Chapter 22
Diserang dengan kata-kata tajam seperti itu, Paman Jayaratu hanya tersenyum tipis. "Mungkin itu yang membedakan aku dengan kalian. Aku bukan saudagar atau pedagang, jadinya dalam bekerja tidak berniat mencari keuntungan. Dulu aku memimpin ribuan prajurit hanya karena pengabdian agar Carbon besar dan berwibawa. Kalau pun aku sebut keuntungan, itulah yang aku cari. Nah, kuharap, kau pun seperti itu. Kalau mau cari keuntungan, jadilah pedagang, jangan jadi pejabat. Tokh antara Carbon dan Pajajaran, sejak dimulainya permusuhan sudah terbiasa kita melihat pedagang gelap. Untuk mencari keuntungan dalam berniaga, cara apa pun memang bisa dilakukan tapi tidak untuk pengabdian kepada negara," jawab Paman Jayaratu panjang-lebar. "Sebelum terlambat, cepat jauhilah Si Arya Damar," sambungnya lagi. Nada suaranya mulai tegas.
"Huah! Petuahmu hanya bisa dimengerti kaum wiku di Pajajaran, di mana banyak orang membatasi diri dalam berupaya dan berkehendak. Ucapanmu hanya pantas disampaikan kepada orang-orang yang tak memiliki keinginan untuk maju. Dengarkan Jayaratu, aku pun kini tengah mengabdi. Namun mengabdi kepada suatu cita-cita. Kini aku mengabdi kepada orang lain, dan pada gilirannya orang lainlah yang kelak akan mengabdi ke padaku. Itulah yang namanya cita-cita!" Ki Aspahar berkata lantang, diiyakan oleh tiga perwira lainnya. Paman Jayaratu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar pendapat ini.