Chapter 16
Bulan kembali memisahkan diri dari himpitan awan, kini cahayanya cemerlang menerangi alam sekeliling.
Purbajaya terpana, nyatanya bayangan Nyimas Waningyun tak mau hilang dari pandangannya.
Purbajaya semakin terpana sebab tubuh indah itu semakin tampak nyata.
Sekarang rambut ikal gadis itu malah terlihat tergerai dan berombak terkena tiupan angin malam.
Hidung kecil mancung gadis itu tampak nyata ketika dia menoleh ke pinggir.
"Terima kasih, sang rembulan, telah membuat hatiku amat bahagia..." kata Purbajaya tiba-tiba.
Tapi Purbajaya terkejut sebab tubuh gemulai itu segera berdiri dan berbalik menghadap ke arahnya.
"Purbajaya!" terdengar pekik merdu dari arah sana.
"Nyimas..." bisik Purbajaya dengan suara bergetar.
Mula-mula dia berdiri mematung.
Tubuh Purbajaya tak mau bergerak.
Takut ini masih berupa tipuan.
Tapi ketika langkah gadis itu bergerak menuju kepadanya, Purbajaya pun mulai berani melangkah.
Dan akhirnya, baik Purbajaya maupun gadis itu, sama-sama berlari saling mendekat.
Sampai pada suatu saat tubuh mereka bertubrukan, berpelukan, dan sulit dipisahkan.
"Purbajaya..." "Nyimas... Ah, Nyimas!" Lama mereka berpelukan dalam diam.
Rembulan pun untuk sementara seperti malu menampakkan diri dan sembunyi di balik awan.
Lain lagi dengan sepasang muda-mudi itu.
Kalau bulan merasa malu dan sembunyi di balik awan, maka remang cuaca malah dijadikannya sebagai kesempatan untuk saling melepas rindu.
Tubuh dua orang itu saling merapat seperti tak ingin dilepas lagi.
Beberapa kali mereka saling pandang, dan beberapa kali pula mereka saling dekap.
"Purbajaya..." "Nyimas..." Mereka saling berdekapan lagi untuk beberapa lama.
"Nyimas... benarkah engkau ini ada di hadapanku?" bisik Purbajaya dengan suara bergetar.
"Aku malah yang bertanya, benar-benarkah engkau yang berdiri di hadapanku?" Nyimas Waningyun balik bertanya.
Tak sadar Purbajaya menarik tangan gadis itu.
Mula-mula dipegangnya halus, lama-lama diremasnya dengan cukup keras sehingga Nyimas Waningyun meringis kesakitan.
"Aduh, kau sakit, Nyimas! Aku khawatir, kau hanyalah bayangan semu semata," tutur Purbajaya masih menggenggam tangan gadis itu.
"Ya, Tuhan, engkau benar-benar Nyimasku. Betapa halus jari-jari tanganmu, betapa hangat telapak tanganmu. Nyimas, mengapa engkau malam-malam berada di sini?" Purbajaya nyerocos bicara sampai napasnya tersengal-sengal tanpa henti.
"Aku malah yang harus tanya, mengapa engkau malam-malam berada di sini?" untuk kesekian kalinya gadis itu malah yang balik bertanya.
Dia pun balik meremas tangan Purbajaya. "Maafkan aku, Nyimas. Ini semua karena aku ingat engkau..." bisik Purbajaya sejujurnya.
"Aku pun lama menyepi dalam dingin ini karena ingat engkau..." jawab gadis itu dengan berani.
Dua pasang mata saling berpandangan, pegangan tangan masing-masing pun semakin kuat.
Dan tak bisa dibendung, keduanya pun akhirnya larut dalam pelukan.
Kuat, tak habis-habisnya.
Rembulan masih sembunyi.
"Aku menerima kabar, sebentar subuh engkau sudah akan berangkat tugas," bisik gadis itu sambil pipinya bersandar di dada Purbajaya yang bidang.
"Aku datang ke sini memang mau pamit. Entah kapan bisa kembali," kata Purbajaya setengah mengeluh.
"Wilayah Keratuan Talaga tak begitu jauh. Sebentar kemudian kau pasti kembali. Yang terpenting dari semuanya, kau mesti ingat aku," kata gadis itu manja menyandarkan pipinya di dada yang bidang.
"Aku butuh doamu, dan aku pun butuh cintamu," bisik Purbajaya.
Tanpa ragu-ragu dikecupnya kening gadis itu.
"Akan aku berikan cintaku sepenuhnya padamu..." bisik Nyimas Waningyun lirih.
Tangannya semakin erat memeluk dan melingkar di punggung Purbajaya.
Ada desah napas memburu dari gadis itu.
Kemudian terdengar pula keluhan lirih dan sedikit merintih.
Purbajaya tersentak ketika merasakan hal ini.
Dengan serta-merta dia melepaskan rangkulan gadis itu.
Purbajaya mencoba menjauh dan memberi jarak terhadap gadis itu.
Kini mereka hanya saling berpegangan tangan saja.
Untuk sementara, Nyimas Waningyun kecewa mengapa Purbajaya melepaskan kesempatan ini.
Dia menatap nanar kepada pemuda pujaannya.
"Jangan berbuat itu, Nyimas..." kata Purbajaya seraya mengelus pergelangan tangan gadis itu.
"Purba, bukankah engkau cinta padaku? Percayalah, aku pun cinta engkau," kata Nyimas Waningyun, masih heran dengan sikap Purbajaya.
Purbajaya menggelengkan kepala beberapa kali.
"Tak cintakah engkau kepadaku?" "Bukan begitu, Nyimas."
"Kalau ada orang yang menyuruhku mati demi cintaku padamu, maka akan kulakukan. Tapi menjamah kesucianmu, itu soal lain. Jangan anggap cintaku hanya sebatas berahi, Nyimas..." Purbajaya berkata sungguh-sungguh.
Tampak ada garis-garis kecewa di wajah gadis itu.
"Sungguh, Nyimas, aku cinta padamu..." bisik Purbajaya sambil kembali meremas jari-jemari gadis itu.
"Tapi kesempatanmu hanya itu, Purba..." gumam gadis itu sambil menunduk lesu.
Purbajaya menghela napas panjang.
Dia mengerti maksud gadis itu.
"Aku telah dijodohkan kepada Ranggasena..." keluh Nyimas Waningyun.
"Ya... aku pun tahu." "Tapi aku tak suka dia."
"Ranggasena sifatnya kekanak-kanakan. Tolonglah, Purba, aku tak berdaya menepisnya..." kembali Nyimas Waningyun mengeluh.
Kini bahkan ada lelehan air mata di pipinya.
"Tidakkah kau mencoba menolaknya?" tanya Purbajaya.
Nyimas Waningyun menghela napas.
Kini kedua orang muda itu duduk berdampingan di bangku kecil sambil mengawasi ikan-ikan berenang di kolam.
Ada satu ikan dikejar-kejar sesamanya, namun ada juga ikan yang kesepian sendiri di sudut kolam.
"Ini bukan sekadar perjodohan. Kami mesti bersatu karena orang tua kami menginginkan persatuan di antara mereka."
"Ya, aku pun tahu, ini hanyalah kepentingan para orang tua kalian..." kata Purbajaya lagi.
"Itu pun tidak persis begitu, sebab keluarga kami sebetulnya tidak pernah bersahabat."
"Setiap saat mereka hanya saling curiga," kata Nyimas Waningyun.
"Jadi, untuk apa perjodohan ini?" "Mereka harus bersatu demi kepentingan politik negeri ini," jawab gadis itu.
Purbajaya terpekur.
Ini adalah berita yang kesekian kalinya.
Kali ini datang dari mulut Nyimas Waningyun.
Demi kepentingan politik, perasaan orang dikorbankan.
"Maukah Nyimas menungguku?" tanya Purbajaya tiba-tiba.
"Menunggu apa?" "Aku akan berusaha memperjuangkan nasib kita."
Nyimas Waningyun hanya menatap lemah, sepertinya dia sangsi akan ucapan Purbajaya.
"Engkau ingin memberikan kesucianmu karena cintamu padaku. Maka tekadku pasti ingin memperjuangkan nasib kita," kata Purbajaya bersemangat.
Tak ada anggukan pasti dari gadis itu, kecuali menjatuhkan kepalanya lagi pada dada Purbajaya.
Sepertinya gadis itu tetap merasa bahwa hanya ini peluang bagi mereka berdua.
Kini malah terdengar suara gadis itu menangis sesenggukan.
Purbajaya kembali dari kaputren sambil melompat-lompat di atas kutha (benteng) dengan amat hati-hati.
Baru belakangan ini saja dia sadar, betapa berbahayanya bila ada orang yang memergoki perbuatannya ini.
Memasuki kaputren dan apalagi mengencani putri penguasa puri adalah sebuah pelanggaran berat.
Bila diketahui penghuni puri, barangkali hukumannya mati.
Betapa tidak, sebab sebenarnya dia telah berani mengotori tempat ini.
Nyimas Waningyun adalah gadis pingitan sebab sebentar lagi akan menjadi jodoh Raden Ranggasena.
Betapa terhinanya keluarga Pangeran Danuwangsa kalau diketahui calon menantunya dikotori oleh lelaki yang bukan haknya.
Barangkali akan terjadi percekcokan dengan pemilik puri ini.
Betapa marahnya Pangeran Arya Damar kalau yang menghina martabatnya ini adalah prajuritnya sendiri.
Purbajaya menyesal, mengapa dia bertindak sembrono seperti ini.
Mencuri masuk ke kaputren dan mengencani Nyimas Waningyun adalah tindakan amat memalukan.
Beruntung, setan tak menggoda lebih dalam, sebab kalau tidak begitu, dirinya sudah terjerumus ke jurang kehinaan.
Ingat Nyimas Waningyun, dia menjadi sedih.
Kalau dilayani, tentu gadis itu telah ternoda.
Purbajaya sedih karena gadis itu punya batin yang lemah.
Purbajaya memang boleh bangga bahwa hatinya tak bertepuk sebelah tangan.
Hanya yang disesalkan, ternyata gadis itu salah dalam menafsirkan cinta.
Padahal bagi Purbajaya, berahi hanyalah satu perangkat kecil dari masalah besar bernama cinta.
Purbajaya berpikir bahwa cinta sebetulnya bukan sekadar masalah berahi.
"Nyimas salah mengerti... salah mengerti..." keluh Purbajaya.
Karena ada dua orang prajurit tengah tugur (meronda), Purbajaya tak berani langsung memasuki gerbang kompleks kesatrian.
Dia harus berjalan memutar menyisir benteng.
Namun benteng ini pun akhirnya memutar ke arah puri yang didiami Pangeran Arya Damar.
Purbajaya harus hati-hati lewat sana, jangan sampai ada orang tahu.
Dia melompati satu benteng dan menyisir kompleks belakang kediaman Pangeran Arya Damar.
Dia berjalan mengendap-endap sebab harus menerobos dan memotong lahan kebun bunga.
Namun sebelum hal itu dilakukan, telinganya mendengar suara dua orang lelaki tengah berdebat.
Walau dengan kata-kata dan kalimat yang diucapkan pelan, Purbajaya bisa hafal siapa yang tengah berdebat.
Hatinya berdebar keras sebab itu adalah suara perdebatan antara Pangeran Arya Damar dan Paman Jayaratu.
"Engkau tak bisa ikut campur urusanku," terdengar suara Pangeran Arya Damar.
"Aku memang tak bisa ikut campur urusanmu, tetapi aku bisa menghalanginya," kata Paman Jayaratu dengan suara tegas.
"Maksudmu, kau akan lapor kepada Pangeran Suwarga?" tanya Pangeran Arya Damar. "Hahaha! Sudah belasan tahun dia tak mau menemuimu, apalagi mempercayai omonganmu," katanya lagi.
"Tentu, aku orang terbuang dari kalangan istana, tetapi tak terbuang dalam mencintai Negeri Carbon. Aku masih mempunyai hak menjaga Carbon dari kehancuran," kata Paman Jayaratu dengan suara pelan tetapi tajam.
Hening sejenak.
Purbajaya tidak tahu apa yang dilakukan kedua orang itu saat tidak saling berbicara.