang yang retak, namun ia tidak sampai memuntahkan darah.

"Siapa kau? Mengapa kau menggunakan nama Lie Foe Thay untuk menggertak diriku? Ada hubungan apa kau dengan she Lie itu?" bentak Po Sin Siu dengan mata mendelik.

Anak muda itu membuka jubah merahnya, memperlihatkan pakaian seorang sastrawan atau pelajar. Ia tertawa dingin. "Akhirnya kau mengakui bahwa kau mengenal Lie Foe Thay, bukan?"

Po Sin Siu mengernyitkan alisnya, menatap bimbang. Namun, akhirnya ia mengangguk. "Ya! Aku memang mengenal Lie Foe Thay!"

Pemuda itu tertawa dingin lagi. "Bagus! Aku adalah putranya, Lie Foe Thay!"

Mata Po Sin Siu terbelalak. "Kau... kau..." suaranya terbata-bata.

"Hari ini adalah hari kematianmu, jadi jangan harap bisa lolos!" ujar pelajar itu. "Aku, Lie Cie Kiat, akan membalas semua hutang darah belasan tahun yang lalu!"

Wajah Po Sin Siu berubah drastis mendengar pengakuan Lie Cie Kiat. Ia terdiam sejenak sebelum memutuskan untuk melakukan perlawanan gigih. Ia memutar goloknya, bersiap menggunakan jurus ilmu golok Cap-sie Hoan-to.

Melihat hal itu, Cie Kiat tertawa tawar. "Majulah, aku akan memberikanmu kesempatan tiga jurus. Setelah itu, kau harus mati!"

Po Sin Siu menjadi nekat. Dengan teriakan nyaring, ia melompat menyerang Cie Kiat. Cie Kiat tertawa mengejek. Sambaran golok Po Sin Siu dielakkan dengan menggeser kaki kiri sejauh dua inci, lalu ia menyerampang dengan kakinya sehingga tubuh Po Sin Siu limbung ke samping dan goloknya luput.

"Jurus pertama!" seru Cie Kiat sambil melompat menjauh.

Para piauw-su yang melihat hal itu tetap tidak berani bergerak. Nyali mereka telah hancur setelah menyaksikan sendiri bagaimana cong piauw-tauw mereka akan segera menemui ajalnya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment