Halo!

Kemelut Di Cakrabuana - Chapter 20

Memuat...
Kemelut Di Cakrabuana

Chapter 20

Kalau ada orang Carbon melihat Raden Yudakara keluyuran di sini, tidak akan menimbulkan perhatian khusus sebab pemuda bangsawan ini dikenal gemar keluyuran.

Namun, kalaupun dia memasuki wilayah Pajajaran, maka giliran orang Pajajaranlah yang tidak curiga apa pun, sebab kabar menunjukkan bahwa Raden Yudakara pun di sana diakui sebagai warga. Raden Yudakara adalah mata-mata bagi kepentingan Carbon. Dan kalau pemuda tampan ini senang keluyuran dan berpelesir, barangkali juga karena didesak oleh kebutuhannya sebagai mata-mata.

Tidakkah kegemarannya terhadap wanita pun berangkat dari kepentingan tugasnya? Purbajaya berpikir, betapa berbahayanya sebenarnya permainan politik itu. Kehidupan politik telah membutakan kemanusiaan. Dalam lingkaran politik, orang sulit melihat kebenaran sebab segalanya sepertinya diatur untuk sebuah kepentingan tertentu. Orang membunuh, belum tentu dikatakan jahat. Bahkan sebaliknya, orang berbuat kebajikan, belum tentu dasarnya kemanusiaan.

Bermain dalam politik, orang sulit menilai kemanusiaan yang hakiki. Sebab ada kalanya, kesulitan dan kesengsaraan sengaja direkayasa agar nantinya bisa dijadikan alat untuk memenangkan kepentingan politiknya. Begitu mungkin yang tengah dilakukan Raden Yudakara. Dia bisa bermain ke sana ke mari, bisa menjadi ini dan itu hanya karena sebuah kepentingan dan bukan lahir dari nilai kemanusiaannya.

Sebagai contoh, di wilayah Carbon, pemuda ini dikenal sebagai keluarga bangsawan. Namun kedudukannya sebagai apa, tidak banyak orang mengenalnya. Paling-paling orang kebanyakan hanya menilai dia adalah seorang pemuda yang gemar pelesiran dan amat menyenangi berbagai keindahan, termasuk keindahan kodrat wanita. Hanya sedikit saja orang yang tahu, betapa sebenarnya dia tengah mengemban tugas sebagai mata-mata.

Menurut pengakuan Pangeran Arya Damar, Raden Yudakara ini di Pajajaran adalah kerabat pejabat di sana juga. Kabarnya Pangeran Yudakara adalah kerabat dekat Ki Sunda Sembawa, seorang *kandagalante* (pejabat setingkat wedana saat ini) di wilayah Sagaraherang (sekitar Subang sekarang). Apakah benar merupakan kerabat dekat Sunda Sembawa atau bukan, Purbajaya tidak bisa memastikan. Keluarga dekat pun bisa jadi, toh antara Pajajaran dan Carbon sebenarnya masih satu keturunan. Banyak kekerabatan di kalangan orang Carbon dan Pajajaran, kendati secara politis terpisah oleh dua negeri berbeda dan dua paham berbeda.

Namun, hanya sekadar rekayasa pun bisa saja. Toh seperti tadi diutarakan, untuk kepentingan politik, hal apa pun bisa terjadi. Dan benar atau tidak hal ini terjadi, yang pasti kehidupan akal-akalan tidak mungkin bisa berdiri sendiri. Tentu yang keluyuran di Pajajaran sebagai mata-mata bukan Raden Yudakara seorang. Tentu Ki Sunda Sembawa sebagai pejabat penting di wilayah Sagaraherang pun ikut terlibat di dalamnya. Berapa jumlah orang Pajajaran yang sama-sama ikut terlibat mempunyai misi "dua muka", barangkali sudah sulit dihitung. Dan orang-orang yang demikian sebenarnya amat membahayakan tatanan negara.

Oleh orang Pajajaran, Raden Yudakara mungkin dianggap warga yang baik dan terhormat. Mereka salah penilaian. Padahal yang sebenarnya terjadi, Raden Yudakara itu orang yang kelak akan sangat merugikan mereka. Beruntung Raden Yudakara bekerja untuk kepentingan Carbon. Bagaimana halnya kalau keadaan sebenarnya terbalik? Purbajaya tidak mau melantur jauh seperti itu.

Namun yang tetap dia yakini, permainan politik ini benar-benar berbahaya sebab nilai kemanusiaan bisa buram dan sulit ditentukan warna aslinya. Purbajaya ngeri, sebab suatu saat peranan Raden Yudakara pun akan jatuh padanya. Melalui Raden Yudakara, dia pun kelak akan menjadi "warga" Pajajaran. Dia akan disuruh "mengabdi" kepada Pajajaran. Sungguh ngeri, mengabdi tapi untuk menghancurkan. Di sana dia harus berbuat baik tapi untuk melakukan kebohongan. Kebaikan yang dia kerjakan nanti sebetulnya untuk menciptakan kejahatan, paling tidak mengkhianati sesama manusia dan menghancurkan kepercayaan kemanusiaan.

Inilah yang mengerikan baginya. Dia akan melakukan penipuan. Bagaimana penilaian agama terhadap perilaku seperti ini? Purbajaya tidak sanggup memikirkannya. Purbajaya bingung. Sejauh mana agama memperkenankan perilaku manusia dalam melakukan pembelaan terhadap negara? Apakah menipu untuk mempermainkan kepercayaan orang demi kepentingan negara diperkenankan agama? Purbajaya sama sekali tidak sanggup mengira-ngira.

Hanya saja melihat sikap dan tindak-tanduk Raden Yudakara di perjalanan dalam tugasnya sebagai mata-mata, di mata Purbajaya terasa keji. Di saat-saat tertentu Raden Yudakara harus mengecoh orang. Apa yang dia kemukakan kepada siapa pun selalu diimbuhi kebohongan. Mungkin bukan tabiat Raden Yudakara begitu. Namun tugasnya sebagai mata-mata mengharuskannya begitu. Tidak boleh mengemukakan apa yang sebetulnya terjadi atau apa yang sebetulnya tengah dilakukan.

Sampai pada suatu hari, Raden Yudakara betul-betul menemukan sebuah kabar yang amat mengejutkan. Bahkan Purbajaya pun sama terkejutnya mendengar berita ini.

"Betulkah ada serombongan pasukan Pakuan yang menuju Cakrabuana?" tanya Raden Yudakara sambil santai membenahi pelana kudanya.

Suaranya datar, pertanyaan pun dilakukan sambil lalu saja. Padahal Purbajaya menduga, berita ini amat mengejutkan Raden Yudakara.

"Betul. Semuanya terdiri dari kaum perwira, belasan jumlahnya," tutur seorang tua setengah baya.

Dia adalah pedagang penyelundup dari wilayah perbatasan utara yang dengan susah payah menyelundupkan kain halus ke wilayah Pajajaran. Semenjak perdagangan antarpulau Pajajaran terhambat oleh gerakan Carbon, wilayah mereka kesulitan mendatangkan kain halus dari Negeri Cina, Persia, ataupun Campa. Agar kain halus tetap didapat, maka pedagang Pajajaran harus "minta tolong" kepada pedagang Carbon. Maka terjadilah perdagangan gelap antara dua negeri. Secara politik mereka bermusuhan, namun dagang jalan terus. Mengapa tidak boleh dilakukan, toh orang Carbon (pesisir) pun butuh hasil bumi dari wilayah pegunungan atau pedalaman yang dikuasai Pajajaran.

"Betul, belasan jumlahnya," pedagang asal Carbon ini seperti ingin lebih meyakinkan.

"Di Cakrabuana memang banyak binatang buruan. Namun rasanya jumlahnya sudah semakin berkurang..." gumam Raden Yudakara masih bicara sambil lalu.

"Berburu? Masa serombongan perwira Pajajaran jauh-jauh dari wilayah barat berburu ke timur?" pedagang itu melecehkan pendapat Raden Yudakara.

"Habis, apa yang mereka kerjakan di sana?" tanya Raden Yudakara.

"Mereka akan mengejar seorang buruan!"

"Siapa yang akan mereka buru?"

"Ki Darma!"

"Ki Darma? Siapa dia?" Raden Yudakara pura-pura tidak kenal.

"Dia orang terkenal di Pajajaran. Namun sungguh aneh, dia dicintai rakyatnya, namun dibenci penguasa negeri. Orang Pajajaran kok aneh-aneh. Sepertinya apa yang dianggap baik oleh rakyatnya, tidak demikian oleh penguasanya. Aneh sekali ada beda pendapat antara pemerintah dan rakyatnya," tutur pedagang itu.

Raden Yudakara tidak mengomentari pernyataan orang itu yang bagi pandangan pemuda itu, ini hanyalah pendapat dungu dari masyarakat awam semata. Namun demikian, Raden Yudakara tetap memperlihatkan mimik seolah-olah dia menyimak dan menghargai wawasan politik pedagang gelap itu.

"Hanya sedikit saja yang aku tahu. Ki Darma itu pemberontak dan pengkhianat." Raden Yudakara mencoba menggiring pendapat orang itu.

"Pengkhianat bagi penguasa tidak berarti penjahat bagi rakyat. Oleh rakyatnya, Ki Darma malah dianggap pembela."

"Apa sih yang dia bela?"

"Paling tidak, Ki Darma berani mengkritik penguasa. Sang Prabu Ratu Sakti orang kejam. Ayahandanya malah gemar berperang, sehingga kerap kali rakyat sengsara karena peperangan. Hanya Ki Darma yang berani memperingatkan bahwa peperangan membuat rakyat menderita dan pembangunan terhambat."

Raden Yudakara mengangguk-angguk, entah apa maksudnya. Tapi sampai pedagang gelap itu pergi, Raden Yudakara masih termenung. Purbajaya tidak tahu apa yang sebenarnya tengah dipikirkan pemuda bangsawan itu.

"Saya kira perjalanan kita sedikit terganggu, Raden..." gumam Purbajaya.

"Sangat terganggu..." jawab Raden Yudakara masih merenung. "Kita pasti bentrok dengan mereka," sambungnya dengan wajah sedikit tegang.

"Kita harus berusaha memberitahu rekan-rekan kita yang tengah bergerak di selatan. Mungkin sebaiknya perjalanan mereka diurungkan dulu agar bentrokan dengan musuh tidak terjadi," kata Purbajaya.

"Justru kita dipaksa harus bentrok dengan musuh," ujar Raden Yudakara.

"Mengapa? Tujuan kita hanya menggempur Ki Darma. Sekarang tugas kita ringan sebab tanpa kita gempur, Ki Darma sudah diserang orang lain. Kita hemat tenaga, Raden," kata Purbajaya mengeluarkan pendapatnya.

"Belasan perwira Pakuan datang ke Cakrabuana mungkin bukan hanya sekadar mau menangkap Ki Darma saja, melainkan juga akan mencari tombak pusaka Cuntang Barang," ujar Raden Yudakara.

Purbajaya jadi ingat perbincangan beberapa waktu lalu di paseban Puri Arya Damar. Bahwa penyerbuan ke Cakrabuana yang direncanakan ini, selain ingin melumpuhkan Ki Darma, juga akan mencoba merebut tombak pusaka itu yang diduga dikuasai tokoh itu. Purbajaya terkejut. Kalau begitu, benar yang dikatakan Raden Yudakara, bentrokan dengan musuh tidak bisa dielakkan sebab satu sama lain memiliki keinginan yang sama, yaitu merebut tombak pusaka Cuntang Barang.

"Mari, kita harus berpacu melawan waktu. Pasukan di selatan harus kita hubungi dan jangan sampai terlambat datang," kata Raden Yudakara membedal tali kekang kudanya.

Kuda warna hitam dengan tubuh tinggi besar itu mendadak berlari kencang karena hentakan-hentakan keras dari penunggangnya. Purbajaya pun ikut membedal kuda sehingga dia pun sama-sama mencongklang keras di atas punggung kuda. Kata Raden Yudakara, bersama pasukan yang tengah bergerak di selatan, mereka harus membuat siasat melepas domba bertarung dengan domba untuk kemenangan serigala.

"Biarkan dulu Ki Darma dan para perwira Pakuan saling timpuk."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment