Halo!

Ibu Hantu - Chapter 68

Memuat...
Ibu Hantu

Chapter 68

Malam itu, Che Ming tidak bisa tidur pulas; ia merasa sangat gelisah. Wanita yang ditemuinya di jalan tadi benar-benar membuatnya terpikir. Ia juga telah mengetahui bahwa wanita itu adalah seorang jago silat yang berkepandaian luar biasa, sebab gerakannya sangat cepat; sekali lompat, ia dapat menghilang dari pandangan mata Che Ming.

Pada tengah malam, Che Ming mendengar suara yang mencurigakan. Saat ia keluar dari jendela kamarnya, tampak di bawah cahaya rembulan sesosok tubuh sedang berdiri tegak di atas genting. Itu adalah tubuh wanita yang ia temui tadi siang.

"Aku, Kwie-bo Mo-lie, tidak pernah memberikan jalan hidup empat kali kepada orang yang telah mengganggunya!" kata wanita itu dengan suara yang menyeramkan. "Hmm, malam ini kau harus mampus! Dan seperti apa yang telah kukatakan tadi siang, keluargamu juga harus mampus!" Setelah berkata begitu, wanita yang mengakui dirinya sebagai Kwie-bo Mo-lie itu tertawa terbahak-bahak dengan suara yang sangat menyeramkan.

Begitu mengetahui bahwa wanita tersebut adalah Kwie-bo Mo-lie, sang Ibu Hantu, wajah Che Ming seketika pucat pasi. Kwie-bo Mo-lie memang terkenal sebagai iblis nomor satu yang memiliki kepandaian luar biasa. Tubuh Che Ming seketika gemetaran karena ia menyadari akan menghadapi sesuatu yang hebat. Namun, sebagai seorang jagoan, ia merasa penasaran dan memberikan perlawanan, karena ia belum mau memercayai apa yang didengar mengenai diri hantu perempuan itu.

Namun kenyataannya, iblis perempuan ini hebat sekali. Hanya dalam beberapa gebrakan, wajah Che Ming telah digores berulang kali oleh ujung pedangnya. Wajah Che Ming terluka di sana-sini, dan ia sangat menderita tanpa bisa memberikan perlawanan sedikit pun. Saat Che Ming diliputi perasaan takut, si iblis tidak langsung membinasakannya; ia justru menyiksanya dengan menusuk dan menggores tubuh serta wajah korbannya. Hal ini menambah rasa takut pada diri Che Ming. Walaupun ia berusaha memberikan perlawanan gigih, ia tetap tidak berdaya karena si iblis bergerak cepat bagaikan bayangan.

Saat Che Ming tergeletak kesakitan, tiba-tiba si iblis meninggalkannya dan memasuki rumah Che Ming. Terdengar dua kali jeritan yang menyayat hati—suara jeritan istri dan putranya! Hati Che Ming mencelos. Apalagi saat ia melihat si iblis perempuan itu keluar dengan menenteng kepala istri dan putranya. Sembari mengeluarkan suara jeritan yang menyayat, Che Ming lari sekuat tenaga seperti orang yang kehilangan akal sehat.

Si iblis tidak mengejarnya, ia hanya tertawa terbahak-bahak sambil memegangi kepala istri dan putra Che Ming yang masih meneteskan darah kental ke atas tanah. Sementara itu, Che Ming terus melarikan diri. Ia diliputi perasaan takut sekaligus sakit hati. Namun, baru saja Che Ming berlari tak jauh, si iblis sudah muncul lagi di hadapannya. Ia kembali mencoba melawan dengan nekat, tetapi lagi-lagi ia dilukai oleh si iblis. Hal itu membuatnya semakin ketakutan hingga ia melarikan diri lagi.

Kwie-bo Mo-lie memang sengaja membiarkan Che Ming melarikan diri dalam ketakutan, karena si iblis senang melihat korbannya menghadapi kematian dengan perasaan ngeri. Sebenarnya, jika ia ingin membunuh Che Ming, hal itu semudah menggores tanah dengan telunjuk. Sampai akhirnya, Che Ming menyembunyikan diri di dalam rumah terpencil di gundukan jerami dan bertemu dengan Mie Coe serta Cie Kiat.

Mendengar cerita Che Ming, Mie Coe dan Cie Kiat merasa sangat gusar terhadap Kwie-bo Mo-lie. "Alangkah bengis dan kejamnya iblis perempuan itu!" kata Cie Kiat dengan gusar.

Che Ming mengangguk. "Ya, dia malah ingin membinasakanku secara perlahan dengan penyiksaan rasa takut," kata Che Ming dengan suara parau seraya menghela napas berduka. "Memang harus kuakui dia memiliki kepandaian yang sangat tinggi. Aku sudah mencoba meminta bantuan orang-orang pandai, tetapi kenyataannya semua tewas di tangannya. Si iblis tidak mau membunuhku, dia hanya menakut-nakuti dan menyiksa dengan menggores-gores wajahku. Lihatlah ini, semuanya adalah hadiah darinya!" Che Ming memperlihatkan luka-luka pada tubuh dan wajahnya.

Cie Kiat bertambah mendongkol. "Jangan takut, biar nanti aku yang menghadapi iblis kejam itu!" kata Cie Kiat.

Mie Coe mengerutkan alisnya. Dengan menyanggupi begitu, berarti Cie Kiat telah melibatkan diri dalam pergolakan antara Che Ming dan Kwie-bo Mo-lie. Mie Coe mengkhawatirkan Cie Kiat karena ia mengetahui betapa tinggi kepandaian dan kekejaman si iblis. "Siapa nama sebenarnya si iblis itu?" tanya Cie Kiat saat mereka terdiam.

"Kalau tak salah, iblis perempuan itu bermarga Lo dan bernama Hoe Tin," jelas Mie Coe.

Mendengar nama itu, Cie Kiat mengerutkan alisnya. "Lo Hoe Tin?" tanyanya menegaskan. Mie Coe dan Che Ming heran melihat sikap anak muda itu karena menduga Cie Kiat mengenal si iblis.

"Ya, dia memang bernama Lo Hoe Tin!" sahut Mie Coe.

"Apakah kau mengenalnya?" tanya Cie Kiat dengan wajah yang berubah menjadi berang. "Hmm, orang bermarga Lo itulah yang sedang kucari! Dialah musuh besar keluargaku. Guruku telah memerintahkan aku untuk mencari orang itu guna melakukan pembalasan dendam. Aku tak menyangka bahwa takdir akhirnya menunjukkan jalannya kepadaku. Iblis itu harus mampus di tanganku! Keluargaku binasa di tangannya, di mana si iblis membasmi keluargaku bersama jago-jago jahat lainnya. Aku telah membunuh beberapa musuh, tetapi yang terpenting menurut perintah guruku, aku harus membunuh biang keladi pembantaian itu, yaitu si iblis bermarga Lo tersebut!"

Mendengar itu, Che Ming merasa girang, namun Mie Coe tetap sangat khawatir. "Kau harus berhati-hati menghadapi iblis itu! Di samping telengas, dia sangat lihai luar biasa. Iblis itu adalah jago nomor satu di rimba persilatan, jarang sekali ada orang yang berani dan sanggup menghadapi ilmunya!"

Cie Kiat mengangguk. "Ya, biarpun kepandaiannya sangat tinggi, aku tidak takut! Aku dapat membunuhnya!"

Che Ming menghela napas. "Seandainya aku memiliki kepandaian yang cukup tinggi untuk menghadapi iblis itu, tentu aku tidak akan melarikan diri sebagai pengecut. Istri dan putraku telah dibunuhnya, seharusnya aku membalaskan dendam dengan mengadu jiwa. Namun, kenyataannya aku malah melarikan diri. Oh, alangkah memalukan!" Che Ming menangis dengan berduka.

Cie Kiat dan Mie Coe berusaha menghiburnya. "Kau melarikan diri bukan sebagai pengecut, kau tentunya bermaksud mencari ilmu yang lebih tinggi untuk membalas dendam. Sekarang, jika kau nekat adu jiwa, itu tak ada gunanya karena si iblis terlalu kuat. Kau tidak perlu merasa sebagai pengecut!"

"Benar, aku memang bermaksud membalas sakit hati ini!" kata Che Ming.

"Iblis itu adalah musuh utamaku. Dia sangat membahayakan masyarakat, maka aku akan berusaha membunuhnya!" tegas Cie Kiat. Ketiga orang itu pun sepakat untuk bersahabat dan memutuskan untuk mencari si iblis. Keberanian Che Ming mulai bangkit kembali karena ia mengetahui Cie Kiat sangat sakti dan mungkin mampu menghadapi iblis yang kejam itu.

Cie Kiat, Mie Coe, dan Wang Che Ming meninggalkan rumah itu. Cie Kiat mengajak keduanya menuju kelenteng tempat Ang Po Sian, Bo Tiong Hiap, dan Ma Thian Ie ditinggalkannya. Namun, ketika sampai di sana, ketiga orang itu sudah tidak ada. Cie Kiat dan kedua kawan barunya meninggalkan kelenteng tersebut. Saat mereka berjalan cukup jauh, terdengar suara orang bernyanyi dengan suara perlahan:

"Air sungai mengalir,

Burung gunung terbang lalu,

Tak ada lagi perpisahan,

Tak ada lagi kesedihan,

Karena manusia hidup di dunia,

Merupakan benda yang akan berpulang jua..."

Cie Kiat dan yang lainnya menoleh. Mereka melihat seorang pengemis berusia sekitar tiga puluh tahun sedang berjalan tertatih-tatih menghampiri mereka. Cie Kiat mengawasi pengemis tersebut yang kini telah berada di hadapan mereka.

"Kalian... mengapa kawanmu yang terluka kalian biarkan begitu saja?" kata si pengemis dengan nada terkejut.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment