Halo!

Kemelut Di Cakrabuana - Chapter 10

Memuat...
Kemelut Di Cakrabuana

Chapter 10

"Jika kita akan melakukan penyerbuan terhadap musuh, maka jauh sebelumnya banyak hal harus dikerjakan," tutur Pangeran Suwarga.

Ia menjelaskan bahwa sebelum menyerbu, keadaan lawan harus benar-benar diketahui dengan pasti. Pihak penyerbu harus menyelidiki tingkat disiplin prajurit musuh, kepandaian panglima perangnya, rata-rata kepandaian prajuritnya, serta sejauh mana pemerintah memberikan penghargaan kepada prajurit berjasa dan hukuman bagi yang bersalah.

"Kelemahan dan kekuatan negeri musuh harus benar-benar diketahui. Sebab, jika kita menyerbu begitu saja, perang akan berkepanjangan. Camkanlah, menang dalam waktu singkat adalah tujuan utama peperangan. Jika perang berkepanjangan, senjata akan tumpul dan semangat merosot. Mengepung daerah musuh dalam waktu lama akan menguras tenaga dan dana negara serta perbekalan. Dengan kata lain, perang yang kita lakukan berharga mahal. Meskipun akhirnya menang, segalanya akan hancur lebur. Itulah kemenangan yang tiada arti," kata Pangeran Suwarga.

Selanjutnya, Pangeran Suwarga mengingatkan hal ini karena perang berkepanjangan pernah dialami Negeri Cirebon saat melawan Pajajaran, dengan bantuan Keratuan Demak puluhan tahun silam. Ketika Pajajaran dikuasai Sang Prabu Surawisesa (1521-1535), terjadi perang berlarut-larut dengan Cirebon. Cirebon yang dibantu Demak akhirnya menang. Banyak wilayah Pajajaran menjadi milik Cirebon, termasuk pelabuhan penting di sepanjang pantai utara. Namun, perang itu berlangsung lebih dari lima tahun.

"Kerugian banyak dialami bukan hanya oleh pihak yang kalah, tetapi juga oleh pihak yang menang. Aku ingin bertanya kepada kalian, apakah Carbon menang secara mutlak? Tidak. Hingga kini Pajajaran masih berdiri kokoh hanya karena Keratuan Galuh, Talaga, dan Sumedanglarang telah dapat kita rebut. Kita belum bisa menundukkan Pajajaran secara total karena kelemahan kita sejak awal, yaitu tidak sanggup mengenal kekuatan dan kekurangan lawan secara benar. Itulah sebabnya, hari ini berkali-kali aku katakan, kenalilah lawanmu, kenali pula dirimu sendiri. Maka dalam seratus kali pertempuran pun kalian tidak akan dalam bahaya," tutur Pangeran Suwarga dengan berapi-api.

Purbajaya terpukau mendengar ceramah pangeran yang tampak anggun dan berwibawa itu. Setelah ceramah selesai dan Pangeran Suwarga meninggalkan paseban, pemuda itu masih termangu. Wejangan sang pangeran masih terngiang di telinganya. "Camkanlah, tujuan kita menaklukkan musuh, bukan menghancurkannya..." Ucapan itu sangat membekas di benak Purbajaya. Sungguh bijaksana dan mulia orang yang bisa berpikir seperti itu. Benar, mengapa orang harus saling membunuh karena berperang? Seratus kali berperang dan seratus kali membunuh rasanya bukan sebuah kebanggaan, bukan kemenangan bagi kemanusiaan.

"Aku ingin sekali bertukar pikiran lebih mendalam dengan pejabat ini. Sungguh aneh, Pangeran Suwarga adalah perwira kepala, pelatih ilmu kemiliteran, dan banyak memiliki ilmu perang. Namun, pandangannya mengenai perang demikian halus dan beradab. Itulah yang menjadi kekaguman Purbajaya. Berhari-hari ia berpikir tentang kemungkinan menemui Pangeran Suwarga. Sebentar lagi pemuda itu akan berangkat ke medan perang. Ia perlu bekal moral untuk ini. Jalan pikiran Pangeran Suwarga sungguh berbeda dengan Pangeran Arya Damar. Majikannya, kalau boleh disebut begitu, sepertinya hanya berpikir tentang ambisi memenangkan perang. Arya Damar hanya berpikir bagaimana caranya menghancurkan musuh, dalam hal ini orang Pajajaran. Artinya, bila musuh hancur, itulah kemenangan. Aneh rasanya mengapa pejabat di satu atap Keraton Pakungwati bisa punya pandangan berbeda perihal arti peperangan. Pangeran Arya Damar semestinya mengikuti pendapat Pangeran Suwarga karena ia adalah panglima. Pangeran Suwargalah yang oleh Sang Panembahan Pakungwati diakui sebagai konseptor militer dan ahli strategi perang. Mengapa Pangeran Arya Damar malah punya konsep sendiri?"

"Panglima yang sesungguhnya adalah pimpinan di medan perang itu sendiri. Hanya dialah yang lebih tahu dari siapapun. Jadi, alangkah tidak bijaksananya bila atasan yang hanya duduk di keraton memerintahkan prajurit mundur padahal mereka siap bertempur, atau sebaliknya menyuruh prajurit menyerang saat mereka tidak siap. Yang paling mengetahui kesiapan prajurit hanyalah pimpinan yang ada di sekitar medan perang itu sendiri," tutur Pangeran Arya Damar suatu hari.

Purbajaya pernah mendengar bahwa puluhan tahun silam, sekitar tahun 1521-1535, Pangeran Arya Damar beberapa kali mendapat tugas memimpin prajurit Cirebon menyerbu wilayah Pajajaran. Pada tahun-tahun itu, Cirebon yang dibantu Demak berhasil menguasai pelabuhan penting milik Pajajaran, yaitu Ciampea (muara Sungai Cimanuk), Karawang (muara Sungai Citarum di Tanjungpura), Tangaram (muara Sungai Cisadane), Cigede (muara Sungai Ciliwung), Pontang, Banten, dan Sunda Kelapa, pelabuhan internasional. Menurut pemerintah Nagri Cirebon, ini adalah sukses besar sebab dengan direbutnya pelabuhan penting, hubungan Pakuan dengan bangsa asing (Portugis) menjadi terputus. Cirebon dan Demak merasa kehadiran Portugis merupakan ancaman bagi keberadaan Pulau Jawa. Portugis sudah menguasai Malaka dan mungkin akan meluaskan pengaruhnya ke Jawa Dwipa. Namun, Pajajaran seperti tidak menyadari bahaya ini. Kerajaan Sunda ini malah menjalin hubungan dagang dan Portugis diberi keleluasaan mendirikan benteng di Sunda Kelapa. Ini adalah bahaya besar. Itulah sebabnya Demak dan Cirebon mencoba merebut pelabuhan-pelabuhan milik Pajajaran dan berhasil.

Namun, Pangeran Arya Damar yang waktu itu masih muda, berusia kurang lebih 25 tahun, tidak menganggap ini sebuah sukses besar. Kemenangan sempurna bagi Cirebon terjadi bilamana seluruh Pajajaran dikuasai sepenuhnya oleh Cirebon. Pangeran muda ini menyesalkan sikap Kangjeng Sunan yang karena kekerabatannya dengan penguasa Pajajaran selalu bersikap tanggung dalam menurunkan kebijakan. Kangjeng Sunan seolah tidak berniat menghancurkan Pajajaran. Setelah peperangan hampir lima tahun lamanya, Cirebon akhirnya malah mengadakan perjanjian damai dengan Pajajaran. Padahal Pangeran Arya Damar selalu mengusulkan agar Cirebon yang diperkuat Demak harus menuntaskan perjuangan, yaitu menggempur Pajajaran hingga ke pusat Dayeuh (ibukota negara), yaitu Pakuan.

"Kangjeng Sunan mengkhawatirkan keselamatan umat manusia. Kangjeng Sunan khawatir akan banyak korban percuma jika prajurit Cirebon terus mendesak ke pedalaman. Padahal yang paling tahu mengenai kekuatan prajurit Cirebon adalah panglima yang ada di medan perang, yaitu aku!" tutur Pangeran Arya Damar.

"Agar Cirebon menjadi besar, kuasailah Jawa Barat sepenuhnya!" tuturnya lagi.

Purbajaya menilai, inilah ambisi manusia, yaitu selalu tidak puas memiliki kekuasaan yang ada. Pemuda ini teringat kembali, betapa alis Paman Jayaratu berkerut ketika dirinya dipanggil Pangeran Arya Damar ke istana. Mungkinkah Paman Jayaratu tidak menyenangi pangeran ini karena terlalu banyak memiliki ambisi? Akhirnya Purbajaya bingung sendiri. Ia terlalu muda untuk memahami kehidupan politik. Itulah sebabnya, agar mengenal lebih jauh kehidupan politik, pemuda ini berniat mendekati Pangeran Yudhabangsa, bagaimanapun caranya.

Sore yang cerah. Sambil menunggu beduk magrib dari masjid Sang Ciptarasa, Purbajaya berjalan-jalan di kompleks puri. Hatinya tertarik untuk kembali mendatangi kolam melingkar tempat anak-anak bangsawan bersampan bersuka-cita. Hampir delapan atau sembilan tahun lalu di keramaian sekatenan, putra-putri bangsawan bercengkrama di kolam, di atas sampan indah. Namun sore itu, suasana kolam sungguh sepi. Tidak ada muda-mudi, juga tidak ada Nyimas Waningyun. Purbajaya berkeluh kesah dan hatinya sedih sekali. Baru dua kali ia bertemu gadis ayu itu. Sekali ketika tubuh si cantik itu basah kuyup dan ada dalam pelukannya. Gadis itu penuh perhatian memeriksa tubuhnya yang "disiksa" Ranggasena. Namun dalam pertemuan kedua, hampir sebulan lalu, gadis itu marah-marah kepadanya karena Purbajaya dituding pemuda culas dan pembohong.

"Beginilah orang yang berbohong. Sekali berbuat kesalahan selama hidup dibenci orang..." keluhnya. Kalau saja dulu bertindak jujur. Ya, kalau dulu bertindak jujur, akan bagaimana hasilnya? "Ah, tentu aku tak pernah kenal padanya. Kalau aku tidak membuat kekacauan, tak mungkin Nyimas Waningyun mengenalku," pikirnya lagi. Maka akhirnya ia bolak-balik menyalahkan dan membenarkan tindakannya waktu itu. "Coba kalau aku tidak membocorkan perahu, mungkin tak bakalan menolong gadis itu dari bahaya tenggelam. Mungkin aku tak memangku tubuhnya dan mungkin aku tak berkenalan. Sekarang kan bisa berkenalan walaupun pada akhirnya dicerca habis-habisan," katanya lagi dalam hati. Mengapa mesti tersinggung melihat Nyimas Waningyun marah? Marahnya gadis itu adalah anugerah baginya. Bayangkan, kendati sedang marah, gadis itu tetap cantik. Dalam kemarahannya, gadis itu menampilkan kecantikan khas. Betapa masih terbayang di pelupuk matanya, kaki gadis kecil itu dengan penuh greget menjejak-jejak tanah beberapa kali untuk memperlihatkan rasa jengkel dan marah. Namun dalam pandangan Purbajaya, gerakan itu amat indah dan manis.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment