Halo!

Kemelut Di Cakrabuana - Chapter 06

Memuat...
Kemelut Di Cakrabuana

Chapter 06

Hanya dalam dua hari gadis itu tahu namanya, hal itu menandakan bahwa Nyimas Waningyun memperhatikannya.

"Nyimas masih ingat saya?" tanya Purbajaya.

"Tidak. Hanya merasa diingatkan kembali. Oh, ya. Engkau sebetulnya pemuda bengal. Engkau harus minta maaf ke sana ke mari. Kepada Raden Ranggasena, juga terhadapku!" sergah gadis itu.

"Lho, barusan Nyimas berkata tidak ada yang mesti dimaafkan. Sekarang malah Nyimas meminta agar saya minta maaf," kata Purbajaya heran, tetapi sambil mengulum senyum.

"Ya, harus minta maaf karena engkau bengal, licik, dan tukang bohong!" sergah gadis itu lagi. Kini malah telunjuk kanannya yang kecil dan putih bersih menuding hidung Purbajaya.

Pemuda itu melihat hidungnya sendiri dengan memicingkan mata, kemudian mencoba menyeka hidungnya, seolah-olah ada kotoran yang menempel di bagian tubuhnya itu.

"Bukan di hidungmu!"

"Di mana?"

"Di hatimu! Hatimu itu!" teriak gadis itu marah, tetapi suaranya tetap terdengar merdu.

"Di hatiku?" giliran pemuda itu yang memegang dadanya. "Ada apa di hatiku?" tanyanya pura-pura bodoh.

"Terka sendiri, ada apa di hatimu!"

"Ouw, saya tahu!"

"Ya, coba katakan!" desak gadis itu.

Namun, Purbajaya malah diam. Kembali gadis itu mendesak, dan untuk kesekian kalinya Purbajaya tetap berdiam diri.

"Saya malu mengatakannya..." jawab pemuda itu dengan wajah bersemu merah.

"Memang harus malu kalau merasa diri culas dan bengal."

"Eh, hatiku tidak culas dan juga tidak bengal. Apa yang ada di hatiku benar-benar tulus, murni, serta bisa dipercaya," kata Purbajaya dengan nada sungguh-sungguh.

"Tidak bisa dipercaya karena engkau telah merugikan orang lain dengan bermain sembunyi. Dengarkan, hai pemuda bodoh. Sampai seminggu lamanya setelah kejadian itu, Raden Ranggasena tidak bisa ke luar puri dan kerjanya hanya tidur melulu."

"Mengapa?"

"Karena kakinya bengkak, urat nadinya tersumbat!"

"Lho?"

"Jangan lha-lho! Kaki itu bengkak karena ulahmu. Alhasil, waktu itu engkau mengibuli orang. Berkaok-kaok pura-pura kesakitan seolah-olah disakiti Raden Rangga, padahal engkaulah sebetulnya yang mencederai pemuda bangsawan itu. Dan sialnya... Oh, malu aku mengatakannya!"

"Tentang apa, Nyimas?"

"Tentang betapa aku mengkhawatirkanmu, sampai-sampai aku memarahi Raden Rangga, bahkan sampai aku memegang-megang tubuhmu... Oh!" Nyimas Waningyun membuang muka, kemudian lari meninggalkan tempat itu.

Tinggallah Purbajaya berdiri mematung di tempat sunyi itu. Aneh sekali, pikirnya. Pada pertemuan awal, gadis itu tampak begitu manis, ramah, dan penuh tawa. Kenapa setelah teringat peristiwa lama malah menjadi uring-uringan?

"Ouw, sialnya aku! Mengapa dia tidak marah? Ya, siapa pun pasti sebal kalau pada akhirnya tindakan pura-puranya ketahuan." Pasti gadis itu marah karena merasa dipermainkan. Ya, dia masih ingat, bahkan suka tertawa sendiri kalau mengingatnya. Raden Ranggasena menerjang Purbajaya dengan tendangan telak, namun serangan ini segera disambut oleh totokan ibu jari tangannya yang seolah-olah tengah melindungi kepalanya. Purbajaya pura-pura terjengkang ke belakang dan menjerit kesakitan. Padahal yang sebenarnya terjadi, Ranggasenalah yang terluka karena urat nadi di telapak kakinya tersumbat.

Tidakkah Nyimas Waningyun pun tahu bahwa perahu yang bocor di tengah kolam itu sebetulnya sengaja dilubangi olehnya? Pikir Purbajaya melamun seorang diri. Dengan hati murung, pemuda itu berjalan pelan menyusuri benteng istana. Sayup-sayup terdengar suara azan Magrib dari Masjid Sang Cipta Rasa.

***

Malam itu Purbajaya tidak bisa memejamkan mata. Banyak pikiran bergelayut di benaknya. Pemuda itu berpikir tentang Paman Jayaratu, tentang Nyimas Waningyun, dan juga tentang dirinya sendiri. Sungguh aneh, semuanya diselimuti misteri. Hatinya mencoba menguak perihal Paman Jayaratu. Siapa orang tua itu sebenarnya, dia tetap tidak tahu. Ada sesuatu yang ditutupi Paman Jayaratu, paling tidak perasaannya terhadap Pangeran Arya Damar.

Sekilas, Purbajaya sudah bisa menduga bahwa Paman Jayaratu tidak menyukai Pangeran Arya Damar. Sejak Purbajaya menerima panggilan ke istana, sudah terlihat kerutan di dahi Paman Jayaratu. Orang tua itu adalah seorang penyabar dan bertindak sederhana. Ia tidak pernah memperlihatkan perasaan suka atau tidak suka secara terang-terangan. Namun, Purbajaya sudah hafal perangai Paman Jayaratu; jika dahinya berkerut, itu pertanda ada sesuatu yang tidak disenanginya.

Mengapa Paman Jayaratu tidak menyenangi Pangeran Arya Damar?

"Barangkali dia tidak senang karena dengan pemanggilan diriku ke istana, itu berarti dia harus berpisah denganku..." pikir Purbajaya.

Pemuda ini hanya bisa menduga hingga di situ. Ya, dugaan ini yang paling masuk akal karena dirinya sendiri pun sebetulnya memiliki perasaan yang sama; ada sedikit penyesalan mengapa keputusan istana begitu tergesa-gesa. Ini terlalu cepat memisahkan dirinya dengan Paman Jayaratu. Belasan tahun dia dididik oleh Paman Jayaratu, tetapi manakala harus berpisah, dia tidak sempat berterima kasih atau sekadar mengucap salam perpisahan. Ini menyedihkan hatinya. Barangkali hati Paman Jayaratu pun demikian. Jadi, bisa dimengerti bila orang tua itu tidak senang kepada Pangeran Arya Damar.

Sekarang pemuda itu berpikir tentang Nyimas Waningyun. Selama lebih dari enam bulan ini, di benaknya selalu ada bayangan seorang gadis ayu yang memiliki lesung pipit, berhidung mancung kecil, dan dengan sepasang mata berbinar. Itulah Nyimas Waningyun. Selama berbulan-bulan bayangan itu hanya ada di pikirannya saja, tidak disangka ia diberi kesempatan untuk bersua kembali. Namun senja tadi, gadis itu begitu marah. Dulu gadis itu membelanya, kini berbalik total membela pemuda bernama Rangga.

"Engkau harus malu kalau mengaku dirimu culas dan bengal!" terngiang lagi ucapan Nyimas Waningyun. Memang dia malu sekali karena akal bulusnya sudah ketahuan. Kalau gadis itu sudah tahu dia suka berakal bulus, bisa-bisa dia dibenci sepanjang masa.

"Satu kali berbohong, selama hidup orang tidak akan percaya." Kini yang terngiang adalah nasihat Paman Jayaratu. Betul, Nyimas Waningyun akan membencinya selamanya. Dan akan semakin benci pula dia jika tahu akal bulusnya bukan itu saja, melainkan juga yang menyebabkan gadis itu basah kuyup tercebur ke kolam. Bukankah kejadian itu gara-gara bagian bawah perahu dia lempar dengan kerikil sehingga lunasnya bocor? Kalau gadis itu tahu, barangkali cercaannya akan berlipat ganda. Bukan saja menuduhnya bengal, melainkan jahat.

Jahat? Padahal Paman Jayaratu sangat membenci kejahatan.

"Hati-hati menjaga perasaanmu jangan sampai digilas oleh yang namanya iri. Iri adalah kembangnya kejahatan," tutur Paman Jayaratu suatu kali. Tidak salah orang tua itu berkata begitu. Dia bertekad membocorkan perahu karena didorong oleh perasaan iri melihat pemuda lain bercengkerama dengan gadis-gadis cantik sementara dirinya kesepian.

Namun, sorot mata gadis itu penuh misteri. Purbajaya merasakan bahwa hanya mulut dan kata-kata gadis itu saja yang pedas, sedangkan matanya lembut dan seperti menyiratkan cahaya tertentu padanya. Cahaya apa, Purbajaya tidak bisa menduganya, kecuali berpikir dengan hati berdebar disertai perasaan harap-harap cemas. Harapan cintakah itu?

Sampai di sini hatinya merandek. Dia tidak tahu apakah melihat wajah wanita cantik disertai perasaan berdebar merupakan sesuatu yang bernama cinta. Lantas kalau memang begitu, bagaimana harus dimulai dan bagaimana pula selanjutnya? Kalau dia berani menyatakan cintanya, apakah tidak akan terjadi sesuatu yang buruk? Purbajaya bingung memikirkannya. Dia bingung bagaimana menyatakan perasaan ini, apakah harus melalui surat, menggunakan perantara, atau bahkan harus datang sendiri?

Namun, belum sempat dia menimbang-nimbang berbagai cara yang dipikirkannya, tangannya segera melayang dan menampar pipinya sendiri. Sialan, mengapa aku berani berpikir seperti itu? Ada satu pertanyaan yang harus dijawab terlebih dahulu: apakah gadis itu pun memiliki perasaan yang sama padanya? Jika melihat sorot mata gadis itu, Purbajaya serasa ingin berkata ya.

Namun, banyak kendala yang harus dia pikirkan. Nyimas Waningyun adalah putri seorang bangsawan terkemuka, sedangkan dirinya sendiri siapa? Tidak berlebihan bila pemuda Rangga marah besar melihatnya berdekatan dengan Nyimas Waningyun karena Purbajaya menduga pemuda itu tengah mengharapkan cinta sang gadis. Dan pemuda mana pun pasti mengharapkan cinta gadis itu.

Saingan Purbajaya sungguh berat. Dia hanyalah pemuda luntang-lantung yang tidak dikenal asal-usulnya, sementara para pesaingnya adalah keturunan bangsawan. Pemuda Rangga yang dia pecundangi itu bukankah seorang pemuda bergelar raden? Dia adalah Raden Ranggasena, putra bangsawan terkemuka bernama Pangeran Danuwarsa yang cukup ternama di Carbon ini. Sedih hatinya ketika memikirkan hal ini. Jika demikian halnya, Purbajaya seolah hanya berhadapan dengan sebuah gunung. Dia tidak punya daya untuk mendakinya.

***

Pagi harinya, Purbajaya sudah dipanggil ke paseban. Di sana Pangeran Arya Damar sudah duduk dengan penampilan amat anggun. Bangsawan itu duduk bersila dengan tubuh tegak di atas hamparan karpet beludru buatan Negeri Parasi (Iran). Dia memakai baju warna cokelat muda yang terbuat dari kain beludru halus jenis bedahan lima. Keris beronce benang emas terselip di pinggang bagian belakang. Bangsawan itu memakai tutup kepala bendo citak yang terbuat dari kain batik motif hihinggulan.

Yang membuat Purbajaya heran, di paseban itu pun sudah terdapat beberapa orang lainnya. Melihat jenis pakaian mereka, tentulah para perwira kerajaan. Ada empat orang di sana. Rata-rata memakai pakaian serba hitam dengan kelim benang warna perak. Di pinggang bagian belakang terpasang keris dengan ronce-ronce indah, kendati tidak seindah ronce keris yang dimiliki Pangeran Arya Damar. Ketika Purbajaya datang ke paseban, keempat perwira itu menatapnya dengan penuh perhatian.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment