Halo!

Kemelut Di Cakrabuana - Chapter 05

Memuat...
Kemelut Di Cakrabuana

Chapter 05

Itu yang aku inginkan.

Kau akan masih dididik beberapa lama di sini, di puri ini.

"Semua tugas-tugasmu di bawah kendaliku," ujar Sang Pangeran.

"Saya mesti bersiap-siap untuk itu." "Sekarang pun engkau harus sudah siap. Mulai malam ini, kau menjadi bagian dari puri ini," kata Pangeran Arya Damar tandas dan seperti tidak boleh dibantah.

"Mengapa dia tiba-tiba harus dipisahkan dari Paman Jayaratu?" "Saya perlu beberapa hari untuk berkemas-kemas, Pangeran," Purbajaya memohon.

"Segala sesuatu mengenai keperluanmu sudah disiapkan. Tinggalkan masa lalumu. Kau bukan lagi pemuda dusun yang tidak tahu sopansantun, melainkan seorang ksatria dan calon perwira dari Karbon. Kau adalah keturunan bangsawan. Jadi, di Karbon pun kau tetap bangsawan. Tetapi ada satu hal yang jangan dilupakan. Kau bisa tinggal di sini karena utang budi. Camkan itu," kata Pangeran Arya Damar.

Purbajaya mengangguk pelan.

"Malam sudah semakin larut. Ki Jayaratu silakan istirahat pulang. Anak ini insyaallah aman dalam lindungan istana," kata Pangeran Arya Damar mengusir halus.

Paman Jayaratu menyembah takzim, kemudian beringsut ke belakang. Dan tanpa sempat saling pandang dengan Purbajaya, orang tua itu segera meninggalkan paseban.

Purbajaya tidak sanggup menilai, mimpi apakah ini? Sebuah anugerah ataukah sekadar mimpi buruk? Dianggap anugerah boleh juga sebab kehidupan dia secara lahiriah jadi terangkat. Baru dua hari saja tinggal di puri itu sudah dihormati dan disembah, baik oleh para jagabaya maupun oleh dayang istana. Jenis pakaian pun kini menjadi serba indah. Kalau sebelumnya dia hanya memakai baju rompi jenis kain kasar dan celana sontog juga dari kain kasar, di Puri Arya Damar pakaian yang dikenakan adalah jauh dari jenis yang digunakan orang kebanyakan. Dia memakai pakaian untuk kaum santana. Kalaupun dia sedang menggunakan rompi dan sontog, hanyalah sebatas bila tengah berlatih kemiliteran di alun-alun. Pada hari-hari biasa dia selalu memakai pakaian necis. Seperti hari itu misalnya. Sore hari dia menyusuri benteng bata merah sambil menggunakan baju jubah warna kuning mencolok. Jubah itu menjurai ke bawah sebatas lipatan dengkul. Dia menggunakan celana komprang warna hitam yang pada setiap pinggirnya berkelim benang perak. Kepalanya ditutup bendo citak dengan kain batik corak hihinggulan dengan garis-garis putih cokelat. Inilah mungkin anugerah baginya.

Tetapi dia juga berpikir tentang mimpi buruk. Betapa tidak. Dia hadir di sini sebenarnya sebagai orang yang berkewajiban menebus utang budi. Inilah yang menyedihkan hatinya. Sebelum berita perihal dirinya diketahui pasti, dia mengabdi di Negeri Karbon karena pilihan hatinya. Karbon adalah negeri tempat dia bernaung, berjuang, dan mungkin mati. Tetapi ada tuntutan yang tidak berkenan di hatinya dan amat mengecewakan. Dia harus bekerja untuk negeri ini karena urusan utang budi. Ya, utang budi seperti anjing kurus diurus dan sesudah gemuk mesti taat tuannya. Mengapa kedudukannya jadi seperti itu, padahal sejak semula pengabdiannya hanyalah karena cinta tanah air semata. Tanah Air? Oh, ya! Bukankah tanah air sebenarnya buat dirinya adalah Pajajaran? Tanjungpura, kata Pangeran Arya Damar adalah kampung halamannya dan Tanjungpura itu wilayah Pajajaran. Dia dikabari sebagai anak penguasa Tanjungpura. Kalau begitu dia anak seorang kandagalante. Memang sudah termasuk kalangan bangsawan juga. Menurut kabar, yang jadi penguasa di wilayah Pajajaran biasanya merupakan bagian dari kerabat raja juga. Purbajaya tidak mau tahu, apa benar dia masih kerabat raja atau bukan. Yang jelas kabar-kabar bahwa dia bukan orang Karbon dan "diambil" dari sisa pertempuran, amat menyakitkan hatinya. Itulah sebabnya, di sore hari yang cerah ini, dia jalan-jalan menyusuri benteng Istana Pakungwati kendati dengan hati loyo.

"Itu dia anak muda yang kami maksud, Nyimas!" terdengar celoteh suara perempuan.

Purbajaya menatap ke depan. Berjarak kurang lebih sepuluh depa di depan ada serombongan gadis. Pakaian mereka indah-indah, mengingatkan dirinya pada perayaan Muludan beberapa bulan lalu. Tetapi yang membuat jantungnya berdegup dan bertalu-talu karena melihat siapa gadis yang berjalan paling depan.

"Nyimas Waningyun...," bisiknya tidak terasa.

Ya, dia tidak pernah lupa wajah putih mulus dengan lesung pipit di pipi kirinya serta hidung kecil mancung dan mata berbinar itu. Selama hampir enam bulan semenjak pertama kali bertemu dengan gadis itu di pesta Muludan yang berakhir dengan keributan, Purbajaya tidak pernah lupa akan wajah purnama itu. Purbajaya mandek dan sepasang kakinya serasa terpaku di tanah, sedangkan matanya tidak lepas-lepasnya memandang purnama gemilang itu. Belakangan baru dia sadar setelah terdengar suara cekikikan di depannya. Yang tertawa adalah gadis-gadis yang tadi jadi pengiring Nyimas Waningyun itu. Barangkali mereka mengetawakan tindak-tanduk Purbajaya yang tampak lucu. Betapa tidak, mulut pemuda itu melongo dan matanya tidak berkedip seperti mata ikan peda.

"Hei! Awas nanti ada lalat masuk ke mulutmu!" teriak gadis-gadis itu.

Purbajaya memalingkan muka kemudian menunduk. Sepasang pipinya terasa panas. Kalau dilihat orang, barangkali pipi itu bersemu merah seperti udang direbus.

"Nah, lihat, sekarang pemuda itu menunduk malu seperti bocah dimarahi ibunya," goda gadis-gadis itu sambil kembali cekikikan.

"Sudahlah, kasihan dia digoda terus," tutur suara lain yang terdengar halus dan merdu.

Purbajaya masih berdiri terpaku. Ternyata Nyimas Waningyun pun masih tidak beranjak dari tempatnya. Gadis bermata binar itu pun ternyata masih berdiri terpaku. Matanya yang jernih menatap lama ke arah Purbajaya. Ketika pemuda itu membalas tatapan, gadis itu cepat menunduk. Menatap sebentar kemudian menunduk lagi setelah tahu bahwa dirinya masih ditatap pemuda itu. Akan halnya Purbajaya, dia pun bertindak serupa. Menatap dan kemudian menunduk setelah tahu bahwa gadis itu menatap dirinya.

"Hai, mengapa saling tatap begitu? Majulah anak muda kalau dirimu merasa jantan," tantang salah seorang gadis pengiring.

Tetapi ditantang seperti itu, Purbajaya bukannya maju, melainkan malah kian tertunduk saja, sehingga membuat suara cekikikan semakin banyak.

"Ayolah maju, Nyimas!" Tubuh gadis itu didorong-dorong dari belakang. Maksudnya agar segera mendekat ke arah Purbajaya. Sudah barang tentu gadis itu enggan. Dia malah berpegang pada tepian benteng dengan erat seperti orang takut jatuh. Melihat adegan ini, Purbajaya menjadi berani tersenyum.

"Mengapa senyum-senyum? Monyet kamu, ya?" celetuk salah seorang gadis pengiring.

"Masa iya monyet bisa senyum?" jawab Purbajaya mulai berani bicara.

"Memang bukan senyum karena kamu tadi itu cengar-cengir. Monyet, 'kan yang cengar-cengir?" Purbajaya mengatupkan bibir sebagai tanda tidak suka. Namun sungguh aneh, gadis berlesung pipit pun sama mengatupkan bibir. Tidak sukakah Purbajaya disebut monyet oleh orang lain? Oh, kalau begitu, Nyimas Waningyun membelaku. Hati Purbajaya berbunga-bunga.

"Sudahlah, kalian jangan menggoda kami," kata Nyimas Waningyun.

"Eh, mengapa kami? Kami itu, Nyimas dengan siapa?" gadis-gadis itu seperti tidak habis-habisnya menggoda. Semakin gugup dan semakin merona warna pipi gadis itu. Purbajaya merasa kasihan kepada Nyimas Waningyun. Gadis itu menjadi sasaran godaan karena kehadiran dirinya. Maka untuk tidak terus-menerus, dia mengangguk dan kemudian membalikkan diri untuk segera berlalu dari tempat itu.

"Hai, hai! Mau ke mana? Tidakkah engkau tahu bahwa jauh-jauh datang kemari karena Nyimas ingin bertemu denganmu?" teriak seorang gadis, membuat pipi Purbajaya terasa panas dan dada berdegup. Tanpa sadar, pemuda itu serentak menghentikan langkahnya.

"Hai, coba kembali ke sini, mengapa tidak sopan sekali berdiri sambil memberi punggung?" terdengar lagi suara gadis.

Seperti kena sihir saja, Purbajaya membalikkan tubuhnya dan menghadapkan wajah ke arah mereka. Namun hanya sebentar karena kepalanya segera tertunduk malu. Maka terjadilah adegan yang lucu. Dua pasang muda-mudi berdiri berhadapan namun dengan kepala tertunduk, sedangkan di sekelilingnya beberapa gadis sibuk menonton sambil tertawa-tawa.

"Pergilah kalian. Aku bisa mati kalau terus digoda seperti ini...," keluh Nyimas Waningyun dengan suara parau.

Namun walaupun masih senyum-senyum, pada akhirnya semua gadis pengiring mundur teratur dan tinggallah Purbajaya berdua dengan Nyimas Waningyun. Keduanya masih sama membisu dan Purbajaya tidak tahu bagaimana harus memulai.

"Maafkan saya...," "Maafkan saya...," Dua suara dengan bunyi kalimat yang sama, hampir bersamaan diucapkan oleh mereka. Kedua orang muda-mudi ini terkejut sendiri. Keduanya menganga, terbelalak namun keduanya akhirnya sama-sama tertawa geli. Nyimas Waningyun tertawa sambil menutupi mulutnya dengan punggung tangan kanannya.

"Saya harus memaafkan apa, Nyimas?" tanya Purbajaya.

"Apa pula yang harus saya maafkan untukmu? Oh, siapa namamu? Purbajaya, ya?" gadis itu mulai berani bersuara.

Purbajaya pun mengangguk gembira bahwa gadis itu sudah mengenal namanya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment