Chapter 72
Dengan suara keras, tampak si Iblis perempuan bergelar Ibu Hantu itu melompat mundur sambil menjerit kaget. Di sana telah hadir seorang lelaki tua dengan jenggot panjang yang seluruhnya sudah memutih.
Cie Kiat juga melihat lelaki tua berjenggot putih itu, yang memiliki wajah berwibawa meskipun usianya sudah lanjut.
"Su-hu!" seru Cie Kiat memanggil lelaki tua itu.
Su-hu adalah guru. Lelaki tua itu menoleh ke arahnya.
"Cepat bersemedi, tutup jalan darah Na-ling-hiat dan salurkan tenaga murni ke jalan darah Tay-yang-hiat. Beristirahatlah, biar aku yang menghadapi iblis ini!" perintah lelaki tua itu, yang ternyata adalah guru Cie Kiat.
Cie Kiat segera duduk bersemedi, menuruti petunjuk gurunya. Sementara itu, lelaki tua tersebut menatap Kwie-bo Mo-lie yang berdiri tegak dengan pandangan mata bengis.
"Siapa kau?" bentak Kwie-bo Mo-lie dengan suara kejam. "Apakah kau tidak takut mati?"
Kakek berjenggot putih itu tertawa tawar. "Hmm, kau benar-benar iblis yang tidak boleh dibiarkan hidup lebih lama di dunia ini! Sebetulnya, sudah sejak beberapa tahun lalu aku ingin menamatkan riwayatmu, namun karena muridku ini memiliki urusan denganmu, kubiarkan kau hidup lebih lama agar ia bisa menyelesaikannya sendiri. Tetapi, nyatanya kau malah semakin gila dan mengumbar kejahatan. Hari ini, biarlah aku melanggar pantangan membunuh!"
Setelah berkata demikian, sang kakek menghampiri si Ibu Hantu dengan perlahan. Orang-orang di sekitar mengawasi dengan tegang. Begitu pula Kwie-bo Mo-lie, ia membelalakkan matanya lebar-lebar. Tiba-tiba ia teringat sesuatu dan wajahnya berubah pucat.
"Bukankah... bukankah kau ini Tiang Pek Sian-jin, Khu Ie Leng?" tanya si iblis tiba-tiba.
Tiang Pek Sian-jin berarti orang aneh dari Gunung Tiang Pek San. Si kakek tertawa tawar. "Tak salah. Tetapi, gelar dan namaku itu sudah kulupakan!"
Dia memang Tiang Pek Sian-jin, Khu Ie Leng. Wajah si iblis berubah ketakutan; dadanya berdegup kencang. Khu Ie Leng adalah jagoan yang tiada tara di kalangan Kang-ouw belasan tahun silam. Kepandaiannya sulit diukur dan di daratan Tionggoan hampir bisa dikatakan tak ada tandingannya, sebelum akhirnya ia mengasingkan diri.
Munculnya Khu Ie Leng di tempat itu membuat si Ibu Hantu terkejut. Ia menjadi waspada karena tidak ingin binasa di tangan jagoan kawakan ini.
Khu Ie Leng melangkah menghampiri Ibu Hantu dengan langkah yang sangat mantap. Kwie-bo Mo-lie segera mengerahkan tenaga dalam (Lwee-kang) ke kedua lengannya dengan penuh kewaspadaan. Sambil menjerit melengking, si iblis menyerang dengan serulingnya.
Khu Ie Leng tidak bergeming. Ia hanya menantikan serangan itu sambil tertawa dingin. "Hmm, keluarkanlah seluruh tenaga dan kepandaianmu!"
Serangan Ibu Hantu sangat hebat dengan pengerahan tenaga dalam yang maksimal. Serangan itu menyambar ke arah tengkuk Khu Ie Leng, tepat di jalan darah mematikan, Siang-tie-hiat. Namun, saat seruling itu nyaris menyentuh kulitnya, Khu Ie Leng mengibaskan tangan kirinya untuk menangkis. Setelah seruling itu terpental, ia segera melancarkan dorongan dengan tangan lainnya.
Terdengar suara jeritan. Tubuh Kwie-bo Mo-lie terpental dan ambruk ke lantai. Saat mencoba bangkit, ia memuntahkan darah segar. Dengan mata memancarkan kebengisan, Kwie-bo Mo-lie menatap Khu Ie Leng. Penuh rasa penasaran dan murka, ia melompat bangun dan menyerang lagi ke arah dada sang kakek.
Khu Ie Leng tetap tidak beranjak. Ia menyilangkan tangannya, seolah hendak menjepit seruling si Ibu Hantu. Kwie-bo Mo-lie terkejut melihat tangkisan tersebut. Ia segera menarik serangannya karena jika diteruskan, serulingnya akan hancur dan ia akan berada dalam posisi yang sangat berbahaya akibat serangan balik kaki lawan. Kwie-bo Mo-lie segera melompat jauh untuk menjaga jarak.
Khu Ie Leng tertawa dingin, tubuhnya melesat bagaikan bayangan. Kwie-bo Mo-lie merasakan sambaran angin keras menghantam dadanya. Si iblis terkejut bukan main hingga wajahnya pucat pasi. Ia tidak menyangka di usia senjanya, kepandaian Khu Ie Leng masih sedahsyat itu.
Kwie-bo Mo-lie terus melompat menghindar, namun Khu Ie Leng tidak berniat memberinya celah. Ia terus melancarkan serangan. Dalam satu gerakan kilat, Khu Ie Leng menyasar lambung lawan. Kwie-bo Mo-lie mengerahkan seluruh tenaga dalam ke kedua tangannya untuk menangkis.
*Duuuukkkk!*
Terdengar jeritan kesakitan dari si iblis perempuan itu. Tubuhnya kembali terpental dan terbanting keras ke tanah hingga memuntahkan darah segar. Wajah si iblis yang bengis kini terlihat semakin menyeramkan. Ia menderita luka dalam; dadanya sesak dan napasnya memburu. Dengan merangkak, ia bangkit dan menatap Khu Ie Leng dengan pandangan penuh dendam.
Khu Ie Leng menatapnya dengan dingin. "Hmm, bagaimanapun juga, hari ini kau harus menerima kematianmu!"
Melihat Khu Ie Leng mendekat, nyali si iblis mulai ciut. Namun, ia sadar melarikan diri pun percuma. Maka, ia memutuskan untuk melakukan perlawanan terakhir dengan sekuat tenaga.
Khu Ie Leng kembali melompat dan menyerang. Kwie-bo Mo-lie merasakan sambaran angin luar biasa. Ia terpaksa menangkis dengan sisa tenaganya. Benturan hebat terjadi kembali, membuat Kwie-bo Mo-lie terpental dan jatuh dengan jeritan menyayat karena merasa tulang-tulangnya nyaris patah.
Khu Ie Leng tidak memberi ampun. Ia terus merangsek maju. Si iblis yang merasa terdesak melakukan tindakan nekat. Sambil menjerit keras, ia melompat tinggi dan mengulurkan tangannya untuk mengincar kedua mata sang kakek.