Chapter 73
Jika kakek tua bernama Khu Ie Leng itu meneruskan serangannya, ia akan menjadi korban totokan jari tangan si Iblis, yang berarti kakek itu akan menjadi buta. Khu Ie Leng tidak ingin hal itu terjadi, sehingga ia dengan cepat menarik kembali serangannya. Dengan ditariknya serangan tersebut, si Iblis berhasil lolos dari tangan dan maut. Mereka kemudian saling melompat menjauhkan diri, lalu saling memandang dengan mata yang memancar bengis.
Khu Ie Leng merasa sangat mendongkol dan tidak berniat memberikan pengampunan kepada si Iblis perempuan yang kejam itu. Saat saling menatap dengan penuh kebencian, mereka maju perlahan untuk saling menghampiri. Si Iblis, Kwie-bo Mo-lie, menyadari bahwa dirinya bukan tandingan Khu Ie Leng. Namun, karena rasa malu dan menyadari bahwa melarikan diri adalah hal yang mustahil, ia memutuskan untuk melawan kakek itu sampai titik darah penghabisan.
Ia memberi tanda kepada anak buahnya dengan matanya. Beberapa lelaki anak buahnya segera maju mengepung Khu Ie Leng dengan sikap mengancam, memancarkan cahaya bengis dari mata mereka, serta menggenggam senjata tajam. Si Iblis perempuan itu tertawa dingin, murka atas campur tangan kakek tersebut dalam persoalannya.
"Hmm, biarpun kalian berniat mengeroyok, aku tidak akan takut!" ujar kakek bermarga Khu itu dengan suara hambar namun penuh kemarahan.
Si Iblis tertawa dingin lagi. "Jangan sombong! Apakah kau kira dapat menghadapi aku, Kwie-bo Mo-lie, dan orang-orangku dengan mudah? Lihat saja apa yang akan kau alami!"
Khu Ie Leng semakin mendongkol. Tiba-tiba, dengan bentakan keras, ia melompat tinggi dan bergerak dengan kecepatan luar biasa untuk menyerang salah satu pengepungnya. Tangannya menyambar baju orang itu, lalu dengan satu sentakan, ia menjambak dan melemparkan musuhnya. Tubuh orang tersebut meluncur deras, lalu ambruk di tanah disertai jeritan. Seketika, tubuh orang itu mengejang dan tidak bergerak lagi karena jiwanya telah melayang menghadap Giam-lo-ong.
Para pengepung lainnya terkejut, terutama si Iblis yang mengeluarkan seruan tertahan dan murka bukan main. Dengan cepat, Khu Ie Leng menjejakkan kakinya, melompat lagi, dan merangsek ke arah orang-orang yang berada di dekatnya. Ia melancarkan serangan-serangan mematikan. Anak buah Kwie-bo Mo-lie terkejut melihat serangan tersebut dan berusaha mengelak. Beberapa orang berhasil menghindar, namun dua orang terkena hajar di dada hingga tulang iga mereka hancur remuk. Tanpa sempat menjerit, tubuh kedua orang itu ambruk dan tewas seketika.
Si Iblis, Kwie-bo Mo-lie, semakin gusar. Ia berjingkrak dan menyerang Khu Ie Leng dengan kecepatan luar biasa untuk mencegah sang kakek membunuh lebih banyak anak buahnya. Khu Ie Leng hanya tertawa tawar. Ia melihat tangan kanan si Iblis menyerang kepalanya sementara tangan kirinya menghajar ke arah lambung. Jika ia terkena serangan yang membawa angin maut tersebut, nyawanya bisa terancam.
Dengan sigap, Khu Ie Leng menggerakkan tangan kirinya membentuk setengah lingkaran, disusul tangan kanannya yang membentuk segitiga, untuk menggunting serangan si Iblis. Tangan mereka pun berbenturan. Karena keduanya mengerahkan tenaga *lwee-kang* tingkat tinggi, benturan itu sangat hebat. Anehnya, meski tenaga mereka luar biasa keras, kedua tangan mereka justru saling menempel.
Tubuh si Iblis bergoyang dengan wajah pucat, sementara Khu Ie Leng berdiri dengan mata memancarkan cahaya tajam, menunjukkan bahwa ia sedang mengerahkan seluruh *lwee-kang* untuk melenyapkan lawannya. Si Iblis pun terpaksa mengerahkan seluruh tenaga dalam untuk mempertahankan diri. Sedikit saja kesalahan dalam pertempuran tingkat tinggi ini bisa berakibat fatal, entah itu kekalahan, kematian, atau cacat permanen.
Si Iblis berulang kali memusatkan perhatian untuk membendung serangan Khu Ie Leng, bahkan sempat mencoba membalas serangan. Khu Ie Leng merasa penasaran karena tidak bisa segera merobohkan Kwie-bo Mo-lie Lo Hoe Tin. Meski tahu lawan memiliki kepandaian tinggi, sebagai jagoan yang kenyang asam garam dunia persilatan, ia tidak mengenal rasa takut. Ia ingin segera menyelesaikan pertempuran ini.
Namun, setelah melancarkan beberapa gelombang tenaga dalam, si Iblis tetap tidak roboh, bahkan tampak semakin kuat. Sebaliknya, dada Khu Ie Leng mulai terasa sesak, napasnya memburu, dan keringat membasahi wajahnya. Hati kakek itu tergoncang. Dengan cepat, ia mengumpulkan semangat dan memusatkan seluruh tenaga dalam ke *Tan-tian*. Setelah mengeluarkan bentakan mengguntur, tangannya bergerak, dan terjadilah sesuatu yang luar biasa: tubuh si Iblis dan Khu Ie Leng terpental jauh lalu terbanting ke tanah.
Orang-orang lain, termasuk Mie Coe dan kakek Kong Sia yang sudah terluka, terkejut melihat kejadian itu. Mereka merasa hati mereka mencelos saat melihat sang penolong terbanting, namun mereka tidak mampu membantu karena kondisi tubuh mereka sendiri.
Khu Ie Leng dengan cepat melompat berdiri, meski tubuhnya masih terhuyung-huyung. Si Iblis, Kwie-bo Mo-lie, tidak secepat itu untuk bangun karena sempat meringkuk di tanah. Anak buahnya segera berlari menghampiri. Belum sempat mereka memeriksa, si Iblis bergerak dan merangkak bangun dengan wajah yang sangat pucat. Saat akhirnya berhasil berdiri, ia memuntahkan darah segar dan tubuhnya menggigil gemetar.