Halo!

Kemelut Di Cakrabuana - Chapter 02

Memuat...
Kemelut Di Cakrabuana

Chapter 02

"Tapi anak muda ini amat menarik perhatian..." kata prajurit berkumis tebal dan berdada bidang itu.

Dada Purbajaya berdebar. Mereka membicarakan dirinya, tetapi dia tidak tahu perkara apa itu.

Ketika Paman Jayaratu masuk ke ruangan rumah panggungnya, Purbajaya ikut berjingkat dengan alasan akan segera berkemas.

"Paman, ada apakah ini?" tanyanya berbisik.

"Ini adalah perihal masa depanmu, tetapi sekaligus juga tentang masa lalumu. Hanya saja aku khawatir, mengapa yang menanganimu malah Pangeran itu?" gumam Ki Jayaratu.

"Ada apa dengan Pangeran Arya Damar, Paman?"

Paman Jayaratu hanya menghela napas. "Tak bisa aku katakan sekarang. Tapi mudah-mudahan berhadapan dengan pangeran itu tak mengejutkanmu," kata Paman Jayaratu, yang semakin membuat pemuda itu bertanya-tanya di dalam hatinya.

"Tapi kau harus siap, apa pun yang pangeran itu katakan," kata orang tua itu pula.

Purbajaya mengangguk tanpa tahu mengapa harus begitu.

"Kami sudah siap berangkat," kata Paman Jayaratu saat keluar menuju pekarangan.

Kedua orang prajurit itu pun berdiri. Masing-masing mengambil kembali obornya yang tadi disimpan di batang pagar bambu.

"Mari!" ajak prajurit.

"Mari... Bismillahirrahmanirrahim!" gumam Paman Jayaratu memulai langkahnya, diikuti oleh Purbajaya.

Maka keempat orang itu mulai berjalan beriringan. Pembawa obor berjalan paling depan sebagai penunjuk arah dalam gelapnya malam. Malam itu memang tidak ada bulan. Kendati bintang-bintang bertebaran di langit, cahayanya tidak sanggup menerangi semesta. Sementara itu, perjalanan menuju Istana Pakungwati jaraknya cukup jauh dan harus merambah sedikit hutan jati.

Hanya saja, Paman Jayaratu sepertinya tidak mengalami kesulitan. Nampaknya dia hafal betul ke mana arah yang harus dilalui. Langkah orang tua itu mantap dan cepat. Sebentar saja dia sudah berjalan paling depan, meninggalkan dua orang prajurit yang berjalan tertatih-tatih karena mata silau oleh cahaya obor.

Purbajaya melangkah di belakang Paman Jayaratu. Hanya dia yang tahu bahwa orang tua itu bisa berjalan cepat dalam kegelapan karena memiliki ilmu bernama Sorot Kalong. Sorot Kalong adalah semacam ilmu melihat dalam gelap. Siapa pun yang sudah menguasai ilmu ini, kendati berada di kegelapan, tidak akan kesulitan untuk melihat. Kata pemilik ilmu itu, seluruh alam bisa dilihat kendati hanya remang-remang saja.

Paman Jayaratu sudah menguasai ilmu Sorot Kalong dengan baik. Purbajaya pun sebenarnya sudah diperintah oleh orang tua itu untuk berlatih, tetapi pemuda itu hanya melakukannya dengan setengah-setengah saja. Sungguh berat melatih mata agar bisa melihat di dalam gelap. Selama tiga bulan penuh, ia harus berada di dalam ruangan yang hanya menerima sedikit cahaya. Semakin hari, cahaya yang masuk ke dalam ruangan itu semakin dikurangi sampai pada suatu saat ruangan itu gelap gulita sama sekali.

Namun demikian, kemampuan mata harus tetap tajam seperti manakala melihat ruangan ketika masih mendapatkan cahaya. Purbajaya tidak kuat melebarkan pupil mata. Urat-urat di sekitar bola mata serasa menegang, bahkan serasa mau putus, dan kepalanya pun berdenyut disertai perasaan mual di ulu hati. Rasanya sudah mau muntah.

"Mata saya sepertinya tidak sanggup memenuhi keinginan ini," tutur Purbajaya pada beberapa bulan lalu. Dia keluar ruangan dengan sepasang mata yang bengkak dan berwarna merah, bahkan dari sudut-sudut matanya keluar tetesan darah.

Mendengar keluhan ini, Paman Jayaratu ketika itu hanya tertawa masam. "Orang yang tidak tahu cara melangkah tidak akan sampai ke tempat tujuan. Dan alangkah sedihnya bilamana suatu saat dia sadar bahwa selama ini dia hanya tinggal di tempat yang itu-itu saja. Dia tetap mentah pengalaman dan pengetahuan," kata Paman Jayaratu.

Orang tua ini tidak pernah memaksakan kehendak, kecuali memberikan gambaran seperti itu. Dan hari ini baru terasa akibatnya, betapa ucapan Ki Jayaratu amat tepat. Orang yang tidak mau beranjak tidak akan sampai di tujuan. Hanya karena tidak mau mempelajari ilmu Sorot Kalong, Purbajaya tidak bisa berjalan cepat di dalam gelap.

Maka tidak heran, dalam upaya mengejar ketinggalan, dia bergerak di tengah hutan jati dengan gerakan kocar-kacir, menyeruduk ke sana kemari, sama seperti kedua orang prajurit yang berlari di belakangnya. Malah, dua orang prajurit itu lebih unggul sebab berbekal obor. Hanya saja yang menyebabkan Purbajaya berada di depan adalah karena pemuda itu memiliki ilmu lari cepat yang jauh lebih baik ketimbang dua prajurit tersebut.

"Kalau saja aku ulet dalam latihan..." keluh pemuda itu. Terasa sekali Paman Jayaratu hendak mengujinya, atau sekadar memberi pelajaran padanya, betapa orang bodoh selalu ketinggalan dalam segala hal.

Paman Jayaratu kini berusia lebih dari lima puluh tahun, sementara tahun ini Purbajaya baru menginjak usia enam belas tahun. Tapi usia yang terpaut jauh tidak menjamin; pemuda yang bodoh tetap tidak bisa mengalahkan orang tua yang pandai.

Untunglah hutan jati sudah dilewati. Kini mereka berada di tengah padang alang-alang yang beberapa di antaranya gundul dan tanahnya berdebu. Namun di tempat terbuka seperti itu, bintang-gemintang berjasa menolong Purbajaya. Dengan mengerahkan tenaga, dia berlari kencang menyusul Paman Jayaratu.

Yang payah adalah kedua orang prajurit itu. Mereka hanya memiliki kepandaian biasa-biasa saja. Maka ketika diajak berlari menggunakan ilmu napak sancang (ilmu lari meringankan tubuh), mereka ketinggalan jauh.

Ketika tiba di batas kota, barulah Paman Jayaratu menurunkan kecepatannya. Dia bahkan berjalan lenggang kangkung seperti memberi kesempatan kepada orang-orang di belakangnya untuk menyusul. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, Purbajaya sudah berada di samping Paman Jayaratu dengan dada yang naik turun. Kedua orang prajurit Negeri Carbon pun sudah ada di belakang mereka dengan napas senin-kamis dan wajah bersimbah keringat.

"Sekarang giliran kalian yang berjalan di depan," kata Paman Jayaratu kepada dua orang prajurit.

Sekarang mereka sudah sampai di kota, tetapi keadaan sudah lengang sebab malam hampir larut. Ketika memasuki gerbang keraton, mereka perlu menjalani pemeriksaan dari empat orang jagabaya. Setelah segalanya beres, barulah semua diperbolehkan masuk.

Keraton Negeri Carbon dikenal dengan nama Dalem Agung Pakungwati, dikelilingi pekarangan-pekarangan yang dibatasi dinding batu bata dan saling berhubungan satu dengan yang lainnya melalui gerbang, kori, dan pintu-pintu. Di dalam beberapa pekarangan terdapat kompleks bangsal (bangunan terbuka) yang terbuat dari lantai berhias.

Banyak puri di sana. Puri-puri itu dimiliki oleh para bangsawan, pejabat, dan kerabat istana. Salah satunya adalah milik Pangeran Arya Damar. Di depan puri Arya Damar ada pemeriksaan lagi, tetapi di sini tidak seketat ketika diperiksa di luar istana. Barangkali petugas puri sudah diberitahu akan kedatangan dua orang tamu itu.

Di beranda depan, ternyata Pangeran Arya Damar sudah duduk bersila di atas hamparan alketip buatan Negeri Persia. Purbajaya sudah pernah bertemu dengan pangeran ini beberapa bulan silam. Itu pun terjadi pada waktu perayaan Maulid dan bukan pada pertemuan khusus. Mengapa pejabat ini tiba-tiba ingin bertemu malam-malam seperti ini dengannya?

Pangeran Arya Damar malam itu tampak sangat berwibawa. Dia memakai baju bedahan lima yang terbuat dari beludru halus warna hitam. Pada sisi-sisi bedahan dikelim dengan benang emas. Celananya pun terbuat dari beludru hitam pula, ditutup oleh kain batik Trusmi yang dilipat dua. Ada keris dengan gagang beronce benang emas yang tersembul tipis dari balik bedahan. Ketika Paman Jayaratu datang mendekat, keris itu dipindahkan sedikit ke belakang sehingga tidak terlihat. Tetapi gerakan pangeran itu tetap mengesankan bahwa dia baru saja memegang hulu senjata.

"Assalamualaikum warahmatullah..."

"Waalaikumussalam. Silakan duduk, Ki Jayaratu," sambut Pangeran Arya Damar sambil melinting kumis tipisnya.

Paman Jayaratu duduk bersila sesudah memberikan penghormatan penuh takzim, diikuti oleh tindakan serupa yang dilakukan Purbajaya. Sedangkan dua prajurit, sesudah menyembah hormat, segera mengundurkan diri.

"Engkau yang duduk di belakang tentu pemuda bernama Purbajaya itu, ya?" Mata Pangeran Arya Damar menyorot bagai mata burung elang.

Purbajaya menunduk, dan untuk kedua kalinya dia menyembah.

"Serasa aku sudah pernah melihat wajahnya. Di mana ya, Ki Jayaratu?" tanyanya kemudian.

"Pangeran pernah melihatnya pada perayaan Maulidan beberapa bulan lalu," jawab Paman Jayaratu sambil kembali menyembah.

Pangeran Arya Damar mengangguk-angguk sesudah mengingat-ingat sebentar. "Bukankah dia yang menolong putriku, Nyimas Waningyun, ketika anak nakal itu hampir tenggelam di Taman Air Petratean?" tanya Pangeran Arya Damar lagi.

Jantung Purbajaya hampir berhenti ketika teringat gadis ayu berlesung pipit itu. Dia putri Pangeran Arya Damar?

Beberapa bulan lalu adalah perayaan 12 Maulid, upacara tradisi memperingati hari lahirnya penyebar agama baru di dunia bernama Islam, yaitu Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Namun di samping perayaan yang bersifat keagamaan, perayaan lain pun turut mewarnai. Berbagai kesibukan lain ikut meramaikan, misalnya berbagai jenis kesenian. Keramaian itu biasa diadakan sejak dua minggu sebelum 12 Maulid.

Perayaan secara besar-besaran selalu diadakan, terutama sesudah Kanjeng Syarif Hidayatullah, atau lebih dikenal sebagai Sang Susuhunan Jati, memegang tampuk pemerintahan Negeri Carbon pada tahun 1479 Masehi. Susuhunan Jati mengadakan berbagai perayaan besar ini bukan semata karena menghormati Kanjeng Nabi sebagai penyebar agama saja, melainkan juga karena menghormati nenek moyang.

Menurut garis ayah, Kanjeng Syarif Hidayatullah adalah keturunan ke-22 Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Ayahandanya adalah Syarif Abdullah yang datang ke Pulau Jawa dari Mesir melalui Gujarat, lalu menikah dengan Nyimas Rara Santang, putri Sri Baduga Maharaja penguasa Pajajaran. Sebagai keturunan langsung dari penyebar agama Islam, sudah barang tentu Kanjeng Syarif Hidayatullah begitu menghormatinya secara khusus, layaknya hormat seorang keturunan kepada nenek moyangnya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment