Chapter 03
Sejak saat itu, muludan di Nagri Carbon selalu meriah hingga kini. Nagri Carbon menjadi tempat yang ramai bila muludan tiba. Ribuan orang akan datang dari mana-mana, termasuk dari wilayah karatuan yang telah bergabung dengan Carbon seperti Rajagaluh, Kuningan, Talaga, dan Sumedanglarang.
Yang datang berkunjung ke suasana pesta, bukan hanya orang tua. Bahkan orang muda, para gadis, dan lajang saling memperlihatkan wajah dan penampilan agar satu sama lain menjadi saling tertarik. Kebahagiaan juga larut ke dada para remaja bangsawan. Para ksatria dan puteri Karaton Pakungwati yang elok-elok sama bergembira, namun tentu saja mereka tak berbaur dengan orang kebanyakan.
Anak-anak kaum bangsawan hanya bercengkrama di Taman Air Petratean. Ini adalah sebuah taman indah di kompleks istana. Di kompleks itu ada kolam berbentuk melingkar, airnya jernih banyak ditumbuhi bunga teratai. Bila senja hari, anak-anak bangsawan karaton bersenandung sambil bersampan, melewati taman-taman air Pulau Kaca, Pulau Manik, dan kemudian berhenti di Taman Air Petratean karena banyak ditumbuhi bunga teratai yang indah-indah.
Purbajaya bukan putra bangsawan. Namun pada perayaan ini, dia bisa keluyuran ke Taman Air Petratean berkat Paman Jayaratu. Kalau mengingat ini memang sungguh mencengangkan. Paman Jayaratu bukanlah seorang pejabat, tidak juga sebagai abdi keraton. Tapi entah mengapa, dia bisa keluar-masuk kompleks istana dan sering berhubungan dengan kalangan pejabat di Pakungwati.
Sesekali ada juga keinginan pemuda itu untuk bertanya, mengapa Paman Jayaratu punya kelonggaran seperti itu. Namun yang membuat keinginan itu selalu kandas, karena Paman Jayaratu orangnya acuh tak acuh. Jangankan orang tak bertanya, sedangkan orang perlu penjelasan darinya jarang mengabulkannya. Jadinya pemuda itu lebih memilih diam ketimbang pusing sendiri memikirkan sifat-sifat orang tua itu.
Purbajaya boleh menggunakan pakaian bagus. Ketika ikut keluyuran di Taman Air Petratean, dia memakai pakaian seperti yang biasa digunakan oleh kaumsantana, yaitu memakai baju kurung tangan panjang terbuat dari kain halus buatan Nagri Campa, warna mencolok biru muda, sedangkan ke bawahnya menggunakan celana komprang dengan warna kuning tua. Kepala diikat kain batik motif atau corak pupunjungan. Tentu saja gagah sekali. Apalagi potongan wajah Purbajaya terbilang tampan. Dia berkulit putih bermata tajam. Ada ciri khas yang tak mungkin orang lupa, yaitu ujung dagu pemuda ini seperti terbelah dua oleh goresan.
Purbajaya jalan-jalan sendirian sebab Paman Jayaratu punya kepentingan lain. Betapa gembiranya pemuda ini ketika dilihatnya di kolam taman itu banyak anak muda pria dan wanita bercengkrama. Beberapa di antaranya melayari kolam berbentuk lingkaran dengan wajah ceria. Yang membuat Purbajaya terlongong-longong kagum, karena kaum remaja di sana selain berpakaian indah-indah juga wajahnya pun elok-elok. Yang perempuan cantik-cantik dan yang pria tampan-tampan.
Namun dari sekian remaja elok yang dia kagumi, ada seorang dari sekumpulan gadis yang dia perhatikan. Dia punya kesan khusus terhadap gadis belia yang barangkali usianya masih sekitar lima belas tahun ini. Dia cantik melebihi yang lainnya, tapi tindak-tanduknya tenang setenang air kolam. Kalau orang lain menampakkan kegembiraan yang penuh sebagai remaja, adalah gadis itu hanya senyum-senyum saja. Namun dalam selintas nampak nyata bahwa gadis itu selalu jadi incaran para pemuda di sekelilingnya. Mereka seperti bersaing ingin lebih dekat dengan gadis itu. Selalu berusaha menggoda dan membuat kelucuan-kelucuan agar gadis itu tertarik padanya.
Purbajaya ingin sekali bergabung namun bagaimana caranya? Alangkah kurang sopannya bila secara tiba-tiba dia ikut melibatkan diri begitu saja. Mereka tidak saling mengenal. Dan alangkah kecewanya Purbajaya ketika dilihatnya kelompok anak-anak muda itu meninggalkan bangku di bawah pohon rindang di mana tadi mereka duduk-duduk. Dari jarak agak jauh Purbajaya ikut ke mana mereka bergerak. Ternyata gadis berlesung pipit dengan hidung kecil mancung itu menuju sebuah sampan bersama tiga orang gadis dan dua orang pemuda. Mereka semuanya menaiki sampan dan berlayar mengitari kolam.
Tak terasa Purbajaya melangkahkan kaki ikut ke mana perahu itu bergerak. Kalau perahu atau sampan itu berhenti, maka kaki Purbajaya pun ikut berhenti. Sebaliknya bila sampan bergerak maka Purbajaya pun ikut bergerak. Ketika salah seorang dari gadis di sampan bersenandung, maka Purbajaya pun ikut bersenandung pelan. Namun entah setan mana yang menggodanya, secara tiba-tiba saja di benaknya tersembul pikiran buruk. Pikiran ini terbentuk karena didesak oleh kebutuhan ingin bergabung dengan mereka. Purbajaya dengan diam-diam memungut sebuah kerikil. Dengan pengerahan tenaga penuh dia melemparkan kerikil sebesar biji rambutan itu.
Secepat kilat benda itu melesat mengarah bagian lunas perahu. Maka tak lama kemudian terdengar bunyi "tak!". Namun karena penumpang sampan tengah beriang gembira, maka bunyi aneh itu tidak terdengar oleh mereka. Tahu-tahu, secara perlahan namun pasti, sampan turun dan semakin turun, kemudian permukaan air seperti menjadi naik dan masuk ke dalam sampan. "Hai... perahu bocor!" "Wah betul, perahu bocor!" "Cepat tambal!" teriak pemuda satunya. "Tambal dengan apa, tolol!" "Wah, bahaya ini!" "Tolong! Tolong! Perahu bocor!" teriak pemuda satunya lagi. "Ya, betul! Tolong! Tolong!" teriak pemuda lainnya lagi.
Dan tubuh perahu semakin turun juga. Para penumpang nampak panik. Jangankan para anak gadis yang nampak panik dengan wajah pucat pasi, sedangkan kedua orang pemuda yang tadi bertindak sebagai pengawal dan pelindung pun berteriak-teriak minta tolong. Purbajaya terkekeh-kekeh menyaksikan kejadian ini. Namun belakangan baru sadar bahwa para penumpang sampan itu kesemuanya tidak bisa berenang. Pemuda itu segera meloncat dan terjun ke kolam manakala dilihatnya sampan mulai oleng dan menumpahkan isinya. Terdengar teriakan minta tolong dan jerit ketakutan dari para penumpang sebab sampan benar-benar tenggelam.
Tak percuma Purbajaya hidup di daerah pesisir Muhara Jati, sebab dia punya kepandaian bermain di air dengan amat hebatnya. Paman Jayaratu memang melatih Purbajaya untuk menjadi puhawang. Sebagai orang yang dididik kebaharian, sudah barang tentu pemuda itu pandai berenang dan menyelam. Purbajaya tidak panik harus menyelamatkan enam orang sekaligus, toh itu hanya kolam biasa saja yang kedalamannya paling beberapa depa saja. Dalam waktu yang cepat dia sudah bisa menjemput dua orang gadis, namun yang didahulukan ditolong adalah gadis berlesung pipit dan berhidung kecil mancung.
Gadis itu dipeluknya erat, kemudian disuruhnya bergayut pada buritan sampan yang terbalik. Sesudah itu dengan secepat kilat dia tolong lagi dua gadis. Keduanya dikempit kiri dan kanan. Dia berenang hanya mengandalkan gerakan sepasang kakinya saja. Paling akhir barulah kedua pemuda itu yang nampak kepayahan karena mulut gelagapan banyak kemasukan air. Sesudah semuanya bergayut di sampan, sampan ditarik ke tepi sambil berenang.
Di tepi kolam sudah banyak orang menunggu untuk memberikan pertolongan. Kaum lelaki kebanyakan hanya sibuk menolong para gadis saja. Purbajaya sibuk mengurusi gadis berlesung pipit, berebutan dengan beberapa pemuda lainnya. Kedua orang muda yang tadi bersampan dan kini basah kuyup, mendorong tubuh Purbajaya ketika dilihatnya pemuda itu terkesan berlebihan menolong gadis berlesung pipit. "Minggir kamu!" teriak salah seorang dari mereka geram. "Eh, Rangga, jangan kasar! Bukankah pemuda itu rela berkorban menolong kita?" kata si gadis berlesung pipit dengan suaranya yang merdu.
Tapi pemuda bernama Rangga itu hanya mendengus dan memalingkan muka. Purbajaya baru sadar bahwa sebetulnya gadis berlesung pipit berkulit pipi halus putih dan berhidung kecil mancung itu sebenarnya menjadi pusat perhatian semua pemuda. Nampak nyata, ketika dia memeluk dan memeriksa keadaan gadis itu karena megap-megap kena air, semua pemuda yang ada di sana mendelik marah. Terbukti, tubuh Purbajaya sampai terjengkang didorong pemuda marah lantaran berani memeluk gadis cantik itu.
"Saya tidak kurang ajar, hanya berniat menolong saja," tutur Purbajaya memeras ujung baju yang basah kuyup. "Kalau hanya pegang-pegang Nyimas, aku juga bisa!" teriak pemuda bernama Rangga itu hendak menerjang, membuat Purbajaya mundur satu tindak. "Apa menolongnya? Ketika dia hampir tenggelam pun engkau bisa?" Purbajaya tak kepalang tanggung menantang kemarahan pemuda itu. Dan benar saja, kemarahan pemuda itu semakin memuncak. Dia menerjang dan melayangkan pukulan ke arah wajah Purbajaya.
Namun dengan mendoyongkan tubuh ke belakang, kepalan tangan pemuda itu tak sanggup menjangkaunya, hanya terpaut beberapa inci saja. Pemuda itu jadi bertambah marah. Dia pun maju setindak dan kembali melayangkan pukulan lurus ke depan mengarah dagu. Untuk kedua kalinya Purbajaya hanya perlu mendoyongkan tubuhnya ke belakang, sehingga kembali tohokan meleset. "Rangga, sudahlah!" teriak gadis berlesung pipit mencegah. Namun pemuda bernama Rangga itu rupanya orang pemarah. Dia tak mau berhenti sebelum rasa marahnya terpuaskan.
Purbajaya mengerti akan hal ini. Maka agar pemuda Rangga tak dikejar rasa penasaran, Purbajaya memperlambat gerakannya, sehingga ketika serangan yang ketiga datang menyusul, pukulan itu menohok telak ke ulu hati Purbajaya. Tenaga pukulan ini terasa biasa-biasa saja, walau pun sakit tapi tak terasa benar. Mungkin Rangga tak sepenuhnya mengeluarkan tenaga, atau mungkin juga hanya sebatas itu tenaga yang dimilikinya. Tapi untuk membuat Rangga senang, Purbajaya pura-pura kesakitan. Dia menjerit sambil menunduk dan kedua belah tangannya memegangi ulu hatinya.