Halo!

Kemelut Di Cakrabuana - Chapter 01

Memuat...
Kemelut Di Cakrabuana

Chapter 01

Lelaki tua berjenggot putih itu mengangkat kaki kanannya dengan lutut sejajar pusar, sedangkan sepasang tangannya siap siaga di depan dada dengan telapak terbuka lebar. Lelaki itu menahan napas sejenak, mulutnya berkomat-kamit.

Secara tiba-tiba, kaki kanan yang terangkat itu melompat ke depan. Bersamaan dengan itu, sepasang tangannya mendorong dengan pengerahan tenaga kuat. Tenaga dorongan mengarah ke depan, ke arah sebongkah batu yang jaraknya ada sekitar lima depa.

Seiring dengan teriakan yang keluar dari mulut lelaki tua itu, angin pukulan pun terdengar berciutan. Kemudian, tak lama antaranya, terdengar suara ledakan memecah jantung. Bongkahan itu hancur hampir menjadi kerikil bertaburan.

"Mengagumkan sekali, Paman Jayaratu!" teriak seorang pemuda yang berdiri terpana pada jarak sejauh lima depa.

"Suatu saat, engkau yang harus melakukan gerakan ini," kata Paman Jayaratu menatap pemuda itu.

"Saya?"

"Ya, Purbajaya...!"

"Untuk apakah?"

"Untuk membela agamamu! Untuk memperkokoh, memperkuat, bahkan membuatnya besar," tutur Paman Jayaratu.

"Paman kan pernah bilang, Islam tak butuh kekerasan," kata Purbajaya.

"Memang betul, Islam tak butuh kekerasan, tapi kekuatan. Ilmu kedigjayaan adalah bagian dari kekuatan. Dan itu perlu untuk kewibawaan agama kita," tutur lagi Paman Jayaratu.

"Harus dengan kedigjayaankah Islam melebarkan sayap?" tanya pemuda itu, duduk bersila di sebuah hamparan tikar pandan.

Paman Jayaratu menghela napas. Kemudian, dia pun mencoba duduk bersila di atas tikar yang sudah ditempati pemuda itu. Sebelum meneruskan percakapan, Paman Jayaratu mengenakan kembali baju kurung warna hitamnya. Ikat kepalanya yang juga berwarna hitam pun segera dikenakannya lagi, sehingga nampak kontras dengan warna rambut putihnya yang riap-riapan tertebak semilir angin tengah hari.

Mereka berdua duduk di bawah pohon kaso yang rindang yang berdiri terpencil di kaki bukit itu. Nun jauh ke sebelah utara, nampak dataran rendah pantai utara yang langsung berbatasan dengan warna laut biru pesisir Cirebon.

"Kenakan kembali pakaianmu, Purba..." kata Paman Jayaratu.

Purbajaya segera mengambil baju rompi hitam yang terbuat dari kain beludru biru. Dadanya yang bidang dan putih sedikit tertutup oleh rompi. Purbajaya pun segera mengikat kepalanya dengan ikat kepala warna putih.

"Dalam hal apa pun, kedigjayaan adalah lambang kegagahan. Namun, harus diingat, kegagahan hanyalah sebuah pelengkap, atau bagaikan kembang pelengkap keindahan. Sedangkan sumber dari segala kekuatan itu sendiri adalah saripatinya. Islam di saat-saat perkembangannya memang butuh kegagahan. Namun, kegagahan itu sudah barang tentu jangan mengalahkan tujuan utamanya sendiri.

Ingatlah, kalau pun ada terdengar orang Islam melakukan peperangan, itu bukanlah pamer kegagahan atau pun pamer kekuasaan, melainkan mempertahankan keberadaan. Kita berkewajiban mempertahankan keberadaan Islam. Untuk itu, kita butuh kedigjayaan dan kekuatan," tutur Paman Jayaratu panjang lebar.

Purbajaya duduk tegak memangku kedua belah tangan. Termenung sejenak, kemudian mengangguk-angguk.

"Saya siap berlatih kedigjayaan, Paman..." kata Purbajaya pada akhirnya.

"Tapi ingatlah, kau tidak dididik untuk jadi tukang berkelahi atau pun tukang pukul. Agama kita benci kepada kesombongan, takabur, dan kejam," tutur Paman Jayaratu.

Pemuda itu mengangguk-angguk lagi.

"Apakah agama kita benci pembunuhan?" tanya pemuda itu tiba-tiba.

"Hati-hatilah bicara pembunuhan, sebab dalam agama kita, pengadilan pertama di hari kiamat adalah perkara pembunuhan!" potong Paman Jayaratu tegas.

"Jadi dalam agama kita tak boleh ada pembunuhan, Paman?"

"Di sini bukan berbicara masalah boleh atau tak bolehnya, tapi menitikberatkan pada perkara apa yang kita hadapi ini."

"Tugas saya kelak dari Negri Carbon ini adalah menyelundup ke Pajajaran," gumam Purbajaya tiba-tiba dengan wajah tegang.

Dia khawatir di tempat musuh nanti akan berhadapan dengan tugas-tugas membunuh.

Paman Jayaratu seperti maklum akan isi hati pemuda ini.

"Kita harus punya kedewasaan dalam berpikir. Kalau ada ucapan orang seagama berdosa besar membunuh sesamanya, tidak berarti bunyi ucapan ini bisa diputar-balik lantas kita bisa bebas dari dosa kalau membunuh orang yang tak seagama," kata Paman Jayaratu. "Dan kau harus hati-hati dalam berpikir, ilmu kedigjayaan yang aku berikan bukanlah ilmu untuk membunuh," tandasnya lagi.

Kembali Purbajaya mengangguk-angguk tanda mengerti.

"Tapi ikut bertugas menyebarkan agama kita ke masyarakat Pajajaran sungguh berat," keluh pemuda itu kemudian.

"Tidak berat, sebab tak ada paksaan masuk agama kita. Engkau hanya perlu meyakinkan saja. Dan yang belum yakin dengan agama kita sebaiknya tak perlu masuk, sebab bila telah masuk lantas keluar lagi, dia akan mendapat hukuman sebagai orang murtad," kata Paman Jayaratu.

Untuk ke sekian kalinya, Purbajaya mengangguk-angguk.

"Nah, hari ini latihan selesai. Tapi ingatlah, dalam satu tahun ini, di samping kau kian memperdalam agamamu juga harus semakin memperdalam ilmu kewiraanmu. Tahun depan engkau harus diikutsertakan dalam tugas menyelundup ke pusat pemerintahan Pajajaran, yaitu dayo (ibukota) Pakuan," kata Paman Jayaratu.

Lelaki tua itu segera berdiri. Dia memerintah Purbajaya untuk menggulung tikar. Sesudah itu, bagaikan kijang, kaki Paman Jayaratu meloncat lincah. Dia berlari cepat menuruni bukit. Setiap ujung jari kakinya menotol tanah, maka setiap itu pula tubuhnya meloncat tinggi di udara.

Dalam beberapa saat saja, orang tua itu telah berada jauh di bawah bukit, meninggalkan Purbajaya yang masih termangu sambil menggulung tikar.

Namun sebentar kemudian, dia pun sadar bahwa Paman Jayaratu tengah mengujinya, sejauh mana perkembangan ilmu napak sancang (semacam ilmu untuk meringankan tubuh dalam berlari) yang dimiliki pemuda itu.

Purbajaya pun segera meniru gerakan Paman Jayaratu. Dia menotolkan ujung jari kakinya ke atas tonjolan batu. Tubuhnya sedikit mumbul ke udara seperti di ujung jari kakinya dipasangi per baja.

Pemuda itu memang bisa bergerak cepat, kendati masih kalah cepat dibandingkan gerakan Paman Jayaratu.

Selama hampir satu tahun, Purbajaya dididik ilmu kedigjayaan di samping semakin memperdalam pelajaran agamanya. Seingatnya, agamanya mulai dikenalkan di wilayah Negri Carbon sejak dia masih bocah.

Kendati menurut banyak orang, agamanya belum merata diterima oleh masyarakat di tanah Sunda, namun bagi Purbajaya, agama baru ini bukan halangan bagi kehidupan manusia. Dalam agamanya yang baru, dia tak merasa ada hambatan dalam kebebasan.

Kalau pun agama ini mengatur kehidupan, itu adalah sesuatu yang membimbingnya ke arah sesuatu kehidupan lebih baik.

"Betapa kacaunya isi dunia seandainya kehidupan manusia tidak diatur oleh keberadaan agama," pikir Purbajaya.

Dia tak merasakan keanehan dalam menempuh kehidupan beragama, sebab pada umumnya orang yang berada di wilayah Karatuan Carbon adalah pemeluk agama yang saleh, kendati masyarakat Carbon terdiri dari banyak macam suku bangsa seperti Sunda, Keling, Arab, Cina.

Hanya saja, yang membuat dirinya belum merasa tentram bila tiba saatnya dia harus memikirkan siapa dia sebenarnya. Selama belasan tahun ini dan tinggal di wilayah ini, dia tak tahu siapa keluarganya.

Orang yang dekat dengannya sampai hari ini hanyalah Paman Jayaratu. Orangtuanya kah dia? Mengapakah dia tak memanggilnya ayahanda kepada Paman Jayaratu? Siapa pula ibunya? "Suatu saat kau akan diberitahu..." tutur Paman Jayaratu bila Purbajaya bertanya perihal itu.

Namun pada suatu saat, tiba pula apa yang didambakannya. Malam itu, langit penuh bintang. Purbajaya tengah duduk bersila di bale-bale berhadapan dengan sebuah pelita dengan cahaya suram.

Pemuda itu dengan sabar membaca beberapa ayat suci yang tengah dia pelajari. Dia segera menghentikan pekerjaannya manakala ke pekarangan rumah masuk dua orang berpakaian prajurit.

Mereka datang berbekal oncor (obor) yang cahaya merahnya menggelebur menerangi wajah-wajah mereka.

"Siapa?"

"Kami utusan dari Puri Arya Damar, ingin bertemu Ki Jayaratu," jawab seorang dari mereka.

"Arya Damar? Bukankah dia salah seorang pangeran dari Pakungwati?" tanya Purbajaya pelan.

"Ya, ada urusan amat penting. Jadi, bila Ki Jayaratu tak ada halangan, diharap ikut bersama kami ke puri," tutur prajurit.

"Paman Jayaratu sedang pergi ke Astanajapura. Tapi menurut rencana, malam ini pun harus sudah kembali," jawab Purbajaya masih duduk bersila.

"Silakan Ki Silah (saudara) berdua tunggu di sini..." tutur kedua orang itu mengajak kedua orang prajurit untuk duduk di bale-bale.

Namun sebelum kedua orang tamu itu duduk, tiba-tiba Paman Jayaratu muncul dari pekarangan.

"Kebetulan beliau sudah tiba..." Purbajaya melihat orang tua itu dengan hati gembira.

"Kalian dari mana?" tanya Paman Jayaratu.

"Kami utusan dari Pangeran Arya Damar..."

"Pangeran Arya Damar?"

"Beliau mengundangmu ke purinya, tapi diharap anda membawa serta pemuda bernama Purbajaya," kata prajurit.

Purbajaya terkejut, mengapa dia pun musti ikut? Dan ketika dia melirik ke arah Paman Jayaratu, dia pun bertambah heran, sebab alis orang tua itu nampak berkerut.

Ada apakah? "Harus sekarang jugakah kami menghadap beliau?" tanya Paman Jayaratu.

Kedua prajurit itu mengangguk.

Kembali dahi Paman Jayaratu berkerut. Dia termenung sejenak. "Kami harus membawa kalian sekarang ini juga," kata prajurit menegaskan ketika Paman Jayaratu nampak meragu.

Paman Jayaratu masih termenung. Namun pada akhirnya, dia mengangguk juga.

"Baiklah, kami berangkat menuruti titahnya," gumam Paman Jayaratu. "Purba, berkemaslah, malam ini kita menghadap ke Istana Pakungwati..." kata Paman Jayaratu berjingkat.

"Ouw, jadi anak muda inikah Purbajaya?" kedua orang prajurit ini kaget ketika nama itu dipanggil.

"Apakah kalian sudah tahu tentang anak ini?" tanya Paman Jayaratu penuh selidik.

"Hanya sedikit-sedikit."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment