Halo!

Kemelut Di Cakrabuana - Chapter 27

Memuat...
Kemelut Di Cakrabuana

Chapter 27

Purbajaya masih ingat ketika melakukan perjalanan ke puncak Cakrabuana. Raden Yudakara tahu benar bahwa di puncak gunung itu secara tidak sengaja akan terjadi pertemuan antara pasukan Cirebon dan pasukan Pajajaran. Namun demikian, Raden Yudakara sepertinya tidak berniat untuk mencegah pertempuran. Malah ada kesan dia membiarkan pertempuran berlangsung.

Pertempuran di puncak Cakrabuana memang benar terjadi. Pasukan Cirebon dan Pajajaran saling bantai. Purbajaya sungguh tidak mengerti mengapa Raden Yudakara ketika itu tetap bersembunyi serta sedikit pun tidak berniat melibatkan diri dalam urusan itu. Perilaku Raden Yudakara amat membingungkan.

Hal lain yang tidak disenangi Purbajaya adalah penilaian bahwa Raden Yudakara merupakan pemuda yang romantis. Dia selalu menyukai wanita cantik, bahkan bisa disebut sebagai hidung belang. Di sepanjang perjalanan antara Cirebon dan wilayah Talaga, kerjanya hanya menggoda kaum perempuan saja. Raden Yudakara pun terkesan tidak menghormati sesama lelaki dalam upaya mendapatkan cinta. Buktinya, kendati Raden Yudakara tahu bahwa Purbajaya menaruh hati kepada Nyimas Waningyun dan memohon pertolongan untuk mengurusnya, belakangan diketahui kalau "sang comblang" itu sendiri yang meminangnya.

Barangkali Raden Yudakara adalah orang yang kaya akan siasat licik dan pandai merekayasa keadaan sehingga semua permasalahan pada akhirnya menjadi keuntungan bagi dirinya. Jika tidak begitu, dia takkan sanggup mempersunting Nyimas Waningyun. Perlu taktik yang hebat dalam upaya menyingkirkan Raden Ranggasena, tunangan Nyimas Waningyun. Siasat apa yang dijalankannya sehingga sanggup menundukkan perangai Pangeran Arya Damar yang keras dan berhasil menempatkan bangsawan itu sebagai mertuanya, Purbajaya tidak bisa menduganya.

Ya, Raden Yudakara sungguh misterius. Purbajaya harus menyelidikinya. Mungkin penyelidikan bisa dimulai dari rumah bangsawan ini.

"Raden Yudakara punya masalah lebih besar ketimbang urusan pernikahan..." gumam Purbajaya di saat santai mengobrol dengan Ki Bagus Sura. Pendapat Purbajaya ini hanya dijawab dengan dengus ejekan dari Ki Bagus Sura. Purbajaya menatap lama ke arah wajah orang tua yang kepalanya diikat kain ikat kepala jenis lohen ini.

"Maafkan bila saya menyinggung perasaanmu," sambung Purbajaya.

"Sebagai sesama orang Cirebon, kau tentu akan memihak bekas menantuku itu, Purba..." Ki Bagus Sura berdesah kesal.

Purbajaya tadinya akan menyampaikan bahwa dirinya pun tidak menyukai Raden Yudakara, namun maksud itu diurungkannya. Tidak baik menjelek-jelekkan orang lain kepada orang yang baru dikenal. Purbajaya pun tidak mau mengaku kalau dirinya kini sedang menjadi anak buah pemuda misterius itu. Kalau dia mengatakannya, Ki Bagus Sura malah akan memandangnya dengan cara yang berbeda.

"Sesama orang Cirebon..." gumam Purbajaya. "Tidak ada hubungannya dengan ini. Yang baik akan tetap baik, sementara yang buruk akan terlihat buruk," kata Purbajaya seperti bicara kepada dirinya sendiri.

"Syukur kau berpandangan begitu, sebab aku sendiri telah keliru menafsirkannya," Ki Bagus Sura membalas dengan helaan napas. "Semua orang Sumedanglarang amat hormat kepada Kanjeng Susuhunan Jati. Tak dinyana, tidak semua orang punya perangai yang sama," kata Ki Bagus Sura lagi. Dia duduk bersila di paseban sambil memijat-mijat betisnya sendiri. Hari ini Ki Bagus Sura baru saja berlatih kewiraan.

Purbajaya memuji orang tua ini yang amat rajin melatih tubuhnya. Katanya, di zaman sekarang, orang hanya bisa mempertahankan keberadaan dirinya melalui kepandaian. Kalau tidak memiliki apa-apa, segalanya akan kalah dari yang lainnya.

"Engkau orang baik, Purba..." kata Ki Bagus Sura memuji dengan jujur.

"Jangan terburu-buru menilai orang, nanti keliru lagi." Purbajaya tersenyum mendengar pujian ini. Sedikit pun dia tidak bangga dengan pujian sebab menurutnya hal ini hanya akan mengurangi kewaspadaan saja.

"Tutur bahasamu sopan dan memikat," lanjut Ki Bagus Sura lagi.

Purbajaya hampir saja mengatakan kalau Raden Yudakara pun tutur bahasanya sopan dan memikat. Siapa pun yang bicara dengannya pasti mudah percaya. Namun, maksud ucapan itu diurungkan. Dia tetap tidak mau orang Sumedanglarang tahu kalau dirinya punya hubungan dengan Raden Yudakara.

"Tutur bahasa belum menjamin nilai kemanusiaan. Banyak yang harus dilihat secara keseluruhan." Lagi-lagi Purbajaya tersenyum.

Percakapan terhenti manakala dari halaman muncul seseorang. Purbajaya menatap ke arah halaman dan kebetulan orang yang baru datang pun balas menatapnya. Maka, dua pasang mata beradu pandang. Namun, mata Purbajaya mengalah lebih dulu. Purbajaya menunduk. Dia kalah sebab lawannya adalah sorot mata seorang gadis.

Sorot mata gadis itu tidak begitu tajam, bahkan ada kesan kuyu dan tidak bersemangat. Namun entah mengapa, Purbajaya tidak sanggup melawan tatapan itu. Itu adalah tatapan mata Nyimas Yuning Purnama, putri tunggal Ki Bagus Sura yang kini sudah tidak memiliki ibu lagi. Mungkin karena itulah orang tuanya menamainya Purnama. Mata Nyimas Yuning redup seperti purnama menjelang pagi. Apakah keredupan itu karena didera nasib malang akibat perbuatan Raden Yudakara? Sungguh kejam pemuda bangsawan itu; dia menyepelekan kehalusan perasaan wanita.

"Silakan Nyimas duduk. Sudah lama saya menanti kalian. Eh, mana para santri lainnya?" Purbajaya mempersilakan gadis anggun itu duduk di bale-bale paseban. Sungguh jahat Raden Yudakara. Mengapa gadis secantik ini dibuang begitu saja sehingga nasib Nyimas Yuning terpuruk menjadi janda? Lagi-lagi hati Purbajaya memarahi Raden Yudakara.

"Saya ke sini untuk memberi tahu, santri lain tidak bisa hadir," jawab Nyimas Yuning dengan suara halus dan merdu. Dia duduk berhadapan namun agak menjaga jarak.

"Karena apa?" Purbajaya mengernyitkan dahi.

"Ada kegiatan lain di pakalangan Ki Dita," jawab gadis itu.

"Maafkan, aku tidak memberi tahu sebelumnya," potong Ki Bagus Sura. "Ki Dita memang suka memotong pekerjaan orang. Sudah jelas hari ini anak-anak belajar mengaji, malah diajaknya latihan kewiraan," ungkap Ki Bagus Sura dengan nada tersinggung.

"Sudahlah, Ayahanda. Saya tetap datang dan saya mau belajar mengaji..." tutur Nyimas Yuning seolah mencegah ayahnya terus-menerus mengomeli Ki Dita.

Purbajaya tersenyum pahit. Di mana-mana persaingan selalu ada, termasuk di kalangan penghuni istana Sumedanglarang. Dalam beberapa bulan saja, Purbajaya sebetulnya telah mengenal situasi. Di kalangan pejabat Sumedanglarang memang ada sementara orang yang bersaing ingin menjadi yang paling dekat dan paling dipercaya penguasa. Ki Dita ini anak buah Ki Sanja, pejabat yang menjadi pesaing utama Ki Bagus Sura. Mereka tidak bermusuhan secara terang-terangan, namun satu sama lain tidak saling menyukai.

Di kediaman Bagus Sura, kegiatan utama adalah mengajar remaja mengaji, sementara di kediaman Ki Sanja adalah belajar kewiraan. Dua tempat ini saling berebut pengaruh dalam memberikan pengajaran. Kadang-kadang waktunya bersamaan, seperti hari ini misalnya.

"Malam ini bulan sedang purnama. Barangkali waktu yang tepat untuk bermain-main di pakalangan, Ayahanda," tutur Nyimas Yuning sepertinya membela Ki Dita.

"Ya, mungkin kau benar..." gumam Ki Bagus Sura. "Sekarang, bagaimana kau mengaji sendirian? Purba, apakah engkau mau mengajari anakku sendirian saja?"

Purbajaya tidak bisa menjawab seketika, ia hanya menatap Nyimas Yuning. "Saya hanya melihat kesediaan Nyimas saja," jawab Purbajaya pendek. "Atau sebetulnya Nyimas pun ingin ikut latihan kewiraan? Saya tahu, di zaman sekarang banyak wanita menyukai ilmu kewiraan juga," kata Purbajaya lagi masih menatap gadis itu.

Nampak Nyimas Yuning menggelengkan kepala sambil tersipu. "Saya tidak menyukai kekerasan..." kilahnya sambil menunduk. Dan ketika menunduk itu, ujung rambut di pelipisnya bergoyang pelan. Indah sekali. Purbajaya terpana.

Untuk kesekian kalinya Purbajaya menatap lagi. Kini tatapannya sempurna menyapu ke seluruh wajah gadis itu yang bundar dan halus. Purbajaya sadar. Hampir saja dia menampar pipinya sendiri karena malu. Kata Paman Jayaratu, pandangan mata yang pertama mungkin murni, tapi pandangan kedua adalah setan yang menggoda. Jadi, jika dia memandang keelokan wanita terus-menerus, itu bukan lagi sekadar mensyukuri keagungan Tuhan, melainkan sudah gangguan setan agar berahinya melonjak naik. Purbajaya merasakan sepasang pipinya terasa panas karena malu sebab perbuatannya diketahui pasti oleh Ki Bagus Sura.

"Bagaimana, Nyimas? Maukah engkau mengaji sendirian saja? Maksudku, hanya berdua dengan Purbajaya?" tanya Ki Bagus Sura seperti mengandung arti tersendiri.

"Saya ingin mendalami pelajaran agama..." jawab Nyimas Yuning lirih dan menunduk.

"Nah, layanilah anakku mengaji seorang diri. Jangan khawatir, semakin baik engkau memperhatikan anakku, maka akan semakin baik pula penghargaanku padamu," Ki Bagus Sura melirik ke arah Nyimas Yuning Purnama dan hal ini amat mengejutkan Purbajaya. Tidakkah orang tua ini punya maksud tertentu dalam siratan kalimat yang diucapkannya? Sebelum sempat berpikir jauh, Ki Bagus Sura sendiri sudah berjingkat meninggalkan Purbajaya yang ditemani gadis ayu pemurung itu. Ini adalah pengalaman pertama dia dan Nyimas Yuning Purnama berdua berhadapan, disaksikan bulan yang benderang.

Belakangan, duduk berduaan di paseban atau di beranda depan bersama Nyimas Yuning Purnama kerap terjadi. Menurut pikiran pemuda itu, bisa saja itu bukan sebuah rekayasa agar mereka kerap bertemu, sebab kenyataannya memang demikian. Nyimas Yuning Purnama begitu bersemangat dalam mempelajari agama. Setiap mengaji, gadis itu sepertinya lupa waktu. Kalau Purbajaya tidak memperingatkannya, bisa saja gadis itu kuat bertahan hingga subuh hari. Namun paling tidak, gadis itu selalu pulang paling akhir. Sementara santri lainnya sudah lama bubar, gadis itu malah masih berkutat dengan semangat belajarnya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment