Halo!

Kemelut Di Cakrabuana - Chapter 09

Memuat...
Kemelut Di Cakrabuana

Chapter 09

Pangeran Arya Damar membalas tatapan tajam itu. "Mari masuk kembali ke paseban," gumam Pangeran Arya Damar. Dia jalan di depan, diikuti oleh keempat perwira. Purbajaya jalan paling belakang. Dan untuk yang kedua kalinya, Purbajaya kembali mendengarkan kisah dirinya yang dibeberkan Pangeran Arya Damar. Bahwa Purbajaya sebenarnya anak seorang kandagalante di wilayah Pajajaran yang "diambil" oleh Carbon di saat terjadi kemelut peperangan antara Carbon dengan Pajajaran.

"Bagaimana mungkin orang Pajajaran disuruh menyerbu negrinya sendiri, Pangeran?" tanya Ki Aliman yang nampak sesekali mengurut dadanya. Rupanya dia masih merasa sakit bekas adu tenaga yang dilakukan tadi dengan Purbajaya. Ketiga orang perwira pun sama menatap Pangeran Arya Damar seolah membenarkan dan mendukung pertanyaan Ki Aliman.

Mendengar pertanyaan ini, Pangeran Arya Damar hanya mengangguk-angguk tenang seolah-olah dia sudah memiliki jawabannya. "Anak muda ini sejak kecil berada di Carbon, dididik oleh orang Carbon dan sudah mengerti akan tujuan perjuangan negri kita. Maka sedikit sekali kemungkinan pemuda ini membelot ke Pakuan," kata Pangeran Arya Damar sambil menoleh pada Purbajaya sepertinya ucapannya sekaligus juga mengingatkan Purbajaya akan hal ini.

"Benarkah ucapan Pangeran, hai anak muda?" tanya Ki Aspahar dengan wajah dingin namun meminta kepastian. "Kalau Pangeran Arya Damar tak memberitahu saya, maka saya tak tahu kalau saya ini anak dari Pajajaran," jawab Purbajaya menunduk. "Sekarang kan sudah tahu. Jadi, bagaimana sikapmu?" Ki Aspahar mendesak. "Saya tak tahu siapa orangtua saya. Yang saya kenal hanyalah Paman Jayaratu yang membesarkan dan memberi didikan pada saya," tutur Purbajaya sejujurnya.

"Engkau tak akan mengkhianati Carbon, anak muda?" "Bahkan saya ingin membuktikan bahwa saya adalah orang yang tahu membalas budi," jawab lagi Purbajaya. Ki Aspahar mengangguk-angguk kendati yang lainnya masih belum memperlihatkan kepuasan. "Tak usah didesak lagi sebab begitulah kenyataannya. Dia sudah bilang begitu dan aku tanggungjawab," kata Pangeran Arya Damar memutuskan.

Begitulah, pada akhirnya Purbajaya disetujui para perwira untuk ikut tugas. Tugas apa? Inilah yang Purbajaya tertarik memperhatikannya. Pangeran Arya Damar berkilah bahwa perjuangan untuk menundukkan Pakuan sungguh berat. Kendati negri yang dipimpin oleh Sang Prabu Ratu Sakti akhir-akhir ini selalu digoncang perpecahan, namun kekuatannya masih sulit dirontokkan.

Ini karena Pajajaran memiliki pembantu-pembantu yang kuat. "Masih banyak yang bersetia kepada negri itu. Jangankan yang tengah mengabdi, sedangkan yang oleh ratunya sudah dianggap pembangkang dan pemberontak pun, masih tetap berdiri untuk kepentingan negrinya," kata Pangeran Arya Damar.

"Hebat sekali!" seru Purbajaya membuat terkejut semua orang. Purbajaya tersipu bahkan akhirnya terkejut sendiri dengan pernyataannya ini. Melihat sikapnya tadi, jangan-jangan orang bercuriga bahwa dia bersimpati kepada Pajajaran. "Bahkan kepada musuh pun kita wajib bercermin. Itu yang diajarkan Paman Jayaratu kepada saya. Tapi maafkan bila saya salah menafsirkannya," tutur Purbajaya.

Dia menyembah hormat kepada Pangeran Arya Damar, juga kepada keempat perwira itu. "Engkau harus menerangkan tentang arti ucapanmu, anak muda," kata Ki Aliman dingin dan bercuriga sekali. Sebelum berani menjawab pertanyaan ini, Purbajaya melirik ke arah Pangeran Arya Damar. Nampak pangeran itu mengangguk tanda setuju.

"Saya hanya ingat perkataan Paman Jayaratu semata. Bahwa kita harus bercermin kepada sesuatu yang bermanfaat kendati itu datangnya dari musuh," kata Purbajaya. "Barusan Pangeran mengabarkan bahwa banyak pejabat dan orang pandai di Pajajaran, kendati tak disukai penguasa, akan tetapi tetap membela negrinya. Ini hanya menandakan bahwa orang-orang itu punya jiwa yang besar. Mereka patriotik. Yang penting hidupnya demi negara dan bukan demi penguasa. Saya pikir ini hebat dan patut kita teladani. Orang yang hanya mengabdikan dirinya untuk negara tak mungkin berkhianat. Apa pun yang dia kerjakan dan pikirkan, pasti untuk kepentingan negaranya," kata pemuda itu panjang-lebar.

"Pendapatmu bagus, anak muda. Itu pula yang aku harapkan di Nagri Carbon ini," tutur Pangeran Arya Damar. "Saya bersumpah untuk mengabdi kepada Nagri Carbon, Pangeran ...." tutur Purbajaya menyembah takzim. "Bagus. Kini saatnyalah engkau memperlihatkan rasa cintamu pada Nagri Carbon," sambut Pangeran Arya Damar.

Kemudian pangeran itu melanjutkan lagi penjelasannya. Bahwa sebelum Kangjeng Susuhunan melakukan perjalanan ke wilayah barat, (wilayah Pajajaran) dalam upaya semakin menyebarluaskan pengaruh agama baru, pihak militer Nagri Carbon perlu "membuka jalan" dahulu agar memperlancar perjalanan Kangjeng Susuhunan. "Banyak kerikil tajam yang akan menghalangi perjalanan. Padahal tujuan utama Carbon adalah Pakuan. Kita harus menembus dayo (ibukota) Pakuan."

"Apakah yang dimaksud dengan kerikil tajam itu, Pangeran?" tanya Purbajaya. "Kerikil tajam itu adalah pembantu-pembantu utama dan para orang pandai yang hingga kini masih tetap bersetia kepada Pajajaran. Satu persatu kerikil itu harus disapu dan disingkirkan, sehingga jalan ke Pakuan kelak akan lurus dan rata, enak bagi yang akan melangkah," kata Pangeran Arya Damar lagi.

Purbajaya mengangguk sebagai tanda mengerti ke mana arah perkataan pangeran ini. "Ada kerikil yang amat tajam yang sekiranya akan jadi hambatan berat. Kalian tentu sudah mendengar seorang tokoh Pajajaran yang bernama Ki Darma Sungkawa," kata Pangeran Arya Damar sambil menatap satu persatu kepada keempat orang perwiranya.

"Dia adalah bekas anggota pasukan Balamati seribu perwira pengawal raja di Pakuan," kata Ki Albani bertubuh kurus berkumis tipis. "Betul. Dia termasuk penghalang utama kita, Albani," kata Pangeran Arya Damar menatap tajam. "Tapi dia sudah dimusuhi pemerintahnya. Khabarnya Sang Prabu Ratu Sakti amat membencinya. Oleh sesama perwiranya, Ki Darma selalu dikejar untuk ditangkap atau dibunuh. Mengapa orang yang sudah terdesak seperti ini malah kita anggap sebagai penghalang besar, Pangeran?" tanya Ki Albani heran.

"Seharusnya begitu logikanya. Tapi kenyataannya berkata lain," sahut Pangeran Arya Damar. Ki Albani juga rekan-rekannya menatap pangeran ini dengan seksama. "Seperti sudah aku katakan sejak awal, banyak orang pandai membentengi Pajajaran. Ki Darma sekali pun tak disukai penguasa, akan tetapi tetap bersikap sebagai pelindung negri. Bukan saja dia tak mau takluk kepada Carbon, tapi malah dia berupaya menggagalkan berbagai upaya nagri Carbon untuk menguasai Pakuan. Karena dikejar-kejar di Pakuan, dia melarikan diri ke sana ke mari. Namun dalam pelariannya dia tak pernah berhenti menghalangi kita yang ingin memasuki wilayah Pakuan," kata Pangeran Arya Damar.

"Itulah salah satu maksudku. Kita harus mengirim kekuatan ke wilayah Talaga. Pertama untuk melumpuhkan Ki Darma agar tak menjadi duri dalam daging dan keduanya untuk menyelamatkan harta negara," kata Pangeran Arya Damar. "Kita harus bersiap-siap. Dalam waktu dekat kalian aku kirimkan ke wilayah Talaga," kata Pangeran Arya Damar dengan yakin.

Keempat perwira menghormat dengan takzim dan berteriak menyatakan kesanggupannya. Karena semua orang pun berteriak begitu, maka Purbajaya pun ikut menyerukan kesanggupannya. Hampir sebulan Purbajaya menerima gemblengan. Kalau oleh paman Jayaratu dia mendapatkan latihan ilmu bela diri, adalah ketika bersama dengan para perwira dia mendapatkan pendidikan kemiliteran.

Selama dalam penggodokan pemuda ini baru mengetahui bahwa ilmu berkelahi hanyalah bagian kecil dari pengetahuan kemiliteran sebab dalam ilmu kemiliteran semua strategi dipelajari. Berkelahi hanyalah berpikir tentang kalah dan menang secara sempit. Tidak demikian dengan pengetahuan militer. Purbajaya sekali waktu bahkan mendapatkan pengetahuan bahwa ukuran sebuah kemenangan dalam satu peperangan tak selamanya harus dilakukan melalui perkelahian.

"Perang yang paling baik adalah melakukan tipu muslihat, kemudian dengan tipu muslihat itu kita bisa menang tanpa melakukan perkelahian," tutur seorang perwira berjanggut tipis tapi memiliki alis tebal bagaikan sepasang golok melintang. "Camkanlah ini, tujuan kita adalah menaklukan musuh bukan menghancurkannya. Jadi, sebelum pertimbangan kita jatuhkan kepada pilihan peperangan dengan menggunakan senjata, terlebih dahulu harus sanggup memilih peperangan tanpa senjata. Kita harus sanggup mengalahkan musuh tanpa membunuh dan merebut wilayah tanpa merusak. Itulah sebabnya, siasat dan tipu muslihat harus kita tempuh," tutur perwira ini.

"Siapakah dia, Ki Silah (saudara)?" tanya Purbajaya kepada prajurit muda yang duduk di sampingnya. "Masak tak tahu, dialah Pangeran Suwarga, perwira kepala yang amat dipercaya Kangjeng Sunan," tutur prajurit itu. "Kemudian Pengeran Arya Damar sebagai apa di Carbon ini?" tanya lagi Purbajaya.

Yang ditanya hanya mengerutkan dahinya, entah jengkel dengan pertanyaan rewel ini entah memang bingung menjawabnya. "Aku harus tahu jabatan-jabatan di Nagri Carbon ini. Hanya yang aku tahu Pangeran Arya Damar cukup disegani. Dia pun menguasai militer dan banyak perwira dekat dengannya. Pangeran Suwarga pandai dalam akal-akalan (strategi) militer dan Pangeran Arya Damar banyak melontarkan pikiran untuk kemajuan Nagri Carbon. Kalau kedua orang itu bisa bersatu, maka Nagri Carbon pasti akan bertambah kuat," tutur prajurit itu.

"Jadi maksudmu antara kedua pangeran itu kini tak bersatu?" tanya Purbajaya heran. "Aku tak bilang begitu, tolol! Sangkamu bila aku bilang kalau kedua orang itu bersatu, apa punya arti sedang tak bersatu," prajurit tua itu berkata jengkel. "Sssttt! Prajurit yang lebih tua memperingatkan agar mereka tak ribut. Beralasan sebab amat tak sopan pejabat sedang bicara di belakang ada yang bisik-bisik. Pangeran Yudhabangsa memang tengah serius memberikan ceramah mengenai strategi militer.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment