Chapter 56
Cie Kiat tidak menyahuti perkataan pengemis itu. Dia hanya memandang dengan pandangan tidak mengerti, karena dia memang benar-benar tidak paham persoalan yang disebutkan oleh pengemis tersebut.
Melihat Cie Kiat berdiam diri, dengan cepat si pengemis melompat menyerang lagi. Serangan pengemis itu kali ini hebat sekali. Membawa angin serangan yang luar biasa kuat, angin itu berkesiutan nyaring hingga menggugurkan daun-daun pohon.
Cie Kiat tidak berani berayal; dia tidak mau membiarkan dirinya diserang oleh pengemis itu. Dia teringat kepada dua ekor binatang berbisa yang disaksikannya beberapa saat lalu. Gerakan-gerakan binatang berbisa itulah yang menyebabkan Cie Kiat mampu menciptakan ilmu silat barunya.
Dengan cepat Cie Kiat menggerakkan tangannya. Tanpa disadarinya, dia bergerak mengikuti gerakan kedua binatang berbisa yang pernah disaksikannya. Hasilnya luar biasa. Tahu-tahu tangan Cie Kiat bergerak cepat sekali dan berhasil menghajar pundak pengemis itu.
"Duk!" Tangan Cie Kiat menghajar pundak pengemis tersebut dengan keras hingga terdengar suara benturan. Terdengar seruan kaget dari si pengemis yang terlempar beberapa kaki dan ambruk ke tanah dengan suara gedebukan yang keras.
Namun, pengemis itu lihai dan tangguh. Begitu tubuhnya terbanting, dengan lekas dia mencelat untuk berdiri lagi. Dengan mata memancarkan cahaya bengis, pengemis ini menatap Cie Kiat yang kala itu berdiri tenang di tempatnya. Tubuh si pengemis gemetar, menggigil karena kegusaran yang berkecamuk di dalam hatinya. Dia nekad ingin mengadu jiwa dan binasa bersama-sama dengan Cie Kiat.
"Kau... kau pelajar setan! Hari ini aku akan adu jiwa denganmu!" kata pengemis itu dengan suara gemetar. "Tak akan tenang hatiku kalau kau belum mampus dan lenyap dari permukaan bumi ini!" Setelah berkata begitu, dengan nekad si pengemis melompat menerjang ke arah Cie Kiat lagi.
Melihat kenekadan pengemis itu, Cie Kiat jadi kewalahan. Namun, karena Cie Kiat telah mengambil keputusan untuk menundukkan pengemis ini, dia terus menghadapinya. Waktu si pengemis menyerang lagi, Cie Kiat bergerak cepat. Dia mengegoskan serangan si pengemis, kemudian dengan sigap mengulurkan tangannya untuk menotok jalan darah Tay-yang-hiat si pengemis.
Totokan Cie Kiat berhasil! Si pengemis terkejut waktu merasakan jalan darah Tay-yang-hiatnya ditotok oleh pemuda bermarga Lie tersebut. Dia menjerit kaget, tetapi sudah terlambat. Tubuhnya mengejang dan ambruk ke tanah dengan keras. Seketika itu juga dia meringkuk tanpa bisa menggerakkan anggota tubuhnya.
Cie Kiat menghampiri pengemis itu. Dilihatnya pengemis tersebut sedang mendelik dengan mata terbuka lebar. Rupanya, biarpun tubuhnya sudah tertotok dan dalam keadaan tak berdaya, dia masih tetap bergusar. Sedikit pun tidak tampak perasaan takut di wajahnya; dia malah ingin memaki.
"Pelajar edan! Pelajar setan! Cepat bebaskan aku!" maki pengemis itu dengan suara mengancam. "Kalau saja aku terlolos dari tanganmu, niscaya aku akan mengadu jiwa. Aku mau lihat siapa yang akan mampus di antara kita!"
Cie Kiat tersenyum, sikapnya berubah menjadi sabar. "Saudara, kau ternyata salah paham. Kau salah mengenali orang! Percayalah pada kata-kataku, aku tidak mengenal dirimu dan kita belum pernah saling jumpa. Maka dari itu, janganlah kau bersikeras bahwa aku ini musuhmu! Aku adalah pengelana, dan aku belum pernah mengalami persoalan yang kau sebutkan tadi."
Mendengar perkataan Cie Kiat, pengemis itu tertawa dingin sambil mendengus. "Hmm, kau masih ingin berusaha membantah?" bentak pengemis itu dengan suara keras. "Tak usah kau memberikan alasan yang tidak masuk akal! Aku sudah dua kali bertemu denganmu, mustahil aku salah mengenali orang! Kalau memang mau membunuhku, bunuhlah! Aku bukan manusia yang takut mati!"
Mendengar perkataan pengemis tersebut, Cie Kiat bertambah heran. Menurut si pengemis, mereka sudah bertemu dua kali, padahal setahu Cie Kiat, dia tidak pernah bertemu dengan orang tersebut. Apakah di dunia ini ada orang lain yang mirip dengannya? Cie Kiat benar-benar bingung hingga akhirnya dia hanya mengawasi pengemis itu dengan tatapan heran.
Melihat Cie Kiat berdiam diri, si pengemis bertambah murka karena mengira Cie Kiat sengaja ingin mempermainkannya. "Kalau mau membunuh, bunuhlah!" teriak pengemis itu lagi dengan suara mengguntur.
Cie Kiat tersadar dan menghela napas. "Saudara, aku menyesal sekali. Mengapa kau yang masih muda bisa salah mengenali orang? Perhatikanlah baik-baik wajahku, kau tentu akan melihat perbedaan antara diriku dengan orang yang kau temui beberapa waktu lalu."
Mendengar perkataan itu dan melihat wajah Cie Kiat yang bersungguh-sungguh, pengemis itu mulai bimbang. Dia memperhatikan wajah Cie Kiat dengan tajam hingga akhirnya tampak terkejut. "Oh... ini... kau memang bukan dia... bukan dia!" katanya seperti terkejut.
Cie Kiat mengetahui bahwa pengemis tersebut sudah melihat wajahnya dengan jelas. "Sudahkah kau melihat wajahku dengan tegas? Bukankah benar perkataanku bahwa kau telah salah mengenali orang?"
Pengemis itu tampak bingung. "Ini aneh! Kau berpakaian sama seperti orang itu! Tetapi ternyata sekarang aku bisa melihat dengan jelas bahwa kau bukan dia. Kau bukan pelajar setan itu. Hai, aku memang benar-benar telah salah mengenali orang!" gumamnya perlahan.
Cie Kiat girang karena pengemis itu mau mengakui kesalahannya. Dia tersenyum sambil berjongkok di samping pengemis itu lalu mengurut jalan darahnya yang tertotok. Sambil mengurut, Cie Kiat berkata, "Maafkanlah, tadi aku terpaksa menotok jalan darahmu karena khawatir akan terjadi pertempuran hebat yang menimbulkan korban jiwa."
Pengemis itu tampak malu hingga wajahnya berubah menjadi merah. Waktu jalan darahnya pulih kembali, dia cepat-cepat bangun berdiri dan merangkapkan tangan untuk memberi hormat kepada Cie Kiat. Hal ini membuat Cie Kiat tergopoh-gopoh membalas hormat tersebut.
"Jangan begitu, Saudara! Kita memang sering salah mata kalau hendak mengenali seseorang," ujar Cie Kiat.
Pengemis itu tersenyum malu. "Maafkanlah kekhilafanku tadi. Aku, Bo Tiong Hiap, meminta maaf sebesar-besarnya!"
Cie Kiat merendah. Kemudian, dia menanyakan mengapa pengemis tersebut begitu memusuhi orang yang mirip dengan dirinya. Pengemis itu menghela napas. "Ceritanya sangat panjang. Banyak saudara kami dari pihak Kay-pang yang menjadi korban dari sastrawan setan itu." Setelah berkata begitu, pengemis tersebut merasa kurang enak hati karena teringat bahwa Cie Kiat juga seorang pelajar.
Cie Kiat tersenyum. "Bolehkah aku mengetahui persoalanmu itu?" tanyanya sambil mengalihkan pembicaraan. Dia juga menyebut dirinya sebagai *Hak-seng* (murid), sebuah panggilan yang merendah.
Pengemis itu mengangguk cepat. "Boleh! Tak menjadi halangan bagiku. Tetapi lebih baik kalau Kong-cu ikut menemui guruku dulu, nanti guruku yang akan menceritakan segalanya."
Cie Kiat menyetujuinya. Mereka segera berlalu dari tempat tersebut dengan berlari cepat menggunakan ilmu *Ginkang*. Meskipun *Ginkang* Cie Kiat jauh lebih tinggi beberapa tingkat, dia tidak mau memperlihatkan keunggulannya dan sengaja hanya mengerahkan lima bagian ilmu larinya agar bisa berlari beriringan.
Bo Tiong Hiap tidak menduga bahwa Cie Kiat sengaja mengalah. Dia mengira kepandaian mereka seimbang, dan kekalahannya tadi hanyalah disebabkan oleh kelengahannya sendiri. Bo Tiong Hiap bahkan mengerahkan tenaganya untuk berlari lebih cepat, namun Cie Kiat tetap mampu mengimbangi langkahnya.