Chapter 61
"Kalau memang kau merasa pernah melepas budi kepadaku, maka budimu itu akan kubalas nanti!" Mendengar perkataan gadis tersebut, Cie Kiat jadi gelagapan.
"Ini... oh, kau salah paham... ini..." katanya gugup.
Gadis itu tertawa tawar. "Aku, Lan Mie Coe, tidak akan melupakan budi orang! Jangan takut, nanti budi yang pernah kau lepaskan untukku ini akan kubalas! Dendam darah akan ditagih darah, menerima budi harus dibayar dengan budi! Nah, selamat tinggal!" Setelah berkata begitu, gadis yang mengaku bernama Lan Mie Coe tersebut menjejakkan kakinya, tubuhnya melesat dengan cepat sekali. Dalam waktu yang sangat singkat, ia telah lenyap dari pandangan orang banyak.
Tadi sebelum pergi, Lan Mie Coe sempat melirik kepada Bo Tiong Hiap, si pemuda pengemis. Bo Tiong Hiap merasa kenal dengan pancaran mata gadis itu, tetapi ia lupa di mana pernah bertemu dengan pandangan mata seperti itu.
Ang Po Sian dan Ma Thian Ie menghampiri Cie Kiat yang kala itu sedang berdiri terpaku memikirkan sikap aneh Lan Mie Coe. Diri gadis itu tampak diselubungi oleh berbagai macam rahasia. Ang Po Sian menepuk pundak Cie Kiat. "Hebat kau, Kong-cu!" puji Ang Po Sian, sehingga Cie Kiat terpaksa merendah. "Aku tidak menduga kepandaianmu begitu tinggi dan sempurna! Tadi kami tidak sempat memberikan pertolongan kepada gadis itu, tetapi kau telah berhasil menolongnya! Hal ini menunjukkan kepandaian ginkangmu berada di atas kami berdua."
Ma Thian Ie juga memuji anak muda bermarga Lie itu dan menanyakan siapa gurunya. Cie Kiat cepat-cepat memberi hormat. "Maafkanlah Jie-wie Loo-cianpwee! Bukannya boanpwee tidak mau memberitahukan siapa guru boanpwee, namun boanpwee memang benar-benar memiliki suatu kesulitan, sehingga harap dimaafkan karena tidak bisa menyebutkan nama guru," ucapnya sopan.
Ang Po Sian dan Ma Thian Ie tidak tersinggung. Mereka mengerti bahwa pada diri anak muda ini tentu terdapat rahasia hebat dan kejadian luar biasa yang membuatnya tidak bisa menyebutkan asal-usulnya. Mereka pun mengalihkan pembicaraan ke ilmu silat. Cie Kiat, meskipun menyadari kepandaiannya berada di atas kedua jago tua itu, tetap banyak bertanya, sehingga sikapnya sangat menyenangkan hati Ang Po Sian dan Ma Thian Ie.
"Lie Kong-cu!" puji Ang Po Sian sambil tertawa. "Aku kagum kepadamu. Selain kepandaianmu sangat tinggi, budi pekertimu pun luhur sekali, sehingga aku ingin menjadi sahabatmu! Terlepas dari perbedaan usia, aku ingin memberikan sebuah hadiah kepadamu. Hadiah yang tidak berharga, entah kau mau menerimanya atau tidak?"
Cie Kiat terkejut. "Mana berani boanpwee memiliki pikiran begitu dan tidak berani merepotkan Loo-cianpwee!"
Ang Po Sian memotong, "Dengar, Lie Kong-cu! Kalau kau menolak pemberianku yang tidak ada harganya ini, aku akan marah dan tidak mau mengenalmu lagi!" Melihat kesungguhan orang tua itu, Cie Kiat tidak berani menolak. Ia penasaran benda apa yang hendak dihadiahkan oleh si pengemis tua itu.
Ang Po Sian merogoh saku dan mengeluarkan sebatang *leng* (semacam lencana). Melihat itu, Bo Tiong Hiap terkejut sekali, ia segera berlutut dan menganggukkan kepala berulang kali. Cie Kiat heran, sementara Ma Thian Ie hanya tersenyum simpul karena tahu benda apa itu.
"Terimalah leng ini!" kata Ang Po Sian dengan suara berwibawa. "Leng ini adalah tanda kebesaran yang hanya terdapat tiga buah di perkumpulan Kay-pang. Yang hijau dipegang Pang-cu, yang kuning emas ini berada di tanganku, dan yang hitam besi dipegang Toa Tiang-lo. Siapa saja yang memegang salah satu leng ini, berarti seluruh anggota Kay-pang dari ketua cabang sampai anggota lainnya harus mendengarkan dan mematuhinya! Biarpun diperintahkan menjeburkan diri ke dalam minyak panas, perintah itu harus dipatuhi!"
Cie Kiat kaget dan segera merangkapkan tangan. "Ang Loo-cianpwee, boanpwee adalah manusia yang tidak bisa membalas budi, maka tidak berani menerima pemberian seberharga ini! Mana berani boanpwee memiliki pikiran macam-macam terhadap partai Kay-pang yang besar?"
Wajah Ang Po Sian berubah. "Jadi kau tidak mau menerima pemberianku?" tanyanya tawar.
Cie Kiat teringat akan pantangan di dunia persilatan bahwa menampik hadiah sahabat bisa memutus persahabatan dan berujung permusuhan. "Boanpwee bukannya tidak mau, hanya saja barang ini terlampau berharga dan langka, maka boanpwee tidak berani menerimanya!"
Ang Po Sian menghela napas. "Lie Kong-cu, terimalah leng ini dan jagalah baik-baik! Jika suatu waktu nanti kau menghadapi kesulitan, tunjukkan leng ini kepada anggota Kay-pang, maka kau bisa meminta bantuan apa saja!"
Setelah bersangsi sesaat, Cie Kiat akhirnya menerima benda itu dengan penuh rasa haru. Setelah itu, mereka pun pergi tidur.
Malam itu, angin bertiup agak keras, menimbulkan suara menyeramkan dari gesekan daun-daun pepohonan. Di sekitar kelenteng tempat mereka tidur, suasana sangat sunyi, hanya terdengar suara binatang malam. Namun, di antara kesunyian itu, tampak sesosok bayangan berkelebat di dekat kelenteng.
Cie Kiat, Bo Tiong Hiap, Ang Po Sian, dan Ma Thian Ie adalah jago-jago yang memiliki kepandaian tinggi. Suara jatuhnya sehelai daun saja bisa membangunkan mereka. Maka, kedatangan sosok bayangan yang memiliki ginkang tinggi itu tetap diketahui. Mereka segera melompat bangun.
Cie Kiat meletakkan jari telunjuk di bibir, memberi tanda agar tidak mengeluarkan suara. Dengan berindap-indap, ia melangkah keluar dengan sangat ringan. Bo Tiong Hiap dan kedua jago tua itu mengawasi. Cie Kiat melompat dekat pintu ruang tengah kelenteng—ruangan sembahyang—lalu berjongkok untuk bersembunyi. Ia memasang mata ke arah luar dan mendapati sesosok bayangan tengah mendekati ruangan itu dengan hati-hati.