Halo!

Kemelut Di Cakrabuana - Chapter 26

Memuat...
Kemelut Di Cakrabuana

Chapter 26

Mereka mudah beradaptasi dan tidak susah menerima kehadiran agama baru itu. Sebab, menurut hemat mereka, terdapat nilai-nilai yang sama antara agama karuhun (nenek moyang) dengan nilai yang dikandung agama baru.

Karuhun Pajajaran memang ada juga yang terpengaruh ajaran Hindu ataupun Buddha, namun kepercayaan asli mereka sebenarnya tidak menyembah patung.

Tak ada benda mati yang mereka sembah.

Karuhun Sunda mengakui bahwa di dunia fana ini, kehidupan dikuasai oleh sebuah kekuatan yang berada jauh di atas kekuatan manusia.

Kekuatan apakah itu, mereka tak bisa melihatnya namun dapat merasakannya.

Oleh sebab itulah Sang Kekuatan Gaib disembah sebagai Hyang (Yang Gaib). Hyang adalah penguasa tunggal jagat raya.

Dialah Sang Maha Kuasa, Maha Melihat dengan segala kekuatannya. Dialah Yang Maha Tahu dari segala sumber pengetahuan yang ada di jagat raya.

Jadi ketika Islam hadir di Sumedanglarang, orang tak merasa kaget ketika diperkenalkan kepada Tuhan yang dimaksud oleh agama baru itu.

Tuhan dalam Islam adalah penguasa kehidupan yang tidak bisa dilihat tetapi dapat dirasakan keberadaannya.

Mereka bahkan bersyukur bahwa semakin didalami dan ditekuni, maka kesempurnaan agama baru ini semakin terasa.

Mereka tetap merasa bahwa agama karuhun itu baik, namun agama baru bahkan lebih baik lagi, lebih lengkap, dan lebih sempurna dalam memberikan pedoman hidup untuk kepentingan dunia dan akhirat.

Itulah sebabnya, banyak orang Sumedanglarang tidak terlalu sulit menerima kehadiran agama baru ini.

Namun secara politis, Sumedanglarang memalingkan muka dari Pajajaran ke Carbon bukan semata perkara kepercayaan saja.

Yang lebih dari itu, Sumedanglarang merasa bahwa Carbon dianggap lebih baik dan bisa dipakai sebagai pelindung ketimbang Pajajaran. Ibu kota Pajajaran, Dayo, berada di Pakuan (Bogor kini).

Letaknya jauh sekali di barat.

Semakin jauh dari pusat pemerintahan, wilayah Pajajaran semakin tak terurus.

Sementara itu, pengaruh yang paling terasa adalah Nagri Carbon.

Jadi amat beralasan kalau Sumedanglarang akhirnya memilih bergabung dengan Nagri Carbon.

Perjalanan hidup negara besar di Jawa Kulon, bernama Pajajaran, ini semakin tak terarah selepas pemerintahan Sang Prabu Sri Baduga Maharaja.

Para penerusnya tidak memiliki kearifan dalam memimpin negeri.

Sumedanglarang tak mau terombang-ambing oleh hidup yang tak berketentuan.

Maka, saat Pajajaran dipimpin oleh Sang Prabu Surawisesa (1521-1535 Masehi), Sumedanglarang memisahkan diri dan memilih bergabung dengan Nagri Carbon.

Sekarang, orang Sumedanglarang malah semakin bersyukur bahwa sejak lima belas tahun silam, setelah ikut Carbon, Sumedanglarang selamat dari tekanan kelompok yang bernama penguasa.

Kalau tetap berada di bawah bayang-bayang Pajajaran, bagaimana jadinya?

Kini penguasa Pajajaran adalah Sang Prabu Ratu Sakti (1535-1551 Masehi).

Ratu ini, tabiatnya, bahkan lebih buruk dari Sang Prabu Surawisesa, sang kakek.

Jika kakeknya gemar berperang, sang cucu selain punya kegemaran yang sama, juga suka menekan rakyatnya.

Sang Prabu Ratu Sakti menekan rakyat dengan seba (pajak) yang berat.

Negara bawahannya yang dianggap membangkang, tanpa pikir panjang diserbu.

Akibatnya, rakyat menderita karena banyak terlibat perang.

Sang Prabu Ratu Sakti pun alergi terhadap kritik.

Dia tak mau menerima kritik dari bawahannya. Siapa pun yang berani mengkritiknya, maka dianggapnya sebagai lawan politik yang merongrong kewibawaannya.

Itulah sebabnya, banyak penduduk Sumedanglarang merasa hormat kepada Carbon.

Kanjeng Pangeran Santri, kendati bukan ratu (penguasa/pejabat), memiliki kemampuan memimpin yang hebat, sampai-sampai istrinya pun memberikan keleluasaan baginya dalam menangani pemerintahan.

Nyimas Ratu Inten Dewata menyerahkan tampuk pemerintahan sehari-hari kepada suaminya.

Kanjeng Pangeran Santri memang pandai memimpin dan bisa menyenangkan hati rakyat serta pejabat yang ada di bawahnya, kendati pada akhirnya dimanfaatkan oleh sementara pejabat yang ingin berada paling dekat dan paling dipercaya oleh Kanjeng Pangeran.

Bab 7. Harumnya Kanjeng Pangeran telah menjadi harumnya Nagri Carbon.

Banyak orang tua di Sumedanglarang bercita-cita putrinya dipersunting jejaka Carbon, dengan harapan putrinya dapat bimbingan agama dan memperoleh nasib baik.

Namun, seperti kata pepatah, bambu dalam serumpun tak seluruhnya tumbuh lurus.

Satu dua pasti ada yang bengkok.

Begitu pula yang terjadi pada sementara orang yang mengaku berasal dari Carbon.

Keharuman Kanjeng Pangeran Santri di Sumedanglarang, seperti dijadikan pijakan oleh orang lain untuk mencari kesempatan.

Purbajaya yang berbulan-bulan tinggal di wilayah itu, punya penilaian lain kepada pemuda bangsawan tampan bernama Yudakara.

Di wilayah Sumedanglarang mungkin banyak orang yang menaruh hormat kepada Raden Yudakara, namun juga tak kurang yang merasa kecewa terhadap penampilannya.

Paling tidak, kekecewaan ini dirasakan oleh keluarga Ki Bagus Sura.

Berdasarkan pengetahuan yang didapat Purbajaya, Ki Bagus Sura adalah mantan mertua Raden Yudakara.

Dua tahun lalu, Raden Yudakara mempersunting Nyimas Yuning Purnama, putri tunggal Ki Bagus Sura.

Namun belakangan, tanpa dimulai oleh permasalahan, Raden Yudakara menceraikan gadis itu untuk kemudian menikah lagi dengan Nyimas Waningyun, putri Pangeran Arya Damar.

Menurut berita yang sampai ke telinga Purbajaya, keluarga Ki Bagus Sura amat terhina dengan peristiwa ini.

Dengan rasa bahagia dan penuh harap, Ki Bagus Sura dulu menyerahkan putri satu-satunya karena Raden Yudakara begitu memperhatikannya dan serta-merta menyatakan cintanya.

Siapa tak bahagia putrinya semata wayang dicintai bangsawan Carbon?

Raden Yudakara adalah seorang lelaki gagah, tampan, dan punya posisi tidak sembarangan di Carbon.

Harga diri dan nama baik keluarga itu tentu akan mencuat.

Selama dua tahun dipersunting Raden Yudakara, boleh dikata tak ada permasalahan rumah tangga, kecuali Nyimas Yuning sering ditinggal pergi.

Namun semua keluarga memakluminya.

Kendati tidak diketahui apa peranan Raden Yudakara di Carbon, semua yakin bahwa pemuda bangsawan itu suka menerima tugas penting dari Carbon.

Keluarga Ki Bagus Sura memaklumi kalau Raden Yudakara sering menghilang karena itu tugas penting yang tak boleh diketahui umum.

Itu tak mengapa.

Hanya yang menjadi rasa tak suka keluarga Bagus Sura adalah sikap Raden Yudakara demikian aneh.

"Bukankah suatu hal yang aneh kalau menceraikan istrinya begitu saja tanpa sebab? Seburuk apa pun nasib perempuan, masih lebih berharga dimadu ketimbang dicerai.

Aku sudah akan berlapang dada, kalau saja anakku dimadu.

Si Yuning tak punya dosa, tak punya kesalahan, namun secara tiba-tiba diceraikan begitu saja, hanya karena Raden Yudakara akan menikahi putri keluarga Pangeran Arya Damar," kata Ki Bagus Sura dengan perasaan sedih.

Malam itu, bulan benderang.

Purbajaya dimintai tolong mengajar mengaji anak-anak remaja di lingkungan benteng.

Sudah hampir sebulan ini, Purbajaya tinggal di puri Ki Bagus Sura.

Pemuda ini mulanya tak ada niat untuk tinggal di keluarga ini.

Maklumlah, di sana ada janda muda yang kecantikannya demikian dikenal di seputar istana.

Para pemuda di sekitar benteng istana, baik anak bangsawan maupun hanya pemuda prajurit dan jagabaya, begitu mendambakan cinta Nyimas Yuning Purnama.

Purbajaya tadinya tak mau dekat-dekat dengan wanita sebab masih trauma dengan peristiwa yang menyangkut Nyimas Waningyun.

Namun, Ki Bagus Sura dengan penuh harap menginginkan Purbajaya tinggal di puri untuk memberi latihan mengaji kepada anak-anak puri, termasuk juga melatih mengaji kepada Nyimas Yuning Purnama.

Dimintai bantuan seperti ini, Purbajaya bimbang.

Kalau menerima, dia takut dekat-dekat wanita.

Tetapi kalau menolak, itu adalah dosa.

Ya, berdosalah orang yang menolak berbuat kebajikan, apalagi yang menyangkut urusan agama secara langsung.

Bukankah dari Carbon pun dia diperintah untuk ikut menyebarkan agama baru? Di wilayah Sumedanglarang, sebetulnya sudah banyak orang yang bisa mengaji.

Namun, nama "orang Carbon" sepertinya sudah jaminan mutu.

Ini tentu merepotkan Purbajaya yang dikenal sebagai orang Carbon.

Dia memang bisa mengaji tetapi belum pandai benar.

Kepandaiannya hanya untuk dilafalkannya sendiri dan bukan untuk diajarkan kepada orang lain sebab takut salah.

Namun, karena orang telanjur menganggap dirinya sebagai orang Carbon yang serba bisa dalam hal agama, maka Purbajaya pun tak berani menolak.

Menolak artinya merendahkan martabat Carbon sendiri, dan Purbajaya tak mau itu.

Itulah sebabnya, dia menerima permintaan ini sambil dirinya sendiri pun cepat mempelajari apa-apa yang kelak dibutuhkan dalam mengajar.

Dia tak mau kelihatan oleh muridnya kalau dia sebagai "guru dari Carbon" malah kelihatan bodoh, tak tahu apa-apa.

Namun demikian, menjadi guru mengaji di keluarga ini bisa pula menjadi keperluan khusus baginya.

Semenjak mendengar bahwa Raden Yudakara pernah menjadi menantu keluarga ini, dia jadi tertarik ingin menyelidiki lebih jauh perihal keberadaan pemuda bangsawan itu.

Perilaku Raden Yudakara perlu disimak.

Menurut hemat Purbajaya, Raden Yudakara seperti memiliki kepribadian ganda.

Sekali waktu terlihat baik, namun sekali waktu malah menampakkan kebalikannya.

Ini misteri dan perlu diselidiki.

Menurut pengetahuan yang didapat, Raden Yudakara mengemban tugas penting bagi Carbon, yaitu memata-matai kegiatan Pajajaran.

Namun, pihak Pajajaran pun sebenarnya tengah "menggunakan" pemuda bangsawan ini sebagai mata-mata yang ditempatkan di Carbon.

Carbon beranggapan bahwa Raden Yudakara tetap bekerja untuk Carbon, sementara orang Pajajaran pun menduga pemuda ini bekerja untuk mereka.

Mana yang benar dan mana yang paling merasakan kebenaran pekerjaan Raden Yudakara yang sebenarnya, Purbajaya tak tahu.

Namun yang jelas, peranan Raden Yudakara sebenarnya bisa membahayakan semua pihak.

Beberapa lama dia melakukan perjalanan bersama pemuda itu, Purbajaya mendapati bahwa Raden Yudakara adalah tetap orang misterius.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment