Chapter 21
"Kemenangan salah satu dari mereka adalah kelelahan. Maka di saat itulah pasukan Carbon menggempurnya," kata Raden Yudakara membayangkan rencananya dengan bibir tersenyum puas, seolah-olah rencana itu sudah benar-benar tengah berjalan.
Begitu cerdik dan ganas siasat ini. Namun demikian, Purbajaya hanya bisa membedal kudanya keras-keras agar bisa mengikuti kecepatan lari kuda yang dimiliki Raden Yudakara. Mereka berdua benar-benar harus berpacu melawan waktu. Mereka harus bisa mencegat pasukan Carbon sebelum pasukan itu telanjur bertemu musuh.
Namun usaha ini amatlah sulit. Kedua orang ini tadinya tak dipersiapkan untuk melakukan perjalanan tergesa-gesa. Mereka tak dibekali kuda yang bisa merambah perjalanan sulit dan keras sebab kuda-kuda mereka biasanya dilatih untuk kepentingan upacara kenegaraan saja. Kuda-kuda itu hanya berpenampilan bagus dan gagah namun kurang tangguh kekuatannya, terutama bila digunakan untuk perjalanan keras.
Hanya beberapa saat saja kuda-kuda itu bisa memacu langkah dengan cepat. Namun untuk selanjutnya, kuda-kuda tinggi besar itu kedodoran. Kuda milik Purbajaya bahkan sudah tersungkur duluan.
"Raden...!" Purbajaya berteriak takut ditinggal.
Raden Yudakara pun terpaksa turun dari kudanya. Untuk beberapa saat dia memeriksa kudanya. Ada buih putih di mulutnya. Barangkali sebentar lagi kuda hitam tegap itu pun akan mengalami nasib yang sama dengan kuda milik Purbajaya.
"Sialan...!" gerutu Raden Yudakara.
Jalan pedati semakin sempit dan menaik ke arah perbukitan. Tentu saja ini merepotkan bila di saat genting dan perjalanan berat seperti ini, kuda mereka malah mogok.
"Mestinya kuda ini kuat berlari dua hari penuh tanpa henti," omel Raden Yudakara dengan wajah cemberut.
"Perjalanan kuda itu memang sudah dua hari. Barangkali kalau kita tidak banyak belok kiri-kanan, kuda akan sanggup melaksanakan tugasnya sampai di tujuan," kata Purbajaya sedikit menyalahkan Raden Yudakara yang banyak berhenti untuk menggoda wanita cantik.
Mendapatkan kritik ini, Raden Yudakara hanya menoleh sebentar. "Ayo kita jalan kaki saja!" kata Raden Yudakara.
Purbajaya segera mengikuti pemuda bangsawan itu yang segera berlari cepat menaiki bukit. Dia tampak meloncat-loncat lincah dari ujung batu ke ujung batu lainnya. Sepertinya dia sengaja hendak menguji atau menghukum Purbajaya yang barusan berani menyalahkannya.
Sadar akan hal ini, Purbajaya pun tak sungkan-sungkan melayaninya. Dia tidak mau menyusul langkah Raden Yudakara. Namun demikian, dia pun tidak mau tertinggal jauh oleh pemuda bangsawan itu. Dengan kata lain, Purbajaya ingin memperlihatkan bahwa kemampuannya tidak berada terlalu jauh di bawah kemampuan Raden Yudakara.
Dan memang terbukti, sebenarnya kemampuan Purbajaya tidak berada jauh di bawah kemampuan Raden Yudakara. Kian menuju bukit, tenaga yang dikeluarkan oleh Purbajaya tidak semakin ditingkatkan. Namun kenyataannya, jarak antara keduanya tidak begitu jauh. Purbajaya tidak pernah ketinggalan oleh larinya Raden Yudakara. Bahkan ada kelebihannya, kalau Raden Yudakara sudah tampak kelelahan, Purbajaya biasa-biasa saja. Dalam hal tenaga, Purbajaya unggul satu tingkat.
Namun Raden Yudakara tidak mau memperlihatkan kelemahannya ini. Dia terus saja berlari kendatipun kecepatannya kian berkurang juga. Purbajaya sadar sebetulnya Raden Yudakara memiliki rasa angkuh dan tidak mau kalah oleh orang lain. Dia tidak mau mengakui kelemahannya atau kelemahannya tidak boleh diketahui orang lain. Oleh sebab itu tampak sekali, kendati dia sudah lelah tapi masih tetap memaksa lari.
Melihat ini, Purbajaya segera mengurangi langkahnya. Dia bahkan berteriak-teriak minta agar Raden Yudakara suka menghentikan langkahnya untuk memberi istirahat pada Purbajaya.
"Tolonglah Raden, saya sudah tidak kuat..." keluh Purbajaya pura-pura terengah-engah. Beberapa kali dia pura-pura tersedak batuk dan menyeka dahinya.
"Dasar engkau orang lemah, Purba..." omel Raden Yudakara sambil menghentikan larinya dan mencoba menahan napasnya yang memburu.
Kalau Raden Yudakara berusaha menahan napasnya yang kecapekan, sebaliknya Purbajaya berusaha memperlihatkan bahwa dirinya amat capek. Akal ini ternyata berhasil. Raden Yudakara tersenyum puas karena sudah membuktikan "kehebatan"-nya. Purbajaya kalah olehnya dalam adu lari. Dia punya kesempatan untuk "memberi" istirahat kepada Purbajaya.
"Tenaga saya memang payah. Tapi sebetulnya ada sesuatu yang tengah saya pikirkan," kata Purbajaya masih terengah-engah.
"Kau memikirkan apa?" tanya Raden Yudakara.
Purbajaya sebenarnya memang tidak mengada-ada. Ada sesuatu yang tengah dia pikirkan.
"Jalanan ini sempit, mendaki, dan berbatu. Mungkinkah pasukan kita bisa tiba di sini?" tanya Purbajaya.
"Maksudmu mereka tidak pernah ke sini?" Keduanya terdiam sejenak.
"Atau mereka ke sini," cetus Raden Yudakara.
"Tapi tanpa berkuda," sambung Purbajaya.
"Kau benar. Kuda terbaik mana pun tidak mungkin sanggup merambah perjalanan di sini. Jalanan terlalu sempit untuk tubuh seekor kuda paling kecil pun. Jadi satu-satunya jalan tentu merambahnya dengan jalan kaki seperti kita ini," kata Raden Yudakara sambil kembali meloncat dan berjalan cepat.
Purbajaya kembali mengikutinya dari belakang. Namun belum juga jauh, Raden Yudakara sudah kembali merandek.
"Ada apa, Raden?"
"Kalau perjalanan mereka dilakukan dengan berjalan kaki, mereka tidak bisa cepat."
"Artinya bisa kita susul," Purbajaya menyambung.
"Tidakkah malah musuh yang mendahului menyusul pasukan kita?" tanya Raden Yudakara dengan khawatir.
Purbajaya pun kaget dengan perkataan Raden Yudakara ini. "Raden tahu pasti?"
"Hanya perkiraan saja. Tapi aku khawatir kalau hal ini memang terjadi."
"Kalau begitu, kita harus cepat pergi ke atas," seru Purbajaya.
Dan kembali keduanya merambah jalanan sempit di kaki bukit. Namun puncak Gunung Cakrabuana, kendati tidak setinggi Ciremai, bukanlah sebuah tempat yang enak untuk dirambah. Perjalanan ke puncak gunung semakin ke atas semakin pekat karena hutan pohon kareumbi, kuray, dan pohon carik angin (sebangsa tumbuhan keras) dengan daun-daunnya yang rimbun dan gelap. Udara pun menjadi dingin dan lembap membuat pernapasan mudah sesak.
Begitu pun yang terjadi pada Purbajaya. Kendati udara dingin menusuk tulang sumsum, namun sekujur tubuh bersimbah keringat. Di antara simbahan keringat dan pernapasan yang berat, Purbajaya kembali berpikir tentang perjalanan ini. Mengapa ini mesti dilakukan? Dia sudah terlalu jauh melibatkan diri dengan urusan yang dia sendiri tidak mengerti.
Semakin tidak mengerti ketika Paman Jayaratu secara rahasia datang ke puri dan dengan terang-terangan menyalahkan kebijakan Pangeran Arya Damar yang telah menciptakan misi ini. Di malam kehadiran Paman Jayaratu, seharusnya Purbajaya menyadari kalau dia telah mengabdi kepada kelompok yang salah. Toh Paman Jayaratu telah mengerutkan kening sejak dirinya dipanggil menghadap ke Puri Arya Damar. Kemudian secara diam-diam Paman Jayaratu mengunjungi puri untuk menentang kebijakan penghuni puri itu.
Ah, kukira Paman Jayaratu pun keliru, mengapa dia menyembunyikan sesuatu? Purbajaya kini mulai bisa menduga, Paman Jayaratu sebenarnya bukan orang sembarangan. Melihat pembicaraan malam itu, di mana Paman Jayaratu tidak memiliki basa-basi kesopanan dalam berhadapan dengan Pangeran Arya Damar, hanya membuktikan bahwa kedudukan dan derajat keduanya sejajar. Hanya entah mengapa Paman Jayaratu keluar dari lingkungan istana dan seperti memilih tidak punya peran apa-apa di Pakungwati. Sengaja dibuang oleh lingkungannya ataukah dia sendiri yang membuang diri?
Benar atau tidak perkiraan ini, yang jelas hal-hal rahasia yang menyangkut diri Paman Jayaratu sedikit banyaknya telah merugikan Purbajaya. Karena serba dirahasiakan, akhirnya Purbajaya menjadi buta dalam mengenal kehidupan istana. Lamunan terhenti ketika tiba-tiba Raden Yudakara menghentikan larinya.
"Kau simaklah, ada orang bertengkar..." bisik Raden Yudakara.
Purbajaya pun segera memasang telinga baik-baik. Benar saja, sayup-sayup terdengar ada orang tengah bersilat lidah.
"Paman Jayaratu..." bisik Purbajaya kaget.
"Aku kenal, suara satunya lagi adalah Ki Albani," bisik Raden Yudakara.
Ya, Purbajaya pun dengar, ada suara Ki Albani, yaitu perwira utama paling tua dari tiga perwira yang memimpin pasukan ke tempat ini. Raden Yudakara dan Purbajaya berindap-indap, mencoba mendekati tempat terdengarnya dua pembicaraan yang menegangkan. Dan dua orang itu akhirnya berhasil mengintip ke tempat yang dimaksud.
Mereka adalah pasukan Carbon yang dipimpin oleh empat perwira dan terlihat tengah mengerumuni Paman Jayaratu. Mereka semuanya terlibat dalam pembicaraan serius dan terkesan berselisih pendapat.
"Engkau tidak punya hak mencegah kami berbuat sesuatu di sini," kata Ki Albani.
Ketiga orang perwira lainnya yaitu Ki Aspahar, Ki Maarsonah, dan Ki Aliman tampak mengurung Paman Jayaratu, sepertinya siap melakukan sesuatu. Ki Aliman yang pemberang bahkan nampak telah memegang gagang golok yang terselip di pinggang kirinya.
"Dulu memang engkau atasan kami dan kami dipaksa hormat dan taat padamu. Namun itu puluhan tahun silam. Ketaatan kami kini hanya diabdikan untuk Pangeran Arya Damar," kata Ki Aspahar, sama bersikap menantang.
"Ini bukan pembicaraan mengenai hak atau bukan. Yang aku ingin lakukan demi keselamatan kita bersama," Paman Jayaratu menjawab tenang. Tak ada sikap menantang pada dirinya. Bahkan berdiri pun terlihat seenaknya saja.
"Keselamatan kami adalah bila kami taat perintah Pangeran Arya Damar. Hanya dia yang menjanjikan kami punya peranan penting di Pakungwati. Sementara selama kami ikut engkau puluhan tahun, tidak secuil pun engkau memberikan harapan akan masa depan kami. Yang engkau pikirkan hanya mengabdi dan mengabdi saja. Kerbau yang menarik gerobak saja punya keinginan karena dirinya merasa memiliki jasa. Orang tolollah yang mati-matian mengabdi tanpa memiliki ambisi apa pun," kata Ki Aspahar lagi.