Chapter 74
Dia terhuyung-huyung, bergoyang seolah akan roboh kembali. Namun, karena si Iblis ini adalah seorang jago yang memiliki kepandaian tinggi, dia mengerahkan tenaga *Lwee-kang*-nya sehingga tidak sampai jatuh terjungkel ke tanah. Kendati demikian, wajahnya menjadi pucat pasi; dia hanya memandangi Khu Ie Leng dengan tatapan penuh dendam.
Khu Ie Leng telah membulatkan tekad untuk tidak membiarkan si Iblis lolos dari kematian. Ia melangkah menghampiri lawan. Khu Ie Leng tidak ingin membuang-buang waktu maupun menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Saat si Iblis terluka parah, ia bermaksud menyerang kembali guna membinasakannya. Selangkah demi selangkah, ia terus mendekat. Wajah kakek tua berjenggot putih itu tampak mengerikan dengan bayang-bayang hawa pembunuhan yang kental.
Namun, di tengah situasi yang menegangkan itu, tiba-tiba terdengar suara "Uaaaahhhh!" yang nyaring. Sang kakek terkejut dan mengenali suara tersebut. Ia menoleh ke arah Cie Kiat dan benar saja, muridnya itu memuntahkan gumpalan darah. Hal tersebut mengejutkan sang kakek hingga ia mengeluarkan seruan tertahan dan segera melompat menghampiri muridnya. Ia memeriksa keadaan Cie Kiat yang sudah terjungkal di tanah dalam keadaan tak sadarkan diri.
Sang kakek segera mengurut-urut tubuh pemuda bermarga Lie tersebut. Sejatinya, darah segar yang dimuntahkan Cie Kiat justru berdampak baik bagi kesehatannya. Dengan memuntahkan darah yang mengendap pada dadanya yang terluka, nyawa pemuda itu tertolong dari kematian.
Sementara itu, si Iblis tertawa kecil. Perlahan, ia menggerakkan kepala, memberi isyarat kepada anak buahnya untuk segera pergi. Setelah memandang Mie Coe dan Kong Sia sejenak, si Iblis melangkah pergi. Khu Ie Leng, meski mengetahui lawannya hendak melarikan diri, tidak bisa mengejarnya. Ia sadar, jika ia meninggalkan Cie Kiat dalam keadaan seperti itu, nyawa muridnya akan terancam bahaya lain. Oleh karena itu, kakek bermarga Khu tersebut tetap mengurut dada muridnya sambil mengawasi kepergian si Iblis dengan hati mendongkol.
***
Lie Cie Kiat akhirnya tersadar dari pingsan. Ia menyadari bahwa si Iblis akan pergi begitu saja.
"Tahan... tahan dia, Suhu!" seru Cie Kiat dengan suara terbata-bata. "Jangan biarkan dia melarikan diri, karena kita akan sulit menemukannya lagi! Aku... aku ingin membunuhnya dengan tanganku sendiri... Tahan dia, Suhu... dalam waktu dekat semangatku pasti akan pulih kembali!"
Khu Ie Leng sempat ragu mendengar permintaan muridnya. Namun, saat melihat kesungguhan yang terpancar di wajah serta mata Cie Kiat yang mengharapkan pertolongannya, tanpa berpikir panjang lagi, Khu Ie Leng segera melompat gesit untuk menghadang jalan Kwie-bo Mo-lie Lo Hoe Tin.
Si Iblis dan anak buahnya terkejut. Mereka mengira telah berhasil meloloskan diri dari tangan jago tua tersebut. Khu Ie Leng menatap si Iblis dengan tajam.
"Jangan harap hari ini kau bisa menghindarkan diri dari kematianmu!" ujar Khu Ie Leng datar.
Wajah Lo Hoe Tin menunjukkan ekspresi yang tidak menyenangkan. Wajahnya berganti-ganti warna antara merah padam dan pucat pasi, menandakan pergolakan perasaan antara gusar, murka, penasaran, malu, dan mendongkol di dalam jiwa Iblis perempuan yang bengis itu.
"Jadi, apa maumu?" bentak si Iblis bengis. "Apakah kau kira aku takut kepadamu, hah?"
Mendengar pertanyaan itu, Khu Ie Leng tertawa mengejek. "Jangan menganggap dirimu memiliki kepandaian hebat sehingga bisa malang melintang di dunia persilatan sesuka hatimu! Jangan kau duga aku akan membiarkan Iblis sepertimu terus hidup dan membawa malapetaka bagi masyarakat! Sudah kukatakan tadi, jika hari ini aku tidak bisa membunuhmu, biarlah aku yang terbinasa! Bersiaplah untuk menerima kematian!"
Mata si Iblis mendelik besar karena murka. "Mulutmu terlalu besar, orang tua yang sudah bau tanah!" cemooh si Iblis. "Tadi aku sengaja mengalah, tetapi ternyata kau benar-benar tidak tahu diri dan mencari kematian untuk dirimu sendiri!"
Setelah berucap demikian, si Iblis menatap Khu Ie Leng dengan kejam dan bersiap menyerang. Khu Ie Leng pun bersiap menghadapinya, apalagi saat melihat anak buah si Iblis yang masih hidup ikut mengepungnya.
Khu Ie Leng bergerak cepat. Dalam waktu singkat, ia melancarkan serangan bertubi-tubi hingga membuat si Iblis terpaksa melompat mundur. Serangan beruntun Khu Ie Leng membuatnya di atas angin. Melihat Kwie-bo Mo-lie terdesak hebat, anak buahnya segera melompat maju untuk mengeroyok Khu Ie Leng. Namun, Khu Ie Leng sangat lihai. Ia mampu menguasai keadaan dan sekali gebrak, tiga orang anak buah si Iblis berhasil dirobohkannya.
Bahkan saat si Iblis menyerang, Khu Ie Leng masih sempat menangkisnya. Hal ini membuktikan tingkat kepandaiannya yang luar biasa tinggi. Si Ibu Hantu berjingkrak karena gusar, mengeluarkan bentakan menggelegar, dan terus melancarkan serangan bertenaga *Lwee-kang* yang kuat.
Khu Ie Leng menghadapi semuanya dengan tenang. Setiap serangan dari Ibu Hantu dihadapinya dengan tenaga yang lembut, menggunakan kelunakan untuk mematahkan kekerasan. Meski Ibu Hantu terus menyerang dengan kekuatan penuh, tenaganya selalu tertindih oleh serangan balik Khu Ie Leng. Kwie-bo Mo-lie semakin kalap. Serangannya kian gencar dan hebat, namun ia tetap tak mampu menumbangkan Khu Ie Leng.
Keadaan menjadi berbahaya saat anak buah Kwie-bo Mo-lie bergabung dalam serangan. Khu Ie Leng kini terkepung dari segala sisi. Sedikit saja ia lengah, ia bisa terluka parah atau terbinasa. Oleh karena itu, ia mengerahkan seluruh kekuatannya.
Sementara itu, Lie Cie Kiat berusaha mengatur pernapasan. Ia mengerahkan *Lwee-kang* untuk memulihkan semangatnya. Namun, karena pemulihan tersebut memerlukan waktu, ia belum bisa membantu gurunya meski melihat Khu Ie Leng tengah terdesak. Ia terpaksa mengabaikan keadaan sekitar demi memulihkan diri.
Kong Sia dan Mie Coe yang juga terluka hanya bisa memandang dengan cemas dari kejauhan. Mereka sadar bahwa turun tangan dalam situasi tersebut justru akan merepotkan Khu Ie Leng.
Tiba-tiba, Kwie-bo Mo-lie mengeluarkan bentakan keras, melompat membumbung tinggi, dan melancarkan serangan maut dengan kedua tangannya. Bersamaan dengan serangan dari anak buahnya, posisi Khu Ie Leng benar-benar terkepung dan terancam.
Namun, sebagai jagoan kelas atas yang memiliki kepandaian tinggi, kepungan tersebut tidak berarti banyak bagi Khu Ie Leng. Ia tetap fokus membalas serangan Kwie-bo Mo-lie. Setiap kali Khu Ie Leng mengangkat tangan, dua hingga tiga anak buah lawannya tumbang. Itulah bukti kehebatan Khu Ie Leng; meski dikepung oleh Ibu Hantu dan sekutunya, ia tetap memberikan perlawanan yang gigih.