Chapter 69
Cie Kiat dan Mie Coe tidak menyahut, tetapi di dalam hati mereka segera mengetahui bahwa pengemis ini memiliki kepandaian silat yang cukup tinggi. Pancaran matanya yang bersinar tajam menandakan bahwa ia adalah seorang pengemis yang memiliki tenaga *lwee-kang* sangat kuat.
Si pengemis telah menghampiri Che Ming. Ia memperhatikan luka-luka pada wajah dan tubuh Che Ming yang memang belum memperoleh pengobatan. Kemudian, dengan tergopoh-gopoh, ia merogoh sakunya dan memberikan dua butir pil kepada Che Ming.
"Telanlah ini!" kata si pengemis. "Luka-lukamu akan segera kering! Ini untuk mencegah kau keracunan!"
Che Ming mengambil pil pemberian si pengemis, lalu menelannya tanpa ragu karena tidak ingin menyinggung perasaan orang yang berniat baik itu. Setelah melihat Che Ming menelan pil tersebut, barulah si pengemis memperlihatkan sikap yang tenang.
"Kenapa kau bisa terluka separah ini?" tegur si pengemis.
Che Ming segera menceritakan segalanya. Begitu mendengar cerita tersebut, si pengemis menghela napas. "Iblis perempuan Kwie-bo Mo-lie memang keterlaluan sekali. Semakin lama tingkah lakunya di kalangan Kang-ouw semakin kurang ajar!" katanya dengan gusar. "Partaiku juga, Kay-pang, akan segera turun tangan untuk menghadapi iblis perempuan itu!"
Mendengar si pengemis berasal dari Kay-pang, Cie Kiat segera memperkenalkan diri dan mengatakan bahwa ia bersahabat dengan Ang Po Sian. Ketika Cie Kiat menyebut nama tersebut, sikap si pengemis berubah menjadi sangat hormat, terlebih setelah Cie Kiat mengeluarkan *leng* pemberian dari Ang Po Sian. Seketika itu juga, si pengemis menekuk lututnya.
"Ada perintah apakah yang akan diberikan kepada *tee-cu* Siu Hok Gie?" tanya si pengemis dengan suara yang sangat hormat.
"Bangunlah," ujar Cie Kiat. "Aku hanya ingin meminta agar kau membawa dan melindungi Che Ming dari gangguan si iblis. Jika urusanku telah selesai, baru aku sendiri yang akan menghadapi si iblis."
Siu Hok Gie segera menyahut, "Tee-cu telah menerima perintah itu dan akan melaksanakannya dengan sebaik mungkin. Jika perlu, akan kutukar dengan nyawaku."
Cie Kiat tersenyum puas sambil menyimpan kembali *leng* tersebut. Ia memberi tahu Che Ming bahwa mereka akan bertemu di kota Siang-pie-kwan. Selama perjalanan, Che Ming tidak perlu khawatir karena Siu Hok Gie akan menjaga keselamatannya. Mereka pun berpisah; Che Ming dikawal oleh Siu Hok Gie, sementara Cie Kiat dan Mie Coe mengambil arah selatan. Cie Kiat harus menyelesaikan urusan besar setelah Mie Coe menceritakan pergolakan yang akan membawa akibat luar biasa di dunia persilatan—sebuah ancaman yang bersumber dari munculnya kembali si Iblis Kwie-bo Mo-lie, sang Ibu Hantu.
Di antara kelamnya malam, cahaya rembulan, dan gemerlap bintang, tampak dua sosok tubuh berlari cepat di atas genting rumah penduduk. Gerakan mereka sangat gesit dan ringan, bagaikan bayangan hantu yang melayang. Keduanya berhenti di dekat sebuah gedung bertingkat yang mewah. Mereka adalah Lie Cie Kiat dan Lan Mie Coe.
"Inikah markas mereka?" tanya Cie Kiat.
Mie Coe mengangguk. "Ya, biasanya di gedung inilah mereka mengadakan pertemuan."
"Mari kita turun untuk menyelidiki," ajak Cie Kiat. Mereka melompat turun ke pekarangan gedung dengan berani.
"Hati-hati, mereka memiliki banyak orang sakti yang kepandaiannya tidak rendah," bisik Mie Coe dengan penuh kekhawatiran.
Cie Kiat menyelinap ke balik gunung-gunungan taman. Tak lama kemudian, beberapa orang lewat sambil berbincang dan tertawa. Salah satu dari mereka berkata, "Kalau Siang Toa-ya tahu gadis yang kita tawan itu mau bunuh diri, tentu ia akan kaget dan kelabakan!"
Orang-orang itu berlalu, meninggalkan kesunyian kembali. Cie Kiat dan Mie Coe segera menyelinap ke belakang gedung. Di sana, mereka mengintip ke dalam sebuah kamar yang lampunya masih menyala. Tampak seorang lelaki tua duduk termenung dengan wajah pucat dan lusuh. Cie Kiat dan Mie Coe terkejut hingga mengeluarkan seruan tertahan. Lelaki tua itu menoleh ke arah jendela dengan tatapan bengis, namun saat melihat Mie Coe, tatapannya berubah.
Ternyata, kakek itu adalah ayah Mie Coe, Lan Kong Sia. Mie Coe segera memeluk ayahnya dengan rasa girang. Setelah saling menjelaskan keadaan, terungkap bahwa mereka datang untuk menolong. Lan Kong Sia menghela napas panjang, ia merasa terhina karena tertangkap oleh orang-orang suruhan Kwie-bo Mo-lie. Cie Kiat pun meminta maaf atas tindakannya di masa lalu yang sempat mendesak kakek tersebut. Akhirnya, permusuhan di antara mereka mencair.
"Bagaimana, Ayah? Apakah kita melarikan diri saja dan menunggu tenaga *lwee-kang* Ayah pulih untuk menyerang kembali?" tanya Mie Coe.
Lan Kong Sia menggeleng. "Mereka memiliki banyak orang sakti. Mustahil kita bisa lolos jika hanya bertiga, apalagi yang menggerakkan mereka adalah Kwie-bo Mo-lie sendiri."
Mendengar nama itu kembali disebut, Cie Kiat dan Mie Coe terkejut. Mereka pun menceritakan pertemuan mereka dengan korban-korban si iblis, termasuk Wang Che Ming.