Halo!

Ibu Hantu - Chapter 59

Memuat...
Ibu Hantu

Chapter 59

Wajah Coe Mie La terlalu cakap untuk ukuran seorang laki-laki.

"Sahabat kecil, dengarlah!" kata Coe Mie La dengan cepat.

"Di depan tempat ini terdapat sebuah rumah kosong yang tidak ditempati orang. Oleh karena itu, kuminta besok kau tunggu aku di sana! Tetapi ingat, jangan datang bersama Ang Po Sian, gurumu itu, karena belum waktunya aku bertemu dengannya. Kalau memang kau datang bersama orang bermarga Ang itu, seperti di hutan dua bulan yang lalu, aku tidak mau menemuimu!"

Mendengar perkataan Coe Mie La, wajah Bo Tiong Hiap berubah merah. Ia merasa jengah. Rupanya, pelajar bermarga Coe ini memang datang untuk menepati janjinya karena ia mengetahui bahwa Bo Tiong Hiap datang bersama Ang Po Sian. Untuk sesaat, Bo Tiong Hiap berdiri terpaku.

Melihat kelakuan pengemis muda tersebut, Coe Mie La tertawa. "Nah, sahabat kecil, aku akan menemuimu di rumah yang terpisah tiga li dari sini. Pada saat itu, kau boleh bertempur sepuas hatimu! Namun, sekali lagi kuperingati, janganlah kau datang bersama orang bermarga Ang itu!"

Mendengar peringatan terakhir Coe Mie La, Bo Tiong Hiap menjadi gusar dan mendengus berulang kali. "Hmm, kenapa kau takut kepada guruku?" tanya Bo Tiong Hiap dengan nada mengejek.

Coe Mie La tersenyum manis tanpa terlihat kesal sedikit pun. "Aku bukan takut kepada gurumu, hanya saja kurasa belum waktunya aku menemuinya," jawabnya.

Bo Tiong Hiap sempat ragu, namun Coe Mie La tertawa. "Kau tak usah khawatir, aku pasti akan datang menemuimu di rumah kosong yang terpisah tiga li dari sini besok siang. Sekarang, berhubung aku masih mempunyai urusan penting, aku tidak bisa menemanimu lebih lama lagi!"

Setelah berkata demikian, si pelajar melompat ke atas kudanya. Ia menghentak tali kekang kuda tunggangannya sembari tersenyum, lalu kuda itu berlari dengan cepat.

Bo Tiong Hiap berdiri diam. Ia bimbang dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Jika ia menghadang pelajar itu, tentu ia akan kalah jauh karena kepandaian Coe Mie La berada di atas dirinya. Akhirnya, pengemis bermarga Bo ini menghela napas saat bayangan kuda dan Coe Mie La telah lenyap.

Dengan lesu, ia kembali ke kelenteng tempat gurunya dan Ma Thian Ie berada. Bo Tiong Hiap menceritakan segalanya kepada gurunya, termasuk janji pertemuan di rumah kosong tersebut.

Ang Po Sian menghela napas. "Pelajar setan itu benar-benar seperti iblis yang muncul dan hilang dengan cepat! Memang benar pepatah mengatakan bahwa ombak yang di belakang mendorong ombak yang di muka; golongan tua akan digantikan oleh golongan muda. Menilik cerita Hiap-jie, pelajar bermarga Coe itu memiliki kepandaian yang luar biasa."

Ma Thian Ie pun mengiyakan. "Lalu, apa yang akan kau lakukan?" tanya Ma Thian Ie kepada Ang Po Sian.

Ang Po Sian tidak langsung menjawab, ia menatap ke arah langit seolah memandang sesuatu yang jauh. "Bagaimanapun juga, sakit hati kawan-kawan di dalam Kay-pang yang telah dibunuh oleh bocah bermarga Coe itu harus dibalaskan. Namun, karena Hiap-jie telah berjanji untuk menghadapi pelajar itu seorang diri, kita tidak bisa ikut campur. Jika kita datang, berarti kita akan kehilangan muka. Dengan sendirinya, Hiap-jie harus menepati janji untuk menemuinya demi membalas dendam atas saudara-saudara kita yang telah gugur."

Bo Tiong Hiap segera berlutut. "Tee-cu menerima perintah dari Su-hu!" tegasnya.

Namun, saat Bo Tiong Hiap pergi seorang diri ke rumah kosong tersebut, ia tidak menduga bertemu dengan Cie Kiat yang berpakaian mirip Coe Mie La. Bo Tiong Hiap sempat mengira Cie Kiat adalah Coe Mie La sehingga ia menyerang dengan mati-matian. Setelah melihat wajah Cie Kiat dengan saksama, Bo Tiong Hiap menyadari kesalahannya. Wajah Coe Mie La jauh lebih cakap, mirip wanita, halus, bersih, dan matanya sangat jeli.

Mendengar cerita itu, Cie Kiat mengerutkan kening. "Apakah sebelumnya antara pihak Kay-pang dan Coe Mie La terjadi suatu bentrokan?"

Ang Po Sian menghela napas. "Aku tidak tahu pasti, tetapi yang membuat kami sakit hati adalah mengapa ia begitu kejam membunuh belasan orang Kay-pang? Mengapa ia tidak menemui Ketua Kay-pang untuk menjelaskan kesalahannya? Mengapa ia harus main hakim sendiri? Sekarang, setelah berjanji bertemu Hiap-jie, ia tidak muncul lagi. Apa sebenarnya maunya? Menurut keterangan Hiap-jie, jika Coe Mie La ingin membunuhnya, itu semudah membalikkan telapak tangan karena kepandaian pelajar setan itu luar biasa tinggi."

Saat Ang Po Sian terdiam, Ma Thian Ie bertanya mengenai tujuan Cie Kiat. Cie Kiat tidak mau berterus terang karena ia masih memiliki kesulitan sendiri. Jika ia mengaku sedang mencari musuh-musuh besarnya, persoalannya akan menjadi rumit. Oleh karena itu, Cie Kiat hanya mengatakan bahwa ia sedang mengembara untuk menambah pengalaman. Ma Thian Ie, Ang Po Sian, dan Bo Tiong Hiap mempercayainya.

Malam itu, Cie Kiat bermalam di kelenteng bersama mereka. Banyak hal yang ia dengar dari Ang Po Sian mengenai pergolakan dunia persilatan, termasuk kelicikan jagoan berilmu tinggi namun bertabiat jahat. Kedua jago tua itu menduga Cie Kiat masih hijau dalam dunia kang-ouw, sehingga mereka menceritakan banyak hal agar Cie Kiat memperoleh pengetahuan luas.

Cie Kiat merasa senang bergaul dengan mereka. Mereka bercakap-cakap hingga larut malam. Namun, saat hendak beristirahat, tiba-tiba terdengar suara bentakan nyaring disusul denting senjata logam.

Ang Po Sian dan Ma Thian Ie melompat dengan cepat. Tubuh mereka seringan burung walet. Cie Kiat merasa kagum melihat kesempurnaan gerakan kedua pendekar tua itu.

"Mari kita melihat ke luar!" ajak Bo Tiong Hiap.

Cie Kiat mengangguk dan mereka melesat keluar kelenteng. Di bawah cahaya rembulan, tampak dua sosok tubuh sedang berlari dan bertempur hebat. Semakin lama, mereka semakin mendekat. Ang Po Sian dan Ma Thian Ie berdiri berjejer mengawasi, disusul oleh Cie Kiat dan Bo Tiong Hiap.

Ternyata, kedua sosok yang bertempur itu adalah dua orang gadis berusia sekitar delapan belas tahun. Wajah mereka sangat cantik, namun setiap serangan mengandung tenaga kuat dan mematikan. Ang Po Sian dan yang lainnya terkejut melihat ilmu silat yang luar biasa gesit dari kedua gadis tersebut.

Gadis pertama bersenjatakan golok pendek, sementara gadis kedua memegang pedang di tangan kanan dan hud-tim (kemoceng bulu) di tangan kiri. Hud-tim tersebut, di tangan gadis yang jago, berubah menjadi senjata yang dahsyat.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment