Chapter 24
Paman Jayaratu dan dia yang sudah terluka terpaksa memaksakan diri untuk ikut menerjang. Seluruh sisa prajurit Carbon pun sama-sama ikut menyerbu.
Hal yang amat menyebalkan hati Purbajaya adalah mengapa Raden Yudakara tidak mau muncul di saat genting seperti ini. Pemuda itu bahkan sejak tadi tidak pernah menampakkan batang hidungnya. Tadi siang Raden Yudakara memang masih berada di sampingnya, bahkan memberikan nasihat agar Purbajaya tidak ikut melibatkan diri dalam pertikaian antara para perwira Carbon dan Paman Jayaratu. Namun menurut hemat Purbajaya, tidak seharusnya Raden Yudakara terus bersembunyi dan membiarkan pasukan Carbon kepayahan seperti ini.
Pertempuran yang hanya diterangi cahaya obor di sana-sini itu memang terlihat berat sebelah. Kendati pasukan Carbon mendahului menyerang, pada akhirnya mereka menjadi bulan-bulanan pasukan Pajajaran. Mereka yang jumlahnya lebih kecil akhirnya dikepung rapat oleh sejumlah pasukan yang jauh lebih besar dengan tenaga yang lebih utuh.
Purbajaya berjuang sekuat tenaga. Dia dikepung oleh tiga atau empat orang perwira Pajajaran, belum lagi tenaga beberapa orang prajurit yang membantu mereka di belakang. Para perwira Pajajaran benar-benar hebat. Gerakan mereka cepat dan susah diikuti ke arah mana mereka melakukan serangan. Mereka menyerang Purbajaya dengan tangan kosong, tetapi amat membahayakan jiwa jika tidak hati-hati menghadapinya. Mereka menyerang dari depan, samping, bahkan dari bawah dan atas, sementara kaki-kaki mereka yang lincah dan ringan menotol dari satu pohon ke pohon lain.
Namun, kendati pasukan Carbon diserang rapat, ternyata mereka tidak mudah dikalahkan. Buktinya, pertempuran di hutan pinus lereng Gunung Cakrabuana ini belum juga usai hingga malam menjelang pagi. Artinya, pertempuran berlangsung sepanjang malam dan satu sama lain sulit mengalahkan, kendati pasukan Carbon berada di pihak yang terdesak.
Hal ini terjadi barangkali karena kenekatan anggota pasukan Carbon yang dipimpin oleh tiga perwiranya. Ki Albani, Ki Marsonah, dan Ki Aspahar bertempur dengan ganas dan mati-matian, bahkan sedikit membabi buta dalam memainkan senjatanya. Sebaliknya, belasan perwira Pajajaran, di samping bertempur tanpa menggunakan senjata apa pun, bergerak secara lebih taktis dan tidak terlalu mengobral tenaga. Hal ini disadari oleh Purbajaya dan barangkali juga oleh Paman Jayaratu, bahwa pasukan Pajajaran ingin membuat pasukan Carbon kalah karena kehabisan tenaga. Mungkin mereka akan melibasnya bila lawan sudah benar-benar lumpuh kehabisan tenaga.
Siasat ini memang berhasil. Ketika hari sudah terang, kondisi tubuh ketiga orang perwira Carbon mulai melemah. Mereka hanya sanggup menggerakkan senjata masing-masing dengan tenaga seadanya saja. Anehnya, orang Pajajaran tidak segera melumpuhkan mereka, padahal dalam satu kali gerakan, ketiga perwira Carbon sudah bisa dikalahkan.
Hati Purbajaya merasa panas. Dia berpikir orang-orang Pajajaran ini sangat sombong. Karena menganggap diri sudah berada di atas angin, pekerjaan mereka hanya mempermainkan lawan saja, persis seperti kucing mempermainkan tikus sebelum dilahapnya. Namun, sangkaan ini meleset. Ketika ketiga orang perwira Carbon jatuh terduduk karena kelelahan, mereka tidak diganggu, apalagi dibunuh. Pasukan Pajajaran hanya bersikap mengepung saja.
Kelelahan pada akhirnya mendera Purbajaya dan Paman Jayaratu juga. Kedua orang itu akhirnya bertekuk lutut tanpa menerima serangan maut dari pihak lawan. Melihat ke sekeliling, hampir semua orang Carbon tergeletak, entah tewas, pingsan, atau sekadar karena kelelahan.
"Bunuhlah aku! Bunuhlah aku!" teriak Ki Albani seraya menjambak-jambak rambutnya sendiri. Suaranya parau. Nada kesal dan marah bercampur perasaan putus asa tampak sekali pada diri perwira ini. Sementara itu, Ki Marsonah dan Ki Aspahar sudah tergeletak pingsan.
"Ya, bunuhlah semuanya dengan segera, sebab sesudah itu, kalian akan menghadapiku!" Tiba-tiba terdengar suara lantang dengan nada acuh tak acuh, seolah-olah ini bukan peristiwa penting yang mengagetkan.
Pihak yang tampak kaget mendengar suara ini adalah para perwira Pajajaran. Mereka semua menatap ke tebing bagian atas. Paman Jayaratu pun tampak terkejut. Dengan susah payah dia berdiri dan menengadah ke atas tebing.
"Ki Darma..." gumam Paman Jayaratu pelan.
Purbajaya ikut menengadah. Di atas tebing cadas tampak seorang tua bertubuh ceking dengan rambut warna perak yang terurai tanpa ikat kepala. Dia mengenakan celana sontog sebatas betis yang terbuat dari kain kasar warna nila. Bajunya berupa rompi dari kain kasar juga, tidak berkancing sehingga dadanya dibiarkan terbuka begitu saja.
Purbajaya mengeluh karena rasanya kesulitan akan kian bertambah. Mendapat serangan dari perwira Pajajaran yang tidak terkenal saja sudah sedemikian payah, apalagi ditambah dengan kehadiran Ki Darma, tokoh yang amat ditakuti semua orang.
"Kalian datang jauh-jauh dari Pakuan, apakah akan menangkapku?" tanya Ki Darma sambil bertolak pinggang.
"Kami memang menerima perintah Ratu untuk menangkapmu. Sebetulnya Kanjeng Prabu Ratu Sakti mengharapkanmu," kata seorang perwira Pajajaran berusia kira-kira tiga puluh tahun.
"Nah, sekarang laksanakan perintahnya agar kalian menjadi orang-orang yang taat kepada pemerintah. Tapi hati-hati sebab aku akan melawan kalian," kata Ki Darma masih bertolak pinggang.
"Kami tidak akan menangkapmu."
"Mengapa?"
"Karena kami tidak mau!"
"Bocah edan. Apa perlunya kalian jauh-jauh datang ke sini kalau tujuannya hanya mau berkhianat terhadap ratumu?" tanya Ki Darma mengerutkan alis.
"Pertama, kami tidak akan mampu mengungguli kesaktianmu, dan kedua, kami tidak mau menaati perintah Ratu."
"Hahaha! Semua orang senang bersandiwara!" Ki Darma terkekeh-kekeh seolah-olah ini percakapan yang penuh kelucuan.
"Ini adalah ucapan yang keluar dari hati kami yang suci. Kami mau berhenti dari pengabdian kami kepada Kanjeng Prabu."
"Salah sendiri, kenapa kalian mengabdi kepada orang dan bukan kepada negara?" tanya Ki Darma.
"Itulah sebabnya, kami akan bergabung denganmu!"
"Mengabdi padaku?"
"Bukan. Bergabung denganmu."
"Nanti aku disalahkan lagi oleh penguasa Pakuan. Disangkanya aku memengaruhi kalian untuk sama-sama tidak menyukai penguasa!" ujar Ki Darma.
"Itu kami yang bertanggung jawab."
"Coba apa alasan kalian kabur dari Pakuan?" tanya Ki Darma.
"Perilaku Kanjeng Prabu semakin menjadi-jadi. Rakyat dibebani pajak tinggi, yang membangkang ditangkap. Banyak negara kecil di bawah Pakuan diserang habis-habisan hanya karena enggan membayar pajak."
"Penyakit lama... Sialan!" gumam Ki Darma.
"Maka kami akan ikut Aki saja..."
"Hati-hati bicaramu. Aku tidak mengumpulkan orang-orang yang membangkang kepada penguasa. Kalau mau membangkang, boleh pergi sendiri-sendiri. Lagi pula, aku masuk ke wilayah orang lain tiada lain selain ingin menyepi jauh dari semua berita buruk mengenai Pajajaran," kata Ki Darma.
"Ya, kami akan jalan sendiri-sendiri, namun secara kebetulan, kami akan tinggal di sini saja bersama Aki," kata sang perwira.
"Dasar anak bodoh!"
"Tapi ada satu hal yang mengganjal pikiran kami. Kami diutus ke sini juga untuk merebut tombak pusaka Cuntang Barang. Betulkah ada pada Aki?" tanya perwira muda itu.
"Kalian tanya sendiri pada hatimu, apa yakin aku mencuri benda milik orang lain?" Ki Darma malah balik bertanya.
"Saya tidak yakin, Aki..."
"Nah, kau sudah jawab itu!"
"Kau memang mencuri tombak pusaka Cuntang Barang. Kembalikanlah sebab itu milik Carbon!" Ki Albani tiba-tiba bersuara. Dia masih terlihat duduk dengan lesu di tanah dengan darah yang masih mengucur di sana-sini.
"Hai, engkau bekas perwira Carbon yang puluhan tahun jadi musuh besarku, coba kau katakan, Jayaratu, bagaimana caranya agar orang-orang dungu dari negerimu mengerti perihal aku!" tiba-tiba Ki Darma berkata kepada Paman Jayaratu.
Sambil mata masih terpejam untuk mengatur pernapasan, Paman Jayaratu mengatakan bahwa Ki Darma tidak pernah berupaya menguasai tombak pusaka itu.
"Memang dulu ada berita bahwa ketika Keraton Talaga jatuh ke tangan Carbon, tombak pusaka Cuntang Barang milik Talaga dibawa lari ke puncak Cakrabuana oleh salah seorang perwiranya yang tidak mau tunduk, yaitu Ki Dita Jayaratu, dan disembunyikan di sekitar sini. Ki Darma hanya secara kebetulan saja datang ke sini dan tidak tahu-menahu urusan itu," tutur Paman Jayaratu.
"Jadi sekarang Cuntang Barang ada di mana?" tanya Ki Albani. Dia pun duduk tegak sambil sesekali mengatur pernapasan.
"Cuntang Barang sudah diamankan oleh Kanjeng Susuhunan Jati di Carbon."
"Mengapa aku tidak tahu?"
"Majikanmu, Arya Damar, yang bertanggung jawab. Mengapa pengetahuanmu sampai keliru seperti ini?" Paman Jayaratu balik bertanya.
"Bahkan Pangeran Arya Damarlah yang mengutus kami untuk merebut benda pusaka itu dari Ki Darma!" Ki Albani masih bertahan dengan pendapatnya.
"Sudah aku katakan, Arya Damar yang harus bertanggung jawab!" potong Paman Jayaratu lagi.
"Hahaha! Ternyata semua orang memperebutkan aku!" Ki Darma terkekeh-kekeh.
Mendengar ucapan ini, semua orang hanya termenung tanpa tahu apa yang dipikirkan.
"Lihatlah, korban-korban bergelimpangan. Mereka tidak mengerti mengapa harus begitu..." gumam Ki Darma.
Semuanya membisu seolah-olah membenarkan pendapat Ki Darma. Mereka semua menatap tubuh-tubuh korban yang bergelimpangan. Ada yang membujur kaku, namun ada juga yang berguling-guling atau mengerang menahan sakit.
Ki Darma tertawa-tawa, namun suaranya terdengar dingin dan menyeramkan. Sesudah itu, dia berlalu meninggalkan mereka. Sayup-sayup terdengar senandung Ki Darma yang parau dan gersang, tetapi memaksa orang untuk berpikir: hidup banyak menawarkan sesuatu, tetapi bila tidak sanggup memilihnya, maka kita adalah orang-orang yang kalah.
Ternyata korban tewas dalam pertempuran sia-sia ini berjumlah puluhan orang. Prajurit Carbon hampir semuanya tewas, begitu pula prajurit Pajajaran. Kendati tidak semua, jumlahnya cukup banyak. Ki Albani menderita kesedihan yang sangat mendalam. Tiga orang rekannya yang menderita luka parah dan lama tidak sadarkan diri, akhirnya tewas juga.