Chapter 60
Bulu-bulu *hud-tim* yang lemas dan lembut itu terkadang bisa berubah keras dan kaku seperti baja. Sekali hantam, batu gunung pun bisa hancur berantakan!
Gadis yang mencekal *hud-tim* dan pedang ini telah mengeluarkan serangan-serangan mematikan yang membuat lawannya benar-benar kewalahan. Gadis satunya, yang mengenakan gaun merah dan memegang sepotong golok pendek, terus terdesak mundur. Ia hanya mampu membela diri dan jarang memiliki kesempatan untuk membalas serangan. Sementara itu, gadis berbaju ungu yang memegang *hud-tim* dan pedang terus merangsek dengan serangan yang luar biasa hebat.
"Hmm, kuku garuda seperti kau harus mampus!" bentak gadis berbaju ungu itu sambil terus melancarkan serangan berbahaya.
"Sebangsa kuku garuda tidak boleh dibiarkan hidup. Kalian bisa membahayakan kawan-kawan di rimba persilatan!" Gadis berbaju merah yang bersenjatakan golok pendek mendengus dingin. "Kau adalah orang yang tidak tahu diri!"
"Kalau orang-orangku tahu kau berada di sekitar daerah ini, jangan harap kau bisa meloloskan diri lagi!" Gadis berbaju ungu itu menggerakkan goloknya, menangkis serangan *hud-tim* lawannya dengan keras. Begitu *hud-tim* tertangkis, ia segera menyerang ulu hati lawannya dengan pedang.
Gadis bergaun merah itu tidak bisa menarik pulang goloknya karena sedang menangkis, sementara serangan lawan hampir mengenai dadanya. Dengan berani dan cepat, ia menggerakkan tangannya.
*Tring!*
Terdengar suara nyaring saat pedang itu disentil oleh telunjuk gadis bergaun merah. Gadis berbaju ungu itu mendongkol, gusar, dan merasa penasaran.
"Hari ini adalah hari kematianmu! Sakit hati saudara-saudara kami di rimba persilatan akan terbalas!" teriak gadis berbaju ungu itu. Ia melancarkan serangan serentak dari dua jurusan; *hud-tim* menyasar kepala, sementara pedangnya menusuk paha gadis bergaun merah tersebut.
Gadis bergaun merah itu kewalahan dan gugup. Ia terancam; jika menggunakan golok untuk menangkis *hud-tim*, pahanya akan tertusuk pedang. Ia tidak menginginkan hal itu, maka ia segera menjejakkan kaki untuk melompat menjauh. Namun, kali ini gadis berbaju ungu tidak memberi celah. Ia melompat sambil terus menyerang.
Hati gadis bergaun merah itu mencelos. Saat tubuhnya terlambung, sulit untuk mengelakkan kedua serangan itu. Ia memutar goloknya sekuat tenaga. *Trang!* Goloknya berhasil menangkis pedang, tetapi *hud-tim* di tangan kiri lawan terus meluncur menghajar kepalanya. Jika bulu *hud-tim* yang sudah mengeras seperti baja akibat tenaga *lwee-kang* itu mengenai sasaran, tentu batok kepalanya akan hancur.
Gadis berbaju merah itu berseru kaget karena tidak mampu lagi menghindar. Ia merasa ajalnya sudah dekat. Namun, saat jiwanya terancam, sesosok bayangan melompat dengan cepat.
"Lepas!" bentak pendatang itu. *Hud-tim* yang hendak menghantam kepala gadis berbaju merah berhasil dirampas olehnya.
Gadis berbaju ungu terkejut, namun sebagai jagoan wanita yang hebat, ia segera menyambar dengan pedangnya ke arah sosok bayangan tersebut. Sosok itu hanya tertawa tenang dan menangkis pedang tersebut menggunakan *hud-tim* yang baru saja ia rebut. Kemudian, ia melompat menjauh. Gadis bergaun merah pun ikut melompat jauh dengan wajah pucat, merasa baru saja lolos dari maut.
Semua orang menatap penolong tersebut. Ternyata, dia adalah seorang anak muda berpakaian pelajar. Wajahnya cakap, dan ia berdiri sambil tersenyum manis dengan *hud-tim* milik si gadis berbaju ungu di tangannya. Pemuda itu adalah Lie Cie Kiat.
Gadis berbaju ungu itu mendongkol karena *hud-tim*-nya dirampas. Ia menatap Cie Kiat dengan mata mendelik, tubuhnya menggigil menahan murka. Cie Kiat melangkah menghampirinya dengan senyum, lalu mengangsurkan *hud-tim* tersebut dengan kedua tangan untuk mengembalikannya.
"Maafkan saya, Nona. Tadi saya terlalu lancang mencampuri urusan kalian karena tidak ingin terjadi pertumpahan darah," kata Cie Kiat tenang.
Mata gadis itu mendelik lebar. Tanpa menjawab, ia langsung menusuk dengan pedangnya. Cie Kiat tetap tenang. "Sabar, Nona! Jangan cepat marah, nanti lekas tua. Terimalah kembali *hud-tim* milikmu ini!"
Sambil berkata begitu, Cie Kiat menggulung pedang gadis itu dengan *hud-tim*, lalu melemparkannya kembali ke arah pemiliknya. Gadis itu terkejut; ia tidak menyangka Cie Kiat memiliki kepandaian setinggi itu. Orang-orang di sekitar pun merasa kagum. Mereka sadar bahwa jika mereka bertarung melawan Cie Kiat, mereka belum tentu bisa menang.
Gadis berbaju ungu itu menyambar kembali *hud-tim*-nya, lalu berdiri menatap Cie Kiat dengan garang. "Siapa kau? Apakah kau juga kuku garuda seperti dia?" tunjuknya pada gadis bergaun merah.
Cie Kiat tertawa dan merangkapkan tangan memberi hormat. "Nama saya Lie Cie Kiat. Saya tidak mengenal Nona berdua. Saya campur tangan tadi hanya karena tidak ingin terjadi pertumpahan darah. Mohon maaf atas kelancangan saya."
Wajah gadis berbaju ungu itu masih merah padam. "Orang she Lie! Dengan membela dia, berarti kau sama saja membela kuku garuda yang membawa malapetaka bagi orang-orang di rimba persilatan! Aku, Ong Sun Lan, tidak akan membiarkanmu hidup jika nanti terbukti kau juga seorang kuku garuda!" Setelah berkata begitu, ia melirik ke arah Ang Po Sian, lalu melesat pergi hingga tubuhnya lenyap.
"Tunggu dulu, Nona!" panggil Cie Kiat, namun terlambat.
Cie Kiat kemudian menoleh kepada gadis bergaun merah yang masih berdiri di sana. Ia memberi hormat dan bertanya, "Bolehkah saya mengetahui mengapa Nona berdua tadi bertempur?"
Gadis bergaun merah itu mengerutkan alisnya. "Persoalan ini tidak bisa diketahui orang lain karena ini adalah urusan internal kami!" jawabnya ketus.