Chapter 71
Cie Kiat memang telah nekat dan bermaksud mempertaruhkan jiwanya. Maka dari itu, dia menyerang si Iblis tanpa memedulikan lagi keselamatan dirinya. Terlebih seketika itu juga Cie Kiat teringat bahwa Iblis yang sedang dihadapi ini adalah musuh besar pembunuh keluarganya, dengan sendirinya selain darahnya mendidih, dia pun memiliki nafsu membunuh yang meluap.
Melihat Cie Kiat menyerang begitu hebat, si Iblis tetap tenang. Tangan kiri Cie Kiat yang menyambar ke arah kepalanya ditangkis dengan keras, terdengar suara "dukk" yang nyaring, kemudian disusul dengan tangan Iblis yang lainnya menyambar ke arah dada Cie Kiat.
"Bukk!" Dada Cie Kiat terhajar keras sekali. Dari mulut pemuda bermarga Lie itu terdengar suara ringkikan tertahan, tubuhnya terpental lalu ambruk ke tanah dengan keras. Cie Kiat tidak bisa langsung bangkit karena tubuhnya melingkar sesaat di tanah. Rupanya pukulan si Iblis benar-benar menyebabkan pemuda itu menderita kesakitan yang luar biasa.
Dia kemudian merangkak bangun saat si Iblis Kwie-bo Mo-lie tertawa tergelak-gelak. Mie Coe dan ayahnya, Kong Sia, berdiri terpaku di tempatnya tanpa bisa bergerak sedikit pun. Kaki mereka gemetar menyaksikan ilmu silat si Iblis yang menyerupai ilmu siluman itu.
Si Iblis melangkah perlahan menghampiri Cie Kiat sambil terus tertawa. Dia mengawasi Cie Kiat yang merangkak bangun dengan susah payah menggunakan kedua tangannya. Waktu dia bisa berdiri, tubuhnya terhuyung-huyung tak keruan. Saat hampir bisa berdiri tegak, tiba-tiba, "Uaaaaahhhhh!" Dari mulut Cie Kiat memuncrat darah segar. Wajahnya pucat pasi, dia menyusut darah yang mengalir di sudut bibirnya dengan punggung tangan.
Darah Cie Kiat bergejolak, dia mengambil keputusan untuk mati bersama musuh besar ini. Hanya saja, yang membuatnya tidak mengerti, mengapa si Iblis bisa memiliki tenaga yang begitu hebat, yang membuatnya seakan tidak berdaya sama sekali. Dia mengawasi si Iblis dengan sorot mata yang tajam luar biasa.
Kemudian, dengan mengerahkan seluruh kekuatannya, Cie Kiat melompat lagi dan menyerang dengan pedang di tangannya. Dia menyerang si Iblis dengan serangan yang hebat dan tiba-tiba. Kwie-bo Mo-lie terkejut, tetapi si Iblis benar-benar tangguh. Dia tidak bergerak dari tempatnya, hanya merangkapkan kedua tangannya. Kemudian, dengan mengeluarkan bentakan keras, dia merentangkan kedua tangannya dan mengibaskannya ke arah Cie Kiat.
Akibatnya hebat. Tubuh Cie Kiat terpental cepat sejauh tujuh tombak lebih. Mie Coe dan Kong Sia yang menyaksikan hal itu mengeluarkan seruan tertahan. Wajah mereka pucat pasi, mereka menduga Cie Kiat pasti akan binasa di tangan si Iblis.
Dengan tidak terduga, Mie Coe dan Kong Sia mengeluarkan suara bentakan nekat dan melompat menerjang si Iblis perempuan, Kwie-bo Mo-lie Lo Hoe Tin. Ayah dan anak ini telah nekat, mereka tidak bisa menyaksikan Cie Kiat terbunuh. Mereka memutuskan untuk mengeroyok Kwie-bo Mo-lie guna membantu Cie Kiat.
Tetapi, waktu mereka meluruk hendak menyerang, Lo Hoe Tin mengangkat tangannya dan mengibaskannya ke arah mereka. Terjadi kejadian luar biasa. Dengan mengeluarkan jeritan yang menyayat, tubuh Mie Coe dan Kong Sia terpental dan ambruk di lantai dengan keras. Waktu mereka merangkak untuk bangun, pandangan mata mereka berkunang-kunang, dan mereka memuntahkan darah segar.
Cie Kiat yang menyaksikan hal itu menjadi murka. Dia merasa kasihan kepada Mie Coe dan ayahnya. Walaupun pada saat itu keadaannya sangat menderita akibat rasa sakit yang hebat di dadanya, dia tetap mengerahkan seluruh kepandaian dan tenaga dalamnya. Dengan jeritan melengking tinggi, tubuhnya melesat menubruk si Iblis perempuan yang bergelar Ibu Hantu itu.
Lo Hoe Tin, ketika melihat Cie Kiat menyerang lagi, dengan cepat menekuk kakinya, lalu merentangkan kedua tangannya lebar-lebar dan mengibaskannya ke arah pemuda itu. Diiringi bentakan si Iblis, tubuh Cie Kiat terpental keras dan ambruk ke tanah. Luka yang diderita Cie Kiat sangat hebat, karena seketika itu juga dia memuntahkan gumpalan darah yang hampir menghitam. Wajahnya pucat pasi bagaikan mayat hidup. Pemuda yang tadinya tampan itu kini terlihat menyeramkan dengan wajah pucat, mata yang memancar tajam, serta darah yang memenuhi mulut dan wajahnya.
Dengan susah payah, Cie Kiat berusaha bangkit. Pada saat itu, Kwie-bo Mo-lie Lo Hoe Tin menghampiri dengan langkah perlahan, di bibirnya tersungging senyuman menyeramkan. Seruling di tangannya digoyang-goyangkan dengan tenang, sementara anak buahnya berdiri membisu.
Mie Coe dan Kong Sia menatap dengan penuh kekhawatiran. Mereka ingin menolong Cie Kiat, namun daya mereka tidak sampai karena luka berat yang mereka derita. Si Iblis terus menghampiri Cie Kiat. Sementara itu, Cie Kiat menyadari dirinya terancam bahaya kematian. Dia segera mengerahkan tenaga dalam (lwee-kang). Namun, hatinya mencelos karena begitu dikerahkan, tenaga dalamnya seolah amblas ke dasar lautan.
Hal ini mengejutkan Cie Kiat. Dia mencoba mengerahkan tenaga dalamnya lagi. Tenaga itu bergerak naik sedikit dari Tan-tiannya, namun kemudian merosot dan lenyap kembali. Tubuhnya terasa sangat lemas dan dadanya sakit sekali. Tidak ada sedikit pun tenaga yang tertinggal di dalam tubuhnya.
"Habislah riwayatku!" pikir Cie Kiat putus asa. Dirinya menjadi sangat lemah; seumpama ada seorang anak kecil mendorongnya, tentu Cie Kiat akan terjungkal lagi. "Aku tak menyangka bahwa riwayat keluarga Lie akan tamat oleh tangan Iblis ini!"
Kwie-bo Mo-lie terus menghampiri. Iblis perempuan yang bengis ini bergumam dengan suara perlahan, "Hu! Hu! Kali ini kau akan tamat di tanganku dan kau tak akan bisa bernapas lagi! Kasihan! Di usia semuda ini, seharusnya kau tidak mati guna menghadap Giam-lo-ong, tetapi karena kau terlalu keras kepala dan takabur, lebih baik kau mati daripada harus hidup lebih lama lagi!"
Setelah berkata begitu, si Iblis mengangkat serulingnya. Cie Kiat tahu bahwa Iblis itu telah mengerahkan tenaga lwee-kang pada seruling tersebut. Kalau seruling itu dihantamkan ke kepalanya, batok kepalanya akan hancur remuk. Untuk memberikan perlawanan, Cie Kiat tidak bisa, karena tenaga dalamnya seolah lenyap tertelan lautan.
Si Iblis melangkah lagi. Selangkah demi selangkah. Setiap langkah si Iblis sangat berarti bagi Cie Kiat karena semakin dekat si Iblis, semakin cepat ajalnya tiba. Semua orang mengawasi ke arah Cie Kiat dan si Iblis. Begitu juga Mie Coe dan Kong Sia, hati ayah dan anak ini berdebar keras. Kematian Cie Kiat telah di ambang pintu.
Angin bertiup sangat keras, keadaan menjadi sangat menyeramkan. Cie Kiat berdiri diam di tempatnya, matanya mengawasi dengan bengis ke arah si Iblis tanpa daya. Si Iblis berulang kali memperdengarkan tawa dinginnya. Saat jarak mereka sudah sangat dekat, dengan tawa yang nyaring, Kwie-bo Mo-lie menggerakkan tangannya menghajar kepala Cie Kiat.
Maut telah menjelang. Cie Kiat, seorang pemuda yang tadinya memiliki kepandaian tinggi, kini tidak berdaya dan hanya bisa berdiri diam menunggu jemputan ajal. Tetapi, dikala seruling di tangan si Iblis itu dengan cepat dan bertenaga menyerang kepala Cie Kiat dan pemuda itu sudah pasrah menerima kematiannya, tampak sesosok bayangan melesat cepat sekali, disusul kemudian dengan suara "Takk!"