Chapter 58
Kakek berpakaian serba kelabu yang menjadi kawan Ang Po Sian itu bernama Ma Thian Ie, seorang kiam-khek atau ahli pedang dengan ilmu yang luar biasa. Ia menggemparkan dunia persilatan dengan jurus Coa-ting Sin-kiam. Ma Thian Ie dikenal sebagai pribadi yang tidak ingin dipusingkan oleh persoalan duniawi, sehingga ia lebih banyak berkelana untuk mencari ketenangan di tempat-tempat yang sunyi.
Ia dan Ang Po Sian adalah sahabat karib yang sering bertemu untuk bertanding Tokkie. Ma Thian Ie adalah sosok yang polos, berterus terang, dan selalu menghadapi setiap persoalan dengan tenang.
Dua bulan yang lalu, Ang Po Sian menghadapi masalah besar. Beberapa anggota Kay-pang ditemukan tewas di muka hutan oleh seorang pelajar berwajah tampan dengan tubuh tinggi tegap. Pelajar itu memiliki kepandaian yang luar biasa tinggi namun sangat kejam, bahkan salah seorang Tiang-lo dari Kay-pang tewas di tangannya. Kejadian tersebut disaksikan secara kebetulan oleh Bo Tiong Hiap, murid tunggal Ang Po Sian.
Bo Tiong Hiap melakukan pengejaran dan terlibat pertempuran sengit dengan pelajar yang belakangan diketahui bernama Coe Mie La tersebut. Namun, kepandaian mereka terpaut jauh. Jika Coe Mie La berniat membunuh, ia dapat melakukannya dengan mudah. Namun, ia justru tidak melukai Bo Tiong Hiap. Meski Bo Tiong Hiap terus melancarkan serangan nekat demi membalas dendam atas kematian saudara-saudara seperguruannya, Coe Mie La terus mengalah dengan senyum manis di wajahnya. Akhirnya, ia melompat menjauh.
"Pergilah kau pulang ke gurumu!" seru pelajar itu dengan nada mengejek. "Aku tidak tega membunuhmu. Beritahukan kepada Ang Po Sian bahwa suatu saat nanti aku ingin menemuinya!"
Bo Tiong Hiap, yang merasa murka dan penasaran, tetap mengejar dan melancarkan serangan. Coe Mie La mendengus, "Kau terlalu kepala batu! Percuma saja kau membuang jiwamu di sini." Meski Bo Tiong Hiap mengerahkan tenaga Lwee-kang yang kuat, ia tetap tidak mampu berbuat banyak karena Coe Mie La dapat menghindari setiap serangannya dengan mudah.
Akhirnya, Coe Mie La melompat ke dahan pohon dan berkata dengan suara datar, "Jika masih penasaran, lima hari lagi aku akan menemuimu dan kita bisa bertempur sepuas hati. Sekarang aku masih memiliki urusan yang harus diselesaikan." Setelah berkata demikian, ia melesat pergi secepat bayangan. Bo Tiong Hiap gagal mengejarnya dan kehilangan jejak.
Karena bingung di mana harus menunggu, Bo Tiong Hiap memutuskan untuk menunggu di tempat tersebut setiap hari dan melaporkan kejadian itu kepada gurunya, Ang Po Sian. Mendengar kabar tersebut, Ang Po Sian murka karena salah satu Tiang-lo Kay-pang ikut terbunuh. Keduanya kemudian menanti selama lima hari di pinggiran hutan, namun Coe Mie La tidak kunjung menampakkan diri.
"Kita harus mencarinya," ujar Ang Po Sian. "Biarpun ia melarikan diri ke ujung dunia, kita harus membalas dendam atas kematian saudara-saudara kita di Kay-pang."
Setelah dua bulan melakukan pengembaraan tanpa hasil, suatu senja, saat Bo Tiong Hiap tengah menikmati pemandangan, ia melihat seorang penunggang kuda yang dikenali sebagai Coe Mie La. Bo Tiong Hiap segera mengerahkan Gin-kang untuk mengejar. Saat berhasil menyusul, Coe Mie La segera melompat turun dari kudanya.
"Aha, rupanya kita bisa bertemu di sini!" seru Coe Mie La sambil tertawa.
Bo Tiong Hiap yang murka berteriak, "Kau lelaki pengecut yang tidak menepati janji! Tidak akan kubiarkan kau meloloskan diri dari orang-orang Kay-pang!"
Coe Mie La tersenyum dan bertanya, "Mengapa saudara kecil tampak begitu berang?"
Panggilan "saudara kecil" itu justru kian membakar amarah Bo Tiong Hiap yang merasa disepelekan. Ia pun berseru, "Kau pelajar setan! Tanganmu sangat kejam, sekarang aku akan mengambil nyawamu!"
Coe Mie La menggoyangkan tangan, meminta agar Bo Tiong Hiap bersabar. "Jangan bertempur dulu. Aku memang ingin menguji kepandaianmu, tetapi saat ini aku memiliki urusan yang sangat penting. Beri aku waktu sampai besok sore, setelah itu kita bisa bertempur sepuas hati!"
Bo Tiong Hiap menolak percaya. "Dulu kau ingkar janji dan bersembunyi seperti maling! Aku tidak akan membiarkanmu lolos lagi!"
Dengan tenang, Coe Mie La menjawab, "Aku datang menepati janji dua bulan lalu, namun kau yang tidak datang. Aku menunggumu selama tiga hari di depan hutan."
"Itu hanya alasanmu!" seru Bo Tiong Hiap sambil bersiap menyerang. Coe Mie La hanya tersenyum manis, senyum yang menyerupai seorang gadis.