Halo!

Ibu Hantu - Chapter 62

Memuat...
Ibu Hantu

Chapter 62

Cie Kiat terus memasang mata. Ketika orang itu hampir mendekat, Cie Kiat melompat keluar untuk menampakkan dirinya. Orang itu terkejut bukan main saat tiba-tiba Cie Kiat muncul di depannya.

Ia mengeluarkan seruan kaget, lalu segera memutar tubuhnya dan melarikan diri tanpa membuang waktu. Sikapnya benar-benar sangat mencurigakan. Cie Kiat tidak mau melepaskan orang tersebut begitu saja. Ia segera melompat untuk mengejarnya. Namun, orang itu memiliki kepandaian *gingkang* yang sangat tinggi, sehingga tidak mudah bagi Cie Kiat untuk menyergapnya.

Cie Kiat berseru, "Tahan! Berhenti! Aku ingin bicara sebentar denganmu!"

Namun, orang itu tidak menghentikan larinya; ia justru mempercepat langkahnya sekuat tenaga. Cie Kiat pun mengempos semangatnya untuk terus mengejar. Orang itu berlari keluar dari kelenteng menuju ke arah selatan. Cie Kiat merasa sangat penasaran karena biasanya ia dapat menyergap lawannya hanya dengan beberapa kali lompatan. Mengingat orang tersebut memiliki *gingkang* yang luar biasa, Cie Kiat tetap mengejar meski jarak mereka masih cukup jauh.

Ang Po Sian, Bo Tiong Hiap, dan Ma Thian Ie, yang melihat Cie Kiat mengejar orang itu, segera melompat keluar dari kelenteng untuk ikut mengejar. Namun, begitu sampai di luar, mereka tidak lagi melihat bayangan Cie Kiat maupun orang yang dikejar oleh anak muda bermarga Lie tersebut.

Ang Po Sian dan Ma Thian Ie menggeleng-gelengkan kepala. "Betapa tingginya *gingkang* Lie Kong-cu!" puji Ma Thian Ie kagum.

"Siapakah orang yang dikejarnya itu, yang bisa meloloskan diri dari sergapan Lie Kong-cu?" tanya Bo Tiong Hiap, juga merasa kagum melihat kelihaian Cie Kiat.

"Lebih baik kita menantikan Lie Kong-cu di kelenteng ini; nanti juga ia akan kembali dengan membawa tawanannya," saran Ma Thian Ie. Bo Tiong Hiap dan Ang Po Sian menyetujuinya, lalu mereka kembali masuk ke dalam kelenteng.

Sementara itu, Cie Kiat terus mengejar orang yang mencurigakan tersebut. Ia mengerahkan seluruh tenaga dalam dan semangatnya. Rupanya, orang yang dikejar pun menyadari bahwa dirinya terus dibayangi oleh Cie Kiat. Ia pun menambah kecepatan larinya, meski di dalam hati ia merasa sangat terkejut. Biasanya, jarang ada orang yang bisa menandingi kecepatan *gingkang*-nya, tetapi kini Cie Kiat mampu mengimbanginya. Bahkan, jarak di antara mereka semakin dekat. Hal ini membuat orang itu gugup, namun meski ia sudah mengerahkan seluruh kemampuan, Cie Kiat tetap seperti bayang-bayang yang tidak terelakkan.

Cie Kiat pun heran mengapa ia belum berhasil menangkap orang tersebut, yang menandakan betapa hebatnya kepandaian lawan. Mereka berlari semakin jauh, kurang lebih belasan *lie*. Tiba-tiba, Cie Kiat melihat sebuah bangunan rumah di depan. Orang itu berlari terus menuju ke rumah tersebut. Cie Kiat berpikir, apakah orang ini hendak memanggil kawan-kawannya yang bersembunyi di dalam?

Sebagai anak muda yang pemberani, Cie Kiat tidak merasa takut. Ia justru mengejar lebih gigih. Tiba-tiba, tubuhnya mencelat ke arah samping dan melayang di udara. Saat melayang, ia mencabut pedangnya, lalu mendarat tepat di depan orang yang dikejarnya.

Orang itu terkejut dan hendak memutar tubuh untuk lari ke arah lain, tetapi Cie Kiat bergerak lebih cepat. Pedangnya telah menempel pada leher orang itu. "Jangan bergerak!" bentak Cie Kiat dengan suara keras.

Orang itu terperanjat hingga tubuhnya menegang. Ia sama sekali tidak menyangka Cie Kiat bisa bertindak secepat itu. Ia menatap Cie Kiat dengan tatapan bengis, tetapi meski murka, ia tidak berani bergerak karena ujung pedang sudah menempel di lehernya.

Cie Kiat mengamati tawanannya. Ternyata, ia adalah seorang lelaki tua bertubuh kurus tinggi. Wajahnya yang pucat terlihat sangat bengis karena menahan amarah.

"Kau... kau... mau apa mengikuti diriku?" bentak lelaki tua itu dengan suara gemetar karena gusar.

Mereka kini berada di pekarangan rumah tersebut. Cie Kiat tersenyum tawar. "Kau masih bertanya mengapa aku mengikuti dirimu? Apakah aku juga tidak boleh bertanya mengapa kau mengintai di kelenteng tempat kami bermalam?"

Mendengar pertanyaan itu, wajah orang tersebut berubah. "Kau... kau..." suaranya terbata-bata.

Cie Kiat tertawa dingin. "Jawab! Apa maksudmu mengintai kami di kelenteng tadi?"

Wajah lelaki tua itu berubah lagi. "Ini... oh, kau bocah kurang ajar!" serunya gusar. Namun, sebelum ia sempat bergerak, pedang Cie Kiat ditekan lebih dalam hingga menimbulkan rasa sakit.

"Sekali saja kau bergerak, berarti kau mencari kematianmu sendiri!" ancam Cie Kiat. "Jawab pertanyaanku, apa maksudmu mengintai kami?"

Orang tua itu mengerutkan alisnya. Ia murka, tetapi tidak berani meluapkannya karena menyadari nyawanya terancam. Sebelum lelaki tua itu sempat menjawab, pintu rumah terbuka. Dari dalam keluar seorang gadis belasan tahun yang berparas cantik. Begitu melihat kakeknya terancam oleh pedang, si gadis kaget dan mengeluarkan seruan tertahan.

Cie Kiat tetap menatap tajam lelaki tua itu sambil menempelkan pedangnya. "Cepat sebutkan, apa maksudmu mengintai kami? Jika tidak, akan kutusukkan pedang ini ke lehermu!"

Si kakek mendongkol luar biasa. "Kalau memang kau mau membunuh, bunuh saja! Aku tidak takut mati!"

Cie Kiat tertawa tawar. "Membunuhmu? Kukira tidak semudah itu. Kalau kau tidak mau bicara, aku akan membuat wajahmu rusak oleh goresan pedangku!"

Lelaki tua itu mendengus dingin. "Aku tidak menyangka orang seperti kau bisa bertindak sekejam itu. Lakukanlah jika kau mau, tetapi ingat, begitu aku lolos dari maut hari ini, aku akan mencarimu sampai ke ujung bumi!"

Cie Kiat kembali tertawa. "Kau berniat membalas dendam padahal kita belum saling kenal? Sekarang cepat jawab! Apakah kau memang ingin melakukan sesuatu yang tidak baik?"

Baru saja si kakek hendak menjawab, gadis yang baru keluar tadi menegurnya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment