Chapter 63
"Thia... kenapa kau...?"
"Cepat kau sebutkan, apa maksudmu mengintai kami?" bentak Cie Kiat.
Thia berarti ayah. Cie Kiat tertawa dingin.
"Nona, kalau memang ayahmu ini terus membandel menutup mulut dan tidak mau mengakui apa yang dilakukannya, tentu dia akan kukirim ke neraka!" kata Cie Kiat dengan suara tawar.
Perkataan Cie Kiat membuat gadis itu memandang dengan penuh kekhawatiran.
"Oh... ini..." katanya dengan suara tergugu.
Sementara itu, tubuh si kakek menggigil saking murkanya. Tiba-tiba, kakek tersebut mengibaskan lengan jubahnya. Sambil menggeser kepalanya yang dimiringkan, kakek tersebut membentak, "Lepas!"
Pedang Cie Kiat hendak dirampasnya. Nekat sekali tampaknya kakek ini.
Cie Kiat tidak menduga bahwa kakek ini bisa berlaku senekat itu. Sebetulnya, jika Cie Kiat menekan ke arah muka sedikit saja, tentu leher si kakek akan tertusuk oleh pedangnya dan menemui ajalnya. Namun, Cie Kiat tidak tega. Dia membiarkan pedangnya terlibat oleh lengan jubah si kakek saat pria tua itu mencoba merampasnya.
Begitu si kakek hampir berhasil, anak muda marga Lie itu menghentak pedangnya dengan keras. Terdengar suara *bret* yang nyaring, kemudian lengan jubah kakek itu terpotong oleh pedang Cie Kiat.
Gadis yang melihat hal itu terkejut dan mengeluarkan seruan tertahan. Dengan cepat, dia melompat menyerang Cie Kiat dari dua arah menggunakan kedua tangannya. Ternyata gadis ini memiliki kepandaian silat yang tinggi dan gerakan yang luar biasa gesit.
Cie Kiat terheran-heran, namun dia tidak bisa berpikir lama karena harus mengelakkan serangan-serangan tersebut. Menggunakan kesempatan itu, si kakek melompat mundur dan menjauh. Setelah melihat ayahnya lolos, si gadis pun ikut mundur. Cie Kiat sengaja membiarkan mereka pergi karena tidak ingin mempersulit gadis itu.
Si gadis mengawasi Cie Kiat dengan tatapan tajam. Cie Kiat merasa pernah melihat tatapan itu sebelumnya, namun ia tidak ingat di mana.
Si kakek membentak dengan suara keras dan bengis, "Bocah, hari ini kau telah merobohkan diriku dengan cara yang sangat memalukan. Namun ingat, suatu waktu aku akan mencarimu guna melakukan pembalasan! Berhubung sekarang aku mempunyai urusan yang sangat penting, aku tidak bisa menemanimu lebih lama lagi!"
Setelah berkata demikian, si kakek memutar tubuh, mencelat, dan berlalu dengan sangat cepat. Kakek itu memang memiliki ilmu meringankan tubuh (*gin-kang*) yang sempurna.
Gadis yang tadi memanggil kakek itu dengan sebutan "Thia" tidak segera pergi. Dia merangkapkan kedua tangan dan memberi hormat kepada Cie Kiat. Hal ini membuat Cie Kiat kaget dan gugup, sehingga ia buru-buru membalas penghormatan tersebut.
"Kong-cu, sekali lagi kuucapkan terima kasih karena telah menolongku dari kejaran Ong Sun Lan!" kata gadis itu sambil membungkuk tiga kali.
Cie Kiat menjadi repot dan terpaksa membalas penghormatan itu. Dia pun teringat bahwa gadis ini adalah orang yang dibantunya semalam, yang mengaku bernama Lan Mie Coe.
Setelah memberi hormat, gadis itu menatap Cie Kiat tajam. "Bolehkah Siauw-moy mengetahui nama dan marga Kong-cu yang mulia?" tanya gadis itu dengan suara merdu dan perlahan.
Cie Kiat memberitahukan namanya, lalu bertanya, "Aku heran melihat ayahmu mengendap-endap mendekati kelenteng tempat kami berteduh, maka aku mengejarnya. Tak tahunya dia adalah ayahmu! Apa maksud ayahmu mengintai kami?"
Mendengar itu, Lan Mie Coe tertawa. "Semuanya salahku sehingga terjadi salah paham antara ayahku dengan dirimu, Lie Kong-cu! Tadi aku menceritakan kepada ayahku bahwa aku telah ditolong oleh seorang pemuda saat jiwaku terancam di tangan Ong Sun Lan. Mungkin ayahku bermaksud mencarimu untuk menyatakan terima kasih."
Cie Kiat menghela napas sambil memasukkan pedangnya ke sarung. "Mungkin begitu. Hanya saja, mengapa begitu berjumpa denganku, ayahmu langsung melarikan diri dengan sangat cepat hingga membuatku payah mengejarnya?"
Lan Mie Coe mengerutkan alisnya dan menghela napas. "Kami mempunyai suatu kesulitan yang sukar dijelaskan. Maka dari itu, kami minta kau memakluminya."
Cie Kiat semakin heran. Wajah Mie Coe menyiratkan tabir rahasia yang sukar dipecahkan. Namun, sebelum Cie Kiat sempat bertanya lagi, tiba-tiba terdengar suara seruling yang melengking tinggi, terkadang jauh, namun sesaat kemudian terdengar sangat dekat. Tiupan itu menunjukkan bahwa sang peniup memiliki tenaga dalam yang sangat kuat.
Wajah Lan Mie Coe pucat pasi dan tubuhnya menggigil. "Si Iblis!" serunya gemetar.
"Kenapa?" tanya Cie Kiat heran.
"Iblis itu! Mengapa dia bisa berada di daerah ini?" Gadis itu menoleh kepada Cie Kiat dan melompat masuk ke dalam rumah. "Mari, kau ikut aku!"
Cie Kiat mengikuti masuk tanpa banyak bertanya. Ruangan itu penuh dengan tumpukan padi dan sebuah penggilingan batu di sudut. Di sudut kanan, tergantung lukisan seorang lelaki tua. Jika diperhatikan, lelaki dalam lukisan itu adalah kakek yang tadi dikejar Cie Kiat.
Si gadis segera menutup pintu dengan tangan gemetar. Cie Kiat memerhatikan ketakutan yang luar biasa pada wajah Lan Mie Coe.
"Iblis ini telengas dan kejam luar biasa, dia selalu membunuh orang dengan membabi buta!" terang si gadis. "Kita akan repot jika terlihat olehnya. Kepandaian si Iblis luar biasa tingginya!"
Cie Kiat heran. Meskipun gadis itu tampak memiliki kepandaian silat yang cukup tinggi, ia terlihat sangat takut hanya dengan mendengar suara seruling.
"Kita tidak boleh terlihat oleh si Iblis, karena kita bisa menghadapi bahaya besar!" kata si gadis sambil mengajak Cie Kiat ke dekat tumpukan padi yang tinggi.
Cie Kiat tertawa kecil. "Aku tidak bermaksud meragukan keteranganmu, hanya saja kukira kita tidak perlu terlalu takut menghadapi manusia seperti orang yang kau sebut Iblis itu."
Gadis itu mendongkol. "Kau belum mengetahui siapa sebenarnya dia dan belum mengenalnya, sehingga kau tidak tahu kekejaman dan ketelengasan tangannya!"
Cie Kiat hanya tertawa. Baru saja si gadis hendak berbicara lagi, suara tiupan seruling yang mengalun sedih terdengar semakin mendekat.