Chapter 12
Sampai jauh malam kerjanya hanya mengelus-elus kain satin yang warna kuningnya terpoles darah kering bekas luka di tubuhnya. Dengan kain halus itu, rasanya Nyimas Waningyun selalu dekat dengannya. Hati pemuda itu terus bernyanyi melantunkan lagu cinta. Sudah tidak diragukan lagi, gadis itu pasti mencintainya. Kalau tidak begitu, mengapa dia begitu baik dan penuh perhatian kepadanya?
Memang, gadis itu beberapa kali berteriak marah kepadanya. Namun, Purbajaya tahu bahwa itu adalah kemarahan karena rasa kasih sayang. "Oh dewiku, bagaimana caranya agar aku pun bisa menyampaikan perasaanku yang sebenarnya?" bisik hatinya.
Purbajaya akhirnya tertidur dengan sesungging senyum di sudut bibir, kendati selintas ada pula perasaan khawatir dan tidak enak. Kejadian tadi sore, di samping amat membahagiakan hatinya, juga telah menyakiti orang lain. Tak pelak lagi, kejadian itu akan semakin menyulut permusuhan di hati pemuda bernama Ranggasena tersebut.
Purbajaya hanya memiliki waktu pada sore hari. Pagi hari dia berlatih perang bersama para prajurit dan perwira, sedangkan siang hari menerima pendidikan teori kemiliteran dan taktik peperangan. Itulah sebabnya, pada sore itu, dia kembali keluar dari Puri Arya Damar. Dia akan melakukan perjalanan menuju Puri Suwarga. Tempatnya agak jauh, tetapi masih berada di lingkungan benteng Keraton Pakungwati.
Pemuda itu tetap penasaran untuk berkunjung dan bertemu dengan Pangeran Suwarga. Dia merasa tertarik pada pendapat dan gagasan pangeran itu tentang filsafat serta arti peperangan. Pemuda itu perlu mengenalnya lebih jauh, sebab baginya peperangan tidak bisa diartikan sekadar membunuh atau dibunuh.
Bukankah Pangeran Suwarga sendiri pernah berkata bahwa kemenangan yang paling baik adalah menundukkan musuh, bukan menghancurkannya? Hal inilah yang ingin dipelajari dan dipahami oleh Purbajaya. Dia memiliki misi penting ke Pajajaran. Baginya, misi ini bukanlah sebuah perjuangan untuk menghancurkan, melainkan untuk menundukkan dan pada akhirnya menjadikannya sebagai kawan; tak ubahnya seperti perjuangan Carbon dalam menundukkan Keratuan Talaga, Keratuan Rajagaluh, dan sebagainya. Dulu mereka menjadi musuh dan berada di pihak Pajajaran, namun kini semuanya sudah berada di lingkungan kerajaan Islam bernama Carbon.
Purbajaya berkeinginan agar misi Nagri Carbon tidak pernah berubah. Menurut pengamatannya, jalan pikiran Pangeran Suwarga masih sesuai dengan prinsip-prinsip yang dimiliki negeri ini. Atau... Purbajaya merandek. Tidakkah apa yang menjadi buah pikiran Pangeran Suwarga sebenarnya merupakan sesuatu yang didambakan hatinya? Dan bagaimana pula sebenarnya keinginan negeri ini dalam upaya mempertahankan keberadaannya? Apakah jalan pikiran yang dimiliki Pangeran Arya Damar pun mewakili keinginan Nagri Carbon? Pemuda itu pusing memikirkannya sendiri.
Di Carbon ada banyak pejabat. Semua mengaku berjuang untuk mempertahankan kebesaran negeri ini, tetapi dengan banyak pendapat dan jalan pikiran yang berbeda. Pantas saja Paman Jayaratu pernah berkata agar ia harus berhati-hati saat masuk istana. Mungkin salah satu bahaya tinggal di istana adalah ketika terombang-ambing oleh banyak pengaruh dan pendapat. Purbajaya hanya merasa tertarik pada jalan pikiran Pangeran Suwarga. Namun, apakah pendapat pejabat ini yang terbaik? Entahlah.
Itulah sebabnya, untuk lebih meyakinkan perasaannya, Purbajaya ingin berkunjung ke Puri Suwarga. Dia ingin bertemu, bertanya, dan jika memungkinkan, berdiskusi. Namun, untuk masuk ke puri tidak semudah berjalan-jalan di kolam Petratean. Purbajaya mungkin dikenal baik di Puri Arya Damar, tetapi tidak di Puri Suwarga. Buktinya, begitu tiba di gerbang puri, dia sudah dihadang oleh dua orang penjaga.
"Mau ke mana?"
"Mau menghadap Gusti Pangeran."
"Engkau dipanggil?"
"Tidak."
"Jadi, mau apa datang ke sini?"
"Ah, sekadar ingin bertemu saja," jawab Purbajaya.
"Tidak semudah itu bertemu Gusti Pangeran, apalagi bagi orang sembarangan. Engkau siapa dan datang dari mana?"
"Nama saya Purbajaya, datang dari Puri Arya Damar," jawab pemuda itu.
Mendengar nama Arya Damar, kedua penjaga itu mengerutkan dahi.
"Ada apa?" tanya Purbajaya bingung.
"Tidak apa-apa. Tapi tadi sudah kami katakan, tidak sembarangan orang bisa menemui Gusti Pangeran," tutur penjaga lagi.
Purbajaya kecewa dengan sikap penjaga ini. Namun, barangkali memang begitu peraturannya; bahwa orang asing yang tidak dikenal asal-usulnya tidak bisa begitu saja bertemu dengan kaum bangsawan. Pemuda itu hendak mengundurkan diri ketika tiba-tiba terdengar bentakan nyaring.
"Tangkap bedebah itu!" teriak seseorang.
Purbajaya menoleh ke belakang. Ternyata yang berteriak adalah Ranggasena. Dia mengerutkan dahi, bertanya-tanya mengapa pemuda itu tiba-tiba ada di sana.
"Tangkap orang itu, dia pengacau!" teriak Ranggasena geram.
Kedua penjaga tampak begitu takut dan menuruti keinginan pemuda itu. Keduanya menghambur ke depan dan mengepung Purbajaya.
"Bunuh dia! Bunuh dia!" teriak Ranggasena.
Namun, kedua penjaga hanya bersikap mengepung. Barangkali mereka berpikir tidak perlu sampai membunuh Purbajaya untuk persoalan yang belum jelas. Ranggasena tetap memerintah. Karena kedua penjaga masih berdiam diri, pemuda bengal itu membentak-bentak sambil mendorong tubuh para penjaga.
Hal ini membuat Purbajaya kesal. Di hadapan Nyimas Waningyun, pemuda ini berdiam diri karena takut tindakannya tidak disukai gadis itu. Namun di sini, tidak ada yang patut disegani. Purbajaya ingat beberapa hari yang lalu wajahnya lebam karena membiarkan dirinya dikerjai oleh teman-teman Ranggasena. Sekarang, pemuda bengal itu harus menebus kesalahannya.
Dengan gerakan cepat, Purbajaya menghambur ke arah Ranggasena, melewati dua penjaga yang ternganga heran. Hanya dalam satu gerakan, telapak tangan Purbajaya berhasil memukul ubun-ubun Ranggasena. Tidak terlalu keras, namun cukup membuat tubuh pemuda itu berputar-putar beberapa kali. Ranggasena jatuh berdebum dan terduduk lesu, merasakan dampak pukulan di ubun-ubunnya.
Melihat Purbajaya menyerang Ranggasena, kedua penjaga mulai melakukan penyerangan. Yang satu mengayunkan gobang, sementara yang lain memutar tombak. Namun, serangan mereka terlalu mentah untuk dianggap berbahaya. Purbajaya hanya mengelak ke kiri dan ke kanan untuk menghindari serangan tersebut.
"Tolong! Tangkap pembunuh! Tangkap pembunuh!" teriak Ranggasena.
Tak lama kemudian, muncul belasan prajurit yang langsung mengepung Purbajaya dengan ketat. Purbajaya menjadi bingung. Dia datang ke tempat ini bukan untuk membuat keributan, hingga akhirnya ia merasa panik. Kepungan itu begitu rapat. Beberapa prajurit bahkan menyerang, meskipun tujuannya bukan untuk membunuh. Namun, Purbajaya harus mati-matian berkelit agar tidak terluka oleh senjata.
Kini kepungan semakin rapat, apalagi setelah datang beberapa perwira yang memiliki kepandaian tinggi. Purbajaya terus berkelit tanpa berani balik menyerang. Dia tidak ingin menyerang karena tidak punya niat bertempur, serta tidak ingin membuat para pengepung semakin beringas. Menghadapi lawan tanpa membalas adalah pertahanan yang buruk. Jika tidak tepat melakukan gerakan menghindar, ia bisa celaka sendiri. Namun, karena di hatinya tidak ada niat membuat keributan, pemuda itu tetap memilih untuk diam tanpa melakukan serangan balik.
"Aku menyerah!" teriak Purbajaya tiba-tiba. Dia mengangkat tangan ketika ujung-ujung senjata diarahkan ke tubuhnya.
"Bunuh dia! Bunuh dia!" teriak Ranggasena dengan suara parau karena masih kesakitan.
Namun, tidak ada satu pun prajurit yang melaksanakan perintah itu. Ranggasena serta-merta merebut sebatang pedang dari seorang prajurit. Pedang mengilap itu diayunkannya ke arah ubun-ubun Purbajaya. Pemuda itu segera bersiap untuk menghindar. Namun, sebelum pedang mengenai ubun-ubunnya, sebatang tombak melayang di bawahnya. Pedang itu terlontar lepas ke udara, sementara batang tombak terus meluncur lurus dan menancap dalam pada batang pohon.
Purbajaya terkagum-kagum pada pelempar tombak tersebut. Pelempar itu pastilah orang yang pandai dan bertenaga besar.
"Tidak perlu dibunuh. Orang itu sudah menyerah, Raden," tutur seseorang yang barusan melempar tombak.
Purbajaya menatapnya. Ternyata dia adalah seorang perwira tua.
"Tapi dia penjahat! Dia pembunuh!" teriak Ranggasena.
"Siapa yang dibunuh, Raden?" tanya perwira itu dengan sabar.
Ranggasena tidak bisa segera menjawabnya.
"Tidakkah Paman lihat bedebah itu hendak membunuhku? Coba tanyakan kepada dua prajurit itu. Si bedebah itu mau membunuhku, kan? Benar, kan?" tanya Ranggasena memaksa.
Kedua prajurit itu tidak bisa berbuat apa-apa selain mengangguk karena dipelototi oleh pemuda bengal tersebut.
"Tuh, kan! Ayo bunuh dia!" teriak Ranggasena.
"Orang yang bersalah bisa diadili, dan untuk itu sudah ada bagiannya," kata perwira tua itu.
Ranggasena menatap tajam, merasa tidak puas atas pendapat itu.
"Baik. Bawalah kepada ayahku," desisnya tajam.
Purbajaya ditangkap. Namun, berhubung hari sudah malam, dia tidak sempat dibawa menghadap pejabat yang berwenang mengurus perkara ini. Kata Ranggasena, sebaiknya ia dititipkan dulu di rumah tahanan.
Di dalam rumah tahanan berjeruji besi inilah dendam pemuda itu terbalaskan. Ranggasena memanggil semua temannya, termasuk mereka yang tempo hari ikut mengeroyok Purbajaya. Untuk kedua kalinya, mereka menyiksa Purbajaya. Tubuh pemuda itu menjadi bulan-bulanan dihajar oleh beberapa pemuda.
"Kalian ingat, bukan? Nah, si jelek inilah yang dulu di pesta Muludan sok beraksi menjadi pahlawan, sehingga menyebabkan Nyimas Waningyun menjauh dariku," kata Ranggasena geram sambil menampar kepala Purbajaya.
Beberapa pukulan mendarat pula di punggung pemuda itu. Tubuh Purbajaya babak belur, tetapi dia tidak berniat menghindar. Menghindar berarti melawan, dan hal itu hanya akan semakin mengobarkan kebencian mereka.
Tiga hari Purbajaya disekap di kamar tahanan.