Chapter 65
"Tetapi kukira kita tidak usah terlalu takut kepada Iblis itu!" kata Cie Kiat dengan suara tenang.
Si gadis mengerutkan alisnya saat mendengar perkataan Cie Kiat.
"Tak usah jeri padanya?" tanya si gadis.
"Hu, kau belum bertemu dengan dia, maka kau bisa mengeluarkan kata-kata begitu! Tetapi sehebat apa pun Iblis itu, tentunya dia tidak lebih hebat dari jago nomor wahid di daratan Tiongkok, bukan?" kata Cie Kiat.
Si gadis berbalik heran.
"Jago nomor satu?" tanyanya dengan suara tidak mengerti. "Apa maksudmu?"
Cie Kiat tersenyum.
"Ya, menurut anggapanku, biarpun kepandaian si Iblis hebat sekali, tinggi luar biasa, dan tangannya bengis, toh dia belum tentu bisa menguasai rimba persilatan dan menjadi jago nomor satu, bukan?"
Mendengar perkataan Cie Kiat, si gadis memperlihatkan mimik wajah yang serius sekali.
"Tidak bisa kau berkata begitu!" kata Lan Mie Coe cepat. "Iblis ini mempunyai kepandaian yang luar biasa tingginya. Hampir tak ada tandingan bagi dirinya, maka dia selalu mengembara guna mencari seorang jago yang bisa menandingi kepandaiannya. Namun, sampai detik ini, si Iblis masih belum menemui orang yang bisa menandingi atau merobohkan dirinya! Maka dari itu, biarpun dia sangat bengis, tak ada seorang jago pun yang bisa menguasai dirinya dan membendung kejahatan yang dilakukannya!"
Cie Kiat tidak mau mendebat perkataan si gadis lagi. Dia hanya mengambil setumpuk kecil batang padi, membakarnya untuk mengurangi hawa dingin dan melenyapkan nyamuk-nyamuk yang banyak berkeliaran di ruangan itu. Api segera menyala, unggun kecil tersebut menyiarkan asap yang agak tebal sehingga binatang-binatang malam dan kupu-kupu kecil yang banyak bertebaran di ruangan itu lenyap.
Baru saja Cie Kiat ingin berkata-kata lagi, tiba-tiba terdengar suara berkeresek di antara tumpukan batang padi. Saat kepala manusia itu tersembul, orang tersebut langsung mengayunkan tangannya.
Cie Kiat heran sekali, begitu juga Lan Mie Coe. Mereka menoleh ke arah asal suara itu. Mie Coe kaget dan hendak menegur sambil melompat berdiri. Namun, orang itu telah meluncurkan sebatang paku segitiga yang dinamakan Tok-sin-teng. Paku itu meluncur cepat sekali ke arah Mie Coe sehingga si gadis kaget karena jarak mereka yang sangat dekat.
Cie Kiat juga mengeluarkan seruan kaget, namun mereka tidak bisa berdiam diri. Paku itu menyambar dengan kecepatan luar biasa. Mie Coe cepat-cepat menggerakkan lengan jubahnya untuk menangkis, namun tenaga timpukan orang tersebut sangat kuat. Mie Coe gagal menangkis, dan paku itu terus menyambar ke arah mukanya. Jarak antara paku dengan mata si gadis hanya tersisa lima dim, hal ini membuat si gadis gugup dan ketakutan. Untuk mengelak sudah tidak sempat, dan jika terkena, berarti matanya akan buta. Hati gadis bermarga Lan ini mencelos dan semangatnya seolah terbang meninggalkan raga.
Pada saat bersamaan, orang itu melompat keluar dari tumpukan jerami. Gerakannya sangat gesit, tetapi keadaannya mengerikan; tubuh dan pakaiannya dipenuhi noda darah. Wajahnya pun tampak berlumuran darah yang mengalir dari luka-luka, sehingga terlihat menyeramkan.
Cie Kiat kaget sekali melihat kondisi itu. Jika paku Tok-sin-teng tersebut menancap tepat di biji mata Mie Coe, maka gadis itu seumur hidup akan menjadi cacat. Namun, sebagai jago yang tangguh, Cie Kiat segera mengulurkan tangannya.
"Tring!" Paku itu tersentil oleh jari tangan Cie Kiat dan terpental.
Lan Mie Coe terhindar dari bahaya. Si gadis bisa bernapas lega, meskipun keringat dingin membanjir dan wajahnya pucat pasi. Sementara itu, orang yang muncul dari tumpukan jerami tadi menatap Mie Coe dan Cie Kiat dengan tatapan mata yang bengis.
Mie Coe dan Cie Kiat merasa gusar. Tanpa alasan yang jelas, orang ini telah menyerang dengan senjata rahasia. Mie Coe melompat berdiri, begitu pula Cie Kiat. Mereka saling berhadapan.
"Kalian harus mampus!" teriak orang itu dengan suara parau. Matanya yang liar memancarkan cahaya menyeramkan dan napasnya memburu. Dengan teriakan keras, orang itu merangsek ke arah Lan Mie Coe. Tangannya bergerak cepat melancarkan serangan beruntun.
Lan Mie Coe murka karena hampir celaka. Dengan berani, si gadis menangkis serangan tangan kiri dan kanan orang yang terluka parah tersebut. Terdengar suara benturan yang keras. Lan Mie Coe merasakan tenaga serangan orang tersebut sangat kuat, dengan aliran hawa yang bergelombang. Namun, Lan Mie Coe adalah jago betina yang berkepandaian tinggi, sehingga ia tidak menjadi jeri. Gadis ini justru melancarkan serangan balik dengan mengincar jalan darah yang membahayakan jiwa lawan.
Orang yang terluka itu berteriak-teriak dengan suara membentak yang mengguntur. Tampaknya ia sudah nekat dan tidak memikirkan keselamatan dirinya sendiri. Hal ini membuat Mie Coe kewalahan, sehingga ia harus mengerahkan seluruh kepandaiannya.
Cie Kiat, yang mengamati keadaan, berpikir bahwa orang ini harus segera ditundukkan agar Mie Coe tidak celaka. Cie Kiat melompat ke arah lawan sambil berseru, "Lan Touw-nio, mundurlah, biarlah aku yang menghadapi orang ini!"
Tangan Cie Kiat bergerak cepat menyerang beberapa bagian tubuh lawan. Orang itu terkejut dan murka luar biasa karena Cie Kiat mencampuri urusannya. Ia semakin nekat dan melancarkan serangan beruntun. Mie Coe segera menyingkir ke samping.
Walaupun diserang dengan hebat, Cie Kiat tidak jeri ataupun gugup. Dengan tenang, ia menggerakkan tangan untuk menyapu dan menangkis serangan lawan. Cie Kiat tidak mengetahui siapa orang itu, tetapi ia mendongkol melihat serangan yang begitu bengis.
Meskipun lawannya menyerang dengan membabi buta disertai tenaga dalam yang kuat, Cie Kiat selalu dapat menangkisnya dengan tenang. Ketenangan Cie Kiat justru membuat lawannya semakin mendongkol. Orang itu berjingkrak-jingkrak dan melancarkan serangan yang semakin menekan Cie Kiat.
Cie Kiat tersenyum, ia mengerahkan tenaga dalamnya. Saat dirasa tepat, Cie Kiat menjejakkan kaki dan melompat tinggi. Sambil melompat, ia menggerakkan tangannya, menyalurkan tenaga dalam yang sangat kuat ke arah lawan. Orang itu terkejut dan merasakan tekanan yang luar biasa besar. Dengan seruan tertahan, ia melompat ke belakang.