Chapter 70
"Iblis perempuan itu memang sangat bengis dan lihai, sehingga kemungkinan besar kita sukar untuk membasmi iblis itu!" katanya.
Cie Kiat tertawa dingin. "Hmmm... biarpun iblis itu mempunyai sepuluh kepala, ia tetap harus binasa di tangan Boanpwee! Dialah musuh besar keluargaku!"
Kakek bermarga Lan itu terkejut sekali mendengar perkataan Cie Kiat. Ia menoleh dan memandang Cie Kiat dengan berbagai pertanyaan memancar dari sorot matanya. Cie Kiat segera menceritakan bagaimana iblis itu memimpin rombongan jagoan untuk membasmi keluarga Lie, keluarga Cie Kiat.
Beberapa tahun yang lalu, Cie Kiat diangkat menjadi murid oleh seorang jagoan luar biasa yang tidak ingin diketahui namanya. Ia dididik menjadi manusia yang sangat lihai. Setelah tiba saatnya, Cie Kiat diperintahkan untuk mencari iblis bernama Lo Hoe Tin serta beberapa jagoan lainnya yang ikut membasmi keluarga Lie.
Cie Kiat sedikit pun tidak mengetahui bahwa Lo Hoe Tin adalah iblis yang sangat ditakuti oleh kalangan Kang-ouw dan bergelar Kwie-bo Mo-lie, si Ibu Hantu. Saat mengetahui hal itu dari Mie Coe, pemuda bermarga Lie itu terkejut sekali. Mendengar penuturan Cie Kiat, kakek bermarga Lan tersebut menjadi bersikap lembut kepadanya. Ganjalan di hatinya tersapu bersih, dan ia menyatakan akan ikut membasmi si Ibu Hantu beserta orang-orang yang menghuni gedung itu.
"Tetapi sekarang lebih baik kita berlalu dari gedung ini," kata Cie Kiat. "Aku akan meminta bantuan dari saudara-saudara Kay-pang untuk ikut menghancurkan iblis jahat ini."
Lan Mie Coe dan ayahnya membenarkan. Mereka segera menuju ke pintu untuk pergi. Namun, baru saja mereka beranjak, tiba-tiba terdengar suara seruling yang mengalun melengking tinggi, menandakan bahwa seruling itu ditiup dengan pengerahan tenaga dalam (lwee-kang) yang tinggi dan sempurna.
Wajah Cie Kiat, Lan Kong Sia, dan Lan Mie Coe berubah seketika. Hati mereka berdebar keras. Dengan menahan napas, mereka berdiri diam dan tidak berani bergerak. Suara seruling berhenti, suasana di sekitar tempat itu menjadi sunyi senyap. Kemudian terdengar suara orang tertawa dengan nada yang sangat menyeramkan.
"Hei tikus-tikus, keluarlah kalian untuk menerima ajalmu!" terdengar suara melengking tinggi.
Cie Kiat dan yang lainnya segera mengenali bahwa itu adalah suara iblis perempuan Kwie-bo Mo-lie Lo Hoe Tin. Pemuda bermarga Lie itu mengerutkan alisnya dan melangkah perlahan ke pintu. Cie Kiat adalah orang yang paling cepat menguasai keguncangan hatinya.
Begitu pintu dibuka, tampak di bawah cahaya rembulan, si iblis perempuan sedang berdiri tegak. Di belakangnya berdiri belasan anak buah yang rata-rata memiliki wajah sangat bengis. Mereka memandang ke arah Cie Kiat, Lan Mie Coe, dan Lan Kong Sia. Cie Kiat melangkah dengan tenang, bibirnya tersungging senyuman.
"Hmm, rupanya kau ingin menyelamatkan tikus tua itu, ya?" kata si iblis Kwie-bo Mo-lie dengan suara dingin. "Sejak kedatanganmu tadi, aku telah mengetahuinya. Sengaja kami membiarkan kau bertindak leluasa tanpa perintang. Hmmm, apakah kalian menganggap kepandaian kalian sudah tinggi sehingga berani menerobos masuk ke kandang macan?"
Cie Kiat hendak menyahut, tetapi si iblis telah mengibaskan tangannya dengan perlahan. Namun, hasilnya hebat sekali. Cie Kiat merasakan sambaran angin serangan yang luar biasa kuat. Karena tidak bersiap sedia dan tidak menduga akan diserang secepat itu, tubuh Cie Kiat terpental dan ambruk ke tanah dengan keras. Untung saja Cie Kiat memiliki tenaga dalam yang sangat kuat sehingga ia tidak terluka. Dengan cepat, ia melompat bangun.
Mie Coe dan Kong Sia terkejut sekali dan hati mereka terguncang hebat. Mereka tahu Cie Kiat memiliki kepandaian jauh di atas mereka, namun pemuda itu bisa dilemparkan hanya dengan satu kibasan tangan yang tampak perlahan. Jika mereka yang diserang, bukankah itu berarti mereka akan menuju neraka? Ayah dan anak itu mengucurkan keringat dingin.
Cie Kiat menatap si iblis dengan tajam. Dalam hatinya, ia sangat terperanjat karena si iblis ternyata memang memiliki kepandaian yang luar biasa.
"Bagaimana?" tanya si iblis sambil tertawa. "Bukankah itu merupakan santapan yang lezat?"
Cie Kiat mendengus, merasa sangat dongkol dan gusar. "Hmm, jangan takabur dulu! Belum tentu kau dapat membinasakanku!"
Mendengar itu, si iblis perempuan menjadi gusar dan wajahnya berubah merah padam. Namun, sesaat kemudian wajahnya kembali tenang. "Hmm, rupanya kau masih ingin merasakan lezatnya makanan berikutnya," kata si iblis sambil tertawa bengis.
Tangannya bergerak lagi. Kali ini Cie Kiat telah bersiap sedia. Namun, saat ia mengangkat tangan untuk menangkis dengan tenaga dalam, ia merasa tenaganya seperti tersedot dan serangan si iblis terasa lunak. Belum sempat Cie Kiat menyadari apa yang terjadi, tubuhnya terpental keras dan terbanting ke tanah. Dadanya terasa sangat sakit hingga ia memuntahkan darah segar.
Wajah Kong Sia dan Mie Coe menjadi pucat. "Ilmu iblis..." gumam Kong Sia dengan suara bergetar.
Mie Coe berlari menghampiri dan membantu Cie Kiat. Kwie-bo Mo-lie Lo Hoe Tin tertawa tergelak-gelak. "Hmm, hari ini kau akan mampus, bocah!"
Cie Kiat sangat gusar. Saat menyeka mulutnya, ia melihat darah segar di tangannya. Matanya memancar tajam dan darahnya mendidih. Dengan cepat, ia menyingkirkan tangan Mie Coe. Sambil membentak keras, tubuh Cie Kiat melesat luar biasa cepat. Ia mengerahkan tujuh bagian tenaga dalamnya untuk menerjang si iblis.
Kwie-bo Mo-lie Lo Hoe Tin tertawa dingin. Saat tubuh Cie Kiat mendekat, ia menekuk kaki kirinya dan mengibaskan bajunya. Sesuatu yang mengerikan terjadi; tubuh Cie Kiat meluncur melewati atas kepala si iblis, lalu jatuh terbanting dengan keras. Darah kembali mengucur deras dari mulutnya.
Mie Coe dan Lan Kong Sia menjerit khawatir. Mereka memburu Cie Kiat yang berdiri mematung dengan tatapan penuh kegusaran. Lan Kong Sia dan putrinya sangat terkejut karena, dengan mata kepala sendiri, mereka melihat betapa luar biasanya si iblis. Ilmu silat Cie Kiat tidak rendah, bahkan Kong Sia pernah dirubuhkan dengan mudah olehnya, namun pemuda itu bisa dikalahkan dengan mudah oleh si iblis.
Cie Kiat masih berdiri mematung, mengerahkan tenaga dalamnya untuk menghadapi lawan yang menyerupai iblis sesungguhnya. Dengan nekat dan tanpa memedulikan keselamatan diri, ia melangkah perlahan menghampiri Kwie-bo Mo-lie, bermaksud melancarkan serangan pamungkas untuk mengadu nyawa.
Ketika jarak mereka sudah dekat, Cie Kiat berhenti. Suasana menjadi sunyi. Semua mata tertuju pada mereka. Tiba-tiba Kwie-bo Mo-lie tertawa tergelak-gelak hingga tubuhnya tergoncang.
"Kau masih mau memperlihatkan sikap jantanmu, ya?" bentak si iblis dengan suara tawar. "Apakah kau tidak menyadari bahwa dirimu sedang menghadapi kematian?"
Cie Kiat tidak melayani ejekan itu. Ia melompat secepat kilat dengan kedua tangan menyerang menggunakan seluruh kekuatannya.