Chapter 17
Purbajaya tak berani bergerak, apalagi berusaha melongok ke arah tempat kedua orang itu tengah bercakap-cakap.
Baik Paman Jayaratu maupun Pangeran Arya Damar adalah orang-orang pandai dan mungkin akan mudah curiga kepada setiap gerakan asing, bagaimanapun halusnya.
"Rencana-rencanamu membahayakan Carbon, Arya," kata Paman Jayaratu menyebut nama bangsawan itu begitu saja.
"Tidak lebih berbahaya dibandingkan dengan kebijakan Pangeran Suwarga yang memilih diam. Kau harus tahu, Carbon lemah dan kedudukannya selalu berada di bawah Demak hanya karena ada beberapa pejabat Carbon yang tak memiliki ambisi. Kau harus tahu, sebuah kemajuan perlu ambisi," kata Pangeran Arya Damar tak kurang sengitnya dalam mengutarakan pendapat.
"Tapi ambisi membuat orang tergelincir," kata Paman Jayaratu memotong kalimat.
"Tergelincirkah aku?"
"Boleh dibilang, ya!"
"Kau menganggapku tergelincir hanya karena aku berpaling dari Pangeran Suwarga. Sementara itu, kau tak melihat manfaat usahaku dalam mengupayakan keberadaan negeri," sergah Pangeran Arya Damar.
"Justru jalan pikiran ini yang membuat dirimu tergelincir," kembali Paman Jayaratu memotong omongan orang. "Bahwa Carbon tak akan menyerang Pajajaran, itu bukan saja sekadar kebijakan seorang hulujurit bernama Suwarga, melainkan juga sudah jadi kesepakatan Carbon. Semenjak Carbon oleh seluruh para wali (Wali Sanga) diputuskan menjadi puser bumi Islam di Jawa Kulon, maka tak lagi ada kekerasan. Penyebaran agama baru harus dilalui dengan jalan damai tanpa salah satu menekan lainnya dan tanpa salah satu menyakiti lainnya."
"Keliru! Pajajaran harus dihancurkan sebab tak mau masuk Islam!" kata Pangeran Arya Damar tegas.
"Jangan campur adukkan kepentingan agama dan politik. Engkau bertekad menghancurkan Pajajaran bukan karena urusan agama, melainkan karena ambisi politikmu. Sudah sejak lama engkau membayangkan, bila kau berhasil melumpuhkan Pajajaran dan membawanya masuk ke bawah kekuasaan Carbon, maka kau akan dapat bintang. Bintang apakah itu? Aku tak bisa memperkirakannya, sejauh mana kau punya ambisi. Barangkali kau ingin menggeser kedudukan hulujurit, atau bisa juga kau ingin ditempatkan di wilayah Pajajaran dengan jabatan mangkubumi, bahkan lebih tinggi dari itu. Itu hanya kau yang tahu tentang cita-citamu," tutur Paman Jayaratu lagi dengan berani.
Hening sejenak. Kemudian terdengar kekeh kecil Pangeran Arya Damar.
"Engkau orang cerdik. Sebetulnya aku perlu orang-orang sepertimu. Daripada kau hidup terasing dan terlunta-lunta di negeri sendiri, mengapa tidak gabung saja denganku?"
"Aku memang punya keinginan, tapi tak sama dengan ambisimu," gumam Paman Jayaratu.
"Apakah engkau akan terus begini, hidup tak punya pijakan dan masa depan? Ingat, hanya aku yang akan bisa mengangkat kembali derajatmu!" kata Pangeran Arya Damar.
"Hm... Tinggi rendahnya derajat tidak ditentukan oleh tinggal di istana..."
Suasana hening lagi sejenak.
"Sejak lama kita tak pernah punya kesesuaian paham. Padahal kalau kita bersatu, akan merupakan sebuah kekuatan yang dahsyat. Barangkali seluruh Carbon akan dapat kita kuasai!" gumam Pangeran Arya Damar.
"Kau menginginkan hal itu?"
"Mengapa tidak? Untuk kebesaran sebuah negara, semua orang yang merasa memiliki kemampuan harus berupaya menampilkan kemampuannya. Kalau aku merasa memiliki kemampuan untuk memimpin negara, mengapa hal itu tidak aku coba?" kilah Pangeran Arya Damar.
"Omonganmu kian melantur. Sikap-sikap seperti inilah yang tidak dikehendaki oleh Kanjeng Susuhunan Jati. Di mana bila semua orang merasa mampu melakukan sesuatu, maka orang itu akan berusaha untuk duduk paling tinggi dan berjalan paling depan. Itulah sebabnya, Kanjeng Susuhunan Jati pernah berkata kalau mengurus sebuah negeri, maka landasan acuannya adalah agama. Dengan berlandaskan kepada kebenaran agama, maka orang tak akan saling berebut pengaruh dan kekuasaan atau juga saling merasa punya hak karena berdasarkan garis turunan. Betapa melencengnya jalan pikiranmu, Arya..." keluh Paman Jayaratu.
Suasana kembali diam. Dan ketika terdengar ada salah seorang dari mereka berjingkat, maka Purbajaya pun mengambil kesempatan untuk berjingkat. Dengan demikian, gerakannya ketika meninggalkan tempat itu suaranya kurang bisa diikuti orang pandai.
Seusai menyimak obrolan dua orang itu, kian bertambah pula kebingungan di hatinya. Ini sekaligus telah menambah nilai misteri yang ada di lingkungan istana. Dan Paman Jayaratu adalah orang yang paling diselimuti kabut misteri. Ya, mendengar obrolan barusan, siapakah sebenarnya Paman Jayaratu ini? Bila bertemu dengan Pangeran Arya Damar di muka umum, Paman Jayaratu nampak sekali rasa hormatnya, seperti layaknya hormat seorang hamba sahaya kepada majikannya, atau hormat dari seorang yang derajatnya rendah kepada orang yang memiliki derajat jauh lebih tinggi.
Namun peristiwa malam ini di kebun belakang puri Arya Damar telah membuktikan lain. Mendengar nada suara dan tutur kata Paman Jayaratu kepada Pangeran Arya Damar, amat menunjukkan bahwa derajat mereka sebenarnya sama. Atau paling tidak, Paman Jayaratu merasa bahwa derajatnya tidak lebih rendah dari bangsawan bernama Pangeran Arya Damar itu. Adapun Pangeran Arya Damar, dia pun amat kentara kalau dirinya sebetulnya segan kepada Paman Jayaratu.
Sungguh hebat, sungguh ajaib, dan sungguh misterius. Sebenarnya bukan orang sembarangan. Barangkali Paman Jayaratu dulunya pejabat penting juga. Hanya entah karena apa orang tua itu akhirnya mundur dari istana. Purbajaya jadi ingin sekali mengorek dan menguak tabir misteri ini. Maukah Paman Jayaratu membeberkan rahasia ini kepadanya? Orang tua itu serba merahasiakan dirinya. Sudah barang tentu yang namanya rahasia tak boleh diketahui siapa pun. Kalau Purbajaya tanya langsung, belum tentu Paman Jayaratu mau membeberkannya.
Dan apa pula kepentingan dirinya untuk mengetahui rahasia Paman Jayaratu? Yang patut disimak adalah isi obrolan mereka. Dari hasil pendengaran Purbajaya, terdapat kesan bahwa rencana yang dibuat Pangeran Arya Damar sebetulnya menyerempet bahaya. Boleh dikata, itu adalah sebuah rencana liar yang tak diketahui negara. Berbahayakah kalau Purbajaya memaksakan diri terlibat di dalamnya?
Hati pemuda itu akhirnya merasa muak dengan urusan pangeran ini. Ingin sekali dia kabur dari puri ini dan kembali berkumpul dengan Paman Jayaratu. Tapi kalau tiba-tiba dia mengundurkan diri, tentu akan membuat kecurigaan berbagai pihak. Pangeran Arya Damar akan marah dan curiga. Purbajaya sulit mengajukan alasan perihal kesaksiannya tadi malam. Kalau hal ini diketahui, bahaya lebih besar akan mengancam nyawanya.
Maka dengan alasan apa dia bisa mengundurkan diri dari keterlibatan jaring pangeran itu? Bukankah ketika dia mempertanyakan kepentingan menyerang Cakrabuana pun semua orang lantas curiga kalau dirinya masih berkiblat ke Pajajaran? Belum lagi kalau memikirkan Nyimas Waningyun. Kalau dia menjauhkan diri dari rencana Pangeran Arya Damar, itu berarti dirinya memutuskan hubungannya dengan gadis itu, padahal dia tengah memiliki rencana besar dengan gadis itu.
Terang-terangan, di benaknya terpikir untuk menggagalkan perjodohan Nyimas Waningyun dengan Raden Ranggasena. Tidak dengan jalan kekerasan, melainkan dengan menyodorkan logika yang sekiranya bisa terpikir oleh Pangeran Arya Damar. Namun untuk meyakinkan hal ini, hambatannya sungguh berat. Selama ini Pangeran Arya Damar tak pernah menghargai jalan pikirannya. Perlu satu hal agar dirinya diperhatikan, yaitu membuat Pangeran Arya Damar percaya dan menghargainya. Kalau dia berjasa, maka Pangeran Arya Damar akan mau melirik padanya. Salah satu peluang untuk mendapatkan kepercayaan adalah keikutsertaan dirinya dalam rencana perjalanan ke Cakrabuana. Purbajaya harus sanggup menampilkan kesungguhannya dalam mengikuti perjalanan ini.
"Aku tak sanggup kehilanganmu, Nyimas. Makanya, apa pun yang terjadi, aku sudah tak mau meninggalkan puri ini..." gumam Purbajaya.
Pemuda ini tidur dengan hati gundah. Mungkin karena terlalu banyak yang menjadi pikirannya, akibatnya pada subuh harinya dia terlambat bangun, sehingga pintu kamarnya perlu digedor orang.
"Purba, cepat bangun!" seru suara dari luar sambil menggedor daun pintu keras-keras.
Dengan mata masih terasa pedih, Purbajaya membuka pintu. Di luar sudah berdiri dua orang prajurit.
"Engkau tengah ditunggu Raden Yudakara di depan puri!" tutur salah seorang di antaranya.
"Raden Yudakara?" Purbajaya mengerutkan alis. Dia tak kenal bangsawan ini.
"Ya, beliaulah yang akan memimpin perjalananmu ke Cakrabuana!" kata prajurit itu lagi.
Alis Purbajaya semakin berkerut. Namun diturutinya perintah dua prajurit itu. Purbajaya hanya punya waktu membasuh muka. Dia segera menjinjing perbekalan kecil yang telah dipersiapkan, setelah itu segera keluar.
Benar saja, di paseban dia sudah ditunggu. Di sana ada Pangeran Arya Damar lengkap dengan para pembantunya, yaitu Ki Albani, Ki Aspahar, Ki Aliman, dan Ki Marsonah, yang padahal menurut rencana, merekalah sebetulnya yang akan memimpin pasukan kecil ini.
Namun Purbajaya juga melihat seorang pemuda yang baru diketahuinya hari ini. Dia adalah seorang pemuda dewasa, barangkali usianya sekitar 35 tahun. Dia berpakaian hitam-hitam, juga memakai ikat kepala warna hitam. Yang mencolok dari semuanya, wajahnya tampan berkulit putih. Hidungnya mancung walau sedikit melengkung. Matanya tajam setengah berkilat. Ada kumis tipis hitam menghiasi bagian atas bibirnya. Yang Purbajaya tak suka, sepasang bibirnya terkatup rapat seperti menampakkan ejekan. Dia bersila tegak di hadapan Pangeran Arya Damar. Sepasang tangannya bersedekap melintang di dada.
Purbajaya menduga, tentu dialah Raden Yudakara. Dan benar, lelaki tampan itu diperkenalkan Pangeran Arya Damar sebagai Raden Yudakara. Purbajaya disuruhnya agar memberikan hormat kepada pemuda itu.