Chapter 18
"Purba, engkau akan melakukan perjalanan ke wilayah Cakrabuana bersama Raden Yudakara," kata Pangeran Arya Damar.
"Ada perubahan rencana, Gusti?" tanya Purbajaya.
"Tidak. Rencana berjalan seperti semula, yaitu kita mengirimkan pasukan rahasia ke puncak Gunung Cakrabuana, tetapi engkau melakukan perjalanan lebih dahulu bersama Raden Yudakara," jawab Pangeran Arya Damar.
Bab 5
Purbajaya mencoba melirik ke arah pemuda itu. "Engkau pasti belum kenal. Raden Yudakara adalah orang kita, namun banyak keluar-masuk wilayah Pajajaran dan bertindak sebagai mata-mata. Orang Pajajaran bahkan menganggapnya sebagai warga di sana. Hebat, bukan?" kata Pangeran Arya Damar. "Kelak engkau akan memasuki wilayah Pajajaran bersama Raden Yudakara," sambung pangeran itu.
"Aku dengar, engkau ini *puhawang* (ahli kelautan) dan terbiasa hidup di Muhara Jati. Pajajaran kabarnya butuh tenaga *puhawang* sebab mereka merencanakan menghidupkan kembali kejayaannya di lautan. Kelak kau bisa menyusup menjadi pegawai di lautan," kata Raden Yudakara dengan nada seperti memerintah.
Rundingan kembali diadakan, tetapi intinya hanya mengatur teknis perjalanan. Mereka berunding kapan dan di mana bisa bergabung dengan pasukan inti yang dipimpin oleh keempat orang perwira itu.
"Sebelum hari terang tanah, kalian harus segera meninggalkan tempat ini," kata Pangeran Arya Damar. Mereka semua diberi hidangan penghangat badan, sesudah itu baru beranjak untuk pergi. Beberapa orang penghuni puri melepas kepergian mereka. Para prajurit dilepas oleh sesama teman mereka yang tidak ikut pergi, dan di pintu depan, mereka diberi ucapan selamat jalan oleh deretan gadis cantik.
"Nyimas..." Purbajaya tak terasa berbisik.
"Ow, rembulan di atas sana sudah mulai pudar cahayanya. Tak dinyana di bawah sini malah bersinar cemerlang. Wahai gadis, siapakah gerangan?" kata Raden Yudakara dengan suara merdu merayu.
"Beliau adalah putri terkasih Pangeran Arya Damar, Raden..." kata Purbajaya sebab Nyimas Waningyun hanya menunduk tersipu. Sepasang mata gadis itu sembab, mungkin kurang tidur atau mungkin habis menangis. Kalau dua-duanya benar, tidakkah ini karena peristiwa semalam? Nyimas Waningyun mungkin tak sempat tidur dan kini mencegatnya di sini bersama barisan gadis cantik yang bertugas mengantarkan rombongan. Sayang ada Raden Yudakara, sehingga pertemuan perpisahan ini tak sempat dinikmati oleh Purbajaya. Bahkan lebih dari itu, kehadiran pemuda bangsawan itu serasa mengganggu kenyamanan Purbajaya.
"Tak disangka, di puri ini ada mawar yang tengah merekah indah. Tapi, hai gadis, wajahmu muram, sorot matamu suram. Kalau ada awan hitam menggayut di hatimu, singkirkanlah dengan senyum bahagia," Raden Yudakara menggoda Nyimas Waningyun dengan nada manis menawan. Yang digoda hanya menunduk dengan senyum dikulum.
"Pangeran Arya Damar pandai menyembunyikan halaman indah sehingga tak ada orang tahu isinya," kata Raden Yudakara sambil beberapa kali berdecak kagum. Namun, tak ada tanya jawab penting di sana sebab Nyimas Waningyun keburu dibawa pergi oleh beberapa gadis lainnya. Dan Purbajaya berdegup jantungnya ketika gadis itu masih sempat menoleh ke belakang dan menatapnya sejenak.
"Sepertinya mawar harum itu mengenalmu, Purba..." gumam Raden Yudakara melirik kepada Purbajaya.
"Tentu saja. Bukankah saya tinggal di puri ini, Raden?" jawab Purbajaya.
Kedua orang itu akhirnya melanjutkan perjalanan dengan menggunakan kuda terbagus milik puri itu. Dari Carbon menuju wilayah Karatuan Talaga akan memakan waktu sehari penuh kalau dilakukan dengan cepat. Namun demikian, mereka tidak akan memasuki *dayo* (kota) Karatuan Talaga, melainkan hanya akan singgah di sebuah dusun kaki Gunung Cakrabuana saja.
Paman Jayaratu pernah bercerita kepada Purbajaya bahwa nama Cakrabuana sebetulnya diambil dari sebuah peristiwa bersejarah yang pernah terjadi di puncak gunung itu. Dulunya, gunung itu hanya dikenal sebagai Gunung Cangak. Namun demikian, sudah sejak dulu gunung ini suka dipakai tempat tinggal orang-orang berilmu, baik ilmu kewiraan maupun ilmu kebatinan, termasuk agama. Karuhun (nenek-moyang) orang Sunda menganggap Gunung Cangak sebagai tempat keramat sebab di sana orang mendalami agama.
Di wilayah Teja (Lemahputih) ada bekas tempat persemayaman tokoh amat terkenal dengan julukan Ki Jago. Di lereng timur ada Candi Batulawang, bekas para ahli agama Hindu bersemayam. Semakin ke atas, juga didapat petilasan bernama Batucakra. Batucakra ini punya riwayatnya. Dulu Kangjeng Walangsungsang, putra Sang Prabu Siliwangi dari Pajajaran, mengembara mencari ilmu kehidupan. Beliau pun tiba pula di wilayah Gunung Cangak. Di sana lama mempelajari ilmu agama (Islam). Dan karena pernah tersesat di sana, maka beliau membuat peta dengan goresan-goresan kuat di atas batu. Orang mengatakan kalau Sang Walangsungsang ketika itu membuat goresan-goresan menyerupai cakra. Maka sejak saat itu, Walangsungsang dijuluki Cakrabuana, bahkan gunung itu pun dikenal sebagai Gunung Cakrabuana hingga kini.
Kangjeng Cakrabuana adalah pendiri Karatuan Carbon (1445 Masehi) dan bergelar pangeran. "Dulu namanya Caruban. Artinya campuran. Ini karena Carbon sebelum berubah menjadi sebuah negara sudah dihuni oleh orang-orang dari berbagai bangsa, berbagai adat-istiadat, berbagai agama, dan juga macam-macam bahasa dan tulisan. Penduduk menamakan dirinya sebagai *wong grage*. Asal kata dari *garage*. Semenjak berkembang menjadi negara dan dikepalai oleh Kangjeng Pangeran Cakrabuana, Carbon memang berubah menjadi *negara gede* (garage). Kangjeng Pangeran Cakrabuana adalah uwaknya Sang Susuhunan Jati yang memerintah kini," kata Paman Jayaratu ketika itu.
Selama dalam perjalanan, Purbajaya selalu memperhatikan perangai lelaki tampan ini. Ternyata Raden Yudakara adalah seorang yang periang. Baginya, alam sekelilingnya adalah kebahagiaan semata. Dia menyenangi pemandangan alam, sehingga menuju ke tempat pertempuran dianggapnya sebagai perjalanan pesiar saja. Dia pun amat romantis, pencinta berbagai keindahan, termasuk keelokan wanita muda. Di sepanjang jalan, bila masuk ke sebuah dusun dan kebetulan berpapasan dengan wanita yang menurut seleranya cantik, Raden Yudakara selalu mengerling tajam dan senyum manis dikulum. Wanita desa mana yang jantungnya tak berdegup bila diajak senyum seorang bangsawan berkuda gagah? Maka tak ayal, mereka tersipu, menunduk malu dengan rona merah di wajah, atau pura-pura cemberut, namun akhirnya ada kerling penasaran di matanya.
"Rupanya Raden amat menyukai wanita..." kata Purbajaya di tengah jalan sepi. Dikatakan begini, Raden Yudakara tertawa lepas dan bebas, dan nampaknya ada kegembiraan menerima pernyataan ini.
"Tidak persis begitu. Yang sebetulnya kurasakan, aku adalah mencintai keindahan. Keindahan apa saja. Namun karena wanita itu pun bagian dari keindahan, maka sudah barang tentu aku amat menyukainya. Tuhan memberikan warna keindahan kepada apa yang ada di dunia, termasuk keindahan wanita. Kalau aku mencintai keindahan, itulah tandanya aku memuji kepada kepandaian Tuhan," jawab Raden Yudakara berfilsafat.
"Dan aku tak memilah-milah. Keindahan ada di mana saja. Tidak melulu ada di lingkungan puri. Keindahan di alam bebas barangkali keindahan yang sebenarnya sebab di sana tak ada polesan. Tapi..." Raden Yudakara mendadak berhenti seperti mau tersedak.
"Ada apa, Raden?"
"Gadis di puri Arya Damar demikian cantik. Mungkin yang tercantik dari semua kembang di taman. Dia demikian anggun, demikian indah. Mungkin penuh harum. Ow, aku akui gadis di Pajajaran elok dan indah. Namun yang namanya putri puri Arya Damar, mengapa sepertinya terpisah dari yang lainnya?"
Purbajaya sedikit goyah mendengar pujian ini. Benar, mendengar Nyimas Waningyun dipuji setinggi langit, hanya menegaskan bahwa dirinya adalah seorang normal, mencintai gadis maha-cantik. Namun, yang dirinya tak enak, pujian habis-habisan yang diucapkan Raden Yudakara hanya menandakan bahwa pemuda bangsawan ini pun secara khusus tertarik kepada Nyimas Waningyun. Hati Purbajaya mengeluh, semakin bertambah saingannya dalam mendapatkan cinta gadis itu. Yang membikin hati Purbajaya agak terobati adalah ketika mendapatkan kenyataan bahwa Raden Yudakara kerjanya mengobral pujian kepada setiap gadis. Dalam satu hari itu saja, sudah belasan gadis yang kebetulan berpapasan, selalu dia puji setinggi langit. Purbajaya berdoa, semoga pujian-pujian Raden Yudakara kepada Nyimas Waningyun tidak singgah di hatinya, melainkan hanya pujian sejenak saja.
"Tapi gadis puri itu sepertinya memendam kesedihan besar. Aku sungguh ingin tahu, ada apakah ini?" Raden Yudakara membuat Purbajaya goyah lagi.
"Betul, Raden. Gadis itu sedang punya masalah. Ada sebuah perjodohan yang gadis itu tidak menyukainya..." tak terasa Purbajaya memaparkan persoalan gadis itu.
"Hm... Di mana-mana gadis bangsawan nasibnya selalu begitu. Perjodohan dan nasib cintanya selalu dikaitkan dengan kepentingan lain. Aku bisa duga, gadis itu dijodohkan dengan sesama anak bangsawan demi kepentingan kedua orang tua anak-anak muda itu," Raden Yudakara menebaknya dengan jitu.
"Tebakan Raden benar..."
Raden Yudakara hanya tersenyum kecil. "Kasihan Nyimas Waningyun..." gumam Purbajaya tak sadar.
"Aku pastikan, gadis itu sudah punya pilihannya sendiri."
"Benar sekali, Raden..."
"Siapa kira-kira?" Ditanya seperti itu, giliran Purbajaya yang terkatup bibirnya. Ini rahasia pribadi. Mengapa musti diobral kepada banyak orang? Tapi Purbajaya akhirnya mulai berpikir lain. Di mata Pangeran Arya Damar, kedudukan Raden Yudakara sepertinya tidak berada di bawahnya. Mungkin juga keberadaan pemuda bangsawan ini cukup diperhitungkan oleh Pangeran Arya Damar. Kalau benar begitu, mengapa Purbajaya tidak minta tolong saja kepada pemuda periang ini?
"Yang saya lihat, Nyimas Waningyun tidak suka kepada pemuda pilihan keluarganya," kata Purbajaya.
"Gadis yang malang..." gumam Raden Yudakara.