Chapter 66
Saat sedang melompat, orang itu berusaha menangkis serangan Cie Kiat. Kali ini Cie Kiat tidak mau berlaku murah hati; dengan cepat dia meneruskan serangannya.
"Duk! Buk!"
Terdengar dua kali suara benturan tangan mereka, disusul jeritan yang menyayat hati. Cie Kiat kembali berdiri tegak dengan senyum di bibirnya, sementara tubuh lawannya terpental hingga punggungnya menghantam dinding.
Benturan punggung orang itu sangat keras hingga terdengar suara "nggeeek" dari mulutnya. Tak lama kemudian, dia melosot ke lantai dan pingsan tak sadarkan diri. Wajah Mie Coe tampak pucat, kaget melihat kejadian itu. Dia mulai mengagumi kehebatan Cie Kiat yang memiliki tenaga dalam (lwee-kang) luar biasa kuat.
Cie Kiat menghampiri si gadis. "Apakah... apakah dia tewas?" tanya Mie Coe dengan suara agak gemetar. Dia merujuk pada lawan Cie Kiat yang kini terbujur kaku di lantai.
Cie Kiat menghela napas. "Dia hanya pingsan," sahutnya sambil melirik pria itu. "Aku hanya menggunakan tiga bagian tenaga dalamku. Jika aku menginginkan nyawanya, itu sama mudahnya dengan membalikkan telapak tangan. Namun, karena orang ini tidak bersalah padaku, aku memberikan pengampunan baginya."
Setelah berkata demikian, Cie Kiat mendekati orang yang pingsan tersebut, diikuti oleh Mie Coe. Dengan ujung kakinya, Cie Kiat menendang jalan darah utama di pundak orang itu agar dia cepat sadar. Sambil menggeliat kesakitan, orang tersebut berusaha duduk.
Tampak wajah dan tubuh orang itu dipenuhi luka goresan; penampilannya sangat menyeramkan dan bengis. Ketika dia mendongak dan melihat Cie Kiat serta Mie Coe, matanya memancarkan sorot bengis sekaligus ketakutan. Rupanya, dia menyadari bahwa Cie Kiat memiliki kepandaian yang sangat tinggi.
Cie Kiat tertawa tawar. "Siapa kau? Mengapa tiba-tiba menyerang kami?" bentaknya dengan suara dingin.
Orang itu mendelik bergantian ke arah Cie Kiat dan Mie Coe. "Kalau memang mau membunuh, bunuh saja!" bentaknya tiba-tiba. "Aku tahu aku tidak akan bisa lolos dari tangan si Iblis!"
Cie Kiat mengerutkan alis. "Si Iblis?" tanyanya heran.
Melihat ekspresi Cie Kiat, orang itu tertawa dingin. "Jangan pura-pura! Kalau mau membunuh, bunuhlah! Jangan menyiksa aku!"
Mie Coe menyela, "Apakah Iblis yang kau maksud adalah Kwie-bo Mo-lie atau Ibu Hantu?"
Orang itu mendengus. "Sudah tahu masih berpura-pura! Aku Wang Che Ming. Aku tidak akan mati dengan tenang. Aku sangat penasaran, dan jika aku sudah menjadi setan, biarpun kalian lari ke ujung dunia, akan tetap kuganggu!"
Mie Coe tertawa, sementara Cie Kiat masih tertegun. "Kau salah paham, Sahabat!" kata Mie Coe dengan nada lebih lembut. "Kwie-bo Mo-lie adalah biang iblis, bagaimana mungkin kami bersekutu dengannya? Lagi pula, dia selalu bekerja sendirian. Tadi pun dia datang kemari, dan kami justru bersembunyi karena takut."
Wang Che Ming mengawasi mereka dengan penuh kecurigaan. "Benarkah kalian tidak ada sangkut pautnya dengan si Iblis?"
Mie Coe mengangguk cepat. "Benar! Kawanku ini bahkan tidak mengenal si Iblis itu."
Che Ming tampak mulai percaya dan menghela napas. "Iblis itu sangat kejam. Aku sebenarnya tidak takut mati, tetapi dia selalu menyiksa korbannya dengan racun dan cara-cara jahat lainnya, membuat hidup terasa lebih berat daripada mati."
Che Ming kemudian bertanya ke mana tujuan Cie Kiat dan Mie Coe. Setelah mendengar penjelasan mereka, Che Ming berkata, "Tadi si Iblis sudah datang ke rumah ini dua kali. Aku tidak berani bergerak dari balik tumpukan jerami; bahkan bernapas pun aku tidak berani karena pendengarannya sangat tajam."
"Apa sebenarnya permusuhanmu dengan si Iblis sampai dia begitu bernafsu mengejarmu?" tanya Cie Kiat.
"Sungguh kejam wanita itu," jawab Che Ming dengan duka. "Keluargaku disapu bersih, tak seorang pun dibiarkan hidup. Dia bermaksud memusnahkan keluarga Wang sampai ke akar-akarnya. Duduklah, aku akan menceritakan awal mula permusuhan ini."
Cie Kiat dan Mie Coe duduk di dekatnya. Cie Kiat dalam hati berjanji, jika Che Ming memang pihak yang benar, dia akan membantu melawan Kwie-bo Mo-lie.
Wang Che Ming adalah seorang jago silat terkemuka di kota Wie-toe-kwan, Provinsi Ho-lam. Sebagai jagoan nomor satu, sifatnya cenderung angkuh dan sombong. Dia hidup bahagia bersama istrinya, Kong In Lie, dan putranya, Wang Cie, dengan membuka perguruan silat.
Namun, pada suatu pagi, Che Ming bertemu dengan seorang wanita yang wajahnya cantik meski sudah lanjut usia. Karena merasa dirinya jagoan yang disegani, Che Ming dengan sombongnya menggoda wanita itu.
Wanita tersebut menatapnya dengan ketus. "Pergilah jika masih ingin hidup! Nanti kau akan mampus jika mengikuti terus!"
Che Ming menganggap itu hanya gertakan. "Kalau suamimu datang untuk menantangku, aku tidak takut! Orang bermarga Wang tidak gentar menghadapi malaikat maut sekalipun!"
Wanita itu mendengus. "Keluargamu akan celaka karena tingkahmu yang tidak senonoh ini," ucapnya sambil terus melangkah.
Meski sudah diperingatkan, Che Ming tetap mengejek. Ketika mereka sampai di tempat sepi di luar pintu kota, wanita itu berhenti dan memutar tubuhnya. Tatapannya kini sangat tajam dan mengerikan.
"Sudah tiga kali kuberikan jalan hidup, tetapi kau justru memilih jalan untuk mampus!" wanita itu tertawa seram. Che Ming terkejut, namun sebelum dia sempat bertindak, wanita itu melesat lenyap bagaikan hantu.