Chapter 57
Hal ini menyebabkan dia mau tak mau menjadi tambah penasaran. Dengan mengerahkan seluruh tenaga *ginkang*-nya, pengemis yang mengaku bermarga Bo itu berlari dengan sangat cepat. Tubuhnya melesat bagaikan terbang; gerakannya luar biasa cepat. Pengemis itu menduga bahwa dia pasti akan dapat meninggalkan Cie Kiat dalam jarak yang cukup jauh. Dia bermaksud memperlihatkan kepada Cie Kiat bahwa *ginkang*-nya berada satu tingkat di atas pemuda bermarga Lie itu.
Dengan menunjukkan bahwa *ginkang*-nya lebih unggul, Bo Tiong Hiap berniat menebus kekalahannya saat ia sempat dirubuhkan oleh Cie Kiat. Namun, Cie Kiat hanya tersenyum tenang saat melihat kelakuan pengemis tersebut. Dia tetap mengikuti dengan gerakan yang ringan dan tenang. Tubuhnya melesat cepat sekali. Meskipun tampak Cie Kiat tidak menggerakkan kakinya, tubuhnya melayang dengan kecepatan luar biasa, selalu beriringan dengan Bo Tiong Hiap.
Hal ini, selain membuat Bo Tiong Hiap penasaran, juga membuatnya sangat kagum. Hatinya berdebar. Dia segera mengetahui bahwa dirinya memang memiliki kepandaian yang jauh di bawah pemuda bermarga Lie yang sedang menemaninya menemui gurunya guna meminta keterangan.
Cie Kiat masih terus mengikuti di samping pengemis tersebut dengan sikap yang sangat tenang. "Masih jauh, Bo Heng-thay?" tanya Cie Kiat saat mereka telah berlari cukup jauh dan belum tampak sebuah rumah penduduk pun.
"Tidak jauh!" sahut Bo Tiong Hiap cepat. "Sebentar lagi kita akan sampai."
Mereka berlari lagi dengan cepat. Ketika sampai di sebuah tikungan, tampak di hadapan mereka sebuah kelenteng. Bo Tiong Hiap menunjuk ke arah sana. "Itu dia!" katanya. "Di kuil itulah guruku mondok."
Cie Kiat dan pengemis bermarga Bo itu berlari lebih cepat lagi. Tubuh mereka bagaikan melesat agar segera sampai di kelenteng yang ditunjuk oleh Bo Tiong Hiap.
Kelenteng yang ditunjuk oleh Bo Tiong Hiap ternyata merupakan bangunan yang besar, indah, dan kokoh. Tembok kelenteng itu berwarna merah, begitu pula dengan daun pintu ruangan tengah kuil tersebut. Dengan ringan dan enteng, Cie Kiat dan Bo Tiong Hiap melompat ke atas dinding kuil. Suasana sangat sepi; tidak ada seorang manusia pun. Bo Tiong Hiap tidak langsung turun, dia menoleh kepada Cie Kiat yang berdiri di sisinya.
"Guruku berada di dalam kuil ini, Kongcu," kata Bo Tiong Hiap. Cie Kiat mengangguk. "Mari kita turun!" ujar Bo Tiong Hiap lagi sambil melompat dari atas dinding dengan ringan. Cie Kiat hanya mengikuti dengan tenang.
Mendengar suara itu, Bo Tiong Hiap berteriak, "Suhu, muridmu telah pulang!"
Saat Bo Tiong Hiap menuju ke belakang kuil melalui pintu berbentuk bulan sabit, Cie Kiat mengikuti pengemis tersebut tanpa banyak bertanya. Mereka membelok dua kali hingga akhirnya sampai di taman kelenteng. Belum lagi mereka memasuki pekarangan yang menyerupai taman itu, terdengar suara *tak-tuk* berulang kali, disertai suara orang berbicara.
"Hai, kau benar-benar lihai, Loo-toa!"
Mendengar suara itu, Bo Tiong Hiap kembali berteriak, "Suhu, muridmu telah pulang!"
Mereka melangkah masuk dan tampak di samping batu karang kecil, di atas kursi batu marmer putih, duduk seorang pengemis tua yang rambut dan jenggotnya telah memutih. Di sampingnya duduk seorang lelaki setengah baya yang juga memelihara jenggot, tetapi jenggotnya masih hitam legam. Wajahnya sangat segar, dan ia mengenakan baju *thung-sia* berwarna kelabu. Di atas kursi panjang di sisi mereka masing-masing, tampak sebuah cawan.
Tangan kakek pengemis yang rambut dan jenggotnya putih bersih itu sesekali bergerak. Mereka duduk menghadap dinding yang berjarak tujuh tombak. Kedatangan Bo Tiong Hiap dan Cie Kiat seolah tidak diacuhkan oleh kedua orang itu. Sedikit pun mereka tidak menoleh saat Cie Kiat dan Bo Tiong Hiap menghampiri.
Saat melangkah lebih dekat, Cie Kiat baru bisa melihat bahwa kakek pengemis itu melemparkan sebutir biji *tokkie* yang melesat cepat ke arah dinding, di mana pada dinding tersebut terlukis kotak-kotak seperti papan *tokkie*. Biji *tokkie* yang dilemparkan menancap tepat di dalam salah satu kotak. Biji itu tidak jatuh, melainkan melesak masuk ke dalam dinding. Hal ini menunjukkan betapa tingginya tenaga lemparan pengemis tua yang rambut dan jenggotnya sudah memutih seluruhnya itu.
"Bagus!" seru lelaki berjubah kelabu yang duduk di samping si pengemis. "Kau memang benar-benar hebat! Sekarang giliranku membuka jalan kematianmu!"
Setelah berkata demikian, lelaki itu menggerakkan tangannya, maka melesatlah sebuah biji *tokkie*. Biji itu meluncur dan menancap tepat di salah satu kotak pada deretan keempat dan kotak keenam. Pengemis tua itu melompat berjingkrak sambil mengeluarkan seruan kesal.
"Hai, kau memang benar-benar licik!" seru si pengemis sambil tertawa. "Kau telah memilih jalan kematianku sehingga aku tidak bisa melangkah lagi!"
Orang tua yang duduk di samping kakek pengemis itu memang lihai sekali. Tadi dia telah menjalankan biji *tokkie*-nya ke jalan *siung*, sehingga saat itu juga jalan bagi si pengemis tertutup. Kedua kakek itu tertawa terbahak-bahak; tampak mereka sangat senang. Mereka mengambil cawan masing-masing lalu meminum isinya. Setelah itu, tanpa menoleh, si pengemis tua berkata, "Hiap-jie, apakah kau berhasil?"
Tadi, saat melihat kedua orang tua itu sedang sibuk dengan permainan *tokkie* mereka yang aneh, Cie Kiat dan Bo Tiong Hiap tidak berani mengganggu. Mereka hanya berdiri di pinggir dan menyaksikan. Diam-diam Cie Kiat kagum melihat tenaga kedua kakek itu yang dapat melempar biji *tokkie* dengan tepat untuk menutupi jalan lawannya.
Saat pengemis tua itu menegur, Bo Tiong Hiap segera menjura memberi hormat. Pengemis tua tersebut menoleh dan memperhatikan Cie Kiat. Begitu pula kawannya; dia menoleh dan mengawasi Cie Kiat. Tampaknya mereka agak tercengang.
Setelah memberi hormat kepada gurunya, Bo Tiong Hiap berkata, "Suhu dan Boen Su-peh, jangan salah lihat. Kongcu ini bukanlah pelajar setan Coe Mie La. Memang pakaian dan wajahnya sangat mirip dengan Coe Mie La, tetapi ternyata dia tidak mempunyai sangkut paut dengan pelajar setan bermarga Coe itu."
Tampak kakek pengemis itu memperhatikan Cie Kiat dengan mata terbelalak. Orang tua berbaju kelabu itu pun memperhatikannya dengan teliti.
"Siapa namamu, Kongcu?" tanya si pengemis tua setelah mengawasi sekian lama. Cie Kiat menyebutkan namanya. Pengemis tua itu mengangguk-anggukkan kepala seolah sedang berpikir, sementara Bo Tiong Hiap menceritakan bagaimana ia berjumpa dengan Cie Kiat.
"Jadi, benar kau tidak mengenal pelajar setan Coe Mie La itu?" tegur si pengemis tua sambil mengawasi Cie Kiat dengan tajam.
Cie Kiat mengangguk. "Ya, hamba tidak tahu-menahu persoalan yang sedang Lo-cianpwe hadapi," jawab Cie Kiat cepat. "Lagipula, hamba memang tidak mengenal orang yang disebut Coe Mie La itu."
Si pengemis tua menghela napas. Dia kemudian menyebutkan namanya dan memperkenalkan kawannya yang berpakaian kelabu tersebut. Ternyata pengemis tua itu bernama Ang Po Sian. Dia adalah tokoh yang memiliki kepandaian luar biasa dari perkumpulan Kay-pang. Seharusnya Ang Po Sian menduduki jabatan *Pang-cu* di Kay-pang, namun karena ia tidak ingin direpotkan oleh persoalan duniawi, ia menolak jabatan tersebut.
Meskipun Kay-pang telah mengangkat *Pang-cu* lain, seluruh anggota perkumpulan tetap menghormati Ang Po Sian. Mereka lebih mengindahkan dan mematuhi orang bermarga Ang ini dibandingkan *Pang-cu* yang sedang menjabat. Ang Po Sian dihormati karena selain berhati welas asih, ia juga sangat bijaksana dalam setiap tindakan. Setiap kali Kay-pang menghadapi persoalan rumit, sang *Pang-cu* akan mencari Ang Po Sian untuk meminta pendapat dan nasihat. Maka dari itu, meskipun bukan seorang *Pang-cu*, Ang Po Sian tetap memiliki pengaruh besar dalam perkumpulan pengemis tersebut.