Chapter 25
Sedangkan dia sendiri diduga kelak akan menjadi orang yang cacat dan tidak akan sanggup melakukan perkelahian karena luka dalam pertempuran itu.
Paman Jayaratu banyak menderita luka bacokan dan tusukan, kebanyakan karena pengeroyokan Ki Albani dan rekan-rekannya dalam pertempuran sebelum pasukan Pajajaran tiba.
Ya, semua pertikaian seolah selesai begitu saja setelah semua tahu bahwa apa yang diharapkan tidak terlaksana.
Bukankah sebelumnya semua orang berebut ingin mencari Ki Darma dan Cuntang Barang sehingga terjadi korban sia-sia? Ternyata setelah semuanya selesai, selesai pula permusuhan.
Persis dalam adegan sandiwara seperti yang diucapkan Ki Darma.
Pasukan Pajajaran tidak lagi memusuhi pasukan Carbon yang telah porak-poranda. Mereka bahkan saling membantu menguburkan korban yang tewas.
Ketika tugas itu selesai, masing-masing mengundurkan diri dari tempat itu.
Belasan perwira Pajajaran meninggalkan tempat itu dengan kelesuan yang sangat.
Ki Albani turun gunung dengan tertatih-tatih dan wajah meringis penuh rasa sakit.
Ketika Purbajaya mengajak Paman Jayaratu untuk sama-sama turun gunung, orang tua itu menolak.
"Aku akan tinggal di sini, Purba," kata Paman Jayaratu lesu, tetapi dengan suara bulat.
"Engkau akan bergabung dengan Ki Darma?" tanya Purbajaya heran.
Paman Jayaratu menggelengkan kepala.
"Bukan karena bermusuhan antarnegara. Tapi kami tidak mungkin berdampingan. Dia mungkin menetap di puncak, aku di lereng untuk mendekatkan diri pada penduduk. Ki Darma tidak mau masuk agama baru. Mungkin baginya, hidup yang baik adalah menjauhkan diri dari khalayak. Aku di sini bahkan ingin mengajarkan dan menyebarkan agama baru seperti apa yang dipesankan Kangjeng Susuhunan Jati," tutur Paman Jayaratu panjang lebar.
"Kalau begitu, saya akan mengikutimu, Paman," kata Purbajaya.
Namun Paman Jayaratu menggelengkan kepala.
"Jangan. Perjalananmu masih panjang. Tugasmu adalah mencari berita mengenai keluargamu di wilayah Pajajaran. Kau harus ikut Raden Yudakara ke wilayah Tanjungpura," kata Paman Jayaratu.
"Bukankah Paman telah katakan kepada Ki Albani bahwa keluarga saya habis dibantai pasukan Pangeran Arya Damar?" tanya Purbajaya menatap wajah orang tua itu.
Mendengar ucapan Purbajaya, tampak wajah Paman Jayaratu murung.
"Aku menyesal hal ini telanjur kau ketahui, padahal selama ini ingin aku rahasiakan," keluh Paman Jayaratu.
"Dengan harapan agar aku tak membenci Carbon?" tanya Purbajaya.
Paman Jayaratu tidak menjawab sepatah kata pun.
"Apa pun terjadi, saya tetap orang Carbon, Paman. Saya hanya akan memiliki dugaan satu, bahwa pembantaian itu tidak dilakukan oleh Carbon, melainkan hanya karena ambisi Pangeran Arya Damar semata," kata Purbajaya dengan kalimat datar, tidak memiliki emosi sedikit pun.
"Engkau bijaksana, Purba," kata Paman Jayaratu memegang pundak pemuda itu. "Namun demikian, kau harus tetap mencari berita yang sebenarnya. Di Tanjungpura mungkin masih ada kerabatmu," kata Paman Jayaratu, tetap memaksa pemuda itu untuk pergi.
"Saya tidak menyukai Raden Yudakara," keluh Purbajaya. "Orang itu pengecut. Saya ke sini bersamanya. Tapi dalam menghadapi pertempuran, dia menghilang begitu saja," lanjutnya mengemukakan kekesalannya.
"Aku bisa menduga mengapa dia bertindak begitu," kata Paman Jayaratu. "Raden Yudakara hidup dalam dua sisi. Satu sisi dikenal sebagai warga Pajajaran, satunya lagi sebagai orang Carbon. Kalau dia ikut terlibat pertempuran, dia takut rahasianya terbongkar oleh orang Pajajaran. Dan itu akan membahayakan misi Carbon. Atau, mungkin juga dia lebih dewasa dalam berpikir. Pertempuran semalam tidak menguntungkan siapa pun juga. Dia tidak mau terlibat dalam urusan yang sia-sia sebab dia punya tugas yang lebih penting dari sekadar mengumbar emosi," kata Paman Jayaratu.
Namun Purbajaya merasakan nada kata-kata orang tua ini seperti mengandung keraguan.
"Paman..." Purbajaya mau membantah. Tapi Paman Jayaratu memberi isyarat dengan tangannya agar pemuda itu diam.
"Kau cepatlah pergi dan tinggalkan aku di sini," kata Paman Jayaratu.
"Saya akan pergi dari sini asalkan Paman memberikan keyakinan saya mengenai Raden Yudakara," desak Purbajaya.
Sejenak Paman Jayaratu termenung.
"Kau akan semakin berat mengarungi kehidupan. Tapi semakin banyak cobaan, maka akan semakin dewasa dirimu. Memang buruk terlalu mempercayai orang, namun juga sama buruknya mencurigai orang. Raden Yudakara adalah mata-mata. Artinya, setiap gerak-langkahnya selalu penuh tipu daya. Yang engkau perlu simak, untuk apa tipu daya itu dia kerjakan. Kalau ternyata hanya untuk kepentingan sesaat dan tidak punya nilai keluhuran, boleh kau tinggalkan. Kehati-hatian terhadap Raden Yudakara harus kau lakukan," kata Paman Jayaratu memberikan nasihat.
"Baik, saya akan pergi setelah merawat lukamu, Paman..."
"Kau pergilah. Ilmu pengobatanmu 'kan aku yang ajarkan, jadi aku pasti lebih pandai mengobati ketimbang kamu," Paman Jayaratu berkata, namun nadanya adalah perintah pergi.
Akhirnya Purbajaya berdiri. Dia mengerti kalau sebenarnya Paman Jayaratu senang hidup menyendiri.
Purbajaya menghormat takzim. Ini adalah perpisahan dan entah kapan akan bertemu lagi. Sudut-sudut matanya terasa panas, tetapi Purbajaya mengerti, tangis tidak boleh diperlihatkan di hadapan Paman Jayaratu.
Dengan hati berat, Purbajaya meninggalkan lereng Gunung Cakrabuana.
Purbajaya menuruni lereng dengan gontai dan pikiran kalut. Hatinya hampa sekali karena berbagai perjalanan hidupnya selama ini seolah tidak berketentuan. Dulu dia seperti punya cita-cita dan mengabdi untuk kepentingan Carbon. Paman Jayaratu seperti mendukungnya dan dirinya diarahkan agar memiliki berbagai kepandaian. Belakangan dia merasa telah terjatuh kepada orang yang salah, yaitu mengabdi kepada Pangeran Arya Damar yang hanya mengabdi untuk kepentingan dirinya sendiri.
Cita-cita Purbajaya bahkan semakin kabur setelah terlibat asmara dengan Nyimas Waningyun. Sehingga kendati dia sudah tidak setuju dengan kebijakan Pangeran Arya Damar, dia tidak mau beranjak pergi dari puri hanya karena melihat putrinya, Nyimas Waningyun.
"Ah, padahal gadis itu telah ditunangkan kepada sesama anak pejabat lainnya," keluh Purbajaya.
Purbajaya sedih merasakan semua ini. Akhirnya dia terlunta-lunta ke mana langkah kaki membawanya. Jelas, dia tidak mau kembali ke Carbon. Kalau kembali, peristiwa pertempuran di Cakrabuana akan menjadi urusan. Barangkali dia akan dituduh pengkhianat karena telah menghancurkan empat perwira pimpinan pasukan Carbon.
Purbajaya bahkan berkelana ke wilayah Karatuan Talaga, juga ke Sumedanglarang. Berbulan-bulan dia tinggal di wilayah itu sampai pada suatu waktu datanglah kabar dari Nagri Carbon. Kabar itu sungguh mengejutkan. Beberapa bangsawan penting dari Sumedanglarang berkenaan dengan adanya pesta pernikahan putri Pangeran Arya Damar.
Dengan hati pedih, Purbajaya menerima kabar ini. Hanya saja hatinya demikian sedih, Nyimas Waningyun ternyata bukan dipersunting oleh Ranggasena, melainkan oleh Raden Yudakara! Ini menyakitkan. Bukankah dirinya pernah minta tolong agar nasib Nyimas Waningyun diselamatkan oleh Raden Yudakara? Purbajaya mencoba mengingat-ingat kembali permohonannya pada Raden Yudakara. Waktu itu dia mengabarkan bahwa Nyimas Waningyun tengah dirundung duka karena dipaksa menikah dengan lelaki bukan pilihannya.
Raden Yudakara waktu itu berjanji akan menolong nasib gadis itu. "Ya, gadis itu harus ditolong dari penderitaan cintanya. Kalau pun perjodohannya diatur orang, maka sekurang-kurangnya harus menyertakan kepentingan gadis itu sendiri," tutur Raden Yudakara ketika itu. Ternyata sekarang gadis itu malah dipersunting oleh Raden Yudakara.
Barangkali Nyimas Waningyun memang berkepentingan dalam pernikahan ini. Kepentingan apa? Purbajaya ingat, betapa sebenarnya gadis itu lemah iman. Mudah tergoda birahi. Buktinya dulu dalam malam perpisahan, gadis itu hampir menyerahkan kesuciannya kepada Purbajaya kalau pemuda itu tidak menolaknya. Bertemu dengan Raden Yudakara yang tampan, periang, romantis, dan penggoda, tentu gadis itu tidak akan kuat. Raden Yudakara adalah lelaki penggoda. Dan mungkin ini lebih dibutuhkan Nyimas Waningyun ketimbang perilaku Purbajaya yang bersikap alim dan menjaga kesopanan dalam urusan cinta berahi.
Ingat ini, Purbajaya jadi tersenyum, entah menyiratkan apa. Yang jelas, pemuda ini bahagia gadis itu dinikahi orang lain. Sebab dengan demikian, dirinya terbebas dari bayangan-bayangan cinta Nyimas Waningyun.
Purbajaya berada di wilayah Sumedanglarang berbulan-bulan lamanya. Sedikit banyaknya dia bisa mengenal wilayah ini. Sumedanglarang dulu merupakan kerajaan yang cukup besar. Wilayahnya luas mencakup beberapa daerah seperti Tanjungpura (Karawang), Ciasem, Pamanukan, Indramayu, Sukapura, Parakanmuncang, bahkan Talaga. Namun kendati demikian, sejak kehadirannya Sumedanglarang tetap berada di bawah bayang-bayang kekuasaan Pajajaran. Dengan kata lain, Sumedanglarang merupakan negara bagian dari Pajajaran. Mengapa tidak begitu, sebab Sumedanglarang dibangun oleh Sang Prabu Tajimalela. Prabu Tajimalela adalah putra Prabu Aji Putih, dan Prabu Aji Putih adalah saudara dekat dari Sang Prabu Sri Baduga Maharaja, penguasa Pajajaran (1498-1521 Masehi).
Namun zaman terus bergulir, dengan membawa berbagai perubahannya. Di saat kekuatan Pajajaran mulai melemah, Sumedanglarang malah berpaling dari induknya dan memindahkan kesetiaannya kepada sang penguasa baru, yaitu Nagri Carbon (Cirebon). Ini dimulai ketika Nyimas Ratu Inten Dewata, penguasa Sumedanglarang, dipersunting Kangjeng Pangeran Santri, seorang tokoh penting dari Carbon. Babak baru mulai berlangsung, di mana Sumedanglarang mulai dipengaruhi agama baru, Islam. Menghadapi perubahan agama seperti ini, boleh dikata orang Sumedanglarang tidak merasa sulit.