Halo!

Kemelut Di Cakrabuana - Chapter 15

Memuat...
Kemelut Di Cakrabuana

Chapter 15

"Tidakkah sebaiknya rencana ini Pangeran rundingkan dulu dengan Pangeran Suwarga sebagai hulujurit (panglima) di Negeri Carbon?" tanya lagi Purbajaya semakin berani dan semakin mengagetkan semua orang.

"Hati-hati bicaramu, anak muda," dengus Ki Aliman dengan wajah merah padam saking tersinggungnya dengan ucapan Purbajaya.

"Bicaramu sungguh kurang ajar, Purba!" Ki Aspahar malah sudah mendelik dan membentak.

"Dasar orang Pajajaran. Kalau aku tahu kau masih berkiblat ke sana, seharusnya sejak dulu aku bunuh engkau!" teriak pula Ki Albani geram.

Malah orang tua ini sudah beranjak dari duduknya dan berniat menyerang Purbajaya.

Pangeran Arya Damar cepat mencegah dan menyuruh Ki Albani duduk dengan tenang.

"Lihatlah Purbajaya, betapa berbahayanya ucapanmu barusan," tutur Pangeran Arya Damar bernada tenang namun alisnya berkerut tanda tak senang.

"Saya hanya bicara apa adanya, Pangeran," Purbajaya menyembah hormat.

"Banyak orang berbicara bahwa hidupnya berjuang untuk Negeri Carbon. Namun pada kenyataannya mereka bertindak keliru sehingga hanya kehancuran yang didapat. Engkau harus paham anak muda, sejak dulu Carbon selalu berada di bawah bayang-bayang kekuatan negeri lain. Kekuatan Carbon selalu bergantung kepada Demak. Dan hingga pada suatu saat Demak mengalami kemunduran, maka Carbon pun ikut mundur. Salah siapakah ini? Ini karena kesalahan orang yang berada di Carbon sendiri. Aku yang selama ini selalu berjuang untuk kepentingan dan kebesaran Carbon, tak mau disalahkan oleh generasi sesudah aku. Carbon harus bangkit. Dan untuk itu harus berani mengubah pola pikir dan mengoreksi kekeliruan selama ini," tutur Pangeran Arya Damar panjang lebar dengan suara menggebu.

"Dengan jalan membuka peperangankah upaya mengubah pola pikir itu, Pangeran?" tanya Purbajaya penasaran.

"Gusti Pangeran, izinkan saya mengajari anak dungu ini!" Ki Aliman tak kerasan dan langsung berdiri untuk kemudian menerjang ke arah Purbajaya yang masih duduk bersila.

Ki Aliman menyodok lurus ke depan, sedikit menyuruk ke bawah pusar Purbajaya. Maksudnya tentu ingin menyerang bagian paling lemah dari tubuh pemuda itu.

Purbajaya sudah barang tentu tak mau dicederai begitu saja. Dia segera melemparkan tubuhnya ke belakang, itu pun sambil memutar kaki kanannya sebagai perlindungan.

"Berhenti!" teriak Pangeran Arya Damar.

"Tapi dia jelas pengkhianat. Hatinya masih berada di Pajajaran. Kalau tidak begitu, mengapa dia tak setuju kita menggempur Pajajaran?" Ki Aliman bicara sambil dadanya kembang-kempis pertanda menahan kemarahan.

"Purbajaya, betulkah hatimu kembali ke Pajajaran?" Pangeran Arya Damar matanya menyorot tajam ke arah pemuda itu.

Ditekan dengan pertanyaan seperti itu, hati Purbajaya luluh-lantak. Ini adalah serangan yang melumpuhkan hatinya.

Selama ini dia selalu rendah diri hanya karena dia ditempatkan sebagai anak musuh Carbon yang dipungut dari arena peperangan. Sedikit saja dia berpikiran aneh-aneh, maka orang selalu mengaitkan dirinya dengan pengkhianatan. Itulah sebabnya, Purbajaya terkejut dengan tudingan barusan. Di antara sedih dan kecewa tersembul rasa khawatir yang sangat.

"Saya adalah orang Carbon, Gusti ..." gumam Purbajaya sedih.

"Kalau begitu, berpikirlah seperti aku," ujar Pangeran Arya Damar pendek. "Duduklah engkau ..." kata pangeran itu lagi.

Purbajaya kembali duduk, demikian pun Ki Aliman. Perundingan kembali dilanjutkan, sepertinya tak pernah terjadi peristiwa panas yang mengawalinya.

Keputusan Pangeran Arya Damar sudah mantap. Bulan depan akan mengirimkan pasukan rahasia, dipimpin oleh keempat perwira Puri Arya Damar. Mereka akan memimpin belasan prajurit tangguh menuju puncak Gunung Cakrabuana.

Rencana ini demikian rahasia. Namun begitu, bukan berarti tak diketahui. Paling tidak, perjalanan ke wilayah puncak Cakrabuana ini diketahui dan direstui Pangeran Suwarga.

Pangeran Arya Damar memang cerdik. Perjalanan ini dilaporkannya sebagai pemeriksaan rutin ke wilayah bawahan Carbon.

Cakrabuana adalah gunung tinggi yang puncaknya selalu diselimuti kabut. Gunung itu oleh sementara orang sering dikeramatkan, berada di wilayah Karatuan Talaga. Seperti sudah diketahui, wilayah Karatuan Talaga yang dulunya masuk wilayah Pajajaran, sejak tahun 1530 Masehi telah bergabung kepada Carbon. Untuk memantapkan pembinaan agar keamanan tetap terjamin, kontrol dari pusat setiap waktu tertentu selalu dilakukan. Jadi tidak ada hal yang aneh bila kini Pangeran Arya Damar mengirimkan pasukan kecil ke wilayah itu. Dan Pangeran Suwarga pun sebagai pucuk pimpinan militer tertinggi, tidak ada alasan untuk menolaknya.

Tapi malam hari sebelum berangkat, Purbajaya tidak bisa tidur. Akhir-akhir ini memang banyak pikiran bergayut di benaknya. Purbajaya merasa bingung akan hidupnya, mengapa jadi begini? Selama tinggal bersama Paman Jayaratu, Purbajaya tidak pernah punya persoalan hidup. Namun kini setelah bergabung dengan Pangeran Arya Damar, masalah bermunculan.

Pertama memasuki puri, Purbajaya sudah dikejutkan oleh kenyataan bahwa dirinya bukan orang Carbon. Dia dipungut dari sebuah kemelut pertempuran di wilayah Pajajaran, setelah itu diurus sebagai anak pungut oleh Carbon. Karena kedudukan seperti inilah maka usaha pengabdian pemuda itu terhadap negara lebih menyerupai utang budi. Orang lain tidak menganggap pengabdian pemuda itu sebagai rasa cinta, melainkan sebagai budi yang harus dibalas. Ini yang membuat dirinya merasa tidak enak dan merasa kedudukannya berbeda dengan yang lain. Yang lebih sedih dari itu, orang mudah curiga kepadanya. Seperti kejadian kemarin dulu ketika dia tidak setuju ada semacam penyerbuan kepada orang-orang Pajajaran, maka semua orang mudah menudingnya sebagai pengkhianat berkepala dua. Penyakit rendah diri melanda hatinya karena kedudukannya ini.

Dalam hal bercinta, perasaan ini pun terasa amat mengganggunya. Dia begitu rendah diri bila berhadapan dengan Nyimas Waningyun. Benar, sesekali bisa bercanda. Tapi bila ingat akan kedudukannya, kembali hatinya tersiksa. Nyimas Waningyun adalah keluarga bangsawan sedangkan dirinya hanya prajurit dari keluarga yang tidak diketahui asal-usulnya. Kalaupun pernah disebutkan sebagai keluarga bangsawan, hanyalah bangsawan Pajajaran yang sulit dilacak kebenarannya. Bersaing dengan kalangan bangsawan Carbon mustahil bisa menang. Itulah sebabnya, walaupun Raden Ranggasena merupakan pemuda bengal, angkuh dan sombong namun Purbajaya tidak akan sanggup berebut simpati. Di saat terjadi pertalian jodoh sesama keluarga bangsawan, Purbajaya tidak bisa berbuat apa-apa. Padahal Purbajaya amat mendambakan hidup bersama Nyimas Waningyun. Ini mungkin mimpi.

"Harapan semakin jauh ..." keluhnya.

Purbajaya segera duduk dari tidur telentangnya. Dia bahkan keluar dari kamarnya dan pergi berjalan-jalan menyusuri kompleks kesatriaan (asrama prajurit). Pemuda itu melangkah pelan di atas jalan berubin yang tampak lengang dan sepi.

Ada rembulan melayang di atas awan. Sesekali cahayanya redup lantaran sang awan terlalu tebal, namun sesekali cahayanya bersinar terang membuat alam sekeliling menjadi benderang. Namun, baik ketika dalam keadaan terang, maupun redup, semuanya tidak mengubah hati Purbajaya yang sedang gulana.

Purbajaya terus berjalan dan tidak terasa langkahnya menuju luar kompleks. Sebetulnya di pintu depan ada dua orang penjaga. Namun entah mengapa, Purbajaya lolos dari perhatian mereka. Barangkali langkah Purbajaya terlalu halus, atau bisa juga lantaran dua penjaga itu terkantuk-kantuk dalam tugas jaganya. Ini sudah larut malam dan udara pun terasa dingin. Sepi dan dingin akan membuat orang mudah terbuai kantuk, demikian pula yang tengah bertugas.

Sekarang Purbajaya lewat ke benteng keputren. Hatinya langsung ingat Nyimas Waningyun. Sedang apa Nyimas di tengah sepinya malam ini? Purbajaya merunduk. Mungkin hanya sementara saja gadis itu tinggal dalam sepi. Toh tidak berapa lama lagi dia akan segera punya pengayom, punya pelindung dan tidak akan merasakan arti sepi.

"Duh, Nyimas ... Mengapa bukan aku yang jadi pelindungmu?" keluhnya seorang diri.

Keesokan subuhnya, Purbajaya sudah akan berangkat bersama pasukan. Entah kapan akan kembali. Kalau nasib buruk, barangkali juga akan mati dan tidak kembali. Kalau begitu, maka putuslah harapannya bertemu Nyimas Waningyun. Padahal ingin sekali, di saat-saat akhir gadis itu berumah tangga, dia ingin menatapnya dengan lama.

"Duh, Nyimas ... betapa pilu hatiku. Engkau menggodaku dan engkau membuatku nestapa ..." keluhnya berkali-kali.

Kerinduan begitu menerpa dirinya. Itulah sebabnya, di saat punya kesempatan, dengan nekatnya dia menyelundup masuk keputren. Memang mustahil bisa bertemu Nyimas Waningyun sebab suasana masih malam. Namun paling tidak, dia bisa menatap bangku kecil di bawah pohon taman yang biasa diduduki gadis ayu itu.

Purbajaya mendekati tempat itu. Purbajaya menatap ke arah bangku kecil sebab di sana terlihat ada Nyimas Waningyun tengah merenung. Mula-mula Purbajaya terkejut setengah mati, namun belakangan bibirnya tersenyum tipis. Purbajaya merasa, karena dirinya telah begitu tergila-gila dan selalu membayangkan tubuh Nyimas Waningyun, maka ke mana pun dia memandang, yang tampak selalu saja gadis itu. Demikian pun malam itu. Ada bayangan gadis itu. Ya, Nyimas Waningyun duduk merenung di bangku kecil. Purbajaya sadar, ini hanya tipuan mata.

Namun demikian, pemuda itu tetap gembira. Biarlah, tidak dengan orangnya, dengan bayangannya pun sudah terpuaskan, demikian bisik hatinya. Tipuan-tipuan pandang sudah menjadi hal biasa yang menghibur dirinya. Purbajaya tersenyum dalam kebahagiaan semu. Sekarang ada bayangan gadis itu. Maka matanya tidak boleh dikejapkan, takut bayangan manis itu segera hilang. Tapi Purbajaya tidak kuat matanya terus melotot. Dengan jengkelnya dia terpaksa berkedip. Hanya aneh sekali, bayangan itu tidak mau hilang.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment