Halo!

Kemelut Di Cakrabuana - Chapter 19

Memuat...
Kemelut Di Cakrabuana

Chapter 19

"Dia perlu pertolongan," sambung Purbajaya lagi.

"Ya, dia perlu ditolong dari kesedihannya. Penderitaan cintanya harus dilenyapkan. Kalaupun perjodohan itu diatur orang, paling tidak harus menyertakan kepentingan gadis itu sendiri," kata Raden Yudakara sambil memacu kudanya.

Purbajaya tak sanggup menebak arti ucapan pemuda bangsawan ini. Hanya yang jelas, Raden Yudakara memang sepertinya punya perhatian khusus kepada Nyimas Waningyun. Purbajaya berdoa, mudah-mudahan Raden Yudakara memang bersikap penuh perhatian kepada nasib orang dan mau menolong kesedihan orang lain.

Perbincangan mengenai Nyimas Waningyun cukup sampai di situ. Bahkan seperti terlupakan ketika secara tiba-tiba di tengah perjalanan bertemu lagi dengan seorang gadis. Dia adalah gadis dusun, terlihat dari dandanannya yang amat sederhana, terbuat dari kain kasar dan sedikit lusuh. Hanya yang jadi perhatian, paras gadis itu cukup manis kendati kulitnya agak sawo matang karena banyak terkena sinar matahari.

Gadis itu tengah melangkah dengan perlahan dan terkesan lunglai tak bersemangat. Bisa jadi lantaran kecapaian berjalan jauh. Gadis itu berjalan sambil menggendong bakul, entah berisi apa. Raden Yudakara serta-merta menghentikan langkah kudanya tepat di samping gadis itu.

"Kalau kerja keras diselingi keluh kesah maka akan lekas capek dan rasa bahagia akan berkurang, hai gadis manis," kata Raden Yudakara.

"Mulutmu yang cemberut tidak akan mengubah wajah manismu. Tapi cemberutmu hanya akan merugikanmu sebab hatiku jadi tersiksa, hai gadis," kata Raden Yudakara lagi tak bosan menggoda.

"Kalau hatiku gundah, maka engkaulah yang berdosa," jawab gadis itu pendek.

Raden Yudakara tersenyum kecil dan tak menampakkan rasa tersinggung, padahal menurut penilaian Purbajaya, gadis itu tak sopan, bicara ketus kepada seorang bangsawan.

"Amboi, sikapku yang baik ini malah menjadikannya sebuah dosa," sergah Raden Yudakara sambil tertawa renyah.

"Ya, engkau berdosa..." kata gadis itu semakin mepet karena kuda Raden Yudakara semakin mendekat saja.

"Tolonglah hai gadis manis, jangan biarkan aku berbuat dosa!" Raden Yudakara merintih namun jelas hanya olok-olok belaka.

Dan gadis itu akhirnya berhenti.

"Biarkan aku melangkah tanpa gangguanmu!" katanya ketus sekali.

"Gadis secantikmu terlalu sayang untuk dilewatkan. Berdosakah bila aku menatap paras elokmu?" lagi-lagi Raden Yudakara menantang.

"Tentu berdosa sebab engkau sepertinya tidak tahu dan tidak bisa memilih-milih kepada siapa rayuanmu kau sampaikan," ujar gadis itu lantang.

"Oh, hai... Tak pantaskah rayuanku dilayangkan padamu?"

"Tentu tak pantas."

"Kenapa gerangan?"

Gadis itu tak menjawabnya, membuat Raden Yudakara penasaran untuk mendesaknya.

"Karena..."

"Karena apa, manis? Cepatlah jawab, gadisku, sebab hari semakin siang, sebab kaki-kaki kuda semakin tak sabar untuk merambah indahnya cinta. Katakanlah, apa penyebab tak pantasnya sapaan cintaku padamu?" Raden Yudakara semakin mendesak dan menantang sampai Purbajaya malu sendiri menyimaknya.

"Aku sudah ada yang punya!" jawab gadis itu pendek. Lalu rona merah merebak di pipinya.

"Amboi, sungguh beruntung suamimu..."

"Aku belum bersuami!"

"Lho?"

"Aku sudah terikat perjodohan!"

"Oh, tentu calon suamimu amat tampan!"

"Tidak!"

"Engkau cinta padanya?"

"Apakah perasaan cinta mesti dikaitkan dengan keelokan wajah? Engkau, hai laki-laki asing, wajahmu memang tampan. Pakaianmu gagah. Mungkin kau anak orang kaya atau keluarga kaum bangsawan. Tapi aku tak suka padamu. Kau tidak sopan!" hardik gadis itu.

Sejenak Raden Yudakara menghentikan laju kudanya. Mungkin dia sedikit terhenyak dengan perkataan gadis itu. Hingga gadis itu berlari menjauh, Raden Yudakara masih terpana di atas kudanya.

"Mari Raden, kita lanjutkan perjalanan..." kata Purbajaya sepertinya tak pernah melihat adegan itu.

Raden Yudakara merenggut tali kekang kuda dengan marahnya. Sepertinya dia kesal dan terhina oleh gadis dusun itu.

***

Ada sedikit kebosanan melihat sikap Raden Yudakara ini. Dalam pandangan Purbajaya, pemuda ini punya watak hidung belang. Masa di sepanjang jalan kerjanya hanya menyapa dan menggoda perempuan saja. Sangat beruntung, rasa bosan Purbajaya tidak memuncak menjadi rasa muak sebab sikap pemuda bangsawan itu ada batasnya juga. Sekalipun benar setiap kali bertemu gadis dia menggoda, tapi hanya sebatas godaan kata-kata saja.

"Apa Raden tak sakit hati didamprat gadis dusun seperti itu?"

Ditanya seperti itu, Raden Yudakara hanya tersenyum saja.

"Dia tak tahu aku seorang bangsawan," tuturnya.

"Benar. Kalaupun tadi gadis itu bilang kau anak bangsawan, tapi sebatas baru mengira-ngira saja. Padahal kalau tahu yang sebenarnya, gadis itu pasti wajahnya pucat pasi," kata Purbajaya memberi angin.

"Itulah sebabnya, aku senang berpakaian orang kebanyakan, biar mereka jujur mengemukakan pendapatnya," tuturnya. "Aku pernah bersua wanita yang telah bersuami. Ketika kugoda dia mau saja hanya karena aku mengaku keluarga bangsawan. Aku campakkan dia dengan muak. Selain pengkhianat, dia pun ambisius. Coba kalau aku anak petani, apa dia mau?" sambungnya.

"Barangkali gadis barusan pun akan terpikat kalau Raden terang-terangan mengaku sebagai pejabat," sela Purbajaya.

"Mungkin juga begitu. Tapi kalau benar, aku pasti muak dan akan kucampakkan dia. Aku paling tak senang pengkhianatan, termasuk dalam urusan cinta," tutur Raden Yudakara tegas.

Purbajaya menatap agak lama. Hatinya bertanya-tanya, apa benar Raden Yudakara begitu tegas dalam urusan cinta? Namun demikian, Purbajaya pun memuji sikap ini. Raden Yudakara benci pengkhianatan. Dia pun adalah orang yang tak mudah tersinggung dan sakit hati.

Sebuah sikap yang sebetulnya bisa dianggap baik namun juga bisa dianggap jelek. Orang yang tak mudah tersinggung bisa juga tidak begitu tebal rasa malunya. Dan yang ini bisa bahaya sebab bisa saja orang itu melakukan hal-hal yang hina tapi tidak merasa bahwa tindakan itu hina karena dirinya tidak malu melakukannya. Dan kalau ingat ini, ciut juga nyali Purbajaya. Kalau Raden Yudakara berkarakter begitu, pemuda bangsawan penggemar wanita cantik ini bisa jadi gangguan terhadap dirinya.

"Ah... mudah-mudahan dia tidak mengganggu Nyimas Waningyun. Mudah-mudahan dia malah membantuku dalam memperjuangkan cintaku terhadap gadis itu," pikir Purbajaya.

***

Rombongan yang akan menuju puncak Cakrabuana memang dibagi dua kelompok. Kelompok berkuda yang jumlahnya lebih besar dipimpin oleh empat pembantu utama Pangeran Arya Damar, melakukan perjalanan melewati Gunung Ciremai bagian selatan. Mereka akan menuju puncak Cakrabuana melewati Talaga. Ini perjalanan yang cukup sulit sebab akan melewati kaki bukit yang terjal dan berhutan lebat serta memiliki hawa amat dingin berkabut.

Rombongan ini sengaja memilih jalan ini sambil sekalian mengadakan perondaan. Di wilayah-wilayah terpencil seperti ini kerap kali didengar ada pasukan pengacau keamanan. Mereka bisa saja hanya perampok biasa, namun bisa juga karena latar belakang politik. Sudah tidak aneh, di masa peralihan pengaruh dan kekuasaan banyak melahirkan kelompok yang pro dan kontra.

Kabar selentingan, di wilayah kekuasaan baru Negeri Carbon seperti wilayah selatan dan barat, diisukan banyak kelompok pembangkang. Mereka adalah yang tak mau tunduk kepada penguasa baru dan memilih memisahkan diri dari kehidupan bernegara. Kendati Keratuan Sindang Kasih, Rajagaluh, ataupun Talaga sudah resmi bernaung di bawah Carbon, namun masih ada kelompok kecil yang tak setuju dengan itu dan tetap bertahan dengan keyakinan lama.

Jumlahnya memang tidak seberapa. Namun demikian, tetap merupakan duri dalam daging. Maka itulah sebabnya, rombongan yang dipimpin empat perwira menyusuri daerah rawan keamanan. Di samping memang sudah jadi tugasnya, namun juga bisa diartikan sebagai kamuflase. Sebab, bukankah tujuan utama dari kesemuanya adalah menyerang sarang Ki Darma di puncak Cakrabuana? Ingat ini, Purbajaya jadi penasaran.

Dia amat tertarik kepada tokoh bernama Ki Darma ini. Hanya satu orang saja, namun mengapa Pangeran Arya Damar begitu tegang menghadapinya, sehingga upaya menyerang Ki Darma dijadikan gerakan amat khusus? Kalau kelak tiba di Cakrabuana, yang Purbajaya inginkan adalah bertemu dengan Ki Darma.

Rombongan kedua jumlahnya lebih kecil, hanya Purbajaya dan Raden Yudakara. Perjalanan mereka lebih enteng sebab hanya menyusuri jalan pedati di dataran rendah dan banyak melewati kampung-kampung besar. Diatur sedemikian rupa dengan berbagai pertimbangan.

Melakukan perjalanan melalui utara seperti yang dilakukan Purbajaya dan Raden Yudakara adalah perjalanan paling mudah. Namun hal ini tidak bisa dilakukan dengan rombongan besar. Walaupun menyandang tugas "resmi" yang direstui pimpinan tertinggi militer, namun perjalanan ini tetap memendam tugas rahasia yang tidak diketahui negara. Pasukan ini diusahakan jangan terlalu banyak bertemu banyak orang.

Jalur utara itu daerah ramai, tetapi kerawanannya juga lumayan. Walaupun wilayah ini sudah masuk ke Carbon, namun yang namanya daerah perbatasan, berbagai kemungkinan bisa terjadi. Orang Pajajaran kerap kali menyusup ke wilayah Carbon. Mungkin hanya sebatas melakukan perdagangan gelap, namun bisa juga karena keperluan mata-mata. Oleh sebab itu, memamerkan pasukan berkuda di daerah ramai seperti ini amat mengundang perhatian. Lain halnya dengan perjalanan yang dilakukan kedua orang itu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment