Halo!

Kemelut Di Cakrabuana - Chapter 14

Memuat...
Kemelut Di Cakrabuana

Chapter 14

Ada apa di balik senyum ini? Ini merupakan kejadian besar bagi Purbajaya. Besar dan membuat nestapa, namun anehnya peristiwa ini tidak diketahui umum. Peristiwa "penyerbuan gelap" yang pernah dilakukan Purbajaya tidak menjadi perbincangan. Malah yang ramai dibicarakan adalah pertalian jodoh antara Raden Ranggasena dan Nyimas Waningyun. Berbagai komentar dan pendapat bermunculan, namun yang paling umum mengatakan bahwa akan ada pengaruh kekuatan baru di Istana Pakungwati. Para pengamat beranggapan, gabungan Pangeran Arya Damar dan Pangeran Danuwangsa adalah sebuah kekuatan baru.

Jika demikian, tentu sebelumnya ada sebuah kekuatan lama. Siapakah dia? Ternyata yang dimaksud kekuatan lama adalah Pangeran Suwarga. Semakin lama Purbajaya mengamati keadaan di lingkungan puri, semakin terasa bahwa memang ada semacam perebutan pengaruh. Pada dasarnya terdapat beberapa pangeran yang menginginkan kepercayaan dari penguasa Pakungwati.

Tahun-tahun belakangan ini, sesungguhnya Nagri Carbon dalam keadaan lemah. Demak sebagai negeri pendukung utama Cirebon, sesungguhnya sudah lama kehilangan karisma. Kekuatannya menurun sebab kerap diganggu pertikaian di dalam negeri, yaitu perebutan kekuasaan di antara sesama keluarga istana. Di lain pihak, Kesultanan Banten semakin hari semakin nyata kekuatannya. Wilayah Banten semakin menjadi wilayah perdagangan Muslim yang ramai, melebihi Negri Cirebon yang dulu membebaskan diri dari Pajajaran. Banyak yang khawatir, suatu saat kelak, Banten menjadi kekuatan tersendiri dan memisahkan pula dari Cirebon.

Beberapa bangsawan Carbon ada yang tidak puas dengan keadaan seperti ini. Maka, dengan berbagai cara, mereka ingin menjadikan diri sebagai kepercayaan pihak penguasa dan dengan inisiatifnya sendiri ingin berusaha mengembalikan kejayaan kehidupan militer Cirebon sebagaimana sediakala. Mereka berpendapat bahwa kekuatan sebuah negara terletak pada kekuatan militernya. Jika militer kuat, maka negara pun kuat. Itulah sebabnya, beberapa bangsawan Carbon atau Cirebon berusaha ingin mendapatkan kepercayaan dalam memegang kendali militer. Ada pepatah mengatakan, barangsiapa menguasai militer, dialah menguasai negara. Jadi, tidak heran banyak bangsawan ingin berkecimpung dalam kehidupan kewiraan (militer).

Sekarang, kekuatan prajurit Carbon boleh dikatakan dikuasai oleh tiga orang: Pangeran Suwarga, Pangeran Danuwangsa, dan Pangeran Arya Damar. Namun, yang dipercaya sebagai pengendali utama dengan jabatan hulu jurit panglima adalah Pangeran Suwarga. Dua orang lainnya bertindak sebagai pembantu. Pangeran Danuwangsa sebagai pengendali keamanan dalam negeri dan Pangeran Arya Damar bertindak sebagai pengendali keamanan di luar.

Pangeran Arya Damar merupakan perwira tangguh yang sudah banyak makan asam-garam pertempuran. Puluhan tahun ia berhasil melumpuhkan dan merebut beberapa wilayah utara yang tadinya dikuasai Pajajaran. Bahkan ketika beberapa pelabuhan penting milik Pajajaran direbut Carbon, Pangeran Arya Damar adalah perwira andal yang banyak jasanya. Ia memiliki peranan penting dalam menyukseskan berbagai penyerbuan. Karena berbagai kesuksesan itu, maka banyak orang menduga bahwa pada akhirnya dialah yang akan menjadi orang terdekat dengan Kangjeng Susuhunan Pakungwati, Sang Susuhunan Jati.

Namun belakangan, ramalan itu tidak begitu tepat. Buktinya, pengendali utama kekuatan militer setelah Kangjeng Susuhunan mendekati uzur adalah Pangeran Suwarga, seorang bangsawan yang sebelumnya tidak pernah disebut-sebut. Mengapa hal itu bisa terjadi, orang tidak pernah mempertanyakannya, tidak juga Pangeran Arya Damar sendiri. Semua orang maklum dan percaya bahwa Kangjeng Susuhunan selalu memikirkan yang terbaik bagi negeri beserta keselamatannya.

Pangeran Arya Damar memang tetap mengabdi pada jabatan yang dipercayakan kepadanya, kendati akhir-akhir ini terlihat sedang membuat gerakan. Gerakan yang paling kentara adalah usaha penggabungan kekuatan dengan Pangeran Danuwangsa. Dengan adanya rencana hubungan besan, kedua pengamat memperkirakan kedua pangeran ini berusaha menjalin kerja sama. Kerja sama dalam hal apa, tidak pernah ada yang tahu. Hanya saja yang patut diperhatikan, baik Pangeran Arya Damar maupun Pangeran Danuwangsa punya hubungan yang kurang begitu mesra dengan Pangeran Suwarga. Menurut kabar, kendati mereka tidak pernah bertentangan, tapi sesungguhnya berbagai kebijakan yang dikeluarkan oleh Pangeran Suwarga kurang mendapatkan sambutan penuh dari dua pembantunya.

"Suwarga itu kurang terampil dalam mengendalikan prajurit sehingga kekuatan yang kita miliki kurang berperan dalam mempertahankan keberadaan negeri," kata Pangeran Arya Damar dalam sebuah perbincangan di paseban (bangsal tempat pertemuan penting).

Hari itu Pangeran Arya Damar duduk berhadapan dengan para pembantu dekatnya, yaitu Ki Aspahar, Ki Aliman, Ki Marsonah, dan Ki Albani. Sementara Purbajaya duduk di belakang keempat perwira itu.

"Suwarga terlalu lemah dalam menghadapi musuh. Akibatnya, musuh punya peluang untuk memperkuat kembali posisinya," kata Pangeran Arya Damar. Sudah berkali-kali Purbajaya mendengar keluhan ini. Menurut Pangeran Arya Damar, musuh kini semakin punya peluang untuk memperkuat diri hanya karena Carbon kurang menekan. Yang dimaksud musuh di sini adalah Pajajaran. Kata Pangeran Arya Damar, Pajajaran sesungguhnya cenderung lemah. Tapi karena oleh Carbon tetap dibiarkan, maka Pajajaran tetap berdiri.

"Tapi pada akhirnya, kita tidak perlu mencari siapa salah siapa benar. Yang penting, Carbon memiliki keberadaannya seperti semula. Kalau ada rekan kita yang lemah, harus kita tutup dengan kekuatan yang kita miliki. Itulah sebabnya, sudah sejak dulu aku rencanakan untuk menyerang Pajajaran," kata Arya Damar. Ketika mengatakan kalimat terakhir mengenai Pajajaran, ia ucapkan dengan nada berapi-api.

"Saya sebenarnya sudah tidak sabar untuk memulainya," tutur Ki Aliman. "Sudah bertahun-tahun kami hanya berlatih dan berlatih. Ibarat mata pisau, kami ini hanya diasah melulu tanpa dipergunakan. Kalau terlalu banyak diasah, suatu saat logam akan menipis," ungkapnya membuat perbandingan.

"Atau bisa juga suatu saat akan kembali berkarat bila kita bosan mengasahnya," sambung Ki Aspahar. Pangeran Arya Damar mengangguk-angguk mengiyakan. Purbajaya hanya tersenyum tipis. Ia ingat hari-hari lalu, betapa Ki Aliman sebenarnya hanya besar mulut saja. Begitulah kata Paman Jayaratu, tong kosong nyaring bunyinya. Ki Aliman mungkin lupa bahwa dirinya yang berpangkat perwira pernah jatuh-bangun olehnya yang berstatus calon perwira dan bahkan sekarang di sini hanya ditempatkan sebagai prajurit saja. Barangkali bukan karena Ki Aliman terlalu bodoh. Ia kecolongan karena kesombongannya saja.

"Justru pertemuan ini untuk memulai rencana yang telah lama kita simpan," kata Pangeran Arya Damar menjelaskan. Dan kembali pangeran itu mengutarakan gagasannya untuk melakukan serangan ke wilayah Pajajaran. "Maksudku, kita akan berusaha melumpuhkan kekuatan-kekuatan yang selama ini menghambat perjalanan kita," tuturnya.

Beberapa waktu lalu Pangeran Arya Damar memang pernah berkata akan mengirimkan pasukan secara diam-diam ke puncak Gunung Cakrabuana. Di puncak itu dikabarkan tersembunyi tombak pusaka bernama Cuntangbarang, mengambil nama seorang perwira sakti asal Karatuan Talaga. Tombak itu memang dulunya benda pusaka milik Karatuan Talaga. Banyak orang berupaya menguasai tombak itu. Salah satunya adalah seorang bekas perwira Pajajaran bernama Ki Darma.

"Kita harus berhasil membunuh orang itu!" kata Pangeran Arya Damar mengepal tinjunya.

"Haruskah kita bunuh dia, Pangeran?" tanya Purbajaya tiba-tiba.

"Sudah aku katakan, dia adalah kerikil tajam yang bisa menghalangi kelancaran perjalanan kita ke pusat kekuatan Pajajaran. Lain daripada itu, kita pun mesti berupaya menyelamatkan pusaka Cuntangbarang yang sudah jelas-jelas milik Carbon karena Talaga telah berpihak pada kita. Sekali mengayuh dayung, dua tiga pulau terlampaui. Itulah sebabnya, perjalanan ke Cakrabuana harus dilakukan," kata Pangeran Arya Damar, matanya berkeliling menatap ke semua orang. Dan semua orang mengangguk-angguk, kecuali Purbajaya.

Pemuda itu merasakan, semakin hari semakin nyata betapa ganjilnya jalan pikiran Arya Damar. Purbajaya memang mengerti, pangeran ini dulunya perwira andal yang banyak makan asam-garamnya pertempuran. Purbajaya pun mengerti bahwa Pangeran Arya Damar adalah juga perwira militer yang menguasai banyak prajurit. Namun Pangeran Arya Damar sebetulnya masih punya atasan. Artinya, wewenangnya sebetulnya tetap terbatas. Mana mungkin sekarang punya inisiatif sendiri untuk melakukan operasi militer tanpa persetujuan bahkan sepengetahuan Pangeran Suwarga?

"Purbajaya, camkan, ini adalah tugas berat pertama bagimu sebelum menjalankan misi sesungguhnya," kata Pangeran Arya Damar membuyarkan pikiran pemuda itu. Purbajaya hanya menunduk dan mengangguk kecil. Tugas pertama sebelum menjalankan misi sesungguhnya? Yang ia ingat, misi sesungguhnya baginya adalah melakukan penyusupan ke wilayah Pajajaran dan mempengaruhi sendi-sendi kekuatan didayo (ibukota) Pakuan untuk berkiblat ke Carbon. Tidak ada penekanan tugas-tugas kewiraan, misalnya menyerang Pakuan. Paling tidak, itu yang pertama kali disebutkan Paman Jayaratu. Namun pada kenyataannya, tugas pertama baginya adalah bergabung dengan sebuah pasukan rahasia untuk melakukan pertempuran. Benarkah ini tugas negara dan benarkah Pangeran Arya Damar punya wewenang untuk melakukan hal itu?

"Pangeran, apakah yang Pangeran pikirkan sudah benar-benar matang?" tanya Purbajaya tiba-tiba. Semua orang memandang kaget kepada pemuda itu, tidak terkecuali Pangeran Arya Damar.

"Aku tidak mengerti pertanyaanmu, anak muda!" jawab Pangeran Arya Damar, dan nampak tersinggung atas pertanyaan Purbajaya ini.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment