Halo!

Ibu Hantu - Chapter 64

Memuat...
Ibu Hantu

Chapter 64

Sehingga si gadis membatalkan maksudnya untuk berkata. Ia telah menarik tangan Cie Kiat, lalu mereka menyelinap ke dalam tumpukan padi.

Suara seruling terdengar semakin mendekat ke arah tempat itu.

Hati Cie Kiat berdebar cukup keras. Jantung anak muda bermarga Lie ini berdebar bukan karena takut kepada si Iblis, melainkan karena ia dapat merasakan wangi yang tercium dari tubuh si gadis. Karena tubuh mereka berdiri berdampingan dengan sangat dekat, bahu dengan bahu saling bersentuhan, jarak di antara mereka menjadi sangat tipis.

Hal yang membuat hati Cie Kiat berdebar adalah tangan si gadis yang mencekal tangannya. Cie Kiat dapat merasakan halusnya kulit tangan si gadis yang sedang menggenggamnya. Apalagi si gadis sedang dalam keadaan tegang, sehingga setiap kali mendengar suara seruling itu semakin dekat, ia selalu meremas tangan Cie Kiat. Tangannya diremas berulang kali, hal ini membuat Cie Kiat menjadi semakin gugup.

Sebetulnya Cie Kiat ingin menarik tangannya, tetapi ia takut menyinggung perasaan si gadis. Maka dari itu, ia membiarkan tangannya tetap dicekal. Keadaan di sekitar tempat tersebut sangat sepi. Tidak terdengar suara apa pun karena malam telah larut. Hanya suara seruling itu yang terdengar semakin nyaring.

Suara seruling itu terdengar semakin dekat saja. Hal ini membuat tangan si gadis, Lan Mie Coe, menjadi semakin dingin dan keringat dingin membasahi telapak tangannya. Cie Kiat merasakan tangan si gadis bermarga Lan itu dingin luar biasa. Dengan sendirinya, Cie Kiat merasa kasihan. Baru saja ia hendak menghibur, suara seruling yang melengking tinggi itu berhenti.

Sebagai seorang jago silat yang memiliki pendengaran sangat tajam, Cie Kiat segera mengetahui bahwa orang yang meniup seruling itu telah berhenti di muka rumah.

"Dia ada di depan pintu!" bisik Cie Kiat di dekat telinga si gadis.

Saat ia berbisik, beberapa helai rambut si gadis menyentuh hidungnya, membuat hati Cie Kiat semakin berdebar keras.

"Orang itu berdiri bimbang di muka pintu, dia tidak lantas masuk!" Si gadis tidak menyahut, hanya mencekal tangan Cie Kiat. Rupanya, ia sedang ketakutan sekali.

Cie Kiat terus memasang pendengarannya. "Dia... dia telah mengulurkan tangannya mendorong pintu!" bisik Cie Kiat.

Belum lagi Lan Mie Coe menyahut, segera terdengar suara pintu dijeblak. Si gadis sampai terlonjak kaget. Wajahnya pucat sekali dan tubuhnya menggigil sedikit. Dengan mendengar suara daun pintu yang terbuka, si gadis segera mengetahui bahwa Iblis itu sedang melangkah masuk. Cepat-cepat si gadis, Lan Mie Coe, menahan napasnya. Ia takut suara napasnya terdengar oleh si Iblis.

Hal yang benar-benar membuat si gadis semakin takut kepada si Iblis adalah karena pintu itu sebetulnya telah dikunci dan dipalang dengan sebatang kayu tebal. Namun, si Iblis hanya mendorongnya begitu saja, pintu itu langsung terbuka. Palang kayu yang digunakan patah dan jatuh ke lantai dengan suara yang agak keras.

Wajah si gadis menjadi semakin pucat. Cie Kiat dapat merasakan ketakutan di hati si gadis. Ia memasang pendengaran, karena ingin tahu apa yang dilakukan oleh si Iblis. Sebetulnya, Cie Kiat ingin mengintip untuk melihat rupa si Iblis yang membuat Lan Mie Coe begitu ketakutan.

Namun, tumpukan padi terlalu tinggi dan banyak, sehingga tidak mungkin bagi Cie Kiat untuk mengintip. Jika ia menggeser tubuhnya, tentu si Iblis akan mendengar suara gesekan batang padi yang bersentuhan dengan pakaiannya. Setidaknya, sebagai orang yang ditakuti oleh Lan Mie Coe—seorang gadis yang memiliki kepandaian cukup tinggi—tentunya si Iblis sangat lihai, memiliki kepandaian luar biasa, dan pendengaran yang tajam. Maka dari itu, Cie Kiat tidak berani menggerakkan tubuhnya.

Keadaan sangat sunyi. Tidak terdengar suara apa pun. Sunyi sekali. Terdengar si Iblis batuk beberapa kali, kemudian sunyi lagi.

"Hmm... hanya rumah kosong!" gumam si Iblis.

Suara si Iblis sangat lembut, suara seorang wanita. Cie Kiat bertambah heran. Hanya seorang wanita yang suaranya terdengar lembut, mengapa harus membuat Lan Mie Coe begitu ketakutan? Cie Kiat merasa sangat penasaran. Sebetulnya ia ingin melompat keluar dari tempat persembunyiannya guna melihat orang yang menyebut dirinya si Iblis itu, tetapi Lan Mie Coe mencekal tangan anak muda itu dengan keras. Si gadis seolah mengerti maksud hati Cie Kiat. Saat Cie Kiat menoleh sedikit, si gadis menggelengkan kepala perlahan, memberi tanda agar Cie Kiat tidak menimbulkan suara yang bisa memicu kecurigaan si Iblis.

Cie Kiat mengalah. Ia tidak tega menentang keinginan si gadis. Maka dari itu, ia tetap bersembunyi di tempatnya.

"Heran! Heran sekali! Ke mana larinya setan kecil itu?" terdengar si Iblis bergumam lagi dengan suaranya yang lemah lembut.

Terdengar suara gesekan; rupanya si Iblis menggunakan ujung serulingnya untuk mencongkel-congkel tumpukan padi. Lan Mie Coe semakin ketakutan, tubuhnya agak gemetar. Ia takut jika si Iblis terus-menerus mencongkel ujung serulingnya ke bagian lain dari tumpukan padi tersebut. Tentu diri mereka akan ketahuan. Hanya saja, yang membuat Lan Mie Coe bingung adalah siapakah yang dimaksud si Iblis dengan sebutan "setan kecil" itu? Apakah yang dimaksud adalah dirinya sendiri? Namun, Mie Coe yakin bukan dirinya, tentu ada orang lain lagi.

Terdengar si Iblis menghela napas. "Hai...! Setan kecil itu memang benar-benar gesit! Kurang ajar sekali, jika tertangkap, tentu biji matanya akan kukorek keluar!" gumam si Iblis lagi dengan suara yang tetap lembut, walaupun kata-katanya merupakan makian. "Mungkin si setan kecil telah melarikan diri ke arah timur!"

Setelah berkata begitu, terdengar langkah kaki si Iblis menjauh. Hal ini menandakan bahwa si Iblis keluar dari ruangan tersebut. Cie Kiat mendengar langkah si Iblis semakin menjauh, lalu tidak terdengar lagi. Anak muda ini hendak melompat keluar dari persembunyiannya, tetapi tangan Cie Kiat tetap dicekal oleh si gadis bermarga Lan itu dengan keras.

"Jangan keluar dulu!" bisik Mie Coe. "Kita tunggu sesaat lagi."

Cie Kiat merasa heran sekali. Meski heran, Cie Kiat tetap menuruti permintaan gadis itu. Hanya saja, ia tidak mengerti mengapa Lan Mie Coe menyuruhnya tidak keluar, padahal si Iblis yang sangat ditakutinya telah pergi. Mengapa mereka harus bersembunyi terus di tempat yang kotor dan sempit ini?

Memang, sebagai seorang anak muda, Cie Kiat lebih suka berdiam diri di tempat seperti itu bersama si gadis dengan posisi duduk berhimpitan. Namun, sebagai seorang kong-cu, Cie Kiat tidak ingin memiliki pikiran yang bukan-bukan. Ia tidak ingin pikirannya dipenuhi angan-angan kotor. Maka dari itu, ia sangat heran si gadis menahannya untuk tidak keluar.

Saat Cie Kiat sedang kebingungan, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang sangat cepat. Cie Kiat menduga yang datang adalah ayah si gadis, lelaki tua yang tadi menjadi orang buruan.

"Hmmmm... setan kecil itu memang tidak bersembunyi di sini! Kalau memang dia bersembunyi di sini dan menduga aku telah pergi, tentunya dia akan keluar!" gumam seseorang dengan suara kecewa.

Darah Cie Kiat tersirap. Ia kaget karena mengenali suara itu. Suara tersebut adalah suara si Iblis! Dengan sendirinya ia heran mengapa si Iblis kembali. Sebagai orang yang cerdas, Cie Kiat segera tersadar. Tadi rupanya si Iblis sengaja mengeluarkan kata-kata bahwa ia akan pergi. Kemudian, dengan cepat ia meninggalkan rumah beberapa puluh langkah, lalu kembali lagi.

Jika ada yang bersembunyi di situ, tentunya orang itu akan kepergok karena merasa aman untuk keluar. Dengan sendirinya, si Iblis akan memergoki orang tersebut. Mengetahui itu, Cie Kiat bergidik. Betapa cerdiknya Iblis itu. Jika tidak ada Lan Mie Coe, tentu dirinya telah tertipu. Hal ini menunjukkan bahwa biarpun Cie Kiat memiliki kepandaian yang tinggi, ia masih kurang pengalaman di dunia kang-ouw.

Terdengar si Iblis menghela napas, kemudian suara langkah kakinya kian menjauh.

"Sekarang Iblis itu baru benar-benar pergi!" kata Lan Mie Coe sambil melepaskan cekalan tangannya. "Sekarang kita boleh keluar!"

Sambil berkata begitu, si gadis melompat keluar dari tempat persembunyian lebih dahulu. Cie Kiat pun ikut melompat keluar. Bersamaan dengan itu, terdengar suara seruling yang ditiup oleh si Iblis semakin lama semakin menjauh. Si gadis bermarga Lan itu menghela napas. Wajahnya masih agak pucat.

"Ah... kalau saja tempat persembunyian kita sampai dipergoki oleh si Iblis, tentu kita akan celaka!" kata si gadis dengan wajah yang menunjukkan perasaan ngeri. "Dia terlalu kejam, sehingga kita tidak mungkin dapat melawannya. Kepandaiannya terlalu tinggi dan sukar diukur."

Mendengar perkataan si gadis, Cie Kiat tersenyum.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment