Halo!

Kemelut Di Cakrabuana - Chapter 04

Memuat...
Kemelut Di Cakrabuana

Chapter 04

"Rangga, jangan bertindak kejam!" teriak gadis berlesung pipit dengan nada tidak suka.

Namun Rangga tampaknya tidak puas. Dengan gerakan indah, pemuda itu meloncat, dan kedua kakinya menerjang ke depan. Purbajaya sadar bahwa pemuda bengal itu hendak menendang ubun-ubunnya. Dan bila demikian halnya, Purbajaya bisa menduga bahwa pemuda di hadapannya berhati kejam dan pendendam. Atau bisa juga dia ini orang yang biasa memelihara perasaan iri. Si Rangga ini iri karena Purbajaya berdekatan dengan gadis berlesung pipit itu.

Beberapa pemuda lain hanya melihat peristiwa ini tanpa berani bertindak atau menengahi. Ini hanya punya dua kemungkinan. Pertama, orang-orang merasa segan terhadap pemuda bengal itu. Kemungkinan kedua, semua pemuda setuju Purbajaya "dipermak" pemuda Rangga. Tapi menurut jalan pikiran Purbajaya, orang barangkali segan untuk ikut campur. Mungkin pemuda Rangga bukan orang sembarangan. Dia orang terhormat barangkali.

Sebetulnya mudah saja bagi Purbajaya untuk menghindarkan terjangan ini. Dengan sedikit miringkan tubuh saja ke kiri atau pun ke kanan, serangan sudah bisa dipatahkan. Tapi kalau serangan ini patah, pemuda Rangga akan semakin berang, belum lagi rasa malunya sebab ditonton banyak orang. Maka untuk menjaga agar gengsi anak bengal itu tidak melorot turun, Purbajaya membiarkan serangan datang menerjang.

Hanya biar pun begitu, Purbajaya tak mau begitu saja menerima tendangan. Dia pun harus balik memberikan pelajaran kepada pemuda pongah ini. Maka ketika terjangan sepasang kaki mengarah ubun-ubunnya, Purbajaya melindungi dirinya dengan sepasang ibu jari yang dirangkapkan dan mengacung mengarah ke telapak kaki lawan. Dengan kekuatan yang terlatih, Purbajaya melakukan serangan, menotol telapak kaki lawan dengan tohokan sepasang ibu jari tangan, tepat mengarah jaringan urat syaraf kaki.

Purbajaya terhempas ke belakang karena dorongan telapak kaki dan dia pura-pura menjerit ngeri. Dia jatuh berdebuk dan bergulingan beberapa kali. Di samping kirinya ada suara jeritan halus. Ternyata itu suara merdu yang keluar dari mulut manis dan mungil gadis berlesung pipit. Gadis semampai itu menghambur menolong Purbajaya. Sambil duduk bersimpuh, gadis itu memeriksa kepala bahkan bagian badan lainnya, kalau-kalau terdapat luka serius di tubuh Purbajaya.

Pemuda itu meram-melek tapi sambil pura-pura menahan sakit. Purbajaya terlena keenakan. Sesekali matanya melirik ke arah pemuda Rangga. Dilihatnya, pemuda itu masih berdiri. Purbajaya tersenyum tipis dari balik sepasang telapak tangannya yang dipakai menutupi wajahnya. Walau pun pemuda Rangga masih berdiri tapi Purbajaya tahu, pemuda itu berdiri karena sepasang kakinya kaku menahan rasa sakit dan ngilu.

Ini nampak jelas karena keringat dingin membasahi wajahnya yang pucat-pasi dan mulutnya menyeringai. Rangga jelas menderita rasa sakit yang sangat. Purbajaya geli hatinya. Yang menderita justru pemuda Rangga tapi yang dirawat gadis cantik malah dia. Betapa dengan gerak-gerik halus penuh perhatian, gadis berlesung pipit ini mencoba sebisanya menolong Purbajaya yang tergeletak "kepayahan". Beberapa gadis lain pun ikut merubung dan membantu "mengobati".

Tidak disangka, peristiwa lama itu kembali mencuat dalam ingatan hanya karena Pangeran Arya Damar mempercakapkannya kembali. "Aku mendengar peristiwa itu. Tapi katanya hampir membuat keributan, benarkah itu?" tanya Pangeran Arya Damar menatap Purbajaya dengan seksama. Yang ditatap hanya menunduk. "Maafkan, anak ini memang nakal tak tahu sopan santun istana. Tapi urusan itu sudah saya selesaikan beberapa kemudian. Pangeran Aryadila bahkan sudah memeriksa perkara ini dan memberikan maaf," tutur Paman Jayaratu.

Purbajaya mengangkat muka dan menoleh. Sudah diselesaikan. Berarti peristiwa itu pernah berbuntut panjang dan perlu diselesaikan, padahal menurut perkiraannya, peristiwa itu selesai hari itu juga. Mengapa Paman Jayaratu tak mengabarinya bahwa percekcokan pernah berlarut-larut sehingga membuat Paman Jayaratu mengurusinya? "Sudahlah. Kedatangan kalian ke sini bukan untuk membicarakan masalah itu..." tutur Pangeran Arya Damar menjegal kebingungan Purbajaya.

"Silakan Pangeran yang membicarakannya sebab hanya kalangan istana yang berwewenang memaparkannya," kata Paman Jayaratu. Pangeran Arya Damar mengangguk, kemudian menatap Purbajaya. "Anak muda, sudah berapa lama engkau tinggal bersama Ki Jayaratu?" tiba-tiba pangeran itu mengajukan pertanyaan aneh. "Sudah sejak kecil saya bersamanya, Pangeran," tutur Purbajaya tanpa bisa menduga ke mana arah pertanyaan itu.

"Engkau anak siapakah sebenarnya?" sambung Pangeran Arya Damar lagi. Purbajaya menoleh kepada Paman Jayaratu. Yang punya jawaban ini tentu orang tua itu, sebab sudah berulang kali Purbajaya bertanya namun Paman Jayaratu selalu berkata belum saatnya. "Barangkali paman saya bisa menerangkannya, Pangeran," tutur Purbajaya sesudah merenung sejenak. "Salah. Yang sanggup menerangkan siapa dirimu adalah aku, anak muda," jawab Pangeran Arya Damar menatap pemuda itu.

Dengan amat terkejutnya Purbajaya balik menatap bangsawan itu. Mengapa Pangeran Arya Damar mengaku lebih hapal perihal dirinya? Purbajaya bingung dan tak sanggup meraba-raba misteri ini. "Dengarkan, aku akan bercerita..." kata Pangeran Arya Damar. Dan tak menunggu komentar, pangeran ini menuturkan sebuah kisah. Nagri Carbon dulu merupakan wilayah kekuasaan Pajajaran. Namun ketika agama baru bernama Islam semakin berpengaruh di wilayah pesisir Jawa Dwipa (Pulau Jawa), Cirebon atau Carbon bertekad melepaskan diri dari Pajajaran.

Sudah barang tentu penguasa Pakuan (ibukota Kerajaan Pajajaran) tidak senang kedaulatannya terkikis. Maka sejak saat itu hubungan Cirebon dengan Pakuan semakin renggang. Cirebon sudah berhenti mengirimkan upeti. Penguasa Pakuan semakin cemas, apalagi melihat hubungan Cirebon dengan Kerajaan Demak, penyebar Islam di Jawa Dwipa semakin erat. Bahkan karena melihat hubungan ini semakin erat maka permusuhan terjadi. "Bermusuhankah antara Carbon dan Pakuan, Pangeran?" tanya Purbajaya tiba-tiba.

"Ya, bermusuhan sekali!" jawab Pangeran Arya Damar tandas sekali. Purbajaya menoleh ke arah Paman Jayaratu yang nampak masih duduk dengan tegak namun nampak nyata tidak begitu menyimak penjelasan ini. "Saya dengar Pajajaran tidak membenci Carbon sebab dahulu pendiri Carbon adalah putra-putri Sang Prabu Sri Baduga Maharaja, penguasa Pajajaran (1482-1521 Masehi). Permesuri Sang Prabu adalah Nyimas Subanglarang, dari Pesantren Quro wilayah Tanjungpura (Karawang kini) dan ketiga putranya yaitu Walangsungsang, Larasantang serta Raja Sangara ikut agama ibunya yaitu Islam," potong Purbajaya.

"Benar, Nyimas Subanglarang orang Islam, anak-anaknya pun Islam juga dan kemudian mendirikan Carbon. Tapi ayahanda mereka bukan. Sang Prabu Sri Baduga Maharaja tak mau masuk agama baru. Itulah sebabnya, permusuhan terjadi," kata Pangeran Arya Damar. Purbajaya menoleh ke arah Paman Jayaratu, nampak orang itu menghela napas. "Sudahlah, bukan itu yang jadi titik perbincangan kita," kata bangsawan itu menepuk paha. Purbajaya pun seperti diingatkan kembali, bahwa percakapan utama adalah perihal dirinya.

Pangeran Arya Damar kembali melanjutkan kisahnya. Karena antara Carbon dan Pajajaran sudah tak ada persesuaian paham, maka beberapa kali terjadi pertempuran antara Carbon dan Pajajaran. Carbon yang mendapatkan bantuan militer secara penuh dari Kerajaan Demak, lebih unggul dan sering memperoleh kemenangan. Beberapa tempat-tempat penting milik Pajajaran bisa direbut. Enam pelabuhan penting milik Pajajaran yaitu Ciamo (muara Cimanuk), Caravan (Ujung Karawang), Tamaram (muara Cisadane), Pontang (Marunda) dan Pelabuhan Bantam (Karangantu, Banten) menjadi milik Carbon, mengakibatkan pengaruh Pajajaran semakin terkikis.

Dulu dia adalah nagara maritim dan agraris dan kini tinggal sebagai negara agraris saja sebab pengaruh Pajajaran kini hanya sebatas di daerah pedalaman. "Ketika terjadi banyak pertempuran itulah engkau kami temukan!" kata Pangeran Arya Damar pada akhirnya. Penjelasan ini amat mengejutkan Purbajaya. Dia menatap tajam ke arah pangeran itu, kemudian menoleh juga kepada Paman Jayaratu. "Kalau begitu saya orang Pajajaran!" gumam Purbajaya.

"Benar, kau orang Pajajaran. Kau kami ambil di arena pertempuran yang terjadi antara Pasukan Carbon dan pasukan Pajajaran di wilayah Tanjungpura (Karawang kini)," tutur Pangeran Arya Damar lagi. Purbajaya termenung lesu. "Saya anak musuh Carbon..." gumamnya dengan wajah pucat. "Hahaha...! Engkau bahkan anak dari penguasa Tanjungpura, anak muda," kata Pangeran Arya Damar semakin mengejutkan hati Purbajaya.

Hening sejenak. Paman Jayaratu tak berkomentar, kecuali bersila dengan tubuh tegak namun dengan wajah tertunduk. Yang paling kacau pikiran adalah Purbajaya. Ada galauan sedih, terkejut, marah dan sesal. Dia selama ini hidup dan dididik oleh orang Carbon dan merasa orang Carbon, nyatanya anak keturunan dari Pajajaran. "Saya anak musuh, mengapa tidak dibunuh?" tanya Purbajaya.

"Hahaha! Itulah kemurahan hati orang Carbon, anak muda. Musuh tidak dibunuh bahkan diurus, diberi hidup dan diberi pendidikan. Namun tentu saja engkau tak boleh percuma tinggal di sini, harus ada semacam balas-budi," tutur pangeran itu, memeluk kedua belah tangan dan mata menerawang ke beranda depan. Purbajaya masih menatap pangeran itu. "Barangkali sudah kau dapatkan penjelasannya..." kata Pangeran Arya Damar menatap.

"Saya ditugaskan ke Dayo (ibukota) Pajajaran, yaitu Pakuan," kata Purbajaya. "Sanggupkah?" "Belasan tahun saya dididik pengetahuan. Kata Paman Jayaratu, saya ahli sebagai puhawang (ahli kebaharian), saya juga banyak menerima pendidikan kegagahan dan keagamaan. Kalau Carbon percaya dan berkenan memberi saya pekerjaan, maka semua kemampuan saya untuk negeri ini," kata Purbajaya sepenuh hati namun masih dengan perasaan sedih. "Bagus.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment