Halo!

Kemelut Di Cakrabuana - Chapter 11

Memuat...
Kemelut Di Cakrabuana

Chapter 11

Ketika gadis itu sedikit mengangkat kaki, kain batiknya tersingkap sehingga betisnya yang kuning bersinar membuat dada pemuda itu berdebar keras. Lebih dari seminggu adegan itu terus membayang di pelupuk matanya, namun itu sudah berlalu. Hingga kini Purbajaya tak pernah bertemu lagi dengan gadis itu. Kendati hampir setiap hari ia bertemu dengan ayahnya, Pangeran Arya Damar, namun hanya sebatas di paseban saja. Purbajaya tak berani memasuki Kompleks Puri Arya Damar, apalagi melongok ke keputren.

Kolam berair bening itu kini sungguh sepi. Airnya bergerak tenang, kecuali oleh gerakan binatang air yang sesekali terlihat ke permukaan. Untuk mengusir sepi, pemuda itu mencoba melemparkan sebuah kerikil kecil ke permukaan. Aneh sekali, manakala ia melempar, ada dua muncratan air di kiri dan kanannya, seolah-olah air itu dilempar oleh dua buah kerikil. Tapi siapa lagi yang melempar air selain dirinya? Purbajaya menoleh ke belakang. "Nyimas," bisiknya bergetar.

Mengapa tak begitu, sebab benar penglihatannya, di belakangnya berdiri anggun Nyimas Waningyun. Gadis itu memakai baju kurung kain satin warna biru, sebuah jenis kain halus yang tak mungkin dimiliki gadis biasa sebab harganya sangat mahal dan didatangkan dari Negeri Campa. Gadis itu tidak menggelungkan rambutnya yang hitam berombak, melainkan sengaja membiarkan rambut itu terurai panjang. Sebagai pencegah agar rambut bagus itu tak awut-awutan karena angin sore, Nyimas Waningyun mengikat kepalanya dengan kain tipis halus warna kuning yang ujung-ujungnya menjurai ke bawah menutupi bagian dadanya. Kain batik trusmi warna gelap sedikit tertutup baju satin hingga ke bagian lutut.

Purbajaya mengedipkan matanya beberapa kali, kemudian mengucek-nguceknya beberapa kali pula. "Nyimas, mata pemuda itu tampaknya kemasukan debu," terdengar suara gadis pengiringnya. Setelah itu, ada suara cekikikan dari beberapa gadis lainnya. Purbajaya baru sadar, Nyimas Waningyun diantar tiga orang gadis pengiring yang cantik-cantik dan berpakaian bagus. "Bersihkan matamu di kolam, anak muda," kata gadis lainnya. "Saya tak kelilipan," jawab Purbajaya gagap. "Habis dari tadi kedap-kedip saja. Atau kau tak senang dengan kehadiran Nyi Mas ke sini?" kata yang lain.

"Sengajakah Nyimas datang ke sini?" tanya Purbajaya menatap gadis itu. Namun kemudian, Purbajaya memalingkan muka sebab tak kuat saling bertatapan mata. "Mengapa mesti sengaja? Tempat ini tak menimbulkan kenangan buat Nyimas," kata suara lain. Purbajaya menatap ke arah Nyimas Waningyun. Sejak tadi gadis itu hanya menatap. "Aku memang sengaja datang ke sini karena melihatmu," gumam gadis itu pada akhirnya. Purbajaya sudah barang tentu terbelalak matanya. Gadis itu datang karena dia? "Sudah tiga kali aku melihatmu bertandang ke sini. Ada apakah, padahal kolam ini sepi," gumam gadis itu. Gadis itu sudah tiga kali memergokinya? Purbajaya celingukan. Kira-kira dari arah mana gadis itu mengintipnya?

"Saya menyukai yang sepi-sepi, Nyimas..." tutur Purbajaya sekenanya. "Wah, kalau begitu kita harus segera pergi dari tempat ini, Nyimas sebab dengan kehadiran kita, tempat ini jadi tak sepi dan anak muda itu pasti jadi tak menyukainya," ajak seorang gadis pengiring. "Hey, jangan!" teriak Purbajaya khawatir benar-benar ditinggalkan. "Beraninya engkau memerintah Nyimas!" cetus gadis pengiring ketus. "Bukan begitu. Maksud saya... maksud saya," "Maksudnya apa?" potong gadis pengiring dengan bawel. "Sudahlah, jangan terus diganggu," gumam Nyimas Waningyun halus, tapi sedikit tersipu melihat ulah Purbajaya. "Aku memang datang mengunjungimu...." tutur Nyimas Waningyun. "Mengunjungi saya? Untuk apa?" Purbajaya gagap. "Untuk minta maaf padamu..." "Minta maaf...?" "Ya." "Pada saya?" "Ya." "Heran..." "Mengapa orang minta maaf mesti dibuat heran?" tanya Nyimas Waningyun mengerutkan dahinya yang putih mulus. "Nyimas tak punya dosa. Malah saya yang sebetulnya berdosapadamu," tutur Purbajaya. "Tidak. Akulah yang berdosa padamu," balas gadis itu setengah menunduk. "Dosa apakah itu?" "Bulan lalu aku memarahimu, padahal tak sepantasnya aku marah-marah padamu," gumam gadis itu masih menunduk. "Engkau pantas memarahi saya. Bukankah saya ini orang culas?" kata Purbajaya.

Dari belakang Nyimas Waningyun terdengar suara tawa kecil. "Mengapa ditertawakan?" Nyimas Waningyun menoleh ke belakang. "Dia ngaku sendiri orang culas," tutur suara orang di belakang. "Engkau tidak culas, Purba, asal saja..." "Asal saja apa, Nyimas?" tanya Purbajaya tak sabar. "Asal saja engkau berlaku jujur." "Saya akan mencoba berlaku jujur, Nyimas..." "Dan jangan bengal." "Saya akan mencoba tak bengal, Nyimas." "Jangan sekali-kali mencederai orang lain." "Saya tidak akan mencederai orang lain, Nyimas." "Nah, itu baru anak baik," tutur suara dari belakang. "Hus," Nyimas Waningyun menegur pembantunya. Tapi yang ditegur masih terkekeh-kekeh sambil memandang Purbajaya, sehingga yang dipandang semakin tersipu.

Namun kendati merasa malu dan berdebar, yang jelas hati pemuda itu sepertinya mendapatkan durian runtuh. Oh, jangan samakan Nyimas dengan durian yang berduri runcing itu. Ya, Purbajaya sepertinya mendapatkan siraman air mawar, atau mendapatkan taburan bunga sedap malam: harum, hangat, dan mesra. Hanya saja, kebahagiaan pemuda itu tak berlangsung lama sebab dari arah lain datang serombongan pemuda. Celaka, ada Ranggasena, keluh Purbajaya dengan hati terkejut. Ranggasena datang dengan langkah tegap dan gagah. Atau lebih pantas lagi disebut menakutkan sebab sepasang matanya melotot, mulutnya mengatup, dan giginya terdengar gemelutuk sebagai tanda marah. Ranggasena jalan di muka, diiringi oleh empat orang pemuda lainnya. Mereka datang menghampiri dan semua mendekati Purbajaya dengan sikap mengancam.

"Kurang ajar! Lagi-lagi engkau ganggu Nyimas. Dasar pemuda cabul, tak tahu malu! Hajar tikus kecil itu!" teriak Ranggasena kepada teman-temannya. Keempat pemuda itu serentak meloncat dan menyerang Purbajaya dengan membabi-buta. Gerakan-gerakan mereka memang memperlihatkan sebagai orang yang memiliki ilmu berkelahi. Namun dalam pandangan Purbajaya, ilmu mereka rendah saja. Kalau dia mau, dalam satu gerakan, selain bisa meloloskan diri juga sekaligus bisa balas menyerang. Namun Purbajaya ingat akan janjinya kepada Nyimas untuk tidak mencederai orang lain. Pemuda itu takut sekali kalau dibenci atau dimarahi gadis itu. Dan karena itu, akhirnya ia memilih diam. Maka dalam waktu singkat saja terdengar suara bakbikbuk-bakbikbuk karena tubuh Purbajaya dihujani pukulan dari sana-sini. "Bagus! Nah begitu! Pukul dia! Pukul dia!" teriak Ranggasena sambil sesekali terdengar kekeh gembira karena semua pukulan teman-temannya tak ada yang lolos.

"Hey, apa-apaan ini! Hentikan! Hentikan!" teriak Nyimas Waningyun yang amat terkejut dengan peristiwa mendadak ini. "Jangan berhenti! Teruskan, pukul si cabul ini!" teriak lagi Ranggasena. Berkata begitu, ia pun menghambur ke depan dan melayangkan beberapa kali pukulan ke arah wajah Purbajaya. Purbajaya masih berdiri kokoh, namun sudah terlihat lelehan darah dari mulut dan hidungnya. Nyimas Waningyun dan para pengiringnya menjerit-jerit ngeri. Mereka ingin mencegah tapi tak bisa bagaimana harus mencegahnya. Jeritan-jeritan para gadis itu membuat perhatian orang-orang yang akan berangkat sembahyang ke Masjid Sang Ciptarasa. Beberapa orang prajurit bahkan perwira puri tergopoh-gopoh datang menghampiri dan serta-merta menghentikan peristiwa ini.

"Hentikan perkelahian. Apakah kalian tak malu orang lain hendak sembahyang magrib, kalian malah berkelahi?" teriak perwira tua yang datang menengahi. Yang disebut "perkelahian" ini bisa dihentikan. Kelima pemuda yang mengepung Purbajaya mundur teratur dan nampaknya mereka cukup menyegani perwira tua itu. "Kami hanya mencoba menghalangi perbuatan pemuda bejat itu. Dengan tak tahu malu, dia menggoda Nyimas. Ini adalah perbuatan yang kedua kalinya, Paman!" tutur Ranggasena mendelik ke arah Purbajaya. "Betulkah Nyimas, engkau diganggu pemuda itu?" tanya perwira tua itu. Namun sungguh mencengangkan, sebagai jawabannya tidak dengan kata-kata, melainkan gadis itu menghambur ke arah Purbajaya. Serta-merta Nyimas Waningyun membuka kain satin yang mengikat rambutnya. Kain halus warna kuning itu digunakannya untuk menyeka darah di bibir dan hidung Purbajaya sehingga warna kuning kain kini bercampur noda darah. "Dasar pemuda bodoh, mengapa tak kau lawan mereka?" teriak gadis itu ketus, namun sambil mengelus luka di wajah Purbajaya.

Kejadian dan adegan ini tentu membuat semua orang tercengang, terutama bagi perwira tua dan pemuda pengeroyok itu. Ranggasena giginya berkerot dan sepasang matanya terbelalak. Wajahnya sebentar pucat, sebentar merah padam melihat adegan mesra ini. Dan tanpa bicara sepatah pun, pemuda itu meloncat pergi meninggalkan tempat itu. Keempat orang temannya pun akhirnya melakukan hal yang sama. "Cepat kembalilah ke puri, hari hampir menjelang magrib," kata perwira tua bernada perintah. "Mengapa kau tadi diam saja, Purba?" tanya Nyimas Waningyun sekali lagi. "Lho, saya taat keinginanmu. Bukankah saya jangan mencederai orang lain?" jawab Purbajaya lirih. "Dasar bodoh dan dungu. Dilarang mencederai bukan berarti malah dicederai! Ah, kadang-kadang aku kesal melihat kedunguanmu ini!" kata Nyimas Waningyun cemberut. Nyimas Waningyun pulang diiringi yang lain. Sementara Purbajaya masih termangu sambil menyusuti darah di hidung dengan kain satin milik gadis itu.

Inilah kenyataan aneh. Yang namanya sakit itu sebenarnya bukan di badan tapi di hati. Dengan perkataan lain, sesuatu yang bernama perasaan itu sebenarnya ada di hati, bukan di tempat lain. Tubuh Purbajaya sebenarnya lebam-lebam karena hujan pukulan. Namun karena hatinya tengah berbunga-bunga, tak ada rasa sakit sebab yang muncul adalah kebahagiaan.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment