Chapter 13
Selama itu, dia disiksa habis-habisan oleh Ranggasena dan teman-temannya. Dia baru dibebaskan setelah ada utusan Pangeran Danuwangsa yang memerintahkan agar tahanan dibawa menghadap. Utusan itu menegur alasan tahanan tersebut disekap lama dan disiksa sampai babak belur.
"Maafkan saya, Raden Ranggasena yang memasukkan orang ini ke tahanan," kata penjaga itu.
"Lantas kalian menyiksa tahanan ini?"
"Saya tidak menyiksanya."
"Orang ini babak belur."
"Raden Ranggasena dan teman-temannya yang melakukan penyiksaan. Katanya atas perintah ayahandanya, Pangeran Danuwangsa."
"Itu bohong. Bahkan Pangeran Danuwangsa kaget ketika ada yang memberitahu peristiwa itu. Tahanan ini tidak terdaftar dan Pangeran pada mulanya tidak mengetahui ada tahanan. Sudah, bersihkan tubuh orang ini. Jangan sampai Gusti Pangeran tahu ada tahanan disiksa," tutur sang utusan.
Purbajaya keluar dari ruang tahanan, tetapi langsung dibawa ke hadapan Pangeran Danuwangsa. Dengan tubuh sedikit limbung, Purbajaya berlutut dan menyembah. Dia menundukkan muka sehingga belum bisa mengenal pangeran ini dengan lebih saksama. Namun, jauh sebelumnya, pemuda ini sudah mengenal Pangeran Danuwangsa. Bangsawan ini adalah ayahanda Raden Ranggasena yang menjabat sebagai kepala keamanan istana.
Hal yang tidak dia ketahui adalah Pangeran Danuwangsa ternyata adik sepupu Pangeran Suwarga. Jadi, Raden Ranggasena pun masih memiliki pertalian kerabat dengan Pangeran Suwarga. Hal ini mengherankan Purbajaya; mengapa Raden Ranggasena berperangai nakal, sedangkan Pangeran Suwarga begitu berwibawa dalam kelemahlembutan? Purbajaya menjadi penasaran, tabiat Ranggasena itu meniru siapa.
"Anak muda, siapa namamu?" tanya Pangeran Danuwangsa.
"Saya bernama Purbajaya, Gusti."
"Dari mana engkau datang?"
"Dari Puri Arya Damar."
"Dari Puri Arya Damar?" Purbajaya mengangkat muka dan memandang wajah pangeran itu. Pemuda ini tidak sadar melakukannya karena dia merasa heran dengan suara pangeran yang menyuarakan rasa terkejut yang amat sangat.
Dua orang itu saling memandang. Purbajaya kini berkesempatan menatap wajah pejabat ini. Jika pangeran ini tidak berkumis tebal, tentu wajahnya mirip Raden Ranggasena. Hal yang menandakan bahwa mereka memang ayah dan anak adalah ketika melihat sorot mata Pangeran Danuwangsa yang bagaikan mata elang. Sorot mata yang sama persis dengan Raden Ranggasena.
Purbajaya pernah mendapat pesan dari Paman Jayaratu untuk berhati-hati menghadapi orang yang bermata cekung dengan sorot dalam bagaikan mata elang, terlebih lagi yang memiliki hidung melengkung seperti paruh burung ekek. Orang-orang seperti itu selalu memiliki pikiran yang ganjil dan sulit ditebak. Mengingat hal ini, Purbajaya menjadi bingung. Pangeran Danuwangsa memang memiliki sorot mata bagaikan mata elang, tetapi hidung bengkok justru dimiliki oleh Pangeran Arya Damar. Jadi, jika memiliki ciri separuh-separuh seperti ini, bagaimana cara menilainya?
"Siapa yang menjebloskanmu ke tahanan? Aku lihat wajahmu juga memar-memar. Aku tidak suka tahanan disiksa seperti ini. Santarupa, siapa yang menyiksa anak muda ini?" tanya Pangeran Danuwangsa kepada utusan yang menjemput Purbajaya.
"Saya tidak berani mengatakannya."
"Sepertinya ada yang engkau takuti lagi selain aku, Santa," gumam Pangeran Danuwangsa.
"Ampun beribu ampun, bukan itu maksud saya," Santarupa menyembah takzim.
"Kalau begitu, katakan saja."
"Raden Ranggasenalah yang berbuat, Gusti."
"Anakku? Beraninya anak itu. Panggil dia!" ujar Pangeran Danuwangsa.
"Saya rasa tidak usah diperpanjang, Gusti," Purbajaya menyembah.
"Tetapi aku perlu tahu permasalahannya," tukas Pangeran Danuwangsa pendek.
Raden Ranggasena akhirnya dipanggil. Pemuda itu ditanyai oleh ayahandanya yang ingin tahu duduk persoalan yang sebenarnya. Selintas tindakan itu benar, Pangeran Danuwangsa ingin tahu persoalan yang sesungguhnya. Namun, bila diamati lebih saksama, ternyata penelusuran tersebut tidak adil. Pangeran itu menanyai anaknya tanpa sedikit pun bertanya tentang kebenarannya kepada Purbajaya. Dengan kata lain, Pangeran Danuwangsa hanya membuat kesimpulan dari penjelasan sepihak saja.
Beruntung, Raden Ranggasena berkata jujur. Mungkin dia merasa takut kepada ayahandanya, atau bisa juga merasa tidak ada untungnya berbohong. Namun, kejujuran yang disodorkan Ranggasena ini ternyata merugikan Purbajaya.
"Saya benci kepada pemuda itu. Dia tidak sopan," ujar Raden Ranggasena.
"Tidak sopan bagaimana?" tanya Pangeran Danuwangsa.
"Betapa tidak sopannya si dungu ini. Dia berani menggoda Nyimas Waningyun. Dengan segala cara dan akal bulusnya, si dungu ini telah menempatkan dirinya sebagai orang yang mendapat simpati serta rasa kasihan Nyimas Waningyun, dan sebaliknya memfitnah saya sehingga saya dibenci Nyimas. Bukankah ini tindakan yang jahat, Ayahanda?"
Mendapat penjelasan seperti ini, Pangeran Danuwangsa mengerutkan dahinya seolah tengah mengingat sesuatu. "Bukankah engkau pernah punya masalah dengan pemuda ini pada pesta Maulid beberapa tahun lalu?" tanya pangeran itu.
Ranggasena mengiyakan. Kembali Pangeran Danuwangsa mengerutkan dahi.
"Engkau hanya membuat kesulitan saja, anak tolol," tegur Pangeran Danuwangsa. Ucapan ini ditujukan kepada anaknya sendiri dan amat mencengangkan Purbajaya.
"Sudah aku katakan, aku tidak suka berurusan dengan Ki Jayaratu," tutur Pangeran Danuwangsa.
"Pemuda itu sudah tidak punya kaitan lagi dengan Ki Jayaratu. Sekarang dia sudah menjadi orang Pangeran Arya Damar, Ayahanda," kata Ranggasena.
"Itu merupakan ketololanmu yang kedua, anak dungu. Dengan menangkap pemuda ini, berarti kau harus berurusan dengan pihak Arya Damar. Dasar anak dungu!" teriak Pangeran Danuwangsa gusar.
Raden Ranggasena tampak takut melihat kemarahan ayahandanya. "Apakah kita bebaskan saja pemuda hina ini sekarang juga, Ayahanda?" tanya Raden Ranggasena kemudian.
"Jangan," gumam Pangeran Danuwangsa setelah merenung sejenak. "Masukkan lagi anak muda ini ke dalam kamar tahanan, Santa!" sambungnya.
Purbajaya disuruh berdiri dan sepasang tangannya ditelikung ke belakang oleh Santarupa.
"Awas, kau jangan ikut campur perihal tawanan ini!" kata Pangeran Danuwangsa kepada anaknya.
Purbajaya pasrah saja dibawa ke kamar tahanan. Selama menuju tempat itu, benaknya berputar-putar mencoba menebak keganjilan tindakan penghuni Puri Danuwangsa ini. Belakangan Purbajaya baru tahu bahwa dirinya ditahan dan dijadikan sandera untuk sebuah tuntutan. Isi tuntutan ini amat memukul perasaan pemuda itu. Pihak Pangeran Danuwangsa menuntut agar Purbajaya dibebaskan asalkan pihak Pangeran Arya Damar mau berbesan dengan pihak Pangeran Danuwangsa. Hal ini jelas memukul ulu hati Purbajaya sebab tidak ada lagi yang dijodohkan selain Raden Ranggasena dengan Nyimas Waningyun.
Kejadian ini menyedihkan sekaligus terasa aneh bagi Purbajaya. Dia berpikir mengapa keluarga Danuwangsa mengajak berbesan dengan cara seperti ini. Sepengetahuan Purbajaya, hubungan kedua keluarga bangsawan itu sungguh baik. Dalam setiap pertemuan, baik pertemuan resmi di Pakungwati maupun pertemuan pribadi, mereka tampak bersahabat. Sekarang Pangeran Danuwangsa tampak seperti melakukan penekanan. Purbajaya bisa bebas dari tuduhan asalkan ada pertalian jodoh. Tuduhan kepada Purbajaya cukup berat, yaitu melakukan penyerbuan secara gelap.
Maka diciptakanlah berbagai perkiraan. Berbagai perkiraan yang dilontarkan ini hanya memberikan pengetahuan baru bagi Purbajaya. Ternyata di kalangan kaum bangsawan Negeri Cirebon terdapat semacam persaingan dalam menempatkan diri sebagai orang atau kelompok yang paling dipercaya oleh Kanjeng Sunan. Pangeran Arya Damar adalah termasuk bangsawan yang memiliki kekerabatan erat dengan keluarga Sultan. Dengan demikian, dia diperkirakan memiliki pengaruh kuat di Pakungwati. Mudah ditebak, Pangeran Danuwangsa ingin mendekatkan diri kepada orang yang berpengaruh. Namun, sungguh aneh mengapa cara pendekatannya dilakukan dengan tekanan.
Hal yang paling aneh lagi adalah sikap Pangeran Arya Damar. Mendapatkan tekanan ini, dia tidak melawan melainkan malah mengabulkan permintaan pihak Danuwangsa. Menghadapi kenyataan ini, Purbajaya menjadi bingung dan sedih. Dia tidak mau dihukum karena tuduhan melakukan penyerbuan gelap, tetapi dia pun tidak mau bebas dengan mengorbankan Nyimas Waningyun.
Purbajaya merasa aneh. Mengapa Pangeran Arya Damar mau mengorbankan putrinya sendiri untuk menolong bawahannya, seorang pemuda bernama Purbajaya yang katanya keturunan Pajajaran? Begitu berhargakah dirinya? Purbajaya bingung dengan kejadian ini.
"Aku ingin tahu, ada keperluan apa kau keluyuran ke puri itu?" tanya Pangeran Arya Damar ketika Purbajaya sudah kembali ke purinya.
Apa yang harus dia jawab? Semuanya tidak enak untuk dilaporkan. Puri Suwarga dan Puri Danuwangsa berada dalam satu kompleks. Tak dinyana, maksud hati ingin bertemu Pangeran Suwarga, dia malah bertemu Raden Ranggasena. Purbajaya dituduh melakukan serangan gelap ke Puri Danuwangsa. Untuk menepis tudingan ini, tentu dia harus berterus terang tentang tujuan sebenarnya. Hal ini jelas tidak mungkin karena Pangeran Arya Damar tidak akan suka mendengarnya.
"Saya tidak sengaja memasuki puri itu dan di sana terjadi kesalahpahaman dengan Raden Ranggasena," tutur Purbajaya berbohong.
Pangeran Arya Damar tidak mendesak. Purbajaya tidak tahu apakah Pangeran Arya Damar menyadari kebohongannya atau tidak. Hal yang jelas, pangeran itu mengatakan bahwa dirinya tidak senang jika orang-orangnya keluyuran ke puri orang lain.
"Tanpa sepengetahuanku, kau tidak boleh meninggalkan puri ini," kata Pangeran Arya Damar dengan nada memerintah.
"Saya patut dihukum. Hanya karena kesembronoan saya, Nyimas Waningyun menjadi korban," Purbajaya berkata penuh sesal sambil menunduk lesu.
Namun, Pangeran Arya Damar hanya tersenyum tipis. Senyum itu penuh misteri.