Chapter 07
Pemuda itu tak berani balik menatap. Selain akan dianggap tidak sopan, juga karena sorot mata mereka berwibawa. "Kau duduk di sini, Purba..." kata Pangeran Arya Damar. Purbajaya beringsut menuju ke tempat yang ditunjukkan pangeran itu. Menyembah hormat ke hadapan Pangeran Arya Damar, baru kemudian kepada yang lainnya.
"Engkau harus berkenalan dengan empat perwira ini, Purba," tutur Pangeran Arya Damar sambil memperkenalkan mereka. Lelaki bertubuh jangkung sedikit kurus dengan kumis tipis diperkenalkan sebagai Ki Albani. Beranjak kepada orang kedua, wajahnya sedikit bulat dengan kumis tebal, diperkenalkan sebagai Ki Aspahar. Kemudian yang berhidung melengkung dengan mata dalam disebutnya sebagai Ki Aliman, dan yang berwajah pucat tapi punya sorot mata tajam diperkenalkan dengan nama Ki Marsonah.
Yang diperkenalkan ini sepertinya orang-orang yang tak suka banyak bicara dan mungkin juga tak punya keramahan. Terbukti dalam menerima hormat Purbajaya, mereka hanya mengangguk kecil tanpa sesungging senyum sedikit pun. "Kelak engkau akan ikut bertugas dengan keempat perwira ini, Purba..." kata Pangeran Arya Damar menerangkan. "Atasan saya kah mereka ini, Gusti?" "Boleh dikata begitulah." "Tentu banyak tugas yang saya emban kelak," kata Purbajaya.
"Kewajibanmu kelak hanyalah mengikuti perintah mereka," kata lagi Pangeran Arya Damar sambil melirik ke arah empat perwira itu. "Mengapa kami perlu bertemu khusus dengan pemuda ini, Pangeran? Tidak cukupkah bila dalam menerima penjelasan dia, kita satukan saja dengan para prajurit lainnya?" tanya Ki Aliman sambil memandang enteng kepada Purbajaya. "Dia memang prajurit, tapi tengah kami persiapkan untuk jadi perwira juga. Dia punya sesuatu hal yang khusus. Jadi jangan samakan dia dengan prajurit kebanyakan," jawab Pangeran Arya Damar, sepertinya bangga kepada Purbajaya.
"Maksud Pangeran, apakah pemuda ini punya kepandaian lebih tinggi dari kebanyakan prajurit?" Ki Aliman memicingkan matanya. "Dia adalah murid Ki Jayaratu!" kata Pangeran Arya Damar. Sejenak keempat orang perwira itu memperlihatkan wajah terkejut. Hanya sebentar saja, sebab kemudian sudah terlihat biasa lagi. "Kami percaya kepandaian Ki Jayaratu, tapi tidak kepada muridnya," kata Ki Aliman lagi tanpa melihat kepada Purbajaya.
"Purbajaya, Ki Aliman adalah tingkat keempat dari empat perwira ini. Silakan kau turun ke halaman dan bermain-main dulu sebentar dengan Ki Aliman," perkataan Pangeran Arya Damar ini bernada perintah. Tapi yang turun duluan adalah Ki Aliman. Bahkan dia langsung memasang kuda-kuda sebagai tanda siap untuk menguji kepandaian. Purbajaya bimbang menghadapi peristiwa ini. Ini adalah pengalaman pertama di mana harus bertarung dengan orang lain.
Memang benar selama bertahun-tahun mendapatkan gemblengan dan latihan kewiraan dari Paman Jayaratu, tapi berkelahi secara sungguhan belum pernah dia lakukan. Melawan Ki Aliman barangkali hanya sekadar uji-coba saja. Tapi menurut pemuda ini, uji-coba punya arti sebagai pertandingan. Inilah yang merisaukannya. Yang namanya bertanding dia belum pernah melakukannya. Apalagi berlatih kewiraan baginya hanya merupakan olah gerak semata agar badan selamanya merasa sehat.
Mengalahkan apalagi membunuh orang lain adalah soal lain. Sudah berkali-kali Paman Jayaratu mengatakan bahwa mengalahkan orang lain belum tentu merupakan sebuah kemenangan. Orang yang dikalahkan akan memendam perasaan sakit hati, benci, dan dendam. Dan bila dendam sudah membara, maka setiap saat akan mencari peluang melakukan pembalasan. Dan karena dendam ini pula, maka kedamaian selalu terganggu. "Tak ada kemenangan selama tak ada kedamaian," ujar Paman Jayaratu suatu kali.
Dan menurut orang tua ini, kemenangan abadi yang membawa kedamaian adalah kemenangan tanpa mengalahkan. "Ada banyak cara agar kita mencapai kemenangan tanpa mengalahkan," kata Paman Jayaratu pula. "Bagaimana caranya, Paman?" tanya Purbajaya ketika itu. "Mengalahlah untuk mencari kemenangan!" Purbajaya melengak heran. Kemudian Paman Jayaratu melanjutkan, "Kemenangan artinya mencapai suatu tujuan. Jadi yang penting, tujuan akhirlah yang dicapai, dan bukan bagaimana caranya. Dengan kata lain, kita bisa mencari kemenangan tanpa harus melalui jalan dari mengalahkan orang lain. Sebuah kemenangan bisa diraih tanpa melakukan kekerasan."
"Ayo Purbajaya, turunlah ke pekarangan, Ki Aliman sudah menantimu!" seru Pangeran Arya Damar, menyentakkan lamunan pemuda itu. Dengan hati yang berat, Purbajaya keluar dari ruangan paseban dan menuju pekarangan yang berumput hijau. Ki Aliman sudah berdiri di sana dengan kedudukan kuda-kuda yang kokoh. Sepasang kakinya terpentang lebar ke kiri dan ke kanan, sementara kedua pasang tangan membentuk gerakan sayap garuda. Anggun dan nampak gagah sekali, kecuali hidungnya yang melengkung dan sorot matanya yang dalam, serta bibirnya mengatup rapat, amat menampakkan dirinya adalah seorang yang angkuh.
Dengan perasaan masih ragu, Purbajaya menghormat kepada lelaki berusia empat puluhan ini, dan hanya dibalasnya dengan sebuah anggukan kecil. "Kita bermain-main sebentar, anak muda," katanya pendek. Sesudah itu, lelaki berikat kepala kain hitam kasar ini segera mengubah sikap. Sambil mengepak-epakkan sepasang tangannya menyerupai kepak sayap burung garuda, Ki Aliman bergerak ke kiri dan ke kanan, kemudian berhenti dengan hanya menotolkan ujung kaki kiri saja.
Belakangan, Ki Aliman mengubah kuda-kudanya. Tangan kanannya membentuk siku-siku dengan telapak tangan menghadap ke atas. Tangan kirinya pun membentuk siku-siku, tapi berada di bawah kedudukan tangan kirinya. Kini telapak tangan kanan mengepal keras, membuat tinju. Purbajaya pernah mengenal gerakan ini. Kata Paman Jayaratu, gerakan ini disebut Jurus Inti Garuda Paksi Tangan Delapan. Bukan untuk penyerangan, melainkan untuk pertahanan belaka.
Ini hanya membuktikan bahwa Ki Aliman sebenarnya hanya akan menunggu serangan lawan dan bukan untuk mendahului melakukan serangan. Ada berbagai penilaian Purbajaya melihat sikap ini. Pertama, Ki Aliman bersikap menunggu karena sebagai orang yang usianya berada di atas lawannya, dia bersikap "sabar". Namun penilaian kedua, bisa saja sikap ini menandakan kesombongan bahwa seorang yang kepandaiannya lebih tinggi cenderung lebih menunggu lawan menyerang yang diketahui kepandaiannya ada di bawahnya.
Atau bisa juga Ki Aliman punya kecerdikan lain. Banyak ahli berpendapat bahwa serangan yang baik adalah pada saat lawan melakukan serangan. Mereka berpendapat bahwa bila lawan melakukan serangan, maka titik perhatiannya adalah pada penyerangan dan bukan pada pertahanan. Maka di saat dia melakukan serangan, akan terkuak pertahanan yang lowong. Itulah peluang si terserang untuk balik menyerang. Karena punya pikiran seperti itu, maka Purbajaya bersikap hati-hati. Dia akan membagi dua perhatian. Setengah gerakan dia gunakan untuk menyerang dan setengahnya lagi untuk bertahan.
Tapi bagaimana caranya, sudah barang tentu akan melihat dulu bagaimana nanti Ki Aliman melakukan serangan balasan. Purbajaya mulai melakukan gerakan tertentu. Dia melangkah tiga tindak ke depan, sesudah itu melakukan gerakan ke samping kiri dan bersikap seolah-olah memutari tubuh Ki Aliman. Dengan cara memutar, dia mencoba mengganggu pertahanan Ki Aliman. Lelaki itu akan terus mengubah sikap pertahanannya sesuai dengan gerakan memutar yang dilakukan Purbajaya.
Sikap berubah-ubah karena mengikuti gerakan lawan, diperkirakan akan mengganggu konsentrasi dalam memantapkan kedudukan pertahanan. Namun demikian, Ki Aliman belum mengubah sikap sepasang tangannya yang membentuk siku-siku di depan dadanya. Sungguh tepat, sebab itu adalah pertahanan yang kokoh, sebab semua bagian penting tubuhnya akan terlindungi dengan baik. Serangan mengarah dada jelas akan tertutup rapat. Bila Purbajaya hendak menyerang ubun-ubun, akan ada tangan kiri yang melindungi.
Demikian pun bila hendak menyerang ulu hatinya, tangan kanan dari depan dada tinggi bergeser ke bagian bawah. Satu-satunya pusat penyerangan adalah mengarah ke bagian tubuh lawan yang tak begitu penting tapi sebetulnya bebas dari perlindungan kuda-kuda. Kaki adalah bagian tidak penting yang tidak memerlukan pengawalan secara khusus. Mengapa begitu, sebab semua orang menganggap bahwa kaki adalah bagian senjata tubuh yang berfungsi sebagai alat untuk menyerang.
Karena punya dugaan seperti ini, maka Purbajaya akan menitik-beratkan penyerangan ke bagian ini. Oleh sebab itu, Purbajaya terus saja memutari tubuh Ki Aliman. Pandangan matanya tak lepas dari kepala lawan dengan harapan lawan menduga bahwa Purbajaya tengah mengincar kepala. Purbajaya terus berputar dan berlari, sepertinya tak ada tujuan lain baginya kecuali berlari sambil berputar. Sampai pada suatu saat Ki Aliman nampak kesal dan bosan dengan keadaan ini.
Inilah modal penyerangan Purbajaya, yaitu membuat lawan bosan dan jenuh karena melihat gerakan monoton. Kesal dan marah akan menyebabkan hilangnya konsentrasi. Ketika kerut-merut di dahi Ki Aliman kian kentara, maka secara tiba-tiba Purbajaya mengubah gerakan. Kakinya tidak melakukan loncatan ke samping, melainkan ke depan ke arah tubuh lawan. Purbajaya berpura-pura seolah-olah mengarahkan serangan kedua belah tangannya ke arah ubun-ubun Ki Aliman.
Dan benar perkiraannya, tangan kiri Ki Aliman bergerak ke atas. Namun tentu saja Purbajaya tidak menghentikan serangan tangannya begitu saja. Dia ingin meyakinkan lawan bahwa dirinya hendak menyerang ubun-ubun. Tapi Purbajaya pun sadar bahwa tangan kanan Ki Aliman yang masih bersikap bebas sebenarnya adalah senjata yang kelak akan digunakan untuk melakukan serangan balasan. Maka sebelum tangan kanan itu digunakan untuk menyerang, terlebih dahulu harus disibukkan untuk melindungi.
Tangan kiri pemuda itu tetap bersikap mengancam ubun-ubun, tapi tangan kanan bersikap menyodok ke bawah untuk menohok ulu hati. Ki Aliman segera menggerakkan tangan kanan ke bawah. Namun ternyata ini adalah serangan tipuan.