Halo!

Kemelut Di Cakrabuana - Chapter 23

Memuat...
Kemelut Di Cakrabuana

Chapter 23

Namun barangkali itu tidak akan dilakukan Paman Jayaratu.

Selain orang tua itu tidak memiliki perangai kejam, juga mungkin disengaja.

Belasan penyerang yang tidak memiliki kepandaian berarti, hanya akan mengacaukan strategi penyerang-penyerang berilmu saja.

Terbukti, banyaknya pengeroyok justru membuat serangan menjadi tidak efektif.

Gerakan keempat orang perwira itu justru banyak terganggu oleh sabetan-sabetan golok tidak berarti dari para prajurit.

Ki Albani sudah mengeluarkan sumpah serapah.

Dia memarahi para prajurit yang dikatakannya bodoh dan tidak berguna.

Namun demikian, menghadapi pengeroyokan yang sedemikian ketat, Paman Jayaratu pun tidak bebas bergerak.

Apalagi dia seperti tidak punya niat untuk melukai para prajurit.

Maka semakin sulitlah gerakan Paman Jayaratu.

Kini terlihat Paman Jayaratu justru mulai repot.

Beberapa gebukan tongkat sempat mendarat di punggungnya.

Ketika ada tusukan trisula, Paman Jayaratu tidak sempurna menghindar karena pada waktu yang bersamaan ada ruyung berputar dan mengarah ke ubun-ubunnya.

Cras!

Ujung trisula menusuk bahu Paman Jayaratu.

Untuk menghindari serangan susulan, Paman Jayaratu menggunakan ilmu trenggili dan tubuhnya berguling-guling terus.

Namun demikian, serangan pukulan tongkat dan ruyung terus mengarah padanya.

Karena serangan datang bertubi-tubi, maka sambil bergulingan Paman Jayaratu meraih sebatang ranting.

Ranting itu digunakannya sebagai senjata pelindung.

Oleh Paman Jayaratu, ranting itu digerakkannya ke kiri dan ke kanan.

Ini bukan sabetan biasa, melainkan sebuah sabetan dengan pengerahan tenaga dalam.

Maka yang paling rugi menerima sabetan ini adalah para prajurit yang hanya memiliki kepandaian biasa-biasa saja.

Setiap pedang dan goloknya berbenturan dengan ranting yang dipegang Paman Jayaratu, maka saat itu pula terdengar jerit kesakitan.

Senjata mereka terlontar ke sana kemari.

Paman Jayaratu terus dikejar oleh keempat perwira karena kemarahan mereka memuncak manakala dilihatnya beberapa prajuritnya terluka.

Dan karena kedudukan Paman Jayaratu lemah, beberapa kali senjata lawan mendarat lagi di tubuhnya.

Darah sudah mulai terlihat di sana-sini.

Melihat kejadian yang amat membahayakan ini, Purbajaya tidak bisa menahan diri, dia segera meloncat terjun ke arena pertempuran.

Serangan empat perwira dicoba untuk dihadang.

"Dasar gurunya pengkhianat, muridnya pun sama pengkhianat!" dengus Ki Albani. "Bunuh sekalian tikus kecil ini!" teriaknya sambil mendahului melayangkan goloknya.

Beberapa prajurit ikut mencecarkan goloknya ke arah tubuh Purbajaya.

Dan pemuda ini sebentar saja sudah dikeroyok seperti gurunya.

Dengan amat mudahnya dia menghindari serangan para prajurit.

Dan ketika Ki Aliman menyerang dengan senjatanya, Purbajaya segera menjegalnya.

Pemuda itu meningkatkan tenaganya.

Dia sudah lama tidak suka orang ini yang sombong dan pemarah.

Dulu dia sudah menjajalnya dan orang ini kepandaiannya satu tingkat di bawahnya.

Maka didorong oleh rasa sebalnya, Purbajaya mendahului menerjang sebelum senjata Ki Aliman datang menyerang.

Gerakan Ki Aliman kalah cepat dengan sambaran ujung kaki kanan Purbajaya.

Maka tidak ayal terdengar jeritan Ki Aliman ketika tubuhnya terlontar ke udara, kemudian jatuh berdebuk hampir enam depa jauhnya.

Dia sudah tidak bisa bangun lagi.

Ki Marsonah yang bersenjata ruyung, mencoba memutar benda itu bagaikan baling-baling.

Purbajaya terpaksa main mundur karena tidak berani memapaki senjata berat itu.

Rupanya Ki Albani dan Ki Aspahar pun darahnya semakin naik setelah melihat rekannya tidak bisa bangun lagi.

Terlihat nyata, mereka menyerang Purbajaya habis-habisan; sepertinya tubuh Purbajaya mau dilumatkan hari itu juga.

Paman Jayaratu dan Purbajaya terkepung lagi.

Mereka berdua saling beradu punggung agar tidak menerima serangan dari belakang.

Pertempuran berlangsung lama dan tidak terasa cuaca menjadi gelap.

Purbajaya mulai terdesak karena diganggu rasa lelah.

Di beberapa bagian tubuhnya terasa ada cairan hangat mengucur.

Dia menduga, darah telah mengucur karena luka-luka.

"Paman, mari kita tinggalkan tempat ini!" serunya.

Rupanya Paman Jayaratu pun punya pendapat yang sama, ingin keluar dari kepungan.

Hanya saja untuk lolos dari tempat ini memang sungguh sulit. Kepungan tetap rapat sementara baik Paman Jayaratu maupun Purbajaya tidak mau membuka jalan darah dengan cara mengorbankan prajurit yang tidak berdosa.

Purbajaya benci ini.

Membuka kepungan tidak bisa, tetapi melakukan pembunuhan pun tidak mau.

Dia tidak mau sesama orang Carbon jadi saling bunuh demikian.

Di saat genting demikian, secara tiba-tiba dari bawah lereng bukit terdengar sorak-sorai dengan puluhan cahaya obor datang menyerbu.

Ada pasukan baru yang datang ke sini.

"Pasukan dari mana?" "Betul! Mereka prajurit Carbon! Mereka prajurit Carbon!" teriak suara-suara itu membahana.

Purbajaya terkesiap.

Dia baru sadar kalau yang datang adalah belasan perwira Pajajaran disertai puluhan prajurit yang pernah diberitakan kemarin.

"Masya Allah! Bodohnya aku!" keluh Purbajaya.

Betul-betul bodoh.

Padahal susah payah menuju puncak bersama Raden Yudakara karena urusan ini.

Mereka tadinya ingin melaporkan kehadiran pasukan Pajajaran ini kepada Ki Albani dan pasukannya.

Raden Yudakara bahkan sudah mewanti-wanti agar diusahakan pasukan Carbon jangan dulu bertempur dengan pasukan Pajajaran dan biarkanlah mereka saling timpuk dulu dengan Ki Darma, baru kemudian dihajar pasukan Carbon.

Tetapi rencana tinggal rencana.

Yang belakangan terjadi justru kebalikannya, sesama orang Carbon yang saling timpuk terlebih dahulu.

Sungguh tragis dan juga sekaligus memalukan!

Hal semacam itu rupanya mulai disadari oleh yang lainnya.

Buktinya ketika terdengar teriakan-teriakan dari bawah lereng, pertempuran mendadak berhenti.

Semuanya memperhatikan ke bawah lereng dan baru kelabakan setelah tahu siapa yang datang.

"Sial... Pasukan Pajajaran datang!" teriak Ki Albani.

"Ayo menyingkir!" teriak Ki Marsonah.

Namun gerakan mereka mendadak terhambat sebab puluhan anak panah melesat dari bawah lereng sebagai pertanda musuh melepaskan senjata anak panah.

Beberapa saat kemudian terdengar jerit kesakitan karena beberapa orang prajurit Carbon tertusuk anak panah.

Hanya orang berkepandaian tinggi yang bisa menghindar dari serangan anak panah yang dilepas dalam gelapnya malam.

"Dari mana mereka tahu kita di sini?" tanya Ki Albani sambil memiringkan tubuhnya ke samping karena ada anak panah melesat ke arahnya.

"Aku tahu sejak awal. Justru kalian hendak kuberitahu. Tetapi apa daya, kalian justru saling timpuk dengan sesama," kata Purbajaya marah dan kesal.

"Dasar engkau anak dungu. Seharusnya kau kabarkan sejak tadi. Kau justru sibuk membantu Si Jayaratu yang pengkhianat itu!" teriak Ki Aspahar gemas.

Dia bahkan hendak memukul Purbajaya namun segera diurungkan sebab hujan anak panah kembali mencecarnya.

"Jahanam! Kita serbu mereka! Ayo, kalian berlindung di belakangku, biar hujan anak panah aku yang menghadapinya!" teriak Ki Marsonah sambil memutar ruyungnya.

Benda itu diputarnya keras-keras untuk membentengi tubuhnya dan sekaligus juga untuk melindungi para prajurit yang berlindung di belakangnya.

Ki Albani yang berdiri di samping pun juga memutar tongkat besi.

Maka terdengar suara keras dari dua senjata berlainan.

Setiap ada anak panah melesat segera tertangkis oleh putaran senjata mereka.

Usaha ini berhasil.

Pasukan Ki Albani bisa merangsek mendekati pasukan musuh yang bersenjata panah.

Purbajaya mengerti, pasukan panah akan kesulitan kalau diajak melakukan pertempuran jarak dekat.

Mereka tidak akan punya waktu mementangkan busurnya.

Namun serangan prajurit di bawah pimpinan Ki Albani ini disambut oleh pasukan musuh lapis kedua.

Purbajaya terkejut.

Pasukan panah sebetulnya hanyalah pasukan pelopor.

Tugas mereka hanya membuat lawan panik saja.

Sedangkan serangan sesungguhnya justru datang dari lapis kedua inilah.

Purbajaya terkesiap, betapa kemarin pagi dia menerima kabar bahwa yang datang ke puncak Cakrabuana ini adalah belasan perwira andal yang ditugaskan menangkap Ki Darma.

Serasa kecil nyali Purbajaya setelah menerima penjelasan Paman Jayaratu beberapa waktu lalu.

Kata orang tua itu, Raja Pajajaran selalu memiliki seribu orang pasukan Balamati (pengawal raja) yang tugasnya membela Raja dan negara sampai titik darah penghabisan.

Itulah sebabnya, dayeuh (ibu negeri) Pakuan selamat dari serbuan pasukan Banten (ketika Pajajaran dikuasai oleh Sang Prabu Ratu Dewata, 1535-1543 Masehi).

Ki Darma yang kini mengasingkan diri di puncak Cakrabuana adalah salah seorang anggota pasukan Balamati dan dulu pernah ikut mempertahankan Pakuan dari gempuran pasukan Banten.

Sekarang ada belasan perwira disertai puluhan prajuritnya datang ke Cakrabuana dengan memiliki tujuan yang sama dengan pasukan Carbon, yaitu sama-sama hendak menyerang Ki Darma namun secara kebetulan mereka bertemu dulu sebelum rencana mereka tercapai.

Maka tidak ada pilihan bagi mereka kecuali saling menyerang.

Purbajaya merasa ngeri menghadapi pertempuran ini.

Empat perwira Carbon tenaganya sudah tidak utuh lagi sebab mereka sebelumnya telah habis-habisan menyerang Paman Jayaratu.

Sekarang mereka harus melawan belasan perwira Pajajaran yang masih banyak menyimpan tenaga.

Dalam keadaan terdesak seperti sekarang ini, mungkin Paman Jayaratu dan dirinya sendiri akan berpihak kepada pasukan Carbon.

Namun tentu dengan hati kesal dan pikiran kalut karena kejadian ini sebelumnya didahului oleh peristiwa yang tidak menyenangkan.

Dengan gagah berani, tiga perwira merangsek ke depan.

Mereka adalah Ki Albani, Ki Marsonah dan Ki Aspahar karena Ki Aliman terluka parah oleh tendangan Purbajaya tadi.

Ini adalah satu-satunya pilihan dari dua pilihan terburuk.

Dengan jumlah pasukan yang kecil, lebih baik menyerang terlebih dahulu daripada menunggu untuk diserang.

Apalagi dalam menghadapi pasukan panah, tidak boleh mengambil jarak kalau tidak mau jadi sasaran.

Namun sebaliknya, kalau mendahului menerjang, pasukan panah tidak bisa segera melakukan aksinya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment