Chapter 55
Sebagai seorang pemuda yang masih memiliki semangat dan kemauan keras, Cie Kiat tidak mempedulikan akibat dari tindakannya. Hal terpenting bagi pendirian Cie Kiat saat itu adalah keberhasilan dalam membalas sakit hati dan dendam atas kematian orang tuanya. Oleh karena itu, dengan penuh semangat, Cie Kiat menuju ke kota Siang-bian-kwan.
Hari hampir sore dan udara tampak mendung. Rupanya hujan lebat akan segera turun. Angin bertiup sangat kencang sehingga Cie Kiat berniat mencari tempat berteduh agar tidak kehujanan. Namun, keadaan di sekitar tempat itu sangat sepi; tidak tampak satu pun rumah penduduk. Cie Kiat mempercepat langkahnya dan akhirnya melihat sebuah rumah kecil tak jauh dari tempatnya berada.
Karena hujan mulai turun rintik-rintik, Cie Kiat segera menghampiri rumah itu. Saat sampai di depan rumah, anak muda bermarga Lie tersebut melihat pintu tertutup rapat. Ia mengetuknya, namun tidak ada jawaban. Ia mengetuk kembali, tetapi bukannya sahutan yang ia dapatkan, pintu justru terbuka mendadak dan serangkum angin serangan yang sangat kuat menghantam ke arah dadanya.
Hal ini mengejutkan Cie Kiat. Ia sempat mengeluarkan seruan tertahan, namun karena memiliki kepandaian yang cukup tinggi, ia mampu mengelakkan serangan itu dengan melompat ke samping. Angin serangan tersebut menghantam batang pohon di depan pekarangan rumah hingga roboh.
"Buk! Kreeek!"
Bersamaan dengan tumbangnya pohon itu, Cie Kiat mendengar seseorang memaki, "Sial! Sial benar! Aku tidak berhasil menghajar setan itu!" Disusul dengan sesosok bayangan yang melompat keluar dari rumah.
Cie Kiat merasa sangat jengkel karena orang tersebut tiba-tiba menyerangnya tanpa alasan. Ia mengawasi orang yang berdiri di hadapannya itu; ternyata seorang pengemis berusia dua puluh tahunan. Wajah pengemis itu menunjukkan rasa penasaran karena gagal menghajar Cie Kiat dengan tenaga *Lwee-kang*-nya. Sementara itu, pengemis tersebut menatap Cie Kiat dengan mata yang bengis.
"Kau pelajar edan?" bentak si pengemis dengan suara keras. "Masih berani kau datang kemari?"
Cie Kiat mengerutkan alisnya. Ia sangat dongkol karena dimusuhi tanpa alasan yang jelas. Ia menatap pengemis itu dengan tajam.
"Saudara, aku tidak pernah mengenalmu. Kita seperti air sumur dengan air sungai yang tidak saling mengganggu. Mengapa kau menyerangku seperti ini?" tanya Cie Kiat dengan nada sabar, berusaha mengendalikan kekesalannya.
Pengemis itu tertawa gelak. "Kau masih bisa berkata begitu? Aku telah bersumpah, bagaimanapun caranya, aku harus membinasakanmu, pelajar edan!"
Cie Kiat semakin heran dan kesal. "Antara kau dan diriku tidak pernah terjadi persoalan apa pun. Mengapa kau memusuhi diriku sedemikian rupa? Siapakah kau sebenarnya?"
Mendengar pertanyaan itu, si pengemis tertawa dingin. "Kau masih pura-pura bertanya, heh? Apakah kau mau mengatakan tidak mengenal diriku sama sekali? Siapa yang melakukan pembunuhan di tepi hutan dua bulan yang lalu itu?"
"Pembunuhan di tepi hutan?" tanya Cie Kiat dengan heran. "Aku tidak mengerti maksudmu."
Pengemis itu tertawa dingin kembali, tampak berang. "Sungguh tebal mukamu seperti badak! Dengan berkata begitu, kau sengaja ingin memungkiri bahwa pembunuhan di pinggir hutan itu bukan kau yang melakukan!"
"Aku memang benar-benar tidak mengerti maksudmu!" seru Cie Kiat yang mulai hilang kesabaran. "Mungkin kau salah mengenali orang!"
"Tidak mungkin!" bentak si pengemis. "Aku dan kau memang telah berjanji akan bertemu di sini pada waktu ini!"
Cie Kiat semakin bingung. "Mengapa persoalannya menjadi serumit ini? Siapakah pengemis ini dan siapa orang-orang yang dibunuh seperti yang dia katakan?" pikirnya dalam hati.
Melihat Cie Kiat diam saja, pengemis itu semakin marah. "Alasan apa lagi yang akan kau keluarkan untuk memungkiri perbuatanmu, hai pelajar setan?"
Cie Kiat, yang merasa terus didesak, berkata dengan suara dingin, "Baiklah! Kalau memang benar pembunuhan di pinggir hutan itu aku yang melakukan, lalu apa yang akan kau lakukan terhadap diriku?"
Muka pengemis itu memerah padam. "Hmm, akhirnya kau mengakui juga perbuatan busukmu! Bagus! Aku akan membalaskan sakit hati saudara-saudaraku dan kau harus mampus di tanganku!"
Setelah berkata begitu, si pengemis menjejakkan kakinya dan menerjang Cie Kiat dengan kedua tangan secara berangkai. Setiap serangannya membawa angin pukulan yang sangat kuat, terbukti dari pohon yang tumbang sebelumnya. Karena tenaga *Lwee-kang* pengemis itu luar biasa, Cie Kiat tidak berani meremehkannya. Ia melompat gesit untuk menghindar.
Serangan pengemis itu meleset, yang justru membangkitkan kegusarannya. Ia melompat kembali dan menyerang dada Cie Kiat, mengincar jalan darah *Su-ting-hiat*. Tangan kirinya bergerak setengah lingkaran, terbuka seperti telapak tangan yang tajam bak mata golok, siap mematahkan leher lawan.
Cie Kiat menyadari serangan mematikan itu. Darahnya meluap karena merasa diperlakukan dengan tidak adil. Ia memutuskan harus menundukkan pengemis ini. Cie Kiat tidak lagi menghindar, ia menangkis serangan tangan kanan dan kiri pengemis itu secara bersamaan.
Dua suara benturan nyaring terdengar. Keduanya mengerahkan tenaga *Lwee-kang* hingga benturannya terasa sangat keras. Pengemis itu mengeluarkan seruan tertahan karena tangannya terasa sakit dan tergetar hebat, lalu ia terhuyung beberapa langkah mundur. Cie Kiat pun terhuyung mundur satu langkah. Ia tidak menyangka pengemis itu memiliki tenaga yang sekuat itu, padahal ia telah mengerahkan lima bagian tenaga *Lwee-kang*-nya.
Setelah mampu menguasai diri, si pengemis menatap Cie Kiat dengan tajam dan mendengus dingin.
"Ternyata kau memang mempunyai kepandaian yang lumayan! Pantas saudara-saudaraku binasa seluruhnya di tanganmu!" kata pengemis itu dengan nada datar.