Chapter 08
Purbajaya tak menohok ke ulu hati, melainkan belok ke atas mengarah dada. Dengan demikian, secara tiba-tiba tangan Ki Aliman pun segera bergerak ke atas. Dan inilah peluang lowong. Ada kekosongan pertahanan di bagian bawah. Seharusnya Purbajaya serentak menyerang telak ke arah ulu hati melalui serangan tangan kirinya. Namun itu adalah serangan ganas yang membahayakan dan pemuda itu tak mau menyinggung kemarahan lawan.
Yang dia lakukan adalah menjatuhkan dirinya seperti hendak bersila secara cepat; kaki kirinya memang dilipat meniru-niru gerakan orang hendak bersila, namun kaki kanannya dia ayunkan dengan keras menyerang dengan sapuan bagian betis lawan. Purbajaya sudah menduga kalau pada akhirnya tubuh Ki Aliman akan meloncat ke atas untuk menghindari sapuan ini. Untuk mencegah tindakan lawan, sapuan kakinya agak mengarah ke atas. Benar saja Ki Aliman melakukan gerakan meloncat. Tapi sapuan kaki kanan Purbajaya seolah terus mengejarnya sampai pada titik penghabisan gerakan loncatannya itu.
Dan di saat tubuh Ki Aliman kembali bergerak turun, maka otot betis kaki kiri Ki Aliman mendapatkan sapuan keras telapak kaki kanan Purbajaya. Otot betis termasuk bagian lemah yang sulit menahan serangan keras. Maka ketika menerima sapuan keras, tubuh Ki Aliman jungkir-balik ke belakang. Dari mulutnya terdengar suara teriakan keras pertanda kesakitan. Tubuh lelaki berhidung melengkung ini jatuh berdebum karena punggungnya menimpa permukaan tanah dengan keras.
Dengan wajah merah padam dan sebentar berubah pucat, Ki Aliman segera bangkit berdiri. Namun untuk beberapa saat dia hanya berdiri terpaku. Namun kakinya terasa kaku dan ngilu karena kerasnya sapuan Purbajaya tadi. Hanya sejenak saja dia berdiri mematung. Sesudah itu dengan suara gerengan keras dia menghambur melakukan serangan dahsyat. Ki Aliman meloncat ke depan, sedangkan sepasang tangannya secara bergantian melakukan serangan-serangan jarak jauh.
Purbajaya terkejut. Inilah serangan pukulan yang menggunakan tenaga dalam. Semakin tinggi tenaga dalam yang dimiliki maka akan semakin dahsyat hasilnya. Orang yang memiliki tenaga dalam tinggi bahkan bisa melakukan pukulan hanya dengan angin pukulan yang dilayangkan dari jarak jauh. Artinya, tanpa tangan menyentuh tubuh lawan maka yang diserang akan terjungkal atau kesakitan kena angin pukulan.
Dulu Purbajaya tidak percaya dengan hal ini. Mustahil tanpa disentuh lawan bisa jatuh. Tapi kata Paman Jayaratu, dalam tubuh manusia terdapat salah satu daya. Dalam tubuh manusia terdapat sekitar satu triliun sel yang mengandung tenaga khusus. Antara satu sel dengan sel lainnya ada satu gaya yang pada zaman modern kini disebut sebagai gaya elektromagnetik dan selalu memancar keluar. Namun daya yang keluar bisa sangat kecil dan tidak teratur bila manusia tak sanggup memanfaatkannya secara benar.
Purbajaya pun akhirnya mendapatkan latihan dalam upaya menghimpun tenaga dalam. Mula-mula dia disuruh berhadapan dengan api pelita dalam jarak sekitar satu depa. Dari jarak sejauh ini Purbajaya mendorongkan sepasang telapak tangannya yang dibuka lebar-lebar. Pada tahap awal api di pelita hanya bergoyang pelan. Namun semakin lama berlatih, goyangan api semakin keras. Sesudah lebih dari sebulan melakukan gerakan ini, barulah api bisa padam.
Kewajiban Purbajaya selanjutnya adalah mundurkan langkah beberapa depa ke belakang. Dengan jarak semakin jauh, harus tetap diusahakan cahaya api akan padam sesudah didorong angin pukulan tenaga dalam. Latihan ini terus ditingkatkan sehingga pada akhirnya angin pukulan pemuda itu sanggup merontokkan daun-daun pohon sawo di halaman gubuk. Hanya saja ketika latihan terus meningkat, Purbajaya tak sanggup meneruskannya.
Pemuda ini merasa ngeri manakala melihat contoh yang diperagakan Paman Jayaratu. Dengan pukulan jarak jauhnya, orang tua itu sanggup menghancurkan batang pohon. Purbajaya ngeri. Bila yang dihantam oleh angin pukulan itu adalah tubuh manusia bagaimana jadinya? Ngeri hatinya bila memikirkan bahwa latihan-latihan itu dan kepandaian itu bisa membuat musibah bila dilakukan dengan cara yang tak benar, membunuh orang misalnya.
Purbajaya memang terus berlatih kendati tak memiliki kepandaian seperti yang diperagakan Paman Jayaratu. Dia masih tetap merasa ngeri dan menyangsikan, apakah bila kelak dia memiliki kepandaian sehebat itu tidak punya keinginan untuk membunuh orang? Namun kepandaian tinggi ternyata dibutuhkan juga. Buktinya hari ini. Kendati belum tentu mendapatkan ancaman pembunuhan dari Ki Aliman, namun paling tidak Purbajaya harus sanggup mempertahankan nama baiknya di hadapan semua orang bahwa dia adalah murid Ki Jayaratu dan dia pun dipercaya untuk menerima titah negara.
Kalau hari ini dia tak sanggup membuktikan dirinya sebagai orang yang memiliki kemampuan maka nama dia dan gurunya akan tercoreng. Itulah sebabnya ketika menerima serangan angin pukulan dahsyat dari Ki Aliman, Purbajaya harus bijaksana meladeninya. Dia harus berupaya agar selain dirinya tak dipecundangi juga harus dijaga agar lawan pun tidak dipermalukan olehnya di hadapan umum. Dia harus ingat, pada mulanya Ki Aliman menantang dirinya hanya sekadar ingin menguji bukan untuk mengalahkannya.
Selain itu, karena Ki Aliman menempatkan dirinya selaku penguji, hanya punya arti bahwa kemampuan si penguji tingkatannya harus lebih tinggi dari si penguji. Oleh sebab itu, Purbajaya jangan berkeras ingin kelihatan hebat dan apalagi terkesan tingkatannya jauh di atas Ki Aliman. Sambil dia tak kalah, dia pun jangan membuat Ki Aliman kalah. Namun melihat gerakan Ki Aliman, Purbajaya menjadi khawatir. Wajah Ki Aliman masih nampak merah dan serbuan tenaga dalamnya secara penuh dikeluarkan.
Kalau begitu, ini bukan lagi sekadar menguji, melainkan seperti berupaya akan membuat lawan cedera kalau pun tak dikatakan sebagai upaya untuk membunuhnya. Mengapa tak disebut begitu sebab serbuan tenaga dalam itu demikian dahsyat dalam jarak yang sedemikian dekatnya. Purbajaya sudah tak bisa mengelak kecuali mencoba menahan gempuran dengan tenaga dalam pula. Dan bila demikian halnya, inilah pertarungan hidup dan mati. Purbajaya harus mengeluarkan tenaga dalam seimbang dengan kekuatan yang disalurkan lawan sebab kalau salah satu lebih tinggi atau lebih rendah maka pihak yang lemah akan menderita luka dalam.
Susahnya Purbajaya tak bisa mengukur berapa kekuatan yang disalurkan Ki Aliman dalam menyerang dirinya. Kalau dia membatasi diri, takut Ki Aliman malah melontarkan tenaga dalam sepenuhnya dan akhirnya dirinyalah yang merugi. Maka untuk berjaga-jaga ke arah itu, Purbajaya berusaha mengeluarkan tenaga dalam tiga perempatnya. Dia akan mencoba menolak serangan dahsyat itu dengan pengerahan tenaga dalam takaran khusus. Suara angin terdengar bersiutan dan hawa dingin terasa mengarah dadanya.
Dan ketika dua tenaga besar saling bertabrakan, maka terdengar suara ledakan keras disertai bunga api berpijar. Tubuh Purbajaya terlontar hampir empat depa dan tubuh Ki Aliman masih tetap berdiri di tempatnya tapi dari sudut bibirnya meleleh sedikit darah. Ketika Purbajaya bangun arena tadi terjengkang, adalah kebalikannya yang menimpa Ki Aliman. Lelaki bermata dalam berhidung melengkung itu malah ambruk ke atas tanah.
Dada Purbajaya sebetulnya serasa mau pecah karena menahan sakit. Tapi melihat Ki Aliman rebah tak berdaya, rasa khawatir pemuda itu mengalahkan segalanya. Dia takut Ki Aliman celaka karena ulahnya. Oleh sebab itu dia buru-buru mendekati tempat di mana Ki Aliman tertelungkup. Tiga perwira lainnya pun segera berlari mendekati Ki Aliman. Semuanya memeriksa tubuh lelaki itu dengan penuh seksama.
"Maafkan, saya terlalu kasar menghadapinya!" kata Purbajaya penuh sesal. "Hm, adikku yang dungu ..." gumam Ki Albani, perwira bertubuh kurus dan berkumis tipis. "Pangeran, saya bersalah telah membuatnya terluka," keluh Purbajaya lagi menengok ke arah Pangeran Arya Damar. Tapi Sang Pangeran malah tampak tertawa gembira melihat kejadian ini.
"Kekuatan kita semakin bertambah ..." gumamnya menatap Purbajaya dengan penuh arti. Tapi melihat kekalahan Ki Aliman, Ki Aspahar yang bertubuh bulat dan berkumis tebal maju ke depan dan berniat akan menggantikan Ki Aliman untuk "menguji" Purbajaya. "Tidak usah sebab rasanya sudah cukup," kata Pangeran Arya Damar. "Ki Aliman belum memperlihatkan kepandaian sesungguhnya. Belum tentu dia kalah oleh anak ingusan itu kalau dia bermain-main dengan benar," kata Ki Aspahar tidak puas.
"Ini bukan mencari siapa menang siapa kalah. Yang penting kita bisa mengukur sejauh mana kepandaian anak muda ini. Dan anggaplah pengujian selesai. Aku sudah percaya kepada kepandaian anak ini dan dia cukup pantas menjadi anak buah kalian," kata Pangeran Arya Damar. "Pangeran benar, anak muda ini bisa diandalkan kelak," kata Ki Albani yang nampak usianya paling tua di antara mereka. "Saya setuju dia ikut kita. Tapi akan lebih tenteram hati kami bila Pangeran sudi menerangkan siapa sebenarnya anak muda ini," sambungnya sambil menatap tajam kepada Purbajaya.